Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dimas mengendarai mobilnya dengan senyum kurang ajar di wajahnya. Ia baru saja mendapat rezeki besar yang begitu tak terduga sampai-sampai rasanya ingin menari di jalan. Tapi ya sudah, senyum songong itu saja sudah cukup.
Tujuannya: toko Phone Center di Jalan Margonda. Ia memutar lagu keras-keras di mobilnya. Mobil itu lumayan mewah, hasil keputusan impulsif yang ternyata luar biasa.
“Kayaknya aku harus makasih sama pelatih gendut itu deh,” gumamnya sambil terkekeh. “Dia yang paling bantu aku kali ini.”
Tak butuh waktu lama, Dimas tiba di toko. Toko itu tampil modern, dengan dinding kaca besar dan etalase ponsel terbaru. Ia memarkir mobilnya di parkiran terbuka, lalu melangkah masuk.
Toko penuh dengan berbagai jenis ponsel. Tahun itu, ponsel pintar belum terlalu marak bahkan iPhone masih kalah pamor dibanding Nokia seri Communicator yang dianggap ponsel sultan.
Dimas berjalan ke konter yang sepi dan tersenyum pada pramuniaga di balik meja. Namun perempuan muda itu menatapnya dengan ekspresi datar, seolah berkata: “Ada perlu apa?”
Dimas mencondongkan tubuh sedikit dan berkata santai,
“Ponsel yang punya segalanya, Nokia 9210, Mbak.”
“Maksudnya Communicator 9210? Wah, itu mahal banget, Mas. Kita juga nggak punya unit demo-nya.” Pramuniaga itu mengangkat alis, agak meremehkan.
“Nggak apa-apa, saya mau beli kok. Ambil yang warna hitam aja. Meskipun saya kelihatan begini, saya mampu kok, Mbak.”
Dimas tersenyum. Ia memang tidak berpakaian mewah kaus polos, celana jeans lusuh tapi hari ini suasana hatinya luar biasa baik.
Mungkin karena baru jadi miliarder dadakan kali ya, pikirnya sambil nyengir.
Pramuniaga itu masih ragu. “Baik, Mas. Saya panggilin manajer dulu, ya.” Ia pun berjalan ke belakang, jelas belum percaya kalau remaja biasa bisa membeli ponsel seharga hampir Rp17.000.000.
Dimas terkekeh pelan dan melirik ke saku celananya. Di sana ada segepok uang tunai. Sebelumnya, ia sudah menarik Rp7.000.000.000 dari sistem, dan sisanya masih di mobil. Ia juga baru dapat tambahan Rp3.000.000.000 dari hasil gift kemarin.
Mobil aku ada uang Sembilan miliar sembilan ratus juta rupiah. Gimana kalau tiba-tiba ada rampok lewat, hahaha… bisa jadi jutawan instan rampoknya.
Tak lama kemudian, seorang pria berpenampilan rapi datang bersama pramuniaga tadi. Jasnya licin, dasinya rapi, auranya jelas seorang manajer. Ia menatap Dimas dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum tipis.
“Anak muda, kamu kuliah di mana?” tanyanya ramah.
“Saya kuliah di UI, Pak. Fakultas Ekonomi,” jawab Dimas sopan. “Saya mau beli ponsel itu, Pak.”
“Saya mengerti,” kata manajer itu. “Hanya saja, stoknya sangat terbatas. Bukan bermaksud meragukan, tapi banyak yang cuma lihat-lihat saja. Kalau kamu tidak jadi beli, pelanggan berikutnya bisa kehilangan kesempatan.”
Nada suaranya halus dan diplomatis, tapi jelas masih meragukan kemampuan Dimas.
Dimas menyeringai. “Penampilan boleh biasa, tapi uang saya asli, Pak.”
Ia mengeluarkan segepok uang tunai dari saku, lalu menepukkannya ke meja konter dengan suara keras.
“Anak muda, jangan salah paham, ya. Ayo, mari kita duduk dulu, saya buatin minum.”
Manajer itu langsung berubah sikap, tersenyum lebar dan memberi isyarat pada staf untuk menyajikan minuman dingin.
Dimas duduk santai di sofa kulit empuk di ruang manajer, meneguk es teh manis yang disajikan.
Tak lama kemudian, manajer itu datang membawa kotak besar berlogo Nokia. Di dalamnya, ponsel hitam elegan dengan layar besar dan keyboard lipat Nokia 9210 Communicator.
“Pak, ini adalah ponsel yang banyak diincar orang,” ujar manajer itu dengan nada penuh wibawa. “Nokia 9210 Communicator keyboard QWERTY penuh, layar TFT warna 4,5 inci, pakai sistem operasi Symbian, dan punya penyimpanan internal delapan megabyte. Cocok banget buat email, browsing, dan kerjaan kantor. Mahakarya sejati, apalagi buat mahasiswa seperti Anda.”
Manajer membuka kotak itu perlahan, memperlihatkan isi di dalamnya, lalu menyerahkannya kepada Dimas dengan senyum sopan.
Dimas menerima ponsel itu, menatapnya dalam-dalam lalu menatap balik ke arah manajer dengan ekspresi datar. Tatapannya begitu serius sampai senyum si manajer langsung menghilang.
“Saya ragu dengan perangkat ini. Kayaknya saya batal beli deh,” kata Dimas tenang, tanpa ekspresi.
“Lho… Ma—Mas? K—kenapa, ya?” Manajer itu langsung panik, bahkan hampir tersedak kata-katanya sendiri.
Dimas meneguk pelan sisa es tehnya, lalu menatap pria itu sambil berkata dengan nada dingin,
“Entahlah… saya nggak suka auranya aja. Kayak getaran negatif, gitu.”
Manajer menelan ludah, wajahnya tegang.
Kemudian Dimas terkekeh kecil dan berkata, “Haha, bercanda, Pak. Bungkus aja, saya beli.”
Manajer itu sampai menarik napas panjang lega, meskipun wajahnya sempat merah karena jantungan. Ia tersenyum kikuk.
“Wah, Mas ini bikin deg-degan aja. Baiklah, nanti saya kasih bonus paket data sebulan penuh, ya.”
Dimas mengangguk santai, mengisi beberapa formulir pembelian dan menunjukkan KTP mahasiswa Universitas Indonesia-nya. Setelah urusan selesai, ia menerima kotak ponsel besar itu, menyalami manajer, lalu berjalan keluar dari toko.
Udara Depok itu agak gerah, tapi langitnya cerah. Mobilnya masih terparkir rapi di tempat yang sama. Ia tersenyum lega, lalu membuka pintu, masuk, dan menaruh kotak Nokia itu di kursi belakang.
Begitu duduk di kursi pengemudi, Dimas mengeluarkan selembar tisu dari saku belakang celananya. Di situ, tergores angka-angka dengan tinta merah muda nomor telepon yang ditulis dengan lipstik.
Senyumnya langsung muncul lagi.
“Nomor mbaknya, nih…” gumamnya geli, lalu memutar nomor itu dengan ponsel lamanya.
Nada sambung terdengar beberapa kali. Tidak ada jawaban. Ia mengangkat bahu.
“Yah, mungkin lagi sibuk.”
Dimas menyalakan mesin mobil. Rencananya berikutnya: mampir ke toko komputer di Margonda ITC, semacam Radioshack versi lokal, buat beli laptop baru.
Baru saja ia keluar dari area parkir, ponsel barunya berdering keras.
Criiing… Cring… Cring…