NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|18|Nyonya Besar

1 Jam sebelum mereka berangkat menuju acara. Devara sudah berada didalam ruangan pribadinya didalam penthouse. Matanya menatap layar monitor yang telah Ia matikan beberapa menit yang lalu. Tangan kanannya memainkan lighter.

Dimeja-nya berjejer foto Aruna dari hari pertama hingga pagi hari tadi, Aruna yang telah hancur, terluka, menangis, darah dan semuanya yang membuat dirinya merasa perlu melakukannya demi sebuah dendam yang akan terbalaskan.

Drrttt... Ponsel Devara bergetar. Ada satu pesan yang mencuri perhatiannya, dari seorang dokter senior yang menangani ayah Aruna.

"Pak, Tuan Wijaya sedang kritis, apa perlu dilakukan penanganan khusus?"

Isi pesan itu mencuri perhatian Devara, bibirnya tersenyum, namun bukan senyum bahagia melainkan senyum puas karena telah berbuat sejauh itu. Devara tak membalas, memasukan ponselnya kembali kedalam saku celana.

Andre dengan panik datang kedalam ruangan Devara tanpa mengetuk pintu, wajahnya pucat seperti telah melihat setan. "Pak,.. Gawat pak" ujarnya dengan suara bergetar.

"Kenapa?" jawab Devara datar.

"N-nyonya Besar datang" Ujar Andre, panik, takut dan gemetar.

Lighter yang Ia mainkan sedari tadi terjatuh, Devara langsung bangkit dari duduknya, bahkan sempat hendak menabrak meja saat berjalan keluar ruangan. Namun didepan ruangannya sudah berdiri seorang wanita dengan gaun sifon abu-abu, heels 7 cm, dan tas hermès yang Ia jinjing santai seperti membawa kantong kresek.

Wanita itu tersenyum 2 detik, lalu berekspresi datar kembali, memeluk Devara. "Aku datang Dev, sudah lama tidak bertemu" bisik-nya.

Aroma parfum yang sama, tak berubah seperti 20 tahun yang lalu, pelukan pertamanya kepada Devara.

Marisa Shoultrez adalah sahabat dari ibu kandung Devara, Ia sudah menjadi ibu angkat Devara sejak ibunya meninggalkan Devara sewaktu kecil dan Marisa lah yang merawat Devara dan menyelamatkan bisnis Mahesa. Marisa tidak menikah, Ia adalah wanita gila bisnis, pemilik saham terbesar di Mahesa, serta perusahaan lain diluar negri.

Hari itu, Marisa datang tiba-tiba tanpa menghubungi Devara. Pandangan Marisa menyapu ruangan, pandangannya tertuju ke arah meja Devara, Ia berjalan menuju meja, melihat foto Aruna yang tergeletak lalu mengambil salah satu foto tersebut.

Devara langsung merebutnya dan mengepal semua foto itu lalu dibuang kedalam tempat sampah. Marisa duduk di kursi Devara, mengetuk meja itu dua kali. "Dev, itu istri kamu atau samsak buat lampiasin emosi" Tanya Marisa dengan lembut kepada Devara.

"Mam, kenapa datang tanpa bilang, kan aku bisa jemput di bandara" Devara mengalihkan topik, Ia tak bisa menjawab Marisa dengan pertanyaan sebelumnya, hanya didepan Marisa, Devara tak mampu menjadi dirinya sendiri.

"Mam, lebih baik istirahat dulu, pasti capek perjalanan jauh" Ucap Devara kembali.

Marisa terus menatap Devara sambil bersender di kursi. Ia tertawa pelan, lalu mengalihkan pandangannya. "Aruna Wijaya, gadis itu yang kamu nikahi tanpa memberi tahu ku..?" Tanya Marisa kembali.

Devara diam, tak bisa menjawab. Kelemahannya ada didepannya sekarang. Ia tak bisa berbuat apapun, sekuat apapun Devara membuat benteng akan runtuh jika Marisa datang.

Marisa berjalan keluar, menatap Devara yang masih mematung sejenak. Lalu pergi meninggalkan ruangan Devara, menyisakan suara heels-nya yang terdengar nyaring dilantai marmer.

Devara mengepalkan tangannya, matanya menatap foto Aruna yang Ia buang di tempat sampah dan memungutnya kembali, Ia menyalakan lighter emas-nya dan membakar foto itu.

Andre mengetuk pintu, lalu masuk kedalam ruangan. "Pak, sudah pukul 08.30, Ibu Alana sudah menelpon saya sedari tadi"

Devara mengusap kasar wajahnya, Ia melirik arlojinya sekilas, acara yang Ia siapkan menjadi kacau akibat kedatangan Marisa secara tiba-tiba, Devara langsung masuk mengambil jas nya dan keluar ruangan.

