NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Langkah kaki Raisa bergema pelan di koridor sayap VVIP Rumah Sakit Medika. Di tangannya, terselip sebuah buket kecil bunga krisan putih, bunga favorit Tasya. Hatinya sedikit mencelos saat menerima kabar dari Aris, kakak Tasya, bahwa sahabatnya itu harus kembali menjalani perawatan intensif karena kondisi sarafnya yang fluktuatif.

Bagi Raisa, Tasya bukan sekadar sahabat. Mereka adalah dua kepingan yang saling melengkapi sejak masih kecil. Jika Raisa adalah "The Ice Queen" yang tangguh menghadapi dunia, Tasya adalah "The Soft Soul" yang sayangnya harus terpenjara oleh raga yang lemah.

Tepat di depan pintu kamar 01, Raisa menarik napas panjang, memasang senyum terbaiknya agar tidak menunjukkan kekhawatiran yang berlebih. Namun, saat ia baru saja hendak memutar kenop pintu, pintu tersebut terbuka dari dalam.

Sesosok pria dengan jas putih yang licin keluar dengan wajah serius yang sangat ia kenal.

Fatih.

Keduanya terpaku di ambang pintu. Dokter Fatih tampak sedikit terkejut melihat Raisa berdiri di sana dengan buket bunga, sementara Raisa tak menyangka bahwa dokter yang menangani sahabatnya adalah pria yang belakangan ini terus-menerus muncul di kehidupannya.

"Dokter Fatih?" sapa Raisa lirih.

Fatih segera kembali ke mode profesionalnya. "Bu Raisa. Anda... menjenguk Tasya?"

"Dia sahabat saya" jawab Raisa singkat.

Fatih mengangguk perlahan. Ada kilatan aneh di matanya "Kondisinya sedang stabil setelah terapi tadi. Kehadiran Anda mungkin akan membantu hormon endorfinnya. Permisi."

Fatih melangkah pergi dengan langkah tegap, namun aroma parfumnya yang khas, antara campuran aroma antiseptik dan kayu pinus, masih tertinggal di indra penciuman Raisa.

......................

Raisa masuk ke dalam ruangan. Tasya tampak sedang menatap jendela dengan binar mata yang berbeda dari biasanya. Saat melihat Raisa, wajah pucatnya seketika cerah.

"Raisa! Kamu datang!" seru Tasya lembut.

Raisa mendekat dan memeluk sahabatnya itu dengan hati-hati. "Aku dengar kamu masuk lagi. Kenapa tidak bilang dari kemarin?"

"Cuma kontrol rutin yang sedikit diperpanjang, Rai. Jangan khawatir," jawab Tasya sambil menerima bunga dari Raisa. "Tapi tahu tidak? Ada hal yang jauh lebih mujarab daripada obat-obatan itu semua."

Raisa menaikkan sebelah alisnya, duduk di kursi samping ranjang. "Apa itu? Cokelat? Atau novel baru?"

Tasya tersenyum malu-malu, rona merah tipis muncul di pipinya yang tirus. Ia menoleh ke arah pintu yang tadi dilewati Fatih. "Dokter yang barusan keluar itu... Dokter Fatih. Kamu sempat berpapasan?"

Raisa terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"Iya, kami sempat berpapasan."

"Rai," Tasya meraih tangan Raisa, suaranya terdengar penuh harap dan kegembiraan yang tulus. "Selama bertahun-tahun aku sakit, aku merasa duniaku gelap. Tapi Dokter Fatih... dia berbeda. Dia sangat dingin, bicaranya irit, tapi setiap kali dia memeriksa sarafku, aku merasa dia sangat peduli dengan cara yang tidak biasa."

Raisa mendengarkan dengan perasaan yang campur aduk. Ia tahu betul bagaimana Fatih—pria yang kemarin bersikeras melindunginya di gerbang sekolah.

"Tadi pagi, saat dia memeriksa refleks kakiku, dia sempat menanyakan apakah aku merasa nyaman dengan suhunya," lanjut Tasya dengan mata berbinar. "Mungkin bagi orang lain itu pertanyaan medis biasa, tapi bagiku, perhatian kecilnya itu seperti oksigen. Aku rasa... aku mulai menyukainya, Rai. Sangat menyukainya."

Hati Raisa berdenyut aneh. Ada rasa sesak yang tidak bisa ia jelaskan secara logis. Ia seharusnya senang sahabatnya menemukan semangat hidup kembali, namun bayangan Fatih yang menatapnya tajam di bawah rintik hujan atau saat Fatih berkata, 'Dunia tidak akan runtuh jika Anda membagi beban itu', mendadak terputar kembali di otaknya.

"Dia pria yang... sangat berdedikasi pada pekerjaannya, Sya," ucap Raisa hati-hati, berusaha menjaga suaranya tetap datar.

"Iya, kan? Dan dia sangat tampan saat sedang fokus membaca hasil lab," Tasya tertawa kecil, tawa yang sudah lama tidak Raisa dengar. "Keluargaku juga sangat mendukung. Papa bilang, kalau aku sembuh, dia ingin mengundang Dokter Fatih makan malam. Aku sangat berharap itu terjadi."

