Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Amara
POV Amara
Aku dan Arnav menikah karena Scandal, semua berawal dari Darel kakak ku yang menyukai Amera, Dia berpikir jika Aku dengan Arnav bersama maka Amera gak ada kesempatan dan memilih dirinya, namun wanita itu tidak begitu.
Saat itu usia ku 18 Tahun lebih, sedangkan Arnav sudah 21 tahun, Aku baru kuliah selama 4 bulan masuk ke universitas kedokteran di universitas yang sama dengan Arnav, hal itu membuat kami kadang sering berinteraksi.
Aku dengan nya memang tumbuh bareng sejak kecil, karena Ayah tiri Arnav adalah Asisten Ