NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: RUMAHKU BUKAN LAGI ISTANAKU

​Setelah perjalanan panjang yang melelahkan—terutama karena harus memukul Master Ling hingga terpental seperti bola kasti—Ye Xuan akhirnya melihat puncak yang ia rindukan. Puncak Awan Tersembunyi.

​"Ah, akhirnya... bau tanah dan aroma kotoran ayam yang menenangkan," gumam Ye Xuan sambil menyeka keringat. "Nona Lin, Nona Jian, bersiaplah. Aku akan memasak ikan asin spesial dengan garam juara ini!"

​Namun, saat gerobaknya melewati tikungan terakhir menuju pondoknya, Ye Xuan mendadak menginjak rem sandal jeraminya dengan keras. Mata melotot, mulutnya menganga hingga seekor lalat hampir masuk.

​"Apa-apaan ini?!" teriak Ye Xuan, suaranya melengking tinggi.

​Pondok bambunya yang dulu reyot dan tenang, kini sudah dikelilingi oleh ribuan tenda mewah. Ada bendera-bendera sekte besar berkibar di halaman depan. Bahkan, sumur airnya yang biasa ia pakai untuk mandi, kini dipagari dengan emas dan dijaga oleh dua prajurit berbaju zirah lengkap. Di depan pintu rumahnya, ada antrean panjang orang-orang yang membawa dupa dan sesajen ubi ungu.

​"Selamat datang kembali, Guru Besar!" Master Mo tiba-tiba muncul dari kerumunan, bersujud dengan semangat yang meluap-luap. "Kami telah merenovasi tempat ini agar layak menjadi Kuil Ubi Agung! Kami juga telah menetapkan tarif kunjungan sepuluh batu spiritual per orang untuk membiayai perawatan kebun ubi Anda!"

​Ye Xuan berdiri mematung. Wajahnya perlahan berubah dari kaget menjadi sangat merah. Ia meletakkan gerobaknya dengan bantingan yang cukup keras hingga membuat tanah bergetar.

​"Master Mo..." Ye Xuan bicara dengan nada rendah yang bergetar, perpaduan antara tegas yang mengerikan dan konyol yang luar biasa. "Kau bilang... Kuil Ubi? Dan kau memasang tarif di rumahku sendiri?!"

​Ye Xuan berjalan menuju pagar rumahnya. Seorang pengawal berbaju zirah mencoba menghalanginya. "Berhenti, rakyat jelata! Kau tidak punya tiket untuk mendekati Kediaman Dewa Ubi!"

​Ye Xuan menatap pengawal itu dengan tatapan yang bisa membekukan air mendidih. "Rakyat jelata? Dewa Ubi? Dengar, Anak Muda!" Ye Xuan menarik kerah baju zirah pengawal itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang botol garam.

​"Rumah ini dibangun dari bambu yang kupotong sendiri! Sumur itu adalah tempatku mencuci celana dalam setiap Minggu pagi! Dan kau bilang aku tidak punya tiket?!" Ye Xuan berteriak, wajahnya terlihat sangat heroik tapi argumennya tentang 'celana dalam' membuat suasana menjadi sangat canggung.

​"Bubarkan semuanya!" seru Ye Xuan sambil mengayunkan wajannya ke udara. Wung! Gelombang udara panas menyapu aroma dupa di halaman. "Kalian pikir ini tempat wisata? Ini rumah! Aku pulang jauh-jauh dari Ibu Kota hanya ingin tidur siang dan makan ikan asin, bukan melihat festival dupa di depan pintuku!"

​Seorang tetua sekte maju dengan angkuh. "Senior, kami datang dari jauh untuk meminta pencerahan Dao ubi. Janganlah begitu pelit—"

​"Dao ubi kepalamu!" potong Ye Xuan dengan tegas. "Dao itu ada di kerja keras, bukan di dupa! Kalau kalian mau pencerahan, ambil cangkul di belakang dan bantu aku mencangkul ladang baru di lereng selatan! Siapa pun yang tidak memegang cangkul dalam sepuluh detik, aku pastikan dia akan merasa seperti ubi yang dipanggang hidup-hidup oleh kemarahanku!"

​Melihat Ye Xuan yang tampak seperti iblis yang sedang kelaparan (dan konyol karena masih menggendong ransel bambu), ribuan orang itu langsung panik. Master Mo yang menyadari Guru-nya benar-benar marah, segera berteriak.

​"Semuanya! Ujian kedua dimulai! Cepat ambil cangkul atau kalian akan dikutuk menjadi ubi selamanya!"

​Dalam hitungan detik, ribuan kultivator hebat yang tadinya bergaya elegan, kini berebut cangkul dan mulai menggali tanah dengan kecepatan gila. Puncak Awan Tersembunyi berubah menjadi proyek konstruksi massal dalam sekejap.

​Ye Xuan menghela napas, masuk ke rumahnya yang kini sudah dipasangi ubin marmer (yang ia benci karena licin). "Nona Lin, tolong bantu aku melepas marmer ini nanti. Aku lebih suka lantai tanah, lebih terasa seperti petani."

​Lin Meier hanya bisa tersenyum. "Baik, Senior. Ketegasan Anda dalam melindungi privasi benar-benar... unik."

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!