Tasya kemudian menatap Raisa dengan penuh selidik. "Eh, tapi tunggu. Kamu tadi bilang kami sempat berpapasan dengan nada yang aneh. Apa kamu sudah mengenal Dokter Fatih sebelumnya?"

Raisa tertegun. Ia dihadapkan pada pilihan, jujur bahwa Fatih adalah paman dari muridnya dan pria yang belakangan ini gencar mendekatinya, atau menjaga perasaan sahabatnya yang sedang berjuang untuk sembuh.

"Hanya... urusan sekolah, Sya. Keponakannya bersekolah di tempatku mengajar," jawab Raisa, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

Tasya menghela napas lega. "Syukurlah. Berarti dia memang pria yang baik ya, sampai urusan keponakan pun dia yang turun tangan. Kamu harus bantu aku ya, Rai? Cari tahu lebih banyak tentang dia. Aku ingin sekali bisa lebih dekat dengannya kalau aku sudah keluar dari sini."

Raisa hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Di dalam hatinya, ia merasakan dilema yang luar biasa. Ia terjebak di antara kesetiaan pada sahabatnya yang rapuh dan perasaan asing yang mulai tumbuh untuk pria yang dijuluki Pangeran Es itu.

.......................

Pagi itu, suasana di kediaman Ar-Rais terasa berbeda. Pak Usman, yang biasanya tampil tenang dan santun, kini duduk di ruang tengah dengan sebuah map cokelat tebal di hadapannya. Di layar televisi, berita pagi menyiarkan kabar yang menghebohkan seluruh kota Penangkapan Pak Baskoro atas dugaan korupsi proyek pembangunan infrastruktur publik.

Visual di berita tersebut memperlihatkan Pak Baskoro yang biasanya pongah, kini tertunduk dengan rompi oranye saat digiring masuk ke mobil tahanan oleh petugas KPK.

Gavin, yang baru saja selesai bersiap untuk sekolah, berdiri mematung di depan televisi. Matanya membelalak, lalu ia menoleh ke arah kakeknya dengan senyum lebar yang tak terbendung.

"kakek... jadi ini alasannya Kakek sibuk sekali belakangan ini?" tanya Gavin dengan suara bergetar karena antusias.

Pak Usman menyeruput kopi hitamnya perlahan, lalu memberikan anggukan kecil.

"Kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak akan bertahan lama, Gavin. Kakek hanya membantu menyusun kepingan bukti yang selama ini dia sembunyikan dengan rapi. Selebihnya, biarkan hukum yang bekerja."

Gavin mengepalkan tangannya di udara. "Yes! Akhirnya! Ini bukan cuma soal korupsi, tapi ini soal keadilan buat Vina dan Bu Raisa. Tanpa Pak Baskoro, Rendi nggak punya tameng lagi untuk bebas dari hukuman saat di pengadilan nanti!"

"Ingat, Gavin," Pak Usman mengingatkan dengan nada bijak, "jangan membalas kejahatan dengan ejekan. Kabar ini adalah kemenangan bagi integritas, bukan bahan untuk merendahkan orang lain. Sampaikan ini pada Bu Raisa, dia sudah berjuang sangat keras."

"Siap, Kek! Gavin berangkat dulu!" seru Gavin sambil menyambar tas sekolahnya dan mencium tangan kakeknya dengan penuh hormat.

.....................

Setibanya di gerbang sekolah, atmosfer terasa sangat kontras. Jika biasanya mobil mewah Pak Baskoro terparkir gagah untuk mengantar Rendi, pagi ini Rendi turun dari ojek daring dengan wajah tertunduk dan jaket hoodie yang menutupi kepalanya.

Gavin melihat Dafa di lobi sekolah. Keduanya langsung bertukar pandang. Dafa memberikan jempol pelan.

"Lo udah denger beritanya, Vin?" bisik Dafa saat mereka berjalan menuju kelas.

"Kakek gue yang kasih tahu tadi pagi." jawab Gavin.

Gavin segera berlari menuju ruang guru. Di sana, ia melihat Raisa sedang duduk di mejanya, menatap layar ponsel dengan ekspresi yang sulit diartikan

"Bu Raisa!" panggil Gavin setengah berbisik.

Raisa mendongak. "Gavin? Ada apa?"

"Ibu sudah lihat berita? Pak Baskoro sudah ditangkap. Kakek saya bilang, semua bukti sudah lengkap. Ibu dan Vina aman sekarang. Tidak akan ada lagi ancaman yang datang ke sekolah ini," ucap Gavin dengan binar mata yang tulus.

Raisa terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, mengembuskan napas panjang yang seolah-olah telah ia tahan selama berminggu-minggu. "Terima kasih, Gavin. Sampaikan terima kasih saya yang sebesar-besarnya pada Pak Usman. Ini lebih dari sekadar berita bagi saya... ini adalah napas baru."

Di tengah kegembiraan itu, Gavin segera mengirim pesan singkat ke grup keluarga.

Gavin :

Mission accomplished! Musuh tumbang. Bu Raisa tersenyum lagi. Kakek memang yang terbaik!

Di rumah sakit, Fatih membaca pesan itu saat baru saja keluar dari ruang operasi. Ia tidak membalas, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka.

1
Zainatul Fibriyana
bagus bgt cerita
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Zainatul Fibriyana
bagus bgt ceritanya
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!