NovelToon NovelToon
Lanjut Atau Usai Disini

Lanjut Atau Usai Disini

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Wanita Karir / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: dyawrite99

"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.

"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Dilain tempat Kama juga sedang bersiap siap. Malam ini makan malam itu akan terlaksana.

Kama menarik napas panjang. Ia harus menghadapi makan malam ini. Keputusan sudah ia tetapkan. Dan malam ini adalah penentuannya. Kama harus sebisa mungkin mengambil jalan terbaik bagi dirinya dan kebahagiannya. Apapun akan Kama lakukan untuk meraih apa yang ia inginkan. Semuanya harus berada di genggaman Kama.

Suasana restoran begitu syahdu. Kemewahan begitu terlihat disetiap tempat. Itu semua menunjukkan kelas mereka yang hadir di tempat itu.

Saat Kama sudah masuk ke ruang makan malam, ia disambut oleh ayahnya yang sudah hadir pertama kali. Keduanya saling beradu pandang.

Tanpa kata Kama duduk di samping ayahnya. Dan tak lama tamu berikutnya hadir.

Juwita dan Mr. Zahid tiba. Tuan Baskara langsung berdiri menyambut tamu kehormatannya.

Tawa bahagia dan sapaan begitu hangat tuan Baskara berikan pada tamunya. Kama dengan rasa hormatnya ikut menyambut tamu ayahnya.

Kini mereka sudah duduk manis di tempat duduk yang sudah di sediakan. Awal perjamuan di mulai. Makan malam terlaksana dengan hikmat.

Di akhir jamuan mulailah itikad perjodohan diutarakan.

"Kami sudah membahas tentang perjodohan diantara kalian berdua. Keinginan kami adalah menyatukan dua perusahaan yang sudah terjalin menjadi sebuah keluarga. Bukan begitu Mr. Widjaya."

"Tentu. Niat baik akan menemukan jalan terbaik. Tapi sebelum menuju hal yang lebih lanjut mari kita dengar dulu keputusan putra putri kita," Mr. Zahid memandang putrinya dengan senyum bangga. "Aku ingin mendengar persetujuan putramu lebih dulu. Apakah ia keberatan melanjutkan rencana kita ini."

"Tentu. Biarkan putraku yang berbicara lebih dulu."

Tuan Baskara menatap putranya. Ada senyum terpatri di wajah tuanya itu. Kama melihat senyum penuh tantangan dari ayahnya itu. Dan Kama merasa ia dipojokkan saat ini.

"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih pada Mr. Zahid begitupun pada Juwita. Sebuah kehormatan bisa bertemu malam ini," Kama menoleh dan bertemu tatap dengan Juwita. Senyum tergambar wajah Kama. "Saya dengan bahagia menyambut baik rencana ini." Kama menjawab dengan lugas dan tenang. Tatapan matanya tertuju pada Juwita yang juga menatap balik matanya. Perempuan itu tersenyum senang saat Kama menerima rencana kedua orang tua mereka.

Tuan Baskara tersenyum puas. Ia tahu putranya begitu berambisi untuk memegang tahta miliknya. Ambisi putranya memang tidak pernah pudar. Ia yakin anaknya ini tidak akan menolak.

***

Malam itu Nirmala merasa begitu senang bisa berkumpul bersama Malika dan bawahannya yang lain. Mereka baru saja merayakan kesuksesan sebuah acara pernikahan seorang anak pejabat.

Selesai acara makan makan Nirmala kembali ke apartemen nya. Suasana hening begitu terasa sewaktu ia pertama kali memasuki kamar miliknya.

Kembali ia mengecek ponsel miliknya. Tidak ada pesan dari Kama. Namun Nirmala yang lebih dulu berkirim pesan. Ia mengatakan jika dirinya sudah sampai apartemen setelah acara makan makan bersama anak anak kantor nya.

Meletakkan ponsel miliknya dan mulai membersihkan diri. Tak terasa malam itu berlalu begitu cepat.

Saat terbangun Nirmala kembali merasa hampa. Seharusnya di weekend ini Nirmala dan Kama menghabiskan waktu bersama. Namun apalah daya kesibukkan kekasihnya menyita waktu mereka.

Nirmala harus mencari kegiatan sendiri untuk menghabiskan waktunya. Sepertinya menonton menjadi agendanya hari ini. Ia harus menonton series yang belum ia nonton karena kesibukkan bekerja.

***

Kama baru saja terbangun. Semalam ia pulang larut malam. Setelah acara makan malam Kama dan Juwita menghabiskan waktu bersama berdua. Mereka lanjut pergi ke sebuah club dan berakhir minum bersama.

Keduanya tidak minum terlalu banyak. Minuman hanya penghangat mereka untuk berbicara bersama. Mabuk bukan ujung pembicaraan mereka.

