NovelToon NovelToon
PEWARIS TERHEBAT 7

PEWARIS TERHEBAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sci-Fi / Balas Dendam
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.

Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Draco masih membelakangi layar, tidak beranjak dari posisinya.

"Dia mengatakan jika Osvaldo Tolliver sempat bertemu dengan orang-orang aneh di kediamannya, termasuk salah satu anggota bernama George yang kemungkinan berasal dari UltraTech, DeepCore, dan Saber. Dia juga mengatakan Osvaldo Tolliver memiliki alat-alat canggih, termasuk para robot. Tak hanya itu, orang itu mengatakan Osvaldo Tolliver bekerja sama dengan Alexander Ashcroft dan berada di kediamannya untuk mengembangkan alat-alat canggih. Informasi ini sudah dinilai valid setelah seorang anggota berkemampuan khusus memeriksa ingatan pria itu.”

"Apa?" Draco sontak berbalik, menggeser kursi mendekati layar. Ia menekan tombol, mendengarkan penjelasan bawahannya, termasuk keterangan Edward dari sebuah video.

Draco membaca informasi Edward di layar. Ia tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. "Aku mengenal pria itu. Dia adalah Edward, sahabat kecil Alexander di panti asuhan. Aku tidak menduga jika aku akan bertemu dengannya dalam kondisi seperti ini," gumamnya.

"Aku ingin bertemu dengan pria itu."

"Aku mengerti.”

Di lain tempat, Xander, Lizzy, Sebastian, Samuel, Lydia, Larvin, dan Larson tengah melihat para dokter yang sedang memeriksa Alexis.

"Bagaimana keadaan Alexis sekarang?" tanya Xander saat dokter selesai memeriksa keadaan Alexis. Ia tampak khawatir, mengamati putranya yang masih tertidur di ranjang.

"Tuan Alexis mengalami demam. Dia akan pulih setelah meminum obat dan beristirahat dengan cukup," jawab dokter.

Dokter meninggalkan ruangan beberapa menit kemudian, sedangkan Xander, Lizzy, Sebastian, Samuel, Lydia, Larson, dan Larvin masih berada di kamar.

Alexis tertidur di ranjang, mengerjap beberapa kali. Wajahnya tampak pucat dan merah. Sebuah selimut menutupi setengah bagian tubuhnya.

Xander menyentuh dahi Alexis. "Tubuhnya memang panas, tetapi aku yakin dia akan segera sembuh. Dia hanya perlu beristirahat."

"Kau benar, Xander." Samuel membenarkan letak selimut. "Alexis akan kembali ceria besok pagi. Kita harus memberinya waktu untuk beristirahat."

Larson tampak tenang meski sejujurnya ia sangat khawatir. Ia merasa terganggu dengan kejailan keponakannya, tetapi saat anak itu sakit ia merasa kosong. "Kau anak nakal yang sudah merepotkan semua orang, Alexis," gumamnya.

"Aku akan menjaga Alexis di sini." Lizzy mengelus rambut Alexis dan perutnya bersamaan. "Aku akan baik-baik saja."

Sebastian, Samuel, Lydia, Larvin, dan Larson meninggalkan ruangan. Mereka berbincang sesaat, kembali ke ruangan masing-masing. Xander dan Lizzy berada di kamar di mana dua dokter bersiaga di ruangan samping dan akan memeriksa kondisi Alexis setiap satu jam sekali.

Hujan mengguyur semakin deras. Udara bertambah dingin dari waktu ke waktu. Angin berembus semakin kencang, menerobos dan melewati satu per satu bangunan yang dahulunya digunakan oleh Lance, George, dan yang lain untuk mengembangkan robot-robot, alat-alat canggih, dan penemuan lain.

Xander berdiri di samping kasur, menatap Lizzy yang memegang tangan Alexis dengan tulus. Ingatannya tiba-tiba terlempar ke masa lalu, tepatnya saat ia tengah sakit di panti asuhan. Saat itu, pegawai panti nyaris tidak peduli padanya. Dua orang yang mengkhawatirkannya saat itu hanya Edward dan juga Samuel.

"Aku sangat menyayangkan persahabatanku dengan Edward berakhir seperti sekarang. Kami sangat dekat dahulu meski tidak ada ikatan darah. Dan Samuel, aku tidak tahu apa yang dia lakukan sekarang dan di mana keberadaannya. Aku berharap dia baik-baik saja."

Xander merasa beruntung karena Alexis tumbuh dengan sangat baik. Anak kecil itu mendapatkan hal-hal yang tidak pernah dirinya miliki dan rasakan saat kecil. Ia akan terus berupaya untuk menjadi ayah yang baik, mendukung semua impian dan keinginan.

