Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 — Pertemuan yang Membuka Luka
Suara hujan mengguyur pelan atap halte kecil di depan gedung perkantoran itu. Alya berdiri sambil memeluk map cokelat di dadanya. Tatapannya lurus ke jalanan yang dipenuhi lampu kendaraan malam.
Hari itu melelahkan. Setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya ia berhasil menjadi seorang desainer interior di perusahaan ternama Jakarta. Kehidupannya perlahan membaik, jauh berbeda dari masa sekolah yang selalu ingin ia kubur dalam-dalam.
Namun ada satu hal yang tak pernah benar-benar hilang.
Kenangan tentang Reno.
Nama itu selalu datang seperti bayangan gelap yang muncul tanpa permisi.
“Alya si kutu buku!”
“Eh, jangan dekat-dekat nanti ketularan cupu!”
Tawa teman-teman sekolah dulu masih terdengar jelas di kepalanya. Dan di antara semua suara itu, suara Reno adalah yang paling menyakitkan.
Ketua geng paling terkenal di sekolah. Tampan, populer, ditakuti semua siswa… sekaligus orang yang paling sering membuat Alya menangis diam-diam di kamar mandi sekolah.
Alya mengembuskan napas panjang.
“Sudah lewat,” bisiknya pada diri sendiri.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan halte. Alya tidak terlalu memperhatikan sampai pintu mobil itu terbuka dan seorang pria turun sambil memegang payung hitam.
Langkah Alya membeku.
Pria itu tinggi, mengenakan jas gelap yang terlihat mahal. Rahangnya tegas, tatapannya tajam, dan wajah itu…
Sangat ia kenal.
Reno.
Jantung Alya langsung berdegup tidak nyaman.
Reno juga terlihat terkejut. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap di tengah suara hujan.
“Alya…?” suara Reno pelan, seolah tak percaya.
Alya buru-buru mengalihkan pandangan. “Maaf, Anda salah orang.”
Ia melangkah pergi, tapi Reno dengan cepat menahan pergelangan tangannya.
Sentuhan itu membuat Alya menegang.
“Lepas,” ucap Alya dingin.
Reno langsung melepaskannya. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu sekarang. Tidak ada seringai mengejek seperti dulu. Tidak ada tatapan merendahkan.
Yang ada justru… rasa bersalah.
“Aku cuma mau memastikan,” katanya pelan. “Ternyata benar kamu.”
Alya tertawa kecil, hambar.
“Kenapa? Kaget lihat korban bully-anmu masih hidup?”
Ucapan itu membuat Reno terdiam.
Hujan semakin deras. Tapi suasana di antara mereka jauh lebih dingin.
“Alya… soal dulu”
“Aku nggak punya waktu buat mengingat masa lalu.” Alya memotong cepat. “Dan aku juga nggak tertarik ngobrol sama kamu.”
Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Namun tanpa Alya sadari, Reno terus menatap punggungnya sampai wanita itu menghilang di balik hujan.
Tatapan penuh penyesalan.
Malam itu, Alya duduk di tepi tempat tidur apartemennya sambil memandangi langit kota dari jendela.
Tangannya masih gemetar.
Kenapa harus bertemu Reno lagi?
Kenapa setelah bertahun-tahun, pria itu muncul kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa?
Alya menutup wajahnya pelan.
Ia membenci dirinya sendiri karena ternyata luka itu masih ada.
Sementara di tempat lain, Reno berdiri di balkon apartemennya dengan rokok yang perlahan habis di jemarinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia kembali melihat gadis yang dulu selalu ia sakiti.
Dan anehnya…
Perasaan sesak di dadanya justru semakin besar.
“Aku akhirnya nemuin kamu lagi, Alya…” gumamnya lirih.
Tatapannya kosong menembus malam.
Karena sebenarnya, sejak lama Reno ingin mengatakan satu hal yang tak pernah sempat terucap bahwa penyesalan itu tidak pernah pergi.
Namun Reno belum tahu, pertemuan itu akan mengubah hidup mereka selamanya.
