NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit yang terbaik

Malam itu, kerinduan yang tertahan selama dua minggu meledak dalam kelembutan. Langit menciumi setiap inci wajah Senja dengan penuh takzim, memberikan perhatian dan cinta yang begitu dalam seolah ingin menyimpan cadangan kenangan untuk dua tahun ke depan. Di bawah atap rumah Abah, mereka menghabiskan malam dengan keintiman yang penuh rasa syukur dan janji setia.

Pagi hari di kediaman Ndalem disambut dengan aroma nasi goreng kencur dan kopi hitam yang mengepul dari arah dapur. Sinar matahari masuk melalui jendela besar di ruang makan, menciptakan suasana yang sangat tenang dan bersahaja.

Langit keluar dari kamar dengan wajah yang benar-benar cerah. Tidak ada lagi kantung mata hitam atau wajah lesu seperti hari-hari sebelumnya. Ia tampak gagah mengenakan koko putih bersih dan sarung yang rapi. Sementara itu, Senja berjalan di belakangnya, langkahnya sangat pelan, matanya terus menatap lantai. Wajahnya yang putih tampak bersemu merah jambu, dan setiap kali ia teringat kejadian semalam di bawah izin Abahnya, jantungnya berdegup tak karuan.

Di meja makan, Abah Danardi dan Ummi Siti Aminah sudah menunggu.

"Selamat pagi, Abah, Ummi," sapa Langit dengan nada suara yang mantap dan penuh semangat. Ia segera menghampiri Abah dan mencium tangannya, lalu melakukan hal yang sama pada Ummi.

"Selamat pagi, Langit. Wah, wajahmu segar sekali pagi ini. Sepertinya 'obat' dari Abah semalam manjur ya?" goda Ummi Siti sambil melirik Senja yang baru saja duduk di sampingnya.

Senja semakin menunduk, tangannya sibuk merapikan taplak meja yang sebenarnya tidak berantakan. "Ummi..." bisiknya malu.

Abah Danardi terkekeh pelan sambil menyesap kopinya. "Tentu saja manjur, Ummi. Langit ini habis ujian berat, butuh istirahat yang berkualitas. Dan sepertinya, kualitas tidurnya semalam sangat baik."

Langit hanya bisa tersenyum lebar tanpa dosa. Ia mengambilkan piring untuk Senja, mengisi nasi dan lauknya dengan perhatian yang sangat terang-terangan di depan mertuanya. "Tentu, Abah. Terima kasih banyak. Langit merasa seperti baru saja di-charge seribu persen."

Ummi Siti yang melihat perhatian Langit kepada anaknya pun tidak tahan untuk tidak menggoda lagi.

"Senja, kok nasinya cuma dilihat saja? Pipimu itu lho, sudah kayak udang rebus. Ayo dimakan, nanti kamu lemas sekolahnya. Kasihan suamimu sudah kasih semangat semalaman, masa kamunya malah melamun."

"I-iya, Ummi," jawab Senja pelan, ia memberanikan diri melirik Langit.

Di bawah meja, Langit sengaja menyentuhkan lututnya ke lutut Senja, memberikan kekuatan dan dukungan. Tatapan mata Langit seolah berkata, 'Tenang saja, sayang, nikmati saja godaan mereka.'

"Langit," panggil Abah dengan nada yang lebih serius namun tetap hangat. "Setelah sarapan, kamu ada jadwal di pesantren.

Dan Senja, kamu harus segera masuk kelas. Ingat, meski semalam kalian diberi kelonggaran, di luar rumah ini kalian tetap santri yang harus patuh aturan."

"Siap, Abah," jawab Langit tegas.

"Langit akan tetap menjaga sikap di luar. Tapi kalau boleh jujur, rasanya berat sekali harus keluar dari rumah ini."

"Bisa saja kamu ini," sahut Ummi Siti sambil tertawa.

Setelah sarapan selesai, di lorong menuju pintu keluar, Langit sempat menarik Senja ke balik dinding sebentar saat Ummi dan Abah sudah berjalan duluan. Ia mengecup kening Senja dengan cepat.

"Semangat sekolahnya, Dek kelas sepuluh kesayangan Mas Langit," bisik Langit sambil mengedipkan mata, membuat Senja hampir saja mencubitnya jika tidak ingat mereka sedang berada di Ndalem.

Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Halaman SMA Pesantren Mambaul Ulum disulap menjadi panggung megah untuk acara pelepasan siswa kelas dua belas. Udara pagi itu terasa sejuk, namun atmosfer di dalamnya penuh dengan haru dan kebanggaan.

Saat kepala sekolah berdiri di atas podium untuk membacakan pengumuman kelulusan, jantung Langit berdegup kencang. Senja, yang duduk di barisan kelas sepuluh bersama teman-temannya, tak henti-hentinya meremas jemarinya sendiri, berdoa dalam hati untuk sang suami.

"Dan predikat lulusan terbaik dengan nilai tertinggi tahun ini, jatuh kepada... Langit Sterling!"

Suara riuh tepuk tangan pecah.

Langit berdiri dengan gagah mengenakan toga dan kalung samir. Ia melangkah ke atas panggung dengan penuh wibawa.

Saat menerima piagam penghargaan, Langit tidak menatap kamera fotografer, melainkan matanya langsung mencari satu titik di tengah kerumunan siswa: Senja.

Setelah sesi seremonial di panggung selesai, Langit tidak langsung menuju barisan para orang tua atau teman-teman gengnya. Dengan piagam di tangan kanan, ia berjalan mantap membelah barisan kursi, menuju barisan kelas sepuluh. Aksi nekat dan romantisnya itu membuat para guru dan santri lain berbisik-bisik kagum.

Langit berhenti tepat di depan kursi Senja, lalu tanpa ragu duduk di kursi kosong tepat di samping istrinya.

Senja tertegun, wajahnya merona hebat karena kini mereka menjadi pusat perhatian. Namun, rasa bangganya jauh lebih besar daripada rasa malunya. Secara refleks, Senja mengulurkan tangannya di bawah lipatan jilbabnya, menggenggam erat tangan Langit yang terasa hangat.

Senja sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Langit, membiarkan aroma parfum suaminya menenangkan jiwanya.

"Selamat ya, Mas Langit... Aku bangga banget sama kamu," bisik Senja dengan nada yang sangat mesra dan tulus. "Nilai tertinggi ini bukti kalau kamu beneran serius buat masa depan kita."

Langit membalas genggaman itu tak kalah erat, jemarinya mengelus punggung tangan Senja dengan lembut. Ia menoleh, menatap mata Senja dengan binar kemenangan yang paling indah.

"Semua ini buat kamu, Ja. Tanpa doa kamu tiap malam di asrama, saya nggak akan mungkin berdiri di atas panggung itu," balas Langit lirih. "Piagam ini cuma kertas, tapi cinta kamu itu yang bikin saya merasa jadi pemenang yang sesungguhnya."

Di tengah keramaian acara perpisahan itu, keduanya seolah memiliki dunia sendiri.

Genggaman tangan mereka menjadi saksi bisu bahwa meski satu bulan lagi jarak ribuan kilometer akan memisahkan, hati mereka sudah terkunci rapat dalam satu pencapaian yang sama.

Minggu pagi di pesantren terasa begitu tenang dan sejuk. Langit, yang sebentar lagi akan meninggalkan kehidupan santrinya, ingin memberikan kenangan manis yang tak terlupakan untuk Senja. Ia meminjam sebuah sepeda tua milik pengurus pesantren.

Langit duduk di bangku kemudi, sementara Senja duduk menyamping di boncengan belakang. Begitu mereka mulai meluncur menyusuri jalanan setapak yang membelah persawahan hijau, Senja langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Langit, memeluk

suaminya dengan sangat erat.

Angin pagi menerpa wajah mereka, membawa aroma tanah basah dan padi yang mulai menguning.

"Pegangan yang kuat, Ja! Kita balapan sama matahari!" seru Langit sambil tertawa, napasnya sedikit terengah namun penuh semangat.

"Pelan-pelan, Langit! Nanti jatuh!" sahut Senja sambil tertawa renyah, ia menyandarkan pipinya di punggung kokoh Langit, menikmati setiap kayuhan yang membawa mereka menjauh dari hiruk-pikuk asrama.

Setelah cukup jauh bersepeda, mereka berhenti di sebuah kedai bubur ayam langganan santri yang terletak di pinggir jalan desa. Mereka duduk berdampingan di bangku kayu panjang, menikmati uap panas dari mangkuk bubur yang mengepul.

Di tengah keramaian pasar pagi itu, mereka tampak seperti pasangan muda yang begitu harmonis, sesekali Langit menyuapi Senja atau sekadar menghapus noda kecap di sudut bibir istrinya.

