NovelToon NovelToon
The Royal Family

The Royal Family

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana hangat di meja makan keluarga Nakomoto tiba-tiba terhenti seketika. Dari arah luar pagar rumah yang tinggi dan kokoh itu, terdengar suara deru mesin motor yang kencang mendekat, disusul bunyi bel yang dipencet berkali-kali dengan riang dan semangat. Tinnn... tinnn... tinnn!

Semua anggota keluarga serentak menoleh ke arah jendela. Nana yang sedang menunduk mengaduk sisa buburnya pun mengangkat wajah, matanya sedikit membelalak. Dia tau banget siapa yang datang pagi-pagi buta gini dengan gaya berisik kayak gitu. Hanya ada satu orang di dunia ini yang berani dan senang banget manggil dia dengan cara kacau kayak gitu: Jeno.

Ayah Yuta langsung meletakkan sendoknya dengan tegas. Wajahnya yang tadinya lembut berubah menjadi serius dan penuh wibawa. Dia menatap Nana lekat-lekat, lalu berkata dengan nada berat dan pasti.

"Nana, kamu tetap diem di posisi kamu. Jangan kemana-mana, jangan keluar, jangan nyapa dia dulu. Paham?"

Nana mengangguk pelan, sedikit bingung tapi dia tau ada sesuatu yang besar sedang terjadi. "Iya, Yah. Nana Paham."

Ayah Yuta bangkit berdiri perlahan, membenahi pakaiannya agar terlihat lebih gagah dan berwibawa. Dia menatap istri dan kedua putrinya yang lain dengan senyum penuh makna.

"Ini dia... ujian pertama buat cowok itu. Dia bilang dia mau serius sama kamu, dia bilang dia mau minta izin sama Ayah, dia bilang dia sanggup jagain kamu seumur hidupnya. Nah sekarang waktunya dia buktiin semuanya. Ayah mau liat, seberapa besar tekad dia, seberapa kuat dia, dan seberapa pantas dia buat jadi pendamping kamu. Kalau dia gak sanggup lewatin ujian ini, jangan harap dia bisa bawa kamu pergi dari sini," kata Ayah Yuta tegas, lalu berjalan meninggalkan ruang makan menuju keluar menyambut kedatangan Jeno.

Di depan pagar, Jeno sudah turun dari motornya dengan senyum paling lebar dan paling bahagia sedunia. Dia udah rapi banget, wangi, bersih, dan kelihatan banget dia udah bersiap mental dan fisik dari semalam. Pas liat Ayah Yuta keluar sendiri menyambutnya, senyumnya makin mekar, dia langsung menundukkan kepala sopan banget.

"Pagi, Ayah Yuta! Wah, kebetulan banget Ayah udah bangun. Sebenernya saya udah di depan dari tadi, tapi takut ganggu tidur Ayah sama Bunda," sapa Jeno antusias.

Ayah Yuta cuma natap dia dengan tatapan tajam dan dingin, gak ada senyum sedikit pun di bibirnya. Dia membuka gerbang pagar lebar-lebar, lalu memberi isyarat tangan buat Jeno masuk.

"Masuk ikut aku. Ada yang mau aku bahas sama kamu. Ikut aku ke ruang gym belakang," perintah Ayah Yuta singkat, lalu langsung berjalan duluan tanpa nunggu jawaban Jeno.

Jeno sedikit bingung tapi semangatnya gak luntur. Dia tau ini saat yang ditunggu-tunggu. Dia mengikuti langkah panjang Ayah Yuta dari belakang dengan napas teratur, dadanya membusung penuh percaya diri.

Mereka berdua masuk ke ruang latihan pribadi keluarga Nakomoto yang luas, dingin, dan lengkap segala peralatannya. Di sana, berdiri tegap dua orang pengawal pribadi Ayah Yuta yang berbadan besar, berotot kekar, tinggi menjulang, dan wajahnya kelihatan sangar banget. Mereka berdua adalah orang-orang terkuat yang Ayah Yuta punya, yang biasa jagain keamanan keluarga.

Ayah Yuta berhenti di tengah ruangan, berbalik badan menghadap Jeno yang berdiri beberapa langkah di depannya.

"Jeno..." panggil Ayah Yuta berat. "Kamu udah bilang kan? Kamu udah bilang ke Nana, ke orang tua kamu, kalau kamu mau serius sama Nana. Kamu mau jadi Pendampingnya, kamu mau jagain dia, kamu mau bikin dia bahagia selamanya. Kamu bilang kamu berani tanggung jawab, kamu bilang kamu sanggup ngelindungin dia dari siapa aja dan bahaya apa aja."

Jeno mengangguk mantap, matanya berbinar serius. "Iya, Ayah. Semua yang saya bilang itu seratus persen beneran, dan saya siap buktiin semuanya."

"Bagus kalau gitu," jawab Ayah Yuta sambil menunjuk ke arah dua orang berbadan kekar di sampingnya itu. "Kalau kamu mau jadi pelindung Nana, kamu harus punya kemampuan dulu. Nana itu harta paling berharga aku. Aku gak mungkin kasih dia ke cowok lemah yang gak bisa apa-apa. Nah, ini ujian pertamamu. Kalau kamu mau restu dariku, kamu harus kalahkan kedua pengawal ini. Kamu harus tanding sama mereka berdua sekaligus. Kalau kamu bisa menang, kamu dapet restuku sepenuhnya. Tapi kalau kamu kalah... lupakan Nana, jangan pernah deketin dia lagi, dan jangan pernah bermimpi jadi pendampingnya. Gimana? Berani?"

Jantung Jeno berdegup kencang banget. Dia natap kedua pengawal itu, badan mereka gede banget, kekar banget, jauh lebih besar darinya. Kalau dipikir-pikir, peluang menangnya kecil banget. Tapi di benak Jeno, bayangan wajah Nana langsung muncul jelas. Bayangan janji dia, bayangan rasa cintanya, dan tekad dia buat miliki Nana. Dia udah persiapkan ini dari lama. Dia udah latihan keras diam-diam setiap hari, dia udah belajar bela diri, dia udah latihan fisik mati-matian cuma buat hari ini. Dia yakin... dia pasti bisa.

Jeno mengangkat wajahnya, menatap Ayah Yuta berani banget, lalu tersenyum percaya diri.

"Siap, Ayah! Saya berani! Saya udah persiapkan diri saya matang-matang buat hari ini. Dan saya yakin... saya bakal menang. Demi Nana, saya bakal ngalahin siapa aja, sekuat apa pun musuhnya!" seru Jeno tegas.

Ayah Yuta mengangguk pelan, lalu memberi isyarat tangan. "Silakan mulai."

Pertarungan pun dimulai. Dua pengawal itu langsung menyerang bersamaan dengan gerakan cepat dan kuat. Suara hantaman pukulan dan tendangan bergema di ruangan itu. Dari luar kaca jendela yang besar, Nana, Bunda Winnie, Dejun, dan Renjun mengintip dari balik tirai dengan napas tertahan. Nana memegang dadanya kencang, matanya berkaca-kaca melihat Jeno yang dipukul, didorong, dan hampir jatuh berkali-kali. Dia kasihan banget, hatinya nyeri banget liat Jeno kesakitan, tapi di sisi lain... dia bangga banget. Dia liat gimana Jeno gak pernah menyerah, gak pernah mundur selangkah pun, terus bangkit lagi walau udah terhuyung-huyung.

"Ya Tuhan... kasihan banget Jeno... pasti sakit banget itu," gumam Nana pelan, tangannya meremas ujung bajunya.

"Tapi liat deh Na... dia hebat banget lho. Dia ngelawan dua orang sekaligus yang jauh lebih gede dan kuat darinya, tapi dia tetep berjuang mati-matian. Dia beneran tulus sayang sama kamu, Na. Bukan cuma omongan doang," bisik Renjun di sebelahnya, matanya juga terkesima banget.

Di dalam ruangan, keringat udah membasahi seluruh badan Jeno, napasnya berat dan terengah-engah, ada luka goresan di pipinya, lengannya biru kena pukulan, kakinya juga udah lemas. Tapi tiba-tiba, Jeno mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Dia ingat lagi janjinya. Aku harus menang. Aku harus dapetin restu Ayah Yuta. Aku harus dapetin Nana.

Dengan gerakan cepat dan cerdik yang dia pelajari selama latihan, Jeno berhasil menjatuhkan satu pengawal, lalu dengan sekuat tenaga dia menangkis serangan yang lain dan membalas dengan pukulan tepat ke titik lemah, membuat pengawal itu terhuyung dan jatuh tersungkur.

Hening seketika.

Jeno berdiri terhuyung-huyung, napasnya ngos-ngosan banget, keringat dan keringat dingin bercampur sama keringatnya. Dia menatap Ayah Yuta dengan sisa tenaganya yang tinggal dikit. Dia menang. Dia beneran menang.

Ayah Yuta diam sebentar, matanya melebar kaget tapi perlahan berubah jadi bangga dan senyum lebar. Dia berjalan mendekati Jeno, lalu menepuk-nepuk bahu pemuda itu dengan keras dan penuh rasa hormat.

"Bagus, Jeno! BAGUS BANGET!" seru Ayah Yuta riang banget. "Aku gak nyangka kamu sekuat ini, seberani ini, dan setekad ini. Kamu beneran buktiin semuanya hari ini. Aku yakin sekarang... kamu sanggup jagain Nana. Kamu sanggup lindungin dia. Kamu pantas buat dia. RESTU AYAH KASIH KE KAMU!"