Didepan Kamar Aruna, Marisa sudah berdiri, mengetuk beberapa kali namun Aruna belum membukanya. Marisa belum beralih, Ia masih menunggu, sampai langkah Devara didengarnya semakin mendekat. Marisa tak menatapnya, hanya menatap pintu Aruna yang masih tertutup. "Bukakan pintu kamar itu untukku" Ujar Marisa datar.

"Buat apa Mam, ruangan ini kosong" Devara kembali beralasan.

Marisa menghembuskan nafas kasar, Matanya menatap Devara tajam, tangannya mengusap noda putih di jas Devara, dengan lembut sambil mendorong Devara dengan pelan.

"Dev, buka.." Ujar Marisa kembali sambil melirik kearah pintu kamar Aruna.

Devara membuka dengan menempelkan jempolnya. Pintu kamar itu langsung terbuka, Marisa langsung masuk tanpa permisi, didalam Aruna sangat terkejut, Ia sedang duduk ditepi ranjang dengan dress merah diatas lutut, serta riasan sederhana namun terkesan cantik untuk Aruna.

Marisa memeluk Aruna, punggung Aruna terasa kaku, sudah sangat lama dirinya tak merasakan kehangatan sebuah pelukan, kemudian Marisa melepas pelukannya. "Saya Marisa, panggil Mama saja" Marisa menyalami Aruna, jempolnya mengusap plester kecil di punggung tangan Aruna. Melihat luka yang ada di tubuh gadis itu, lalu tersenyum.

"Kebetulan, saya akan ikut ke acara itu. Ayo kita berangkat bersama" ucap Marisa sambil berjalan lebih dulu meninggalkan kamar Aruna. Devara disana hanya diam, tak bisa berbuat ataupun protes, karena Marisa adalah ratu disana.

Aruna bingung, Ia tak bisa menebak siapa sebenarnya Marisa, apakah ancaman baru, ataukah penyelamat. Devara membuntuti Marisa berjalan dipaling dibelakang.

......................

Acara malam hari itu yang sudah Devara siapkan, Ia sangat telat menghadirinya. Bahkan Alana sudah didalam gedung itu, menunggu kedatangan Devara yang tak tentu. Sudah dua gelas minuman Ia habiskan namun Devara belum juga datang.

"Hey, sendirian?" Tanya seorang pemuda, penampilan rapi, cukup tampan.

Alana meneliti setiap detail penampilan dan wajah lawan bicaranya. Ia tersenyum singkat, lalu kembali meneguk minumannya.

"Nunggu Pak Devara..?" tanya pria tersebut.

Alana langsung menengok kearah pria itu, terkejut karena bisa tau siapa yang Ia tunggu.

"Apa kamu selingkuhan Pak Devara?" Pria itu kembali bertanya, seolah ada kertas yang terselip yang sudah diisi daftar pertanyaan yang akan Ia tanyakan kepada Alana saat itu. Di jasnya yang rapi itu ada sebuah pin kecil logo perusahaan Wijaya Group versi lama.

"Eh, yang sopan ya anda. Ini kursi khusus tamu vip kenapa anda duduk disini" Ujar Alana sambil menunjuk logo vip di kursi tersebut.

Pria itu menatap Alana tajam, setelah itu pergi tanpa mengatakan apapun. Alana kembali meneguk minumannya. Tak lama, Suara sambutan para tamu yang melihat Devara terdengar oleh Alana. Ia menoleh keasal suara.

Devara datang dengan pakaian formal, Alana tersenyum saat melihat Devara. Namun, beberapa detik kemudian senyumnya memudar saat melihat Aruna yang datang berjalan mendekati Devara dan menggandeng lengannya.

"Dress merah..?". Mata Alana membulat saat Ia melihat drees yang Aruna pakai ialah dress yang sempat Devara berikan kepada dirinya dulu yang sengaja ditinggal di penthouse.

Dibelakang mereka, ada Marisa. Jelas Alana makin terkejut dengan kedatangan tamu penting itu. Alana berjalan mendekati mereka, Ia tersenyum saat matanya bertemu dengan Marisa.

Menghampiri lalu memeluk Marisa. "Selamat datang tan.." ujar Alana dipelukan Marisa.

Marisa tersenyum sambil menatap Alana. "Al, kok kamu datang sendirian?, mana pasangan kamu?" mata Marisa melirik Devara.

Devara diam, matanya melirik kearah Alana sekilas, dua perempuan yang Ia mainkan tunduk kepada Marisa, bukan kepada Devara, namun kepada Ibu angkatnya, Marisa Shoultez.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!