"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Riuh rendah kantin Universitas Los Angeles pada jam makan siang laksana sebuah pasar lelang bagi kaum borjuis yang kehilangan kelas.
Denting garpu yang beradu dengan piring porselen, tawa bariton yang dipaksakan dari anak-anak konglomerat, serta desas-desus murahan yang beterbangan di udara berpadu menjadi satu atmosfer yang menyesakkan.
Tempat itu padat, nyaris tak menyisakan ruang bagi ketenangan.
Di salah satu meja sudut yang agak berjarak dari pusat keramaian, Maximilian Valerio duduk dengan punggung bersandar tegap.
Di hadapannya, Demon dan Carter sedang sibuk menyantap menu makan siang mereka sembari sesekali melontarkan bualan tentang bursa saham dan wanita. Namun, perhatian Max siang itu tidak sepenuhnya berada di atas meja.
Pandangan matanya yang tajam tertuju lurus pada koridor utama kantin yang baru saja dilewati oleh sebuah siluet yang sangat dia kenali.
Amieyara Walker melangkah membelah kerumunan.
Max seketika terpaku di tempatnya. Sepasang matanya menyipit, mengunci pergerakan wanita itu yang berjalan dengan ritme langkah yang konstan dan dagu terangkat tinggi.
Ada sesuatu yang ganjil yang membuat dahi Max berkerut halus; Yara melewatinya begitu saja tanpa menoleh, tanpa melirik, bahkan tanpa memberikan satu jengkel pun atensi.
Seolah-olah perselisihan hebat yang melibatkan urusan harga diri di antara mereka tadi pagi sama sekali tidak pernah terjadi.
Wanita itu memperlakukannya laksana embusan angin kosong—sebuah eksistensi yang tidak berpijak.
Saat Yara berjalan melintas tepat di dekat area mejanya, angin kantin yang berembus pelan membawa serta sesuatu yang tak kasat mata.
Aroma parfum milik Yara. Itu bukan wangi bunga yang manis dan kekanakan, melainkan perpaduan antara aroma blackcurrant yang pekat, sentuhan amber, dan vanilla gelap yang menguar secara elegan. Aroma yang dewasa, misterius, sekaligus memabukkan.
Wangi itu menyergap indra penciuman Maximilian dengan begitu telak, menyusup masuk ke dalam rongga dadanya sebelum dia sempat membangun benteng pertahanan.
Selera yang bagus, aku suka wanginya.
Kalimat itu terucap begitu saja di dalam benak Max tanpa melalui sensor logikanya. Jantungnya memberikan satu hentakan kecil yang asing.
Deg.
Mata Max terbelalak sempurna. Dia tersentak kecil di kursinya, seolah baru saja disengat aliran listrik tegangan rendah. Kesadarannya kembali menghantam bumi dengan keras, membawa rasa tidak percaya yang teramat sangat atas apa yang baru saja dipikirkannya.
Oh, shit! Apa yang kukatakan barusan?! batin Max merutuki kebodohan otaknya sendiri.
Jemarinya yang memegang gelas air mineral mendadak mencengkeram plastik tersebut hingga sedikit berderit.
Bagaimana mungkin dia, seorang Maximilian Valerio, memuji sesuatu yang melekat pada diri wanita yang telah menginjak-injak harga dirinya? Max menggelengkan kepalanya samar, mencoba mengusir distorsi gila yang mendadak mengacaukan fokusnya.
Sementara itu, Yara terus melangkah tanpa sekali pun menurunkan pandangannya.
Di balik ekspresi wajahnya yang sedingin es, dia tahu betul bahwa sepasang mata tajam milik Maximilian sedang menghujam punggungnya sejak dia menginjakkan kaki di area kantin.
Namun, bagi Yara, tidak ada bedanya. Mau tatapan itu sebersih apa pun, mau tampak sopan atau penuh selidik, di dalam kepalanya, Max tetaplah seekor 'bocah birahi'.
Pria mesum yang menjadikannya objek fantasi gila di malam hari, persis seperti jejak digital yang tertangkap basah olehnya semalam.
Dan siang ini, atmosfer kantin tampaknya kembali menguji batas kesabaran Yara.
