NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Setelah selesai makan malam, suasana di kontrakan kecil Clara berubah menjadi jauh lebih tenang. Bunyi kipas angin tua di sudut ruangan terdengar pelan berputar sambil sesekali mengeluarkan suara berdecit. Aroma telur dadar dengan daun bawang masih samar-samar tercium di udara. Meja kecil yang tadi dipenuhi piring dan gelas kini mulai dirapikan Clara dengan gerakan hati-hati.

Pak Agung duduk bersandar di kursi plastik sambil memperhatikan putrinya tanpa berkata apa-apa. Sorot matanya jauh lebih lembut dibanding beberapa bulan terakhir. Ia tidak menyangka anak yang selama ini selalu bergantung pada orang lain kini bisa berdiri di dapur sempit, memasak makan malam sendiri, bahkan menyajikannya dengan penuh percaya diri.

Clara membawa piring kotor ke wastafel kecil di dekat kamar mandi. Setelah selesai mencuci tangannya, ia menoleh ke arah ayahnya.

"Kenapa Ayah diam saja sejak tadi?" tanya Clara sambil tersenyum kecil.

Pak Agung menghela napas pelan.

"Ayah masih sulit percaya kalau yang memasak tadi benar-benar kamu."

Clara tertawa kecil.

"Memangnya dulu Clara separah itu?"

"Bukan separah itu," jawab Pak Agung tenang. "Lebih tepatnya sangat dimanjakan."

Clara langsung menunduk malu.

Ia sadar ayahnya memang tidak salah. Selama ini ia selalu hidup nyaman. Semua kebutuhan tersedia tanpa perlu meminta dua kali. Bahkan untuk sekadar mengambil minum sendiri pun sering kali ada pelayan rumah yang melakukannya.

Namun sekarang semuanya berbeda.

Ia harus bangun sendiri. Ia harus mencuci pakaian sendiri. Ia harus menghitung uang transportasi. Ia harus memikirkan makan setiap hari. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Clara benar-benar mengerti bagaimana sulitnya menjalani hidup tanpa bergantung pada siapa pun.

Pak Agung memandang wajah putrinya yang tampak lebih dewasa.

"Ayah senang melihat kamu berubah seperti ini," ucapnya pelan.

Clara mengangkat pandangannya.

"Clara juga ingin berubah jadi lebih baik, Yah."

"Karena hukuman Ayah?"

Clara menggeleng pelan.

"Awalnya Clara memang marah. Clara pikir Ayah terlalu tega menyuruh Clara tinggal di tempat sempit seperti ini." Ia tersenyum kecil sambil melihat sekeliling kontrakannya. "Tapi sekarang Clara mengerti kenapa Ayah melakukan semua ini."

Pak Agung diam mendengarkan.

"Selama ini Clara hidup terlalu mudah," lanjut Clara. "Clara selalu merasa uang bisa menyelesaikan semuanya. Clara juga sering meremehkan orang lain karena Clara tidak pernah tahu bagaimana susahnya mencari uang dan menjalani hidup sendiri."

Nada suara Clara terdengar jauh lebih tenang dibanding biasanya.

Pak Agung bisa merasakan ketulusan dari ucapan putrinya.

"Sekarang Clara baru tahu kalau naik bus itu melelahkan. Menunggu kendaraan umum itu melelahkan. Mengatur uang makan juga sulit." Clara tersenyum tipis. "Bahkan masak telur dadar saja ternyata susah."

Pak Agung tertawa kecil mendengar itu.

"Telur dadarmu tadi lumayan."

"Hanya lumayan?"

"Tidak gosong sudah termasuk kemajuan besar."

Clara langsung memajukan bibirnya kesal.

"Ayah ini benar-benar tidak bisa memuji ya."

Pak Agung tersenyum tipis.

Sudah lama sekali ia tidak berbicara santai seperti ini dengan Clara. Biasanya setiap percakapan mereka selalu berakhir dengan perdebatan. Clara keras kepala sementara dirinya terlalu tegas.

Namun malam itu berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar dekat kembali dengan putrinya.

Pak Agung kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih.

"Ini untuk kebutuhanmu," katanya sambil menyodorkan amplop itu.

Clara menatap amplop tersebut cukup lama.

Jika beberapa bulan lalu, ia pasti langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.

Namun sekarang tangannya justru tidak bergerak.

"Kenapa?" tanya Pak Agung.

Clara menggeleng pelan.

"Tidak usah, Yah."

Pak Agung mengernyit.

"Uangmu cukup?"

"Masih cukup."

"Clara, tidak perlu gengsi di depan Ayah."

"Bukan gengsi." Clara tersenyum kecil. "Clara memang sengaja ingin mencoba hidup dengan uang yang Ayah kasih sebelumnya."

Pak Agung menatap putrinya dengan heran.

"Maksudmu?"