Namun sepulang kebersamaannya dengan Juwita barulah Kama menenggak kembali minuman beralkohol seorang diri di apartemen nya hingga ia tumbang dan bangun di pukul sembilan pagi.

Kama bangun dengan kepala berat. Ia harus segera mandi.

Setelah segar dengan mandinya barulah Kama bisa sedikit berpikir jernih. Ia gapai ponsel miliknya dan mencoba menghubungi sang kekasih. Semalam ia sudah mengabaikan Nirmala. Apa kabar perempuannya itu.

Di panggilan pertama tidak ada jawaban. Begitupun di panggilan lainnya. Akhirnya Kama kesal. Ia harus menemui langsung kekasihnya. Salahnya sejak semalam tidak memberi kabar pada Nirmala.

Padahal aslinya saat ini Nirmala sedang fokus menonton. Ponsel milik Nirmala saat ini sedang diisi daya baterai di kamar perempuan itu. Sedang Nirmala sendiri tengah berbaring dia tas sofa sambil menonton ruang tengah di apartemen itu.

Kama sudah siap untuk menemui Nirmala namun diurungkan oleh kedatangan supir pribadi ayahnya.

"Maaf tuan. Saya diperintahkan untuk menjemput anda."

"Saya ada janji lain. Katakan pada tuanmu untuk bertemu dilain waktu."

Kama hendak melewati pengawal itu namun diurungkan oleh pesan sang pengawal.

"Anda harus ikut kami tuan. Tuan Baskara dan Tuan Bara sudah menunggu anda di rumah utama."

Sialnya Kama harus kembali menuruti permintaan ayahnya itu. Dengan terpaksa Kama kembali menemui ayahnya dan bahkan sekarang ada satu manusia memuakkan lainnya yang harus Kama temui.

Hari itu kembali Kama belum bisa menemui Nirmala.

***

Ketegangan kembali harus Kama rasakan saat bertemu pandang dengan dua manusia yang amat ia benci di ruangan itu.

"Lama tidak berjumpa brother."

Kama tidak menanggapi sapaan Bara pada dirinya. Mata Kama langsung tertuju pada Baskara ayahnya.

"Ada kepentingan apa sehingga kita harus berkumpul dalam satu ruangan seperti ini?" Tanya Kama tanpa basa basi.

"Duduklah dulu anakku." Perintah Baskara.

Dengan enggan Kama duduk menghadap Bara yang masih menatap datar dirinya.

"Aku mengumpulkan kalian disini untuk sebuah kabar," kedua tangan Baskara bertumpu di kedua sisi sofa. Nada bicara Baskara begitu tegas dan lugas. Kedua anaknya menanti dengan seksama apa yang akan di sampaikan oleh ayah mereka.

"Keputusan ini sudah menjadi hal mutlak yang hanya aku yang bisa mengubah dan memutuskannya. Untuk itu tidak ada intervensi yang bisa mengubah keputusan itu kecuali memang diantara kalian ku anggap tidak layak meneruskan kepemimpinan perusahaan.."

Kama percaya diri dengan hasil keputusan ayahnya. Semalam adalah bukti nyata bahwa ialah yang akan meneruskan kepemimpinan ayahnya.

Bara mendengarkan dengan seksama walau ia tahu ada keraguan bahwa ia akan di pilih oleh si tua bangka di depannya ini.

"Untuk itu aku telah memutuskan bahwa Alkama Basri Widjaya yang akan meneruskan kepemimpinan ku berikutnya." Begitulah keputusan yang Baskara ucapkan.

Kama tersenyum puas. Sedang Bara tidak terima dengan keputusan itu.

Sebelum Bara protes Baskara lebih dulu menyela.

"Yang sudah menjadi keputusan ku tidak dapat diubah kecuali ada hal yang dapat merugikan perusahaan."

Bara tahu jika semua sudah diputuskan namun ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan begitu mudah membiarkan Kama meraih semuanya.

Bara pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun. Tatapan tajam ia tujukan pada Kama. Tatapan itu menyiratkan kebencian yang terpancar.

Kama puas dengan keputusan ayahnya. Namun semua itu belum menjadi keputusan mutlak, ada perintah yang harus Kama laksanakan jika ingin memangku kekuasaan milik ayahnya.

"Semua sudah aku putuskan. Namun dengan satu syarat wajib untukmu mendapatkannya. Dan yang harus kau ingat bahwa pernikahan adalah akses untukmu mendapatkan semuanya ini."

"Menikah bukan masalah bagiku."

"Ya. Seharusnya tidak jadi masalah. Kalaupun ada penghalang akan lebih baik kau singkirkan terlebih dahulu atau semua akan sia sia," ujar Baskara tersirat. Kama dapat menangkap makna itu. Namun ia abaikan. Semua harus ada dalam kendalinya. Dengan cara apapun semua dapat ia usahakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!