NovelToon NovelToon
Dekapan Bayang

Dekapan Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / CEO / Cintapertama
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Queenca04

Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Sesampainya di rumah Anggie sebenarnya ingin mengajak Zian untuk masuk tapi Anggie gak mau mengambil resiko takut Angkasa Abangnya pulang.

Setelah Anggie turun Zian langsung membantu membuka helmnya. Wajah mereka hanya menyisakan beberapa sentimeter saja dan membuat jantung Anggie kembali berdetak kencang. Anggie takut kalau Zian sampai mendengarnya.

"Ma-makasih," Anggie gugup.

Zian hanya mengangguk sambil tersenyum dan membuat Zian semakin ganteng.

Pantesan saja hampir semua murid di sekolah membicarakan ke gantengan Zian ternyata Zian memang ganteng apalagi saat dia tersenyum.

Anggie langsung menepis pemikiran itu saat Zian yang tiba-tiba langsung masuk kedalam sebelum dia mempersilahkan masuk.

"Lo mau apa?" Anggie mencoba mengikuti Zian dari belakang karena langkah Zian yang cepat Anggie pun sampai harus berlari.

"Gue mau pamit sama Bunda," Zian sambil berbalik dan Anggie langsung terdiam.

Saat Zian akan mengetuk pintu tiba-tiba Anggun membuka pintu.

"Assalamualaikum, Bunda," ucap Zian langsung mencium punggung tangan Anggun diikuti Anggie dari belakang.

"Waalaikumsalam, kalian kok bisa bareng gini pulangnya?"

"Iya Bun maaf tadi saya ijin nganterin Anggie pulang karena Bang Angga gak bisa nganterin jadi saya yang mengantarkan Anggie pulang. Saya sudah dapat ijin dari bang Angga langsung kok Bun."

Anggun tersenyum, "Makasih ya udah nganterin Anggie pulang. Mari masuk dulu," ajak Anggie.

"Terima kasih Bunda tapi maaf saya harus segera pulang udah mau hujan."

"Hati-hati di jalan ya, sekali lagi terima kasih banyak sudah nganterin Anggie pulang."

Setelah Zian pergi mereka pun masuk kedalam rumah. Kini Anggie duduk di sofa untuk beristirahat.

"Zian baik ya dek."

"Iya Bun Kak Zian emang baik," puji Anggie keceplosan dan langsung menutup mulutnya dengan tangan hingga membuat Anggun tertawa.

"Enggak apa-apa kali dek kalau adek suka sama Zian juga. Bunda juga sebenarnya suka sama Zian..."

"Bunda suka sama Zian? Dia kan masih muda Bun," Anggie langsung menghadap ke arah ibunya dan Anggun tertawa saat mendengar Anggie protes.

"Maksud bunda bukan berati suka itu cinta tapi lebih ke suka sama perlakuannya dia itu sopan. Jarang lho dek anak zaman sekarang yang sopan kayak Zian. Biasanya dia kalau udah nganterin cewek langsung aja pergi tanpa pamit dulu sama orang tuanya berarti Zian tanggung jawab. Dan bunda suka sama orang yang seperti itu cocok buat kamu."

"Tapi adek takut Bun," cicit Anggie.

"Takut apa sayang?" Anggun sambil membelai rambut Anggun.

"Takut Abang tahu kalau aku dekat sama cowok."

Anggun memeluk Anggie memberikan kenyamanan kepada anaknya. Abangnya protektif terhadap Anggie bukan berarti Anggie tidak boleh dekat atau suka dengan lawan jenis tapi untuk melindungi adiknya karena Anggie memiliki trauma di masa lalu dengan cinta pertamanya yaitu ayahnya yang mengkhianatinya. Cinta pertama anak perempuan kan ayahnya.

***

Hujan lebat mengguyur jalan tapi Zian terus saja melajukan motornya hingga sampai di rumahnya. Ada beberapa prajurit yang menjaga gerbang rumahnya. Mereka tak heran dengan kelakuan dari anak-anak atasannya termasuk Zian yang seperti gengster. Biasanya anak dari seorang prajurit itu disiplin tapi berbeda dengan Zian dia tidak pernah mau mendengarkan omongan ayahnya walaupun ayahnya selalu keras dalam mendidik Zian.