"Ayah, Ibu," gumam Alexis sembari membuka mata perlahan. Anak kecil itu terbatuk beberapa kali. "Aku bermimpi buruk."

Xander menekan tombol dan dua dokter bergegas memasuki ruangan.

Lizzy tersenyum, mengelus rambut Alexis. "Kau tidak perlu takut, Alexis. Ibu dan ayahmu akan menjagamu di sini. Kakek, nenek, pamanmu, dan juga semua orang di tempat ini akan melindungi."

Alexis menatap Xander dan Lizzy bergantian, bergumam sesaat, dan kembali memejamkan mata. Dokter segera memeriksa keadaannya.

Xander dan Lizzy menunggu di sisi ranjang, saling berpandangan sesaat. Mereka harus terjaga hingga beberapa jam untuk memastikan keadaan Alexis.

"Kau sebaiknya segera beristirahat. Kau harus memastikan dirimu dan calon putra kita juga baik-baik saja. Alexis adalah anak yang kuat."

Xander menyentuh bahu Lizzy.

Lizzy mengembus napas panjang, berbaring di samping Alexis. Tak lama setelahnya, wanita itu terlelap.

Xander duduk di sofa, memijat kepala berkali-kali. Ia mengamati keheningan ruangan, menyentuh kalungnya sekilas. "Aku sempat merasakan firasat buruk, tetapi aku harap semua itu hanya perasaanku saja."

Keesokan paginya, langit tampak sangat cerah. Sinar matahari menerobos melalui celah-celah tirai. Suara burung bersahutan di luar.

Begitu Xander membuka mata, ia tidak melihat Lizzy dan Alexis di ruangan. Ia bergegas meninggalkan kamar, berlari menuju pagar pembatas lantai dua.

Xander mengembus napas lega saat melihat Alexis berlarian di lantai bawah, menghindari kejaran Larson. "Kau membuatku sangat khawatir, Alexis."

"Alexis sudah kembali ceria," ujar Lizzy sembari mendekat bersama beberapa pelayan wanita. "Dia sudah sepenuhnya sembuh. Meski kau tampak tenang, tetapi kau adalah orang yang paling mengkhawatirkan Alexis semalam."

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Xander.

Lizzy menoleh pada perutnya sekarang. "Aku baik-baik saja begitu pun dengan calon anak kita. Dia tampak tenang setelah tahu kakaknya sembuh."

Alexis menaiki tangga, bersembunyi di belakang Xander dan Lizzy. Anak kecil itu memelet lidah pada Larson. "Kau harus banyak berlatih, Paman."

"Dasar anak nakal! Berhenti menggangguku!" Larson mengembus napas panjang, menatap sinis Xander.

Alexis tiba-tiba terdiam saat muncul beberapa kilasan peristiwa dalam pikirannya. Tatapannya tampak kosong untuk sesaat.

"Alexis," panggil Larson khawatir.

Xander segera memangku Alexis, menepuk-nepuk pipinya. "Kau baik-baik saja, Alexis? Apa kau mendengarkanku?"

Di waktu yang sama, Xylorr tengah terbaring lemas di atas tikar. Karnu dan beberapa anggota suku pedalaman berkumpul di sekelilingnya, menatap penuh khawatir. Benji dan para pengawal tidak bisa memasuki gubuk karena permintaan Karnu.

"Baha (Ayah)," gumam Karnu sembari memegang tangan Xylorr dengan erat. Ia melihat wajah ayahnya bertambah pucat dan lemas dari waktu ke waktu.

Xylorr menatap Karnu dan orang-orang di sekelilingnya. Ia merasa waktunya hidup di dunia ini semakin dekat. Kilasan peristiwa dalam hidupnya terus bermunculan. Air matanya mendadak menetes, membasahi wajahnya.

Anggota suku pedalaman mulai berdatangan ke gubuk di mana sebagian dari mereka terpaksa berada di luar. Langit yang cerah mendadak gelap karena awan-awan hitam yang bergerombol. Tak lama setelahnya, angin berembus kencang dan hujan mulai mengguyur.

"Karnu." Xylorr memegang tangan putranya dengan seerat mungkin. Saat memejamkan mata, waktu terasa mundur baginya. Begitu petir menggelegar kencang, ia merasa berada di masa lampu bersama seorang anak kecil di sampingnya.

1
Nathan Grdn
tarik nafas
Nathan Grdn
masa kalah terus jagoan nya,persis di konoha penjagat selalu di depan
MELBOURNE
saksikan terus
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍
aim pacina
Miguel Mikael dan govin berikan kekuatan khusus thor biar seru karna fisik mereka kuat
Glastor Roy
update ya torrr ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!