Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Fokus
"Lama-lama gue di sini bisa kehabisan napas," gumam Candy sambil meletakkan pakaian ganti Revo di atas tempat tidur.
Ia menelan ludah, lalu buru-buru menengadah.
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini. Sekali ini saja, ya Allah. Habis ini hamba tobat… beneran," ucapnya sambil menadahkan tangan dengan wajah penuh harap.
Candy berbalik dan mempercepat langkah menuju pintu. Tangannya sudah siap memutar gagang, tapi pintu itu diam seribu bahasa. Diputar sekali—nihil. Dua kali—tetap.
"Astaga," Candy menepuk keningnya. "Kuncinya sama si Om," gumamnya lemah, seperti baru sadar nasibnya memang tidak berpihak.
Dengan langkah gontai, ia berbalik. Kepala tertunduk, wajahnya kecut parah. Candy menjatuhkan tubuh ke sofa, pasrah seperti terdakwa menunggu vonis.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Candy refleks mengangkat wajah.
Dan di situlah bencana itu terjadi.
Revo keluar dengan langkah santai. Wajah murung Candy seketika menghilang, digantikan ekspresi kosong—kosong karena otaknya mendadak berhenti bekerja.
Bibir mungilnya sedikit terbuka. Ia bahkan lupa menutupnya.
Revo berjalan menuju tempat tidur. Setelah mandi, pria itu tampak semakin menyebalkan—eh, maksudnya tampan. Apalagi bagian atas tubuhnya masih terekspos begitu saja, seolah dunia ini tidak butuh sensor.
"Ya Allah," gumam Candy lirih, nyaris putus asa. "Sungguh berat ujian yang Engkau berikan pada hamba-Mu yang lemah, polos, dan gampang tergoda ini."
Revo menangkap gumaman itu. Senyum licik langsung terbit di sudut bibirnya. Bukannya segera mengenakan pakaian ganti yang sudah disiapkan Candy, ia justru berhenti sejenak—meregangkan bahu, membenahi rambut—dengan sangat tidak perlu.
Siapa suruh ngatai aku lansia, batinnya puas. Sekarang rasakan sendiri akibatnya.
Ya, Revo sengaja.
Meski Candy jual mahal, Revo tahu betul—istrinya itu tetap perempuan biasa. Dan perempuan biasa, setangguh apa pun imannya, tetap bisa goyah melihat pria setampan ini berdiri tanpa rasa bersalah.
Beberapa jam sebelumnya, Revo tanpa sengaja mendengar percakapan maminya, Mbok Sarah, dan kedua adik kembarnya di halaman belakang.
Mereka sedang menikmati sore sambil merujak. Halaman belakang itu langsung tembus ke dapur. Keempat wanita lintas generasi itu duduk membelakangi dapur—membuat mereka tak menyadari saat Revo lewat dan tanpa sengaja mendengar semuanya.
Bukan kebiasaan Revo mencuri dengar percakapan orang lain. Namun kali ini, topik yang mereka bicarakan adalah Candy—istrinya sendiri. Mau tak mau, perhatiannya tertarik.
Revo berhenti di dekat pintu dapur setelah mengambil segelas air limun dingin dari kulkas. Ia bersandar santai, mendengarkan percakapan mereka seolah itu bukan apa-apa.
"Mbok, Candy itu kalau di rumah gimana?" tanya Berlian.
Wanita cantik itu memang ingin mengenal sosok menantunya lebih dalam. Dan untuk urusan seperti ini, Mbok Sarah jelas orang yang paling tepat.
"Lho," Mbok Sarah melirik Berlian sambil memasukkan sepotong mangga asam ke mulutnya, "masa nyonya nggak tahu keseharian non Candy?"
Matanya langsung merem melek. Wajahnya sedikit meringis. Sesekali terdengar desisan kecil karena perpaduan asam dan pedas yang menyerang lidahnya.
Revo yang melihatnya dari kejauhan ikut bergidik. Rasanya seperti dia sendiri yang sedang mengunyah mangga itu.
Berlian menggeleng pelan. "Nggak, Mbok."
"Oala…" Mbok Sarah mendecak. "Bukannya orang-orang kaya itu kalau cari mantu diselidiki dulu orangnya kayak apa, hidupnya gimana?"
"Kayak cerita film seri aja, Mbok," sela Riora sambil terkekeh.
Mbok Sarah menatap mereka bergantian, wajahnya makin tercengang.
"Jadi… beneran nggak tahu tentang non Candy?" tanyanya memastikan.
Berlian dan Riora kembali mengangguk. Sementara Rumi memilih diam, menjadi pendengar setia sejak awal.
"Alamak, Jan, nyah," ceplos Mbok Sarah spontan. "Gimana kalau yang dijodohin kemarin itu nggak ditukar sama non Candy? Bisa-bisa amsiong dapat menantu kayak dia."
Alis Rumi terangkat. "Maksudnya gimana, Mbok?"
