NovelToon NovelToon
Samudra Di Atas Langit

Samudra Di Atas Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.

Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tembok Integritas

Suasana di ruang rektorat terasa begitu tegang dan mencekam. Pendingin ruangan yang disetel maksimal seolah tidak mampu mendinginkan kepala orang-orang didalamnya. Om Bramantyo, selaku ketua pengelola sekaligus petinggi utama Universitas Samudra, berdiri dengan berkacak pinggang di depan meja rektor. Di sampingnya, Tante Ratna tampak berwajah masam sembari merangkul bahu Kenzo yang masih menunduk dengan sisa-sisa rasa malu.

"Ini benar-benar keterlaluan! Kalian tidak tahu siapa yang sedang kalian sidang saat ini?!" suara melengking Tante Ratna menggema, memecah kesunyian ruangan.

Ia menunjuk dada Profesor Hermawan dengan telunjuknya yang dipenuhi cincin berlian. "Kenzo itu cucu pemilik yayasan ini! Berani-beraninya kalian menuduhnya berbuat curang di hari pertama?!"

Om Bramantyo membetulkan letak kerah kemeja mahalnya, lalu menatap Rektor Hardianto dengan tatapan angkuh dan mengintimidasi.

"Hardianto, saya rasa Profesor Hermawan ini sudah salah paham. Anak beasiswa bernama Gala itu pasti yang menjebak putra saya. Dia sengaja menaruh dompet Kenzo di tas Profesor untuk membalikkan fakta. Tolong segera buat surat drop-out untuk anak beasiswa miskin itu."

Kenzo yang mendengar pembelaan ayahnya langsung mendongak, menyunggingkan senyum licik ke arah Davin yang berdiri gemetar di sudut ruangan. Ia merasa berada di atas angin karena posisi kekuasaan orang tuannya di kampus ini sangat absolut.

Namun, reaksi yang ditunjukkan Rektor Hardianto dan Profesor Hermawan justru di luar ekspektasi mereka. Rektor Hardianto, seorang pria paruh baya berwajah tegas, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia justru menghela napas panjang, lalu meletakkan berkas laporan kejadian di atas meja dengan ketukan yang tegas.

"Mohon maaf, Tuan Bramantyo dan Nyonya Ratna," ujar Rektor Hardianto dengan suara tenang namun sarat akan ketegasan.

"Kami memiliki bukti rekaman CCTV koridor. Meskipun tidak memperlihatkan saat dompet berpindah ke tas Profesor Hermawan, rekaman itu jelas menunjukkan Saudara Davin memasukkan sesuatu ke loker Saudara Gala. Dan bukti obrolan digital entah bagaimana tersebar luar di forum internal dosen membuktikan adanya rencana fitnah ini."

"Persetan dengan rekaman itu!" bentak Om Bramantyo, wajahnya mulai memerah karena murka keselamatannya diusik.

Ia menggebrak meja rektorat dengan keras.

BRAK!

"Saya ini petinggi kampus ini! Saya yang mengelola keuangan dan operasional di sini! Jika saya bilang anak beasiswa itu yang bersalah, maka dia yang salah! Jangan sampai saya memotong anggaran fakultas kalian!"

Profesor Hermawan berdiri, menatap Bramantyo dengan pandangan lurus tanpa gentar sedikit pun. Keangkuhan petinggi kampus itu tidak membuatnya mundur sepeser pun.

"Tuan Bramantyo, Anda mungkin pengelola di sini. Tetapi perlu Anda ingat, kami para dosen, dekan, dan rektor di universitas ini telah mengambil sumpah langsung di hadapan pendiri utama, Tuan Besar Wijaya Samudra."

Tante Ratna tersentak mendengar nama ayahnya disebut.

"Tuan Besar Wijaya selalu berpesan kepada kami," lanjut Profesor Hermawan dengan intonasi yang berwibawa.

"Untuk membimbing seluruh mahasiswa dengan jujur, adil, dan penuh tanggung jawab, tanpa memandang kasta atau status sosial. Bahkan jika itu adalah cucu beliau sendiri yang melakukan pelanggaran, beliau meminta kami bertindak tegas demi menjaga nama baik Universitas Samudra. Kami tidak akan menerima pembelaan yang mencederai integritas akademis ini."

Bramantyo tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya yang mulai muncul. "Kalian berani membawa-bawa nama Tuan Besar untuk melawan saya? Ingat, suatu hari nanti Samudra Group akan jatuh ke tangan saya dan Kenzo! Jika hari itu tiba, kalian semua akan saya tendang dari kampus ini!"

"Kalau begitu, hari itu tidak akan pernah datang, Bramantyo."

Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat familiar tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk ruang rektorat yang terbuka lebar. Suara itu begitu dingin, sanggup membuat bulu kuduk semua orang di dalam ruangan meremang seketika.

Semua orang spontan menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Kakek Wijaya Samudra, bertumpu pada tongkat kepala naganya, didampingi Pak Surya di sisi kirinya. Sorot mata sang Singa Tua menatap tajam ke arah anak perempuan dan menantunya yang serakah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!