Keesokan paginya, Alya berusaha menjalani harinya seperti biasa. Ia bangun lebih awal, menyiapkan kopi hangat, lalu membuka laptop untuk memeriksa revisi desain dari klien. Tetapi pikirannya terus kembali pada sosok Reno semalam.
Wajah itu masih sama.
Tatapan tajam itu masih mampu membuat dadanya terasa sesak.
Alya memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir bayangan masa lalu. Namun justru kenangan lama kembali muncul tanpa ampun.
“Eh, lihat tuh si pendiam lewat!”
Suara tawa siswa memenuhi koridor sekolah waktu itu. Alya kecil hanya menunduk sambil memeluk buku erat di dada. Ia berusaha berjalan cepat agar bisa segera sampai kelas.
Namun langkahnya terhenti ketika seseorang menarik tasnya dari belakang.
“Aduh!”
Buku-bukunya jatuh berserakan di lantai.
Tawa kembali pecah.
Dan di sana berdiri Reno bersama gengnya, dengan senyum mengejek yang dulu sangat Alya benci.
“Kalau jalan lihat depan dong, cupu,” ucap Reno santai.
Padahal jelas-jelas pria itu yang sengaja menarik tasnya.
Alya masih ingat bagaimana ia memunguti buku sambil menahan air mata, sementara Reno dan teman-temannya pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.
Kenangan itu membuat tangan Alya mengepal tanpa sadar.
“Kenapa aku harus ketemu dia lagi…” gumamnya pelan.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, membuyarkan lamunan.
Pesan dari atasannya muncul di layar.
“Alya, hari ini kamu yang presentasi proyek hotel ke klien baru. Meeting jam sepuluh.”
Alya langsung menghela napas panjang. Ia harus fokus bekerja dan melupakan semua hal tentang Reno.
Pukul sepuluh tepat, Alya memasuki ruang meeting sambil membawa beberapa map desain. Beberapa orang sudah duduk di sana, termasuk atasannya yang langsung tersenyum melihat kedatangannya.
“Ah, Alya. Klien kita sudah datang.”
Alya mengangguk sopan sambil melangkah masuk.
Namun langkahnya langsung berhenti.
Jantungnya seperti jatuh dalam sekejap.
Di kursi paling depan, seorang pria mengenakan jas hitam sedang menatapnya diam.
Reno.
Pria itu tampak sama terkejutnya.
“Alya?” gumam Reno lirih.
Atasan Alya tersenyum tanpa menyadari suasana aneh di antara mereka. “Kalian saling kenal?”
Alya buru-buru mengalihkan ekspresi wajahnya. “Tidak terlalu.”
Reno menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dan mengulurkan tangan profesional.
“Reno Mahardika. Direktur utama Mahardika Group.”
Alya menatap tangan itu sebentar sebelum membalas dengan dingin.
“Alya Pramesti.”
Sentuhan singkat itu terasa canggung.
Dan entah kenapa, Reno tidak melepaskan tatapannya dari Alya.
Meeting pun dimulai. Alya mencoba bersikap profesional meski hatinya kacau. Ia menjelaskan konsep desain hotel dengan lancar, memperlihatkan beberapa sketsa interior modern yang sudah disiapkan.
Semua orang tampak kagum.
Namun Alya sadar sejak tadi Reno lebih banyak memperhatikannya dibanding melihat presentasi.
“Konsepnya menarik,” kata Reno akhirnya. “Saya suka detail yang kamu buat.”
Kamu.
Bukan Anda.
Alya langsung menegang mendengar nada familiar itu.
“Apa ada revisi dari pihak Anda?” tanyanya cepat, berusaha menjaga jarak.
Reno tersenyum tipis. “Belum ada. Sejauh ini sempurna.”
Untuk sesaat suasana menjadi sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, Alya menyadari satu hal yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Reno yang sekarang bukan lagi remaja kasar yang ia kenal dulu.
Pria itu berubah.
Tapi masalahnya, luka lama di hati Alya belum tentu bisa ikut berubah.
Dan tanpa mereka sadari, takdir mulai mempermainkan perasaan keduanya perlahan semakin dalam setiap hari.