Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 18
Seila memperlihatkan tiga potret yang mana wajah Ayunda dengan pakaian basah, rambut lepek, sangat jelas. Sementara si pria membelakangi kamera.
Ekspresi Ayunda biasa saja, malah tersenyum masam sambil geleng-geleng kepala.
Pria itu adalah laki-laki sama yang menawarkan secangkir teh hangat – sewaktu Ayunda tengah menunggu taksi pesanan, dia datang membawa selimut tipis, lagi-lagi kebaikannya yang entah tulus atau modus, ditolak tanpa basa-basi.
“Gak ada yang mau lu jelasin, Ayunda?” Seila menekan tombol samping ponselnya agar layar berubah gelap.
“Buat apa? Toh, apa yang digosipkan sangat jauh dari kenyataan,” jawabnya pelan.
“Kalau gitu, ceritain kejadian sebenarnya? Kenapa lu sampai bisa ada di sana? Sekali lihat saja apalagi gak ada sanggahan, orang langsung berpikiran negatif. Itu tempat para manusia melepaskan suntuk, nyari hiburan malam, dugem, lebih ke hal negatif daripada positif, Yunda!” baru kali ini seorang Seila sedikit memaksa menuntut penjelasan.
Tanggapan Ayunda jauh dari harapan. Dia bungkam, enggan klarifikasi. “Sudah waktunya masuk kantor, aku ke atas dulu.”
Seila mencekal lengan Ayunda sampai badannya berbalik dan berhadapan dengannya. “Lu demen ya jadi bulan-bulanan karyawan Wangsa group? Dari digosipkan dengan pak Iyan. Masuk lewat jalur orang dalam. Jadi simpanan bapak-bapak. Dan terakhir ini, satupun gak ada yang lu tanggapi. Why?”
Tangan kanan Ayunda menurunkan tangan yang mencekal lengan kirinya, lalu dia memandang netra sangat kentara rasa kesalnya. “Apa kalau aku klarifikasi masalahnya langsung selesai, gosip seketika lenyap detik itu juga?”
“Setidaknya lu speak up! Gak diam terus-terusan!”
“Dengan aku diam, setiap kabar tak sedap menerpa lambat laun hilang tersapu angin. Lantas, kenapa harus repot membela diri, membalas banyaknya pesan berisi pertanyaan lebih ke tuduhan? Sei, gak semua orang itu bisa berpikiran luas, terlebih bagi mereka yang terlanjur tidak suka. Apapun pembelaanku, akan sia-sia. Percuma!” Ayunda menarik pegangan pintu berat.
“Yang penting, departemen HRD gak pernah ngeluarin surat peringatan ke aku, berarti gosip itu isapan jempol belaka!” Dia benar-benar keluar setelah pernyataan terakhir. Membiarkan Seila dengan pikirannya sendiri.
‘Vinira, Vinira … sebenarnya kamu itu benci atau iri? Kurang kerjaan banget,’ gerutunya mempercayai dalang dibalik gosip itu adalah Vinira. Ayunda mengabaikan lirikan tiga karyawan bagian pemasaran satu lift dengannya.
Biasanya Ayunda disapa, kali ini kehadirannya seperti tak kasat mata. Karyawan tadi keluar begitu saja dari dalam lift.
“Ya begitulah manusia. Sebentar ramah, seolah akrab, bahkan menganggap sahabat, tapi baru saja salah satunya digosipkan terlibat skandal atau hal negatif, langsung pura-pura tidak kenal,” gumamnya disertai kekehan kecil.
***
“Telapak tanganmu kenapa?” Yusniar memperhatikan Ayunda yang baru saja menaruh tasnya pada laci meja kerja.
Ayunda membalikkan punggung tangan, melihat beberapa luka goresan mulai kering. Dia tersenyum lebar. “Biasalah, Mbak. Kaum rebahan yang sok-sokan mau jogging, malah nyungsep nginjek tali sepatu lepas sebelah.”
“Kamu itu ada aja. Yang kepentok sampai lengan memar, kesandung hingga lutut tergores. Ceroboh banget si, Yunda.” Niar geleng-geleng kepala, lalu berdecak kala Ayunda terpingkal-pingkal.
“Mbak, kamu ada denger gosip dari grup karyawan nggak?” Yunda memutar kursi tempat duduknya agar berhadapan dengan wanita berkemeja satin, bawahan rok span hitam.
“Gosip apa? Aku paling malas ngurusin hal gak penting, apalagi sok-sokan ikut campur padahal belum tentu tahu duduk permasalahannya.” Niar tengah menyalakan komputer.
“Ada yang nyebarin fotoku pas lagi ditawari bantuan, bukan sedang tawar menawar harga jual alat pemuas nafsu,” katanya parau.
