Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah suara sistem menghilang, Jaka Utama merasakan tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan misterius. Jelas sekali, fisiknya telah ditransformasi dan diperkuat secara gaib.
“Ooh!”
“Raga Penawar Segala Racun?”
“Hadiah ini luar biasa!”
“Aku tidak perlu takut lagi disiksa pakai racun di masa depan!”
“Terlebih lagi, Pil Ledakan Racun yang terbentuk dari racun yang kuserap bisa dipakai untuk menyerang musuh. Benar-benar paket lengkap untuk serang dan bertahan!”
Jaka sangat senang. Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya.
“'Raga Penawar Segala Racun' ini tidak menyebutkan batasan jumlah racunnya. Berarti aku bisa menyerap racun tanpa batas dan bikin Pil Ledakan Racun sebanyak mungkin? Kalau aku bikin satu pil racun sekuat bom atom... Hehe! Ngeri juga membayangkannya!”
Pada saat itu, kapal udara mulai turun dan Jaka merasakan sedikit sensasi melayang.
“Hmm, kita sudah hampir sampai di wilayah pegunungan.”
Dia bangkit dari bak mandi dan mengenakan jubah pemimpin padepokannya yang tampan berwarna putih gading. Ia bersiap untuk alur cerita utama kedua: Musim Berburu.
…
Hutan Pegunungan luar.
“Mati kamu, babi hutan!”
Sebuah teriakan marah yang melengking terdengar. Ratna Menur menggunakan pedangnya untuk menusuk seekor babi hutan besar bertaring hitam hingga tewas. Lalu dia menarik pedangnya dan berjalan lurus menuju kedalaman hutan, diikuti lima pengawal kadipaten di belakangnya.
Sedangkan Langgeng Sakti yang berada di belakang menggunakan belatinya untuk membelah tengkorak babi itu, mencari mustika siluman. Ternyata ada satu.
“Menur, ini mustika silumannya, kamu tidak mau?” Langgeng dengan gembira mengangkat kristal merah seukuran telur puyuh yang terasa dingin di tangannya.
“Tidak! Kamu jangan mengikutiku terus!” ketus Ratna Menur. Dia terus berjalan masuk lebih dalam tanpa menoleh. Semakin dia berpikir, semakin dia emosi.
“Sialan kamu Jaka Utama!”
“Beraninya kamu menganggapku seperti kuburan tempatmu menangis-nangis?”
“Kalau kamu berani datang nanti, aku benar-benar akan membuatmu menangis betulan!”
Sambil berjalan, dia menebas pohon-pohon di sekitarnya dengan ganas seolah-olah pohon itu adalah wajah Jaka.
Melihat hal ini, Langgeng Sakti tertawa tak berdaya.
“Sepertinya dia benar-benar kesal dengan keputusan Bapak Bupati.”
Dia mengira Ratna marah karena Bupati Surya memaksanya ditemani Langgeng agar bisa saling menjaga. Dengan sifat Ratna yang pemberontak, Langgeng merasa wajar jika gadis itu merajuk.
Langgeng menyimpan mustika itu ke dalam Cincin Pusaka-nya dan berbisik dalam hati:
“Guru, mustika ini bisa Anda serap untuk memulihkan kekuatan.”
[Hmm.]
Di dalam cincin itu, suara seorang gadis kecil keluar, serak dengan sedikit rasa dingin yang menyerupai desisan ular.
Langgeng berkata dengan nada berat, “Guru, aku sudah dapat info dari Gedung Kelam. Pembunuh keluargaku lima tahun lalu adalah Siluman Cacing Pasir, dan dia ada di hutan ini! Meskipun tingkat kesaktiannya tinggi dan aku bukan tandingannya, aku harus balas dendam! Kalau tidak, dendam ini akan jadi penghambat kultivasiku. Jadi, aku mohon Guru membantuku!”
Suara dingin dari cincin itu membalas:
[Kesaktianmu baru di tingkat Pengumpul Tenaga Dalam. Kalau kamu pakai kekuatan silumanku, aku takut tubuhmu tidak kuat menahan efek sampingnya.]