"Makasih Om," seru Zian kepada prajurit yang sudah membukakan pintu gerbang. Zian memang seperti gengster tapi kesopanan tetap di utamakan. Hal itu yang selalu diterapkan orang tua Zian kepada anak-anaknya. Selalu menjaga sopan santun apalagi kepada orang yang lebih tua.

Saat masuk di sana terlihat ibu dan adik bungsunya sedang duduk nonton TV. Ibunya Zian kaget saat melihat anaknya basah kuyup. Ia langsung memanggil ART untuk membawakan handuk dan ia berikan kepada Zian. Regina dengan telaten membantu anaknya mengerikan rambutnya.

Adiknya yang melihat manjanya seorang Zian kepada ibunya membuat dia ilfil.

"Udah gede masih aja di bantuin Mama. Dasar anak Mama," cibir adik Zian.

"Mending gue anak Mama dari pada lo anak Dugong," ledek Zian tak mau kalah.

"Abang gak boleh begitu sama adiknya gak baik bicara kayak gitu. Rara juga jangan memancing abangnya terus."

"Tuh dengerin lo," Regina langsung menatap tajam kearah anak laki-lakinya.

"Aku ke kamar dulu Ma."

"Nanti jangan lupa turun makan malam," teriak mamanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam keluarga Zian sudah berkumpul di meja makan.

Ayah dan adik-adiknya kaget saat melihat Zian ikut makan bersama.

"Tumben Abang ikut makan malam," sindir saudara kembarnya bernama Ziva.

"Emang gak boleh gue ikut makan bareng kalian?"

"Biasanya kan Abang gak pernah makan malam bersama, pulangnya juga biasa tengah malam," sindir sang Papa.

"Udahlah mending balik lagi ke kamar aja," Zian langsung berdiri namun ibunya mencekal tangan anak sulungnya itu.

"Kamu kayak bukan pria aja gitu aja tersinggung, kayak bukan ketua geng aja," ledek sang Papa. "Duduk makan!"

Zian pun duduk di samping sang Mama. Dengan telaten Mama Zian melayani suami lalu anak sulungnya yang memang selalu manja minta dilayani beda dengan kedua adiknya yang memang selalu mandiri.

Suasana makan malam pun hening tanpa ada yang bicara. Setelah selesai Zian menghampiri ayah dan ibunya yang duduk di ruang tengah.

Dandi yang memang peka terhadap sekitar langsung bertanya pada sang anak sulung.

"Ada apa Bang?"

"Aku mau ikut Akmil sesuai perintah Papa."

Dandi mengangkat satu alisnya, "tumben."

"Aku serius Pa."

"Kamu mau nunjukin keseriusan kamu sama keluarga Anggie?" tebak Papa Zian yang memang benar. Zian hanya diam sambil menunduk.

"Sekarang kamu fokus sama sekolah kamu yang sebentar lagi akan ujian. Papa gak mau kamu kembali mengurusi geng motor kamu itu. Papa juga gak mau dengar lagi kamu ikut balapan atau tawuran. Kalau kamu gak bisa melakukan syarat dari Papa maka Papa juga gak mau bantu kamu buat persiapan masuk Akmil," Zian mengangguk.

"Kok Abang pilih jadi Akmil gak kuliah aja buat nerusin perusahaan Papa?" tanya Mamanya.

"Abang mau kayak Papa Ma, jadi Akmil tapi bisa punya perusahaan juga."

"Tapi Papa punya perusahaan bukan punya Oma," Seru sang Papa.

"Aku juga bisa kayak Papa."

"Kalau kata Mama sih mending kuliah aja Bang. Kalau Abang jadi tentara kasian mantu mama nanti ditinggal jauh. Mama juga dulu baru nikah tiga hari Papa harus tinggal pergi Papa buat tugas. Mama gak mau nanti menantu Mama juga mengalami hal seperti itu seperti Mama. Karena Mama merasa tersiksa karena menahan rindu."

"Kamu memang tersiksa ya sayang?" ujar Dandi sambil mengecup pipi istrinya. Hal itu memang sering mereka pertontonkan di depan anaknya karena papanya teramat sangat bucin sama ibunya.

Curahan hati Mamanya membuat Zian kembali berpikir tentang pilihannya untuk menentukan masa depannya nanti.

...****************...

Menurut kalian Zian lebih memilih jadi tentara atau CEO?

1
Abah Pnd
pasti jatuh miskin anggoro
Queen: pantas ya buat seorang tukang selingkuh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!