"Kalau Ayah terus memberi uang tambahan, Clara tidak akan pernah tahu Clara berhasil mengatur keuangan atau tidak." Clara duduk kembali di kursi depan ayahnya. "Clara ingin belajar benar-benar mandiri."

Pak Agung terdiam.

Kalimat itu terasa asing keluar dari mulut Clara.

Dulu putrinya bahkan bisa menghabiskan uang dalam jumlah besar hanya untuk membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Namun sekarang Clara justru menolak uang tambahan demi belajar hidup hemat.

Dada Pak Agung terasa hangat.

Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan.

"Kalau nanti kekurangan bagaimana?" tanya Pak Agung.

"Clara akan cari cara." Clara tersenyum tipis. "Bukannya itu tujuan Ayah menyuruh Clara hidup sendiri?"

Pak Agung menghela napas kecil lalu akhirnya memasukkan kembali amplop itu ke dalam saku.

"Baiklah. Kalau itu memang keputusanmu, Ayah tidak akan memaksa."

Clara tersenyum lega.

"Terima kasih, Yah."

Pak Agung lalu berdiri dari kursinya.

"Ayah harus pulang sekarang. Besok pagi masih ada rapat."

Clara ikut berdiri.

Ada sedikit rasa berat di hatinya melihat ayahnya hendak pergi.

Walaupun ia sempat marah dan kecewa, Clara tetap merindukan keluarganya.

"Yah..."

Pak Agung menoleh.

"Apa Ibu sehat?"

Wajah Pak Agung langsung berubah lebih lembut.

"Ibumu sangat merindukanmu."

Clara langsung menunduk.

Rasa bersalah perlahan muncul di dadanya.

Ia tahu ibunya pasti sangat sedih sejak dirinya pergi dari rumah.

"Ayah juga sebenarnya ingin kamu pulang akhir pekan nanti," lanjut Pak Agung. "Ibumu sudah beberapa kali bertanya kapan bisa bertemu denganmu lagi."

Clara langsung mengangkat kepalanya.

"Benarkah?"

"Kamu mau pulang?"

Tanpa ragu Clara langsung mengangguk.

"Clara mau sekali. Clara kangen Ibu."

Pak Agung tersenyum tipis melihat wajah putrinya yang tampak antusias.

"Kalau begitu akhir pekan ini pulanglah sehari ke rumah."

Mata Clara langsung berbinar.

"Terima kasih, Yah."

"Tapi hanya sehari," ujar Pak Agung tegas. "Setelah itu kembali lagi ke sini."

Clara tersenyum kecil.

"Clara tahu."

Walaupun sebenarnya ia juga merindukan rumah besar dan nyaman itu, Clara sadar dirinya belum selesai menjalani hukuman.

Pak Agung berjalan menuju pintu kontrakan.

Clara mengantarnya sampai depan.

Malam itu gang kecil di depan kontrakan terlihat cukup sepi. Lampu jalan redup menerangi beberapa motor yang terparkir di pinggir jalan.

Sopir Pak Agung segera keluar dari mobil ketika melihat atasannya datang.

Sebelum masuk ke mobil, Pak Agung kembali menoleh ke arah Clara.

"Jaga diri baik-baik."

"Iya, Yah."

"Jangan terlalu sering makan mi instan."

Clara langsung tertawa kecil.

"Clara tidak separah itu."

"Dan jangan pulang terlalu malam dari kantor."

"Iya, Yah."

Pak Agung mengangguk pelan lalu masuk ke mobil.

Clara berdiri di depan kontrakannya sambil memperhatikan mobil ayahnya perlahan menjauh keluar gang.

Setelah mobil itu menghilang, Clara masih berdiri cukup lama.

Hatinya terasa hangat.

Untuk pertama kalinya sejak ia tinggal sendiri, Clara merasa hubungannya dengan ayahnya mulai membaik.

Sementara itu di dalam mobil, Pak Agung duduk diam sambil memandang jalanan malam.

Sopirnya sesekali melirik melalui kaca depan namun memilih tidak bicara.

Pak Agung sendiri tenggelam dalam pikirannya.

Ia tidak menyangka perubahan Clara bisa sebesar ini.

Awalnya ia mengira putrinya hanya akan bertahan beberapa hari sebelum menangis meminta pulang.

Namun kenyataannya Clara justru bertahan lebih dari satu bulan.

Bahkan sekarang putrinya mulai berubah menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Pak Agung perlahan menghela napas panjang.

Di satu sisi ia merasa bangga.

Namun di sisi lain, ada rasa tidak tega yang terus mengganggu pikirannya.

Ia tahu Clara hidup jauh lebih sulit dibanding saat berada di rumah.

Kontrakan sempit. Transportasi umum. Makanan sederhana. Pekerjaan yang melelahkan.

Semua itu sangat berbeda dari kehidupan Clara sebelumnya.

Pak Agung menatap keluar jendela mobil.

Dalam hatinya sempat muncul keinginan untuk menghentikan hukuman itu.