Wajah Langgeng tampak teguh. “Murid tidak takut! Biar tubuh hancur atau nyawa melayang, dendam ini harus terbalas!”
[Kalau begitu, pergilah mampus.]
“E-eh... ini...”
Langgeng yang tadinya sok hebat langsung ciut seperti diguyur air es. “Guru... murid cuma mau mengekspresikan betapa besarnya rasa dendam ini saja...”
[Jangan banyak omong. Aku akan bantu, tapi kalau kamu terdesak, segera mundur.]
“Baik, Guru!” Langgeng kembali memasang wajah serius.
[Tapi kalau kamu mau balas dendam, tinggalkan saja gadis bernama Ratna Menur itu. Cinta cuma bakal jadi beban buatmu.]
“Tenang saja Guru, aku cuma menemaninya hari ini. Bapak Bupati bilang Jaka Utama pasti akan membuntuti Menur. Jadi beliau ingin aku melindunginya. Apalagi Jaka baru saja diputus tunangannya, siapa tahu dia bakal berbuat nekat.”
[Jaka Utama...]
“Ya, pemimpin padepokan pesolek yang tidak becus itu. Menur adalah wanita yang sudah kutargetkan untuk jadi milikku. Kalau dia berani sentuh sehelai rambut Menur, aku akan cincang dia!”
[Jaka Utama TIDAK BOLEH DIBUNUH!]
“Lho... kenapa Guru?”
Langgeng terperanjat. Dia mendengar nada perintah yang sangat kuat. Kenapa gurunya sangat menghargai nyawa Jaka?
[Tidak ada alasan, jangan tanya lagi.]
“Lalu bagaimana kalau... dia benar-benar melukai Menur?”
[Bahkan jika dia mengambil kesucian Ratna Menur sekalipun, dia TETAP TIDAK BOLEH DIBUNUH.]
“Itu...”
Langgeng merasakan sesak di dadanya. Dia tahu gurunya tidak pernah bercanda soal perintah, jadi dia hanya bisa menjawab lirih. “Murid... mengerti.”
Meskipun bingung, Langgeng percaya gurunya punya alasan tersendiri. Mungkin untuk melindunginya. Setelah memikirkannya, dia merasa sedikit lebih tenang dan lanjut mengejar Ratna Menur.
Tengah hutan, Padepokan Tanpa Beban.
Sebuah kapal udara pribadi terparkir di tempat terbuka. Di deknya, Jaka Utama duduk di atas kursi roda kayu, menatap cemas ke arah rimbunnya pohon.
“Aneh. Kenapa Ratna Menur belum muncul? Menurut naskah, jam segini dia harusnya sudah lewat sini bareng lima pengawalnya. Apa aku datang kepagian?”
Jaka merenung keras. Dalam plot aslinya, dia seharusnya bertemu Ratna tepat saat kapalnya mendarat. Tapi sudah lima menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda kehadiran gadis itu.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar teriakan panik.
“Tolong! Ah! Jangan!!!”
Hah? Kenapa ada yang minta tolong? Itu tidak ada di naskah!
Dan suara itu... kenapa mirip banget suara Ratna Menur?
Jaka mulai panik dan buru-buru memanggil Naningsih.
“Ningsih! Ada yang minta tolong, dorong aku ke sana sekarang!”
Karena takut alur cerita utama rusak, Jaka harus memeriksanya sendiri. Naningsih menatap Jaka dengan tatapan datar, tahu bosnya itu cuma pura-pura lumpuh demi akting. Tapi dia tetap diam dan mendorong kursi roda itu melompat turun dari kapal udara, langsung melesat masuk ke hutan.
Segera, mereka tiba di tepi sebuah telaga.
“Tolong!!!” teriakan itu terdengar lagi, lebih jelas.
“Sialan!”
Mata Jaka hampir copot. Dia sangat terkejut melihat pemandangan di tepi telaga itu sampai rasanya mau meledak di tempat!