Jeno langsung tersenyum lebar banget, rasa sakit di sekujur badannya mendadak hilang entah ke mana diganti rasa bahagia yang meluap-luap. Dia hampir jatuh pingsan karena lemas tapi dia tetap berdiri tegak demi harga dirinya.

Pintu ruang gym terbuka lebar. Bunda Winnie langsung masuk diikuti Nana dan kedua kakaknya. Nana langsung berlari kecil mendekati Jeno, matanya berkaca-kaca campur sedih, kasihan, dan senang luar biasa. Dia natap luka-luka di wajah dan tangan Jeno, hatinya rasanya nyeri tapi sekaligus hangat banget.

"Kamu... kamu bodoh banget tau! Kenapa harus ngelawan dua orang gede gitu sih?! Sakit tau liatnya!" omel Nana manja tapi nadanya penuh kekhawatiran.

Jeno cuma senyum konyol banget walau mukanya memar sedikit. "Gak apa-apa Na... demi kamu, sakit dikit gini gak ada apa-apanya. Yang penting... aku dapet restu Ayah kamu kan? Hehehe."

Bunda Winnie langsung nyeru Nana dengan lembut. "Nana, sini sayang. Bunda ambilin kotak obat di kamar. Kamu yang obatin luka Jeno ya. Kamu kan tau caranya, dan biar kalian berdua ngobrol berdua juga. Ayah sama Kakak-kakak tunggu di ruang tengah aja ya."

Nana mengangguk patuh, dia langsung mengulurkan tangannya memegang lengan Jeno pelan banget, menuntun cowok itu duduk di bangku panjang pinggir ruangan. "Ayo duduk sini. Sini aku obatin, duduk yang tenang jangan banyak gerak."

Jeno duduk manis banget, natap Nana yang dengan teliti dan lembut mengoleskan obat ke luka goresan di pipinya, membersihkan darah kering di lengannya, dan membalut sedikit bagian yang lecet. Tatapan Nana begitu lembut, begitu perhatian, begitu penuh kasih sayang. Jeno dari tadi gak kedip natap wajah cantik itu, rasanya dia kayak lagi mimpi.

Sambil Nana masih sibuk membalut perban di tangannya, Jeno buka suara pelan tapi jelas, matanya menatap lekat manik mata Nana.

"Na... inget gak janji kamu kemarin? Kamu bilang... kalau Ayah kamu udah kasih izin, kalau aku udah buktiin aku sanggup... kamu mau kan? Kamu mau jadi pacar aku beneran? Resmi? Bukan cuma omongan doang? Kamu mau jadi milik aku sepenuhnya?"

Gerakan tangan Nana berhenti sebentar. Dia mengangkat wajahnya, menatap mata Jeno yang berbinar penuh harap dan cinta besar banget. Dia ingat semuanya. Dia liat pengorbanan Jeno tadi. Dia liat ketulusan Jeno. Dan dia tau... dia udah mantap pilihannya.

Nana tersenyum tipis, senyum paling manis dan paling indah yang pernah Jeno liat seumur hidupnya. Dia mengangguk perlahan, lalu menjawab dengan suara lembut dan tegas.

"Iya... aku inget kok. Dan aku selalu tepatin janji aku. Sesuai janjiku... aku mau, Jeno. Aku mau jadi pacar kamu. Resmi. Beneran. Dan cuma sama kamu aja."

Jeno langsung melebar senyumnya sampe telinga, rasanya dia pengen teriak kencang banget sampe seisi komplek denger. Dia pengen meluk Nana kencang banget tapi dia tahan karena tangannya sakit.

"BENERAN?! GAK NIPU KAN?! WAH AKU BAHAGIA BANGET SIALAN! MAKASIH YA NANA! MAKASIH BANYAK! KAMU GAK AKAN NYESEL DEH SAMA AKU! AKU BAKAL JAGA KAMU MATI-MATIAN! AKU BAKAL BIKIN KAMU JADI CEWEK PALING BAHAGIA SEDUNIA!" seru Jeno penuh semangat, sampe Nana harus ketawa sambil nahan mulut cowok itu.

"Iya iya, tau deh. Udah diem dulu, nanti lukanya kebuka lagi kalau teriak-teriak mulu. Dari sekarang... kita emang resmi ya. Jadi pacar. Jadi milik satu sama lain," kata Nana pelan, lalu kembali melanjutkan mengobati luka di tangan Jeno, tapi kali ini... dengan hati yang penuh cinta dan kebahagiaan yang lengkap.

Di sudut ruangan, Ayah Yuta dan Bunda Winnie yang ngintip dari balik pintu cuma bisa saling pandang dan tersenyum lega. Ujian selesai, restu udah dikasih, dan hati Nana udah resmi jadi milik Jeno sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!