NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Siasat Kamar Utama

Malam beringsut larut, menyisakan keheningan yang sempat membeku di dalam kamar utama. Di dekat sofa, Mireya masih sibuk dengan jemarinya, merapikan gulungan benang rajut yang berserakan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

​"Aduh..."

​Sebuah erangan bariton yang terdengar sangat menderita mendadak memecah kesunyian.

​Mireya menghentikan gerakannya. Ia menoleh pelan ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Di sana, Calix sudah duduk membungkuk di tepi kasur. Kedua tangannya mencengkeram perutnya erat-erat. Wajahnya berkerut, menampilkan ekspresi seolah-olah ia sedang menahan rasa sakit yang teramat sakral.

​"Mireya... lambungku," keluh Calix lagi, suaranya sengaja dibuat serak dan bergetar. "Rasanya seperti diaduk-aduk. Ini pasti... gara-gara racun cabai di warung baksomu kemarin sore."

​Mireya tidak langsung panik. Ia meletakkan gulungan benangnya, lalu menatap suaminya dengan kening berkerut dalam. Ada sesuatu yang janggal.

​"Sakit perut?" tanya Mireya, nadanya terdengar sangsi. "Tapi tadi pagi waktu sarapan Anda baik-baik saja. Siang tadi saat menelepon dan mengomel soal pekerjaan pun Anda terdengar sangat bugar, Tuan Calix."

​"Rasa sakitnya terlambat bereaksi, Mireya!" kilah Calix cepat. Demi meyakinkan istrinya, ia sengaja mengerang sedikit lebih keras sambil memejamkan mata rapat-rapat. "Kamu tahu sendiri kan, Dokter Januar sudah berkali-kali bilang kalau lambungku ini sensitif terhadap makanan pinggir jalan. Higienitasnya tidak terjamin."

​"Lalu kenapa kemarin Anda nekat menghabiskan semangkuk penuh?"

​"Ya karena kamu yang mengajakku ke sana!" Calix membela diri, nadanya sedikit mendesak. "Aku terpaksa menemanimu. Jadi, sekarang kamu harus bertanggung jawab atas kondisi fisik suamimu yang sedang sekarat ini."

​Mireya menghela napas panjang. Ia menatap wajah Calix lekat-lekat. Meski ada rasa curiga, melihat pria berwibawa yang biasanya selalu tegak dan angkuh itu kini tampak tak berdaya di tepi ranjang, pertahanan di hatinya runtuh juga. Rasa cemas yang tulus perlahan merayap di dadanya.

​Mireya bangkit dari sofa, melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di samping Calix.

​"Bagian mana yang paling sakit?" tanya Mireya lembut, tangannya ragu-ragu hendak menyentuh punggung Calix. "Biar aku turun ke bawah, mengambilkan minyak hangat ke dapur. Atau, apa perlu kupanggilkan Dokter Januar sekarang juga ke mansion?"

​"Tidak perlu dokter, cuma butuh—"

​Grep!

​Belum sempat Mireya menyelesaikan kalimatnya, sepasang lengan kekar Calix bergerak secepat kilat. Pria itu menarik tubuh ringkih Mireya ke dalam pelukannya dengan satu sentakan kuat. Dalam sekejap, tubuh mereka berdua sudah tumbang di atas kasur yang empuk, dengan posisi Calix mendekap Mireya teramat erat.

​Mireya tersentak. Wajahnya membentur dada bidang Calix yang keras. Ia sempat menahan napas, bersiap mendengar rintihan sakit suaminya. Namun, yang terdengar di telinganya justru detak jantung Calix yang berdegup kencang dengan irama yang sangat normal, konstan, dan kuat. Sama sekali tidak terdengar seperti detak jantung orang yang sedang menahan sakit perut parah.

​Mireya terdiam sesaat di dalam dekapan itu. Detik berikutnya, sudut bibirnya berkedut. Ia menyadari sesuatu.