Selesai sarapan, Langit kembali mengayuh sepedanya menuju arah sungai yang terletak di balik hutan kecil dekat pesantren.

Begitu sampai di tepian, mereka memarkir sepeda dan berjalan bergandengan tangan menuruni jalan setapak menuju aliran air yang jernih.

Mereka menemukan sebuah batu besar yang menjorok ke tengah sungai. Di sana, mereka duduk berdua, mendengarkan simfoni alam berupa gemericik air yang menabrak bebatuan.

Senja merebahkan kepalanya di bahu Langit, sementara Langit menggenggam tangan Senja begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Senja akan menghilang.

"Besok saya sudah harus ke Jakarta sama Papa dan Mama," bisik Langit, suaranya terdengar sangat berat.

Senja terdiam, ia hanya bisa mempererat genggamannya. "Iya, aku tahu. Jaga diri baik-baik ya di sana, Mas."

Keduanya tenggelam dalam keheningan yang sarat akan makna. Di bawah naungan pohon-pohon besar dan disaksikan aliran sungai yang tenang, mereka menikmati detik-detik terakhir kebersamaan fisik mereka sebelum besok pagi Langit harus berangkat ke Jakarta, memulai rangkaian perjalanan panjangnya menuju Australia.

Di atas batu besar itu, hanya ada rasa cinta yang membuncah dan doa agar jarak tak akan pernah mampu mengubah rasa yang telah tumbuh.

Sore itu, suasana pesantren mendadak ramai dengan kedatangan mobil mewah keluarga Surya Agung. Mami Retno dan Papa Alistair datang dengan senyum lebar untuk menjemput putra kebanggaan mereka.

Sebagai hadiah kelulusan dan momen perpisahan sebelum ke Jakarta, mereka memboyong Langit dan Senja untuk menghabiskan malam di pusat kota Yogyakarta.

Mereka check-in di sebuah hotel bintang lima yang mewah. Setelah berganti pakaian, keluarga besar itu berjalan-jalan menikmati malam di Malioboro.

Di tengah hiruk-pikuk ribuan orang, lampu jalan yang temaram, dan alunan musik pengamen jalanan, Langit dan Senja seolah menciptakan dunia mereka sendiri.

Langit merangkul bahu Senja dengan posesif, seolah tidak membiarkan istrinya menjauh meski hanya satu inci. Senja pun melingkarkan tangannya di pinggang Langit, memeluknya erat sambil sesekali menyandarkan kepala di bahu suaminya.

Mereka menikmati es krim bersama, melihat-lihat kerajinan perak, dan sesekali berhenti hanya untuk saling menatap dalam. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan; genggaman tangan yang kencang sudah cukup menjelaskan betapa mereka tidak siap untuk berpisah besok.

Namun, saat malam mulai larut dan mereka kembali ke kamar hotel, suasana berubah menjadi sangat tenang dan emosional. Di dalam kamar yang luas dengan pemandangan lampu kota Jogja dari balik jendela kaca, Langit menutup pintu rapat-rapat.

Ia menghampiri Senja yang sedang berdiri menatap jendela. Dari belakang, Langit memeluknya, menenggelamkan wajahnya di leher Senja, menghirup aroma yang sangat ia gilai.

"Malam ini... cuma kita berdua, Ja," bisik Langit parau.

Senja berbalik, menangkup wajah tampan suaminya. Air mata hampir jatuh di sudut matanya karena tahu besok mereka akan terpisah ribuan kilometer. "Aku sayang kamu, Langit. Jangan lupain aku di sana ya?"

Langit tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membuktikan cintanya melalui tindakan. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar hotel, keduanya tenggelam dalam lautan asmara yang begitu dalam.

Mereka memadu kasih dengan penuh kelembutan, keintiman yang sarat akan kerinduan sekaligus ketakutan akan perpisahan. Setiap sentuhan, setiap kecupan, dan setiap bisikan cinta menjadi memori yang mereka kunci rapat di dalam hati.

Sebagai suami dan istri, mereka menyerahkan seluruh jiwa dan raga mereka, menjadikan malam terakhir itu sebagai bekal kekuatan untuk menghadapi jarak yang akan membentang esok hari.

1
Miramira Kalapung
Alurnya cerita nya sangat bagus
yuningsih titin: makasih kak semoga suka
total 1 replies
Siti Amyati
akhirnya lanjut kak
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!