NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 38

"Cih ... ketakutan itu seharusnya ada ketika bersama kamu Bara," gumam Kenan pelan. Namun sempat terdengar samar oleh Bara yang langsung menatapnya.

"Apa?"

"Ah, Haha ... tidak apa-apa," balas Kenan merasa panik atas ucapannya sendiri.

"Huh ... lagi-lagi, aku yang harus membereskan masalah dia," oceh Kenan merasa kesal di dalam hati sebagai teman Bara.

"Iyaa, Bar—"

"Eh, maksudku pak Bara. Terimakasih ..." sambung Anya yang hampir lagi salah menyebut.

Sebelum meninggalkan Anya, Bara terlihat seperti sedang mencari sesuatu di sakunya. Ia meraba-raba pakaiannya sendiri beberapa kali.

"Oh, iyaa ... apa kamu melihat ponsel ku Anya?" tanya Bara langsung melempar pandangan menatap Anya.

Anya langsung menunjukan ponsel Bara yang sedari tadi ia pegang atas perintah Bara sendiri.

"Ini ... pak Bara sendiri yang tadi menyuruh saya untuk terus memegang ponselnya," ujar Anya. Menunjukkan ponsel Bara yang sedari tadi ia genggam. Melihat sifat pelupa Bara, Kenan sudah tidak asing lagi.

Terlihat Kenan mengurut keningnya sendiri, seraya menunduk menggeleng beberapa kali.

"Ah, baik. Terimakasih, yaa ... kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Bara kemudian yang akhirnya meninggalkan Kenan dan Anya berdua masih berdiri.

"Kamu benar-benar beruntung Anya ..." kata Kenan, sebelum mengajak Anya pergi menuju ruangannya.

"Hm?"

Anya hanya bisa menunjukkan ekspresi bingungnya, di tengah-tengah keadaan yang sedari tadi membuatnya tidak mengerti apapun.

•••

Di dalam sebuah ruangan tempat Kenan bekerja. Saat ini, dia sedang menginterview Anya yang ingin melamar bekerja sebagai asisten kebersihan di perusahaan Ara Tech.

Mereka duduk saling berhadapan. Di tengah pandangan Anya yang sibuk memperhatikan sekitarnya. Ia merasa sangat asing dengan tempat duduknya sekarang. Aroma alat tulis kantor dan berkas yang tersusun rapih di hadapannya, merupakan pengalaman pertama yang baru Anya rasakan.

"Ada apa? ... rungannya, jelek yaa?" tanya Kenan, menyindir ruangan yang selama ini menjadi tempatnya bekerja di perusahaan besar ini. Kenan melihat Anya yang nampak kebingungan.

Padahal, ruangan yang sedang mereka singgahi terlihat bagus. Amat cukup besar bagi seseorang yang bekerja sendiri di dalam ruangan itu seperti Kenan.

"Maaf, yaa, jika hal itu mengganggu kamu ..." kata Kenan, meminta maaf jika membuat Anya merasa tidak nyaman pikirnya.

Anya menggeleng dengan cepat. Menepis semua tuntutan pikiran Kenan yang tidak benar menurutnya.

"Ah, tidak! Bukan seperti itu. Aku ... hanya tidak terbiasa dan merasa asing dengan kondisi seperti ini. Aku tidak pernah interview sebelumnya," ujar Anya berbicara seraya menunduk karena merasa bingung dan gugup.

Kenan memperhatikan Anya, ia tertawa kecil saat melihat Anya menunjukkan sifat polosnya sebagai seorang wanita. Kenan sendiri malah merasa bingung, kenapa di zaman sekarang masih ada wanita polos seperti Anya.

"Haha~ kamu tidak perlu khawatir, ini hanya formalitas saja ... aku malah lebih penasaran tentang bagaimana kamu bisa bertemu dengan Bara. Bisa kamu ceritakan itu saja?" tanya Kenan sangat berantusias menunggu cerita dari Anya. Ia tidak mengira akan mendapat sisi lain dari Bara yang tidak pernah ia tahu selama ini.

"Hah? ..." kata Anya merasa kaget, ketika mendengar kata-kata permintaan Kenan. Pikiran tentang pertanyaan-pertanyaan rumit dunia pekerjaan, hilang begitu saja di kepala Anya saat Kenan hanya memintanya bercerita soal pertemuan dengan Bara.