Ia ingin membawa Clara pulang malam ini juga.

Ia ingin putrinya kembali tidur di kamar nyaman dengan tempat tidur besar dan pendingin ruangan.

Ia ingin Clara kembali hidup tenang tanpa perlu memikirkan uang makan setiap hari.

Namun beberapa detik kemudian Pak Agung kembali mengingat alasan dirinya melakukan semua ini.

Ia tidak ingin Clara tumbuh menjadi anak yang lemah.

Ia ingin putrinya memahami kehidupan nyata.

Dan yang paling penting, ia ingin Clara menjadi pribadi yang bisa bertanggung jawab pada hidupnya sendiri.

Pak Agung memejamkan mata sejenak.

"Tiga bulan..." gumamnya pelan.

Ia sudah menetapkan hukuman itu sejak awal.

Dan Clara baru menjalani sedikit lebih dari satu bulan.

Jika ia menghentikannya sekarang, semua pelajaran yang sedang dijalani Clara bisa saja hilang begitu saja.

Pak Agung akhirnya menarik napas panjang lalu menenangkan pikirannya.

Ia harus tetap konsisten.

Walaupun berat.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil akhirnya memasuki halaman rumah.

Lampu teras masih menyala terang.

Di kursi teras terlihat Bu Ida duduk sambil memegang secangkir teh hangat yang tampaknya sudah mulai dingin.

Sejak Clara pergi dari rumah, Bu Ida memang sering duduk sendirian di teras malam-malam seperti itu.

Begitu melihat mobil suaminya masuk, Bu Ida segera berdiri.

Pak Agung turun dari mobil lalu berjalan menghampiri istrinya.

"Bagaimana Clara?" tanya Bu Ida cepat.

Pak Agung tersenyum kecil melihat wajah istrinya yang penuh rasa khawatir.

"Dia baik-baik saja."

Bu Ida langsung terlihat lega.

"Apa dia kurus?"

"Sedikit."

"Apa dia sakit?"

"Tidak."

"Apa dia menangis?"

Pak Agung tertawa kecil.

"Kamu ini bertanya tanpa berhenti."

Bu Ida langsung memukul pelan lengan suaminya.

"Saya ini ibunya Clara. Mana mungkin tidak khawatir."

Pak Agung kemudian duduk di kursi teras.

Bu Ida ikut duduk di sampingnya sambil menunggu cerita lebih lanjut.

"Tadi saya makan malam di kontrakannya Clara," ujar Pak Agung.

Bu Ida langsung menatap suaminya kaget.

"Makan malam?"

"Iya."

"Dia membeli makanan?"

Pak Agung menggeleng pelan.

"Clara yang memasak sendiri."

Mata Bu Ida langsung membesar.

"Clara memasak?"

"Telur dadar." Pak Agung tersenyum tipis. "Pakai daun bawang dan cabai."

Bu Ida benar-benar tampak tidak percaya.

"Anak itu bahkan tidak pernah masuk dapur sebelumnya."

"Makanya saya juga kaget."

Bu Ida perlahan tersenyum haru.

Di matanya, Clara memang selalu menjadi anak manja yang sulit melakukan apa pun sendiri.

Namun ternyata sekarang putrinya mulai belajar banyak hal.

"Rasanya bagaimana?" tanya Bu Ida penasaran.

Pak Agung berpikir sejenak.

"Masih biasa saja. Tapi sudah bisa dimakan."

Bu Ida langsung tertawa kecil.

"Kalau menurut kamu sudah bisa dimakan, berarti sebenarnya enak."

Pak Agung ikut tersenyum tipis.

Untuk sesaat suasana terasa hangat.

Namun beberapa detik kemudian wajah Bu Ida kembali murung.

"Saya kangen Clara," ucapnya pelan.

Pak Agung menatap istrinya.

Ia tahu istrinya sangat terpukul sejak Clara pergi dari rumah.

Walaupun Bu Ida mendukung keputusan suaminya, sebagai seorang ibu ia tetap tidak bisa berhenti mengkhawatirkan anaknya.

"Clara juga kangen kamu," kata Pak Agung pelan.

Bu Ida langsung menoleh cepat.

"Benarkah?"

Pak Agung mengangguk.

"Dan akhir pekan ini dia akan pulang sehari ke rumah."

Wajah Bu Ida langsung berubah cerah.

"Serius?"

"Saya sudah mengizinkannya."

Bu Ida langsung tersenyum lega.

Matanya bahkan tampak sedikit berkaca-kaca.

"Syukurlah... akhirnya saya bisa bertemu Clara lagi."

Pak Agung memandang istrinya diam-diam.

Ia sadar keputusan yang diambilnya memang berat untuk seluruh keluarga.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa semua pengorbanan itu mulai menunjukkan hasil.

Clara perlahan berubah.

Bukan hanya menjadi lebih mandiri.

Tetapi juga menjadi pribadi yang lebih menghargai hidup dan keluarganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!