Kehadirannya di tengah-tengah kerumunan mahasiswa bisnis dan hukum laksana umpan segar yang dilempar ke kolam piranha.
Sorot mata lapar dan seringai menjijikkan mulai bermunculan dari meja-meja yang dihuni oleh para pria borjuis berotak selangkangan.
"Yara..." sebuah suara bernada serak memanggil namanya dari arah meja Fakultas Bisnis, diikuti oleh siulan nakal yang bersahut-shautan.
"Kau benar-benar definisi penggoda yang begitu manis siang ini."
Yara tidak menoleh, namun telinganya menangkap jelas setiap kata yang mulai berhamburan.
"Aku membayangkan kedua kakimu yang jenjang itu melingkar di pinggangku, Yara. Kujamin kau akan lebih mendesah hebat daripada saat kau menjadi wanita simpanan tua bangkamu!" seru seorang mahasiswa bertubuh kekar dengan tawa terbahak-bahak yang langsung disambut sorakan riuh dari teman-temannya.
"Hey, Nona Asisten Profesor! Kujamin kau akan kewalahan di bawah kendaliku, Yara... Berapa tarifmu untuk satu malam yang panjang?" timpal mahasiswa hukum dari sudut lain, melambaikan kunci mobil mewahnya ke udara sebagai bentuk pamer yang dangkal.
Kalimat-kalimat menjijikkan itu meluncur tanpa filter, mengotori udara kantin yang pengap.
Semua pasang mata kini tertuju pada Yara, menunggu apakah sang janda satu malam akan menangis atau menunduk malu laksana wanita lemah pada umumnya.
Namun, Amieyara Walker adalah baja yang ditempa oleh rasa sakit. Dia menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor kantin, membalikkan badannya secara perlahan dengan keanggunan yang luar biasa.
Sepasang matanya menatap tajam ke arah kelompok pria yang baru saja melontarkan kalimat sampah tersebut. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum paling sinis dan dingin yang pernah ada.
"Sampah," ucap Yara, suaranya tidak berteriak, namun memiliki intonasi yang begitu jernih dan menusuk, sanggup membungkam tawa riuh di sekitar meja tersebut dalam sekejap.
Yara menumpu berat badannya pada satu kaki, melipat tangan di depan dada dengan gestur yang sangat intimidatif. "Sebelum kau bermimpi mendengar namamu dierang olehku, pastikan kencingmu sudah lurus, Brengsek. Urus dulu popokmu yang masih basah itu sebelum berbicara soal kendali di atas ranjang."
BOOM!
Tawa riuh yang jauh lebih besar langsung pecah menyambut ucapan Yara. Namun kali ini, tawa itu ditujukan untuk menertawakan mahasiswa-mahasiswa mesum yang baru saja dihantam balik dengan kata-kata yang merendahkan harga diri lelaki mereka secara telak.
Wajah-wajah pria yang menggoda Yara seketika berubah merah padam menahan malu, tak menyangka sang wanita simpanan memiliki taring yang begitu tajam di depan publik.
Di sudut lain, Maximilian yang menyaksikan seluruh adegan itu dari mejanya hanya bisa mendengus dingin.
Ada rasa kesal yang aneh yang bergejolak di dalam dadanya saat melihat bagaimana Yara menjadi pusat perhatian sensual dari begitu banyak pria.
Max mengalihkan pandangannya, menatap cangkir kopinya yang sudah mendingin sembari memijat pelipisnya.
Kau sendiri yang mengundang mereka untuk menggodamu, dasar wanita bodoh, batin Max dengan sinisme yang kental.
Pakaianmu itu... terlalu ketat dan seksi. Kau sengaja mengenakan rok span yang memperlihatkan kelewat jelas kaki jenjangmu yang mulus itu ke semua orang, lalu kau marah saat mereka berotak kotor? Kau benar-benar mencari masalahmu sendiri.
Max mencoba merasionalisasikan kekesalannya dengan menyalahkan cara berpakaian Yara.
Padahal, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah ego yang menolak keras kenyataan bahwa keindahan fisik yang dimiliki Yara harus menjadi tontonan dan bahan gunjingan pria-pria rendahan di kampus itu.