NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Senyum

Sisa udara sejuk pasca-hujan semalam masih terasa sangat nyaman di area koridor Fakultas Sastra Universitas Wikerta. Pagi itu, Kirana sudah duduk di bangku taman bersama Maya dan Sari. Di atas meja kayu di hadapan mereka, sebuah laptop menyala menampilkan draf artikel, namun fokus Kirana sama sekali tidak berada pada barisan kata-kata di layar tersebut.

Tangannya bergerak perlahan, menyentuh plester luka bergambar beruang kecil yang masih menempel rapi di ibu jarnya. Tanpa sadar, sudut bibir Kirana perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus. Pikirannya melayang kembali pada kejadian semalam. Bayangan bagaimana Bima dengan ekspresi kakunya bersikeras menyuruhnya minum teh hangat, beradu dengan ingatan saat sup ayam hangat kiriman Danu tiba di depan rumahnya.

Kirana kembali tersenyum sendiri, menatap kosong ke arah tanaman hias di depannya. Baginya, semua perhatian itu terasa sangat baru dan menenangkan, meskipun otaknya masih mengira bahwa hal itu terjadi hanya karena kapasitas mereka sebagai sesama rekan di kampus.

"Heh! Kesambet lo ya pagi-pagi begini?"

Suara cempreng Maya yang tiba-tiba menggelegar langsung memutus lamunan Kirana. Kirana tersentak hebat, buru-buru menarik tangannya dari atas meja dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin.

"Apaan sih, May? Siapa juga yang kesambet," kilah Kirana cepat, matanya mendadak sibuk menatap layar laptop seolah-olah sedang membaca draf dengan sangat serius.

Maya, dengan jiwa anak Komunikasi yang selalu jeli melihat perubahan ekspresi orang lain, langsung menyipitkan matanya penuh selidik. Ia memajukan tubuhnya ke depan meja, menopang dagu dengan kedua tangan sambil terus menatap Kirana tanpa berkedip.

"Nggak usah bohong ya, Ra. Dari sepuluh menit yang lalu, gue perhatiin lo merenung sambil senyum-senyum sendiri kayak orang lagi kasmaran. Hayo, lo lagi mikirin apa? Nggak biasanya singa betina Sastra mukanya mendadak manis begini," selidik Maya dengan nada mengoda yang sangat kencang.

Kirana berusaha keras mempertahankan benteng pertahanannya. Ia sengaja tidak menceritakan kejadian semalam tentang Bima dan Danu kepada kedua sahabatnya itu. Kirana tahu betul tabiat Maya; jika ia menceritakan tentang perhatian dari Bima dan sup ginseng dari Danu, Maya pasti akan langsung heboh, menjadikannya bahan gosip mingguan, dan mencelanya habis-habisan sampai ke akar-akarnya.

"Gue cuma lagi mikirin plot tulisan gue yang akhirnya dapet ide bagus, May. Beneran deh," bohong Kirana, mencoba meyakinkan sahabatnya.

Sari, yang sedari tadi tenang membaca buku Psikologi di samping Maya, perlahan menurunkan bukunya. Ia membenulkan letak kacamatanya, lalu menatap Kirana dengan senyuman yang sangat tenang namun penuh arti. Sebagai mahasiswa Psikologi, Sari bisa membaca bahasa tubuh Kirana yang sedang salah tingkah—mulai dari jari yang mengetuk meja dengan ritme cepat hingga rona merah yang samar-samar muncul di pipi Kirana.

"Secara psikologis, Ra, senyum yang muncul tanpa sadar saat menatap sebuah objek kecil—seperti plester di jari lo itu—biasanya bukan karena dapet ide tulisan," ujar Sari dengan nada bicara yang lembut namun sangat menembak sasaran. "Itu respon emosional terhadap memori visual atau kejadian yang bikin lo ngerasa dihargai."

"Nah! Dengerin tuh kata Bu Psikolog!" timpal Maya lagi, makin bersemangat untuk memojokkan Kirana. "Lo nggak bisa bohong dari kita, Ra. Pasti ada hubungannya sama kating-kating Teknik kemarin kan? Jujur nggak lo, atau gue panggil Ayang Adit kesini buat nyari tahu lewat Bima?"

"Ih, Maya, jangan dong!" seru Kirana panik, yang justru membuat Maya dan Sari kompak tertawa kecil karena melihat sahabat mereka itu semakin kelabakan.

Sebelum interogasi kedua sahabatnya itu melangkah lebih jauh, ponsel Kirana yang tergeletak di atas meja bergetar, memunculkan satu pesan pribadi di layarnya.

> **Bima Teknik:** *Gue udah di depan gedung dekanat. Bawa map birunya sekarang, jangan ada yang ketinggalan. Gue tunggu lima menit.*

Kirana menghela napas panjang, namun letupan kecil yang menyenangkan kembali hadir di dadanya. Ia segera menutup laptop dan merapikan tasnya, merasa terselamatkan oleh pesan singkat tersebut.

"Gue duluan ya. Ketua tim proyek gue udah dateng di dekanat, cuma dikasih waktu lima menit," pamit Kirana buru-buru berdiri.

"Cieee, pantesan dari tadi senyum-senyum, ternyata nungguin diculik cowok Teknik!" goda Maya sambil melambaikan tangan dengan jahil.

Kirana tidak membalas dan langsung berjalan cepat meninggalkan taman. Di sepanjang koridor menuju gedung dekanat, ia kembali menatap plester di jarinya, bersiap menghadapi sikap kaku Bima yang anehnya mulai selalu ia rindukan.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!