"Kan seharusnya yang kawin sama tuan muda itu si Rania," jelas Mbok Sarah. "Kakak sambungnya non Candy. Eh, dia malah kabur ke luar negeri. Katanya sih mau ngelanjutin S…"
Mbok Sarah berhenti sejenak, keningnya berkerut, seolah sedang mengais ingatan.
"Katanya sih ngelanjutkan S…"
Hening sepersekian detik.
"Aduh," Mbok Sarah menepuk pahanya pelan. "S apa ya?"
Ia terkekeh sendiri. "Mbok lupa."
"S2 atau S3 kali, Mbok," Riora membantu.
Mbok Sarah mengangguk cepat, seolah menemukan pegangan.
"Nah! Itu dia. S3!"
"Yakin Mbok?" tanya Rumi ragu.
Mbok Sarah mengernyit, lalu mendecak.
"Yakin… tapi Mbok juga nggak yakin. Bisa jadi itu bukan S3."
"Terus apa, Mbok?"
"Salah fokus," jawab Mbok Sarah ringan. "Soalnya Mbok ingetnya Rania itu dari dulu fokusnya bukan belajar. Fokusnya gangguin non Candy."
Riora menahan tawa. Berlian menutup mulutnya, antara kaget dan gemas.
Revo, yang sejak tadi menyimak dari balik pintu dapur, refleks mengangkat alis.
Salah fokus?
"Terus Mbok," Riora kembali penasaran. "Kenapa dia nggak mau sama Kak Revo?"
Mbok Sarah mengibaskan tangan.
"Lah, itu mah gampang. Kayaknya nyonya Ranti juga nggak mau anak kesayangannya kawin sama pria tua."
"Hahaha!" Berlian dan Riora tertawa hampir bersamaan.
Revo menggeram pelan.
Pria tua?
Rumi yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Jadi… Candy itu bukan anak kandung Ranti?"
"Iyes, non," jawab Mbok Sarah mantap. "Ibu kandung non Candy meninggal waktu non masih lima tahun. Terus si Ranti nikah sama tuan Adrian. Dari situ lahir non Clara."
"Pantes…" gumam Berlian.
"Mbok," Rumi menatapnya lekat. "Mbok nggak suka sama mereka, ya?"
"Banget, non," jawab Mbok Sarah tanpa ragu. "Non Candy itu dari kecil udah diperlakukan kayak anak pembantu."
"Apa?" Berlian refleks meninggikan suara.
Panas menjalar di dadanya.
Mbok Sarah mengangguk pelan. "Kalo tuan Adrian dinas, non Candy harus siapin bekal sendiri. Disuruh bantu dapur, bersihin rumah."
"Dari kecil?" suara Rumi melembut.
"Seingat mbok dari kelas dua SD, non,” jawab Mbok Sarah. "Awalnya si Ranti baiknya kebangetan. Ternyata cuma buat ambil simpati. Abis itu mulai kelihatan aslinya. Belom lagi si Rania—umur beda delapan tahun, tapi kelakuannya kayak bocah tiga tahun. Non Candy selalu disalahin. Padahal biang keroknya dia."
Tangan Berlian mengepal tanpa sadar.
"Kasihan sekali kakak iparku," ujar Riora lirih.
Rumi terdiam, mencerna semuanya.
Sementara Revo… rahangnya mengeras.
"Makanya Mbok bilang," lanjut Mbok Sarah santai, "kalo si Rania yang jadi menantu nyonya, bisa-bisa amsiong."
"Kenapa Mbok nggak ngadu ke papanya Candy?" tanya Rumi.
Mbok Sarah menghela napas.
"Udah, non. Tapi tiap Mbok ngadu, yang kena ya non Candy lagi. Mbok kasihan. Untungnya anaknya ceria. Pernah bilang ke Mbok, ‘itung-itung latihan, Mbok. Nanti kalo aku punya rumah sendiri, aku bisa masak sama beresin rumah.’”
Riora mengusap lengannya sendiri.
"Satu pertanyaan terakhir, Mbok," kata Rumi.
"Kayak lagi interogasi aja kak," ujar Riora.
"Apa, non?"
"Kenapa Candy mau jadi pengganti?"
Mbok Sarah terdiam sejenak.
"Non Candy sebenernya mau keluar dari rumah. Mau hidup mandiri. Pernah coba kabur, tapi gagal. Eh, malah disuruh kawin. Anak gadis baru lulus sekolah disuruh nikah, ya pasti kaget, non. Dia ngurung diri di kamar."
Ketiganya saling pandang.
"Tapi cuma sehari," lanjut Mbok Sarah. "Non Candy mikir matang. Dia nggak mau durhaka sama tuan Adrian. Dan dia pikir, menikah mungkin satu-satunya cara keluar dari lingkaran setan."
"Hah! Lingkaran setan!" teriak Berlian dan Riora kompak.
Rumi mengernyit.
"Emangnya Candy pinjol, Mbok?"