​"Calix..." Mireya mendongak, menatap dagu dan rahang tegas suaminya yang berada tepat di atas kepalanya. "Anda berbohong, kan?"

​Calix tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut aroma vanila milik Mireya. "Aku tidak berbohong, Mireya. Memelukmu seperti ini adalah terapi penyembuhan terbaik untuk lambungku. Rasa sakitnya langsung berkurang lima puluh persen."

​Mireya mendengus kesal, namun ada senyum geli yang tidak bisa ia sembunyikan. Tingkah pria kaya di hadapannya ini benar-benar konyol dan di luar akal sehat. Seorang CEO kejam yang ditakuti di dunia bisnis, sekarang sedang merajuk seperti anak kecil demi mencari perhatian.

​"Oh, jadi butuh terapi?" tanya Mireya, nadanya mendadak berubah manis yang dibuat-buat.

​"Ya. Sangat butuh," sahut Calix polos.

​Tanpa aba-aba, jemari lentik Mireya bergerak cepat. Ceklek. Ia mendaratkan sebuah cubitan kecil namun bertubi-tubi di pinggang Calix. Tidak berhenti di sana, Mireya mulai menggelitiki perut dan pinggang pria itu tanpa ampun.

​"Rasain ini! Masih sakit tidak perutnya? Ayo mengaku!" seru Mireya sambil terus menggerakkan jarinya menyerang rusuk Calix.

​"Mireya—hey! Apa yang kamu lakukan? Hentikan!" Calix yang semula mencoba bertahan dengan wajah kaku langsung menggeliat hebat di atas kasur.

​Pertahanan wibawanya runtuh total dalam hitungan detik. Pria konglomerat yang biasanya bisa membuat para direktur gemetar hanya dengan satu tatapan mata, kini tidak berkutik di bawah serangan jemari istrinya. Calix meledak dalam tawa renyah yang sangat lepas—suara tawa yang jarang sekali terdengar di dalam mansion itu.

​"Hahaha! Mireya... kuingatkan, hentikan! Geli, sialan! Hahaha!" Calix terus berguling, mencoba menghindar. "Iya, iya! Aku mengaku! Aku bohong! Perutku tidak apa-apa!"

​"Nah, ketahuan kan!" Mireya tertawa penuh kemenangan, namun ia baru berhenti setelah Calix menangkap kedua pergelangan tangannya, menguncinya di atas kasur sehingga posisi mereka kini saling mengunci pandangan.

​Akting gagal yang terlihat sangat kekanak-kanakan itu justru berhasil mengikis habis sisa-sisa ketegangan dan tembok es yang sempat terbangun di antara mereka sejak sore tadi—terutama setelah kedatangan Ilana yang sempat merusak suasana hati Mireya di paviliun. Mireya kembali tertawa lepas. Sebuah tawa yang sangat cantik, merdu, dengan mata yang menyipit membentuk bulan sabit.

​Melihat tawa itu kembali menghiasi bibir manis Mireya, Calix mendadak terpaku. Gerakannya terkunci. Tatapan matanya melembut, dipenuhi rasa pemujaan yang teramat dalam dan intens. Rasa ego yang biasanya mendominasi hatinya, kini melebur begitu saja.

​Perlahan, Calix menurunkan wajahnya. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Mireya. Ciuman itu dimulai tanpa ada rasa terburu-buru, bukan sebuah letupan nafsu yang menggebu-gebu, melainkan sebuah kecupan yang teramat tulus, lambat, dan sarat akan rasa sayang yang kian mengakar di dadanya.

​Mireya tertegun, namun kali ini ia tidak menarik diri. Ia tidak lagi menjadi sosok mayat hidup yang dingin dan pasrah seperti malam-malam sebelumnya. Di dalam benaknya, Mireya tahu betul bahwa keintiman di atas ranjang ini pada akhirnya adalah bagian dari pemenuhan kontrak—sebuah transaksi rahim untuk memberikan Calix seorang ahli waris.

​Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda di hati Mireya. Ada rasa hangat yang menjalar. Ia menyerahkan dirinya dengan jauh lebih tulus. Ini adalah bentuk tanda terima kasihnya yang mendalam atas cara Calix berdiri di depannya, membelanya dengan tegas, dan mengusir masa lalu yang menyakitkan itu sore tadi di paviliun.

​Ketika tautan bibir mereka terlepas sejenak untuk meraup udara, Mireya menatap mata elang Calix yang kini meremang.

​"Terima kasih untuk yang di paviliun tadi, Calix," bisik Mireya lirih, suaranya hampir tenggelam di antara deru napas mereka.

​Calix mengusap pipi Mireya lembut dengan ibu jarinya. "Jangan pernah bahas itu lagi. Kamu milikku, Mireya. Mulai hari ini dan seterusnya, tidak ada satu orang pun yang boleh datang dan mengusik ketenanganmu. Ingat itu."

​"Tapi, kontrak kita—"

​"Persetan dengan kontrak," potong Calix serak. Tatapan matanya kian menggelap, tersulut oleh gairah yang mulai membakar kesadarannya. "Malam ini, hanya ada aku dan kamu."

​Di bawah temaram lampu kamar utama yang temaram, malam penuh gairah itu kembali bergulir. Di atas ranjang luas itu, segalanya terasa sangat berbeda dari penyatuan malam-malam sebelumnya yang terasa kaku dan penuh paksaan. Mireya kini tidak lagi hanya diam menerima perlakuan Calix dengan tatapan kosong ke langit-langit. Ia mulai menyambut sentuhan-sentuhan posesif suaminya. Jemarinya meremas bahu kokoh Calix, bahkan sesekali bergerak lembut mengimbangi ritme yang diberikan pria itu dengan sebuah keberanian baru yang belum pernah ia tunjukkan.

​Perubahan sikap Mireya yang mulai responsif itu seketika meledakkan sesuatu di dalam diri Calix. Ia merasa menang secara mutlak—bukan sebagai seorang bos atau konglomerat, melainkan sebagai seorang pria yang berhasil menyentuh hati wanitanya. Ego dan dadanya bergemuruh hebat penuh kepuasan yang tak terbendung saat melihat wajah cantik Mireya yang memerah padam, mendesah halus, dan begitu menikmati setiap sentuhan yang ia berikan di atas kulitnya.

​Calix benar-benar memuja setiap jengkal tubuh Mireya malam itu. Ia memperlakukannya seperti sesuatu yang berharga, bukan sekadar wadah untuk keturunannya. Sebelum penyatuan akhir yang mendebarkan itu dilakukan, Calix menundukkan kepalanya rendah. Ia mengecupi permukaan perut rata Mireya berkali-kali dengan penuh kelembutan, memberikan rasa hormat yang mendalam di sana.

​"Mireya..." bisik Calix, suaranya parau oleh puncaknya gairah, tepat di telinga Mireya. "Lahirkan anakku... dan tetaplah di sini bersamaku. Jangan pernah pergi."

​Kalimat itu terdengar seperti perintah, namun Mireya bisa mendengar ada nada permohonan yang teramat rapuh di dalamnya. Sebelum Mireya sempat menjawab, Calix membawa mereka berdua ke dalam pusaran penyatuan yang hangat, menaruh kembali benih terbaiknya di dalam rahim wanita yang kini telah sepenuhnya meruntuhkan seluruh keangkuhan hatinya.

​Malam yang panjang itu akhirnya ditutup oleh kehangatan dekapan yang teramat erat. Calix memeluk Mireya dari belakang, mengunci tubuh istrinya seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita itu akan menguap bersama kabut pagi. Dua hati yang awalnya dipertemukan oleh selembar kertas transaksi kontrak rahim, malam itu kian terikat tanpa mereka sadari, terkunci rapat di balik selimut kamar utama yang hangat.

1
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Ariska Kamisa: terimakasih jejak nya kak
total 1 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
mireya udah dititik pasrah terserah pasti .. sumpah nyesek sih
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!