NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DI LAPANGAN HIJAU

​Dengan setelan kemeja formal tanpa dasi dan kawalan beberapa staf manajemen, Samudera berjalan menyusuri area taman publik yang asri. Langkah kakinya mendadak terhenti saat pendengarannya menangkap suara tawa renyah seorang anak kecil dari arah lapangan rumput dekat gazebo.

​"Ibu, lihat! Arka bisa tendang bolanya tinggi sekali!"

​Samudera menoleh ke sumber suara. Di sana, seorang bocah laki-laki berusia empat tahun sedang berlari mengejar bola sepak berukuran kecil. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, dan tawanya begitu lepas.

​Seketika, jantung Samudera berdesir hebat. Ada rasa familier yang menghantam dadanya dengan begitu telak saat menatap wajah anak itu. Garis rahangnya, bentuk hidungnya, bahkan cara anak itu berlari... seolah-olah Samudera sedang melihat cermin masa kecilnya sendiri.

​"Pak Samudera? Ada yang salah dengan area ini?" tanya salah satu staf manajemen yang kebingungan melihat bos mereka tiba-tiba mematung.

​Samudera tidak menjawab. Matanya terpaku, terkunci pada sosok bocah itu. "Anak itu..." bisik Samudera lirih.

​Sebelum Samudera sempat melangkah mendekat, seorang wanita dengan pakaian kasual namun anggun berjalan anggun dari balik gazebo, membawakan sebotol air mineral untuk anak tersebut. Rambut wanita itu terurai pendek sebahu, bergerak indah tertiup angin sore.

​"Arka, jangan lari terlalu kencang, Sayang. Minum dulu," panggil wanita itu lembut.

​Mendengar suara itu dan melihat wajah sang wanita dari samping, napas Samudera tercekat. Seluruh sel di tubuhnya menegang. Wajah yang selama empat tahun ini hanya bisa ia lihat dalam rekaman CCTV buram dan foto usang di meja kerjanya, kini berdiri nyata hanya dalam jarak beberapa puluh meter darinya.

​Wanita itu adalah Alana. Wanita yang selama ini ia cari tanpa kenal lelah.

​Alana yang sedang menyeka keringat di dahi Arka, tiba-tiba merasakan sebuah tatapan yang begitu intens menusuk ke arahnya. Naluri perlindungannya sebagai seorang ibu langsung bangkit. Ia mendongak, dan pandangan matanya langsung beradu dengan sepasang mata tajam milik Samudera.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi mereka berdua.

​Alana membeku. Jantungnya berdegup kencang secara abnormal. Memori malam sepuluh bulan sebelum kelahiran Arka berputar cepat di kepalanya. Laki-laki itu... laki-laki dengan tatapan intens yang sama, yang telah memberikan benih kehidupan di rahimnya, kini berdiri di sana dengan setelan mewah yang menunjukkan kelas sosial yang tak tergapai.

​Ketakutan terbesar Alana seketika menjadi nyata. Sambil memeluk bahu kecil Arkana dengan protektif, Alana mundur selangkah, bersiap untuk membawa putranya pergi dan bersembunyi kembali di dalam istana aman yang telah ia bangun.

"Arka, ayo kita pulang sekarang," ucap Alana dengan nada suara yang bergetar menahan panik. Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Alana langsung menyambar bola plastik Arka dan menuntun langkah bocah kecil itu setengah berlari menjauh dari area taman.

​Naluri keibuannya menjeritkan alarm bahaya. Alana tidak tahu siapa laki-laki itu sebenarnya di dunia nyata, tetapi pakaian mewah dan deretan pengawal di belakangnya sudah cukup menjadi bukti bahwa dia bukan orang sembarangan. Alana takut benteng perlindungan yang dibangunnya dengan air mata selama empat tahun ini runtuh dalam sekejap.

​Namun, Arkana yang kebingungan karena langkah ibunya yang tergesa-gesa, refleks menolehkan kepalanya ke belakang.

​Bocah empat tahun itu menatap lurus ke arah Samudera. Alih-alih takut melihat tatapan tajam pria asing itu, Arka justru memamerkan senyuman lebar hingga deretan gigi susunya yang rapi terlihat. Tangan mungilnya terangkat, melambai ceria ke arah Samudera sebelum tubuh kecilnya menghilang di balik tikungan jalan kompleks bersama Alana.

​Di tempatnya berdiri, Samudera seperti dihantam badai.

​Senyuman Arka barusan adalah kepingan teka-teki terakhir yang mengunci keyakinannya. Kerlingan mata bulat itu, lesung pipit tipis di sudut bibirnya saat tersenyum—Samudera tahu betul bentuk itu. Ibunya sendiri masih menyimpan foto masa kecil Samudera di dalam liontin emas, dan bocah yang baru saja melambai padanya adalah replika sempurna dari dirinya sendiri di masa lalu.

​"Pak Samudera? Anda baik-baik saja?" Rendy, sang asisten, melangkah maju dengan cemas melihat wajah bosnya yang mendadak pucat pasi namun matanya berkilat emosional.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!