"Itu ..." sambung Anya, menggantungkan kalimatnya ketika dia bersiap cerita. Kenan semakin tidak sabar menunggu setiap kalimat yang keluar dari mulut Anya. Hal itu terlihat ketika Kenan memasang ekspresi tidak sabar di wajahnya.

•••

Di sisi lain. Di dalam sebuah ruangan pribadi tempat Bara bekerja. Ruangan itu tidak kalah besar dengan milik Kenan. Bara berdiri menatap sebuah foto keluarga yang terpajang diatas nakas.

Seorang anak kecil yang sedang di gendong kedua orang dewasa. Anak itu terlihat sangat bahagia di dalam foto itu. Bara menatapnya cukup lama.

"Cih ..." ucap Bara berdecih. Dengan kedua tangannya yang masih bersarang di saku celana, Bara teringat sesuatu ketika melihat sebuah berkas yang menunjukan data diri Anya.

"Interiview? ..." Bara langsung teringat bahwa sekarang Anya sedang interview bersama Kenan. Ia merasa mendadak cemas jika Kenan bertanya tentang dirinya yang tidak-tidak kepada Anya.

"Aku harus keruangan Kenan. Ia pasti bertanya yang tidak-tidak ..." lanjut Bara, bergegas langsung pergi meninggalkan ruangannya menuju tempat Kenan dan Anya berada.

Tap ...

Tap ...

Tap ...

Langkah Bara semakin dipercepat ketika melewati lorong yang menuju tempat ruang kerja Kenan. Ia sudah mengira, pasti Kenan tidak menginterview Anya dengan benar. Melihat mereka sudah berteman dengan cukup lama.

•••

"Apa?!" Kenan terkaget ketika mendengar cerita dari Anya. Kenan berusaha menahan tawanya agar tidak lepas kendali ketika mengetahui sisi lain dari Bara.

Hahaha~

"Dia memasak? Mencuci piring? ... dia mau melakukan itu semua?" tanya Kenan lagi, di akhir tawanya yang tidak bisa ia tahan. Kenan sangat puas, ketika mendengar cerita seperti ini.

Anya meringis tersenyum. Merasa bingung kenapa Kenan begitu terlihat sangat senang mendengar cerita tentang Bara yang padahal biasa saja.

"Begitulah ..." sambung Anya, sedikit memaksakan senyumnya mengikuti suasana riang yang di bangun Kenan.

"Maaf. Maaf! Aku tidak bisa mengontrol kesenangan ku ... aku hanya tidak percaya, ia bisa melakukan itu," balas Kenan, berusaha kembali menetralkan ekspresinya saat tertawa lepas.

"Kenapa dia terlihat sangat senang?" gumam Anya di dalam batin, merasa bingung ketika melihat sikap Kenan yang seperti ini. "Dan kenapa ... ia malah lebih ingin tahu soal Bara daripada menginterview aku?"

Ceklek!

Suara pintu yang di buka Bara. Suasana di ruangan Kenan yang tadi terlihat riang, kini mendadak hening kembali normal saat kehadiran Bara yang baru saja membuka pintu.

Kenan yang tadi terlihat sangat bahagia kini seger bergegas merapihkan segalanya termasuk ekspresi dan sikap duduknya di hadapan Anya yang menoleh kebalakang.

"Bara?" gumam Anya pelan, keluar dengan sendirinya ketika melihat Bara yang masih memegan gagang pintu.

Bara juga sekarang menjadi diam bingung, kenapa dirinya bisa sampai berada di tempat ruang kerja Kenan. Apa hanya sebatas inging tahu pekerjaan Kenan atau ada hal lain yang ingin Bara sampaikan?

"Ekhm ..." kata Bara, melepaskan genggaman di pintu untuk segera merapihkan pakaian kantornya yang sedikit lecek.

Kenan yang sudah mengembalikan semuanya seperti normal, bertanya kepada Bara. Dengan nada biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan di hadapan temannya.

"Ada apa Bara?" tanya Kenan, bersikap normal layaknya teman Bara yang tidak merasa kepo dengan hidupnya.

Bara kembali membenarkan dasinya, sebelum menjawab pertanyaan Kenan dan memasang ekspresi normalnya kembali. Walau itu terlihat aneh bagi Anya yang sedang memperhatikannya.

"Tidak ada. Apa kamu sudah menginterviewnya?" tanya balik Bara menatao mereka tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

Kenan dan Anya saling pandang. Mereka berdua tahu, bahwa sedari tadi, Kenan hanya asik tertawa mendengar cerita pertemuan Bara dengan Anya.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!