Yusniar menanggapi dengan membuka ponsel, lalu mengklik ruang obrolan grup karyawan. “Kok si penyebar foto ini punya banyak tenaga ya? Aku aja rasanya gak sanggup memikirkan hal lain, penuh sama kerjaan kantor, dan keluarga. Gak usah ditanggapi! Nanti hilang sendiri, kan ini juga bukan yang pertama kamu alami. Biarkan aja. Kalau udah keterlaluan, nanti divisi HRD akan turun tangan. Mendisiplinkan.”
“Memang tak diemin, Mbak. Kurang kerjaan banget ngurusin hal kayak gitu. Eh, ngomong-ngomong … liburan jadi ke Bali atau pulau seribu, Mbak?”
“Pulau seribu. Kamu ikut kan?”
Kedua tangan Ayunda menopang rahang, dia menggeleng. “Sebenarnya pengen ikut, tapi gak tahan sama angin lautnya, Mbak.”
“Kebetulan aku punya lotion khusus kulit sensitif. Kapan hari sepupuku baru pulang liburan dari Korsel, oleh-olehnya ya itu. Udah ku baca kegunaannya, terus cari info juga di medsos, bagus review nya. Kalau kamu mau, besok tak bawain.”
“Beneran, Mbak?” Ayunda sungguh senang. Terlebih kulitnya memang tidak cocok dengan lingkungan perairan asin. Disebabkan oleh kandungan garam yang tinggi, mikroorganisme terbawa angin, menyebabkan gatal-gatal, dan kulit menjadi sangat kering.
“Tapi, tuan Daksa gak ikut liburan karyawan kan, Mbak?” tanyanya ingin memastikan.
“Kenapa kalau sampai dia ikut?” Yusniar balas bertanya.
“Gak bakalan aku mau ikut. Takutnya malah disuruh ngeracik teh, liburanku pasti jadi ambyar,” ungkapnya lesu.
Yusniar tertawa pelan. “Ya karena itu kamu digaji tinggi. Harap sadar diri, Yunda!”
“Aneh banget memang beliau itu. Aku lebih mirip master tea daripada asisten sekretaris,” gumamnya seraya mengetuk pena pada permukaan meja.
“Ini, baca sendiri jadwalnya. Pas tanggal kita pergi ke pulau seribu, tuan Daksa bertolak ke Tokyo, sampai kapan di sana kurang tahu. Yang jelas, dia gak bakalan ikut di hari pertama, lagian mana mungkin nyusul, mau ngapain juga?” Buku agendanya ditaruh atas meja sang rekan.
Ayunda membuka halaman pada tanggal yang sama dengan jadwal liburan karyawan. “Ini beneran kan, Mbak? Gak seperti kapan hari. Tahu-tahu udah berdiri di depanku sambil ketuk-ketuk meja?”
“Tolong jangan diingetin lagi, Yun! Sampai sekarang masih malu aku.”
Berakhir kedua wanita itu tertawa sampai terbahak-bahak.
“Nanti kalau udah deket jadwal keberangkatan, temenin aku shopping ya? Mau nyari baju renang,” pinta Yusniar.
“Wah … asik. Aku belikan juga ya, Mbak?”
“Senengnya gratisan. Dasar kamu itu,” bibirnya mencebik.
Ayunda menempelkan pipinya pada lengan atas sang sekretaris. “Kan Mbak Niar, baik hati. Kita beli yang kembaran ya aja. Bikini kayaknya cocok deh, Mbak?”
“Berakhir aku gak berani keluar kamar. Mana perut udah kayak orang habis melahirkan lagi. Males banget mau fitness,” keluhnya apa adanya.
“Yang penting sehat. Oh ya, nanti kita sekamar ya? Mbak Niar anteng tidurnya, kalau kedua temenku suka gerak-gerak,” sebelum menikah setahun yang lalu, Yusniar pernah menginap di apartemen Ayunda.
“Beres.”
Mereka mulai beraktivitas sambil menunggu sang direktur utama datang.
***
Hari terus berlalu, dan minggu berganti. Benar adanya kalau gosip tak enak tentang Ayunda perlahan-lahan hilang.
Sikap cuek Ayunda yang memilih diam, tetap percaya diri, membuat karyawan perlahan-lahan berhenti bergosip dengan sendirinya.
Hari liburan sangat dinanti pun tiba, para karyawan yang ikut bertemu di titik kumpul pelabuhan, nanti dilanjut dengan naik speed boat kapasitas reguler muat seratus penumpang.
Speed boat itu sudah disewa, dan hanya membawa penumpang karyawan Wangsa group berjumlah 51 orang, banyak juga yang tidak ikut.
“Belum apa-apa, lidahku masam, perut terasa gak nyaman,” gumam Ayunda.
.
.
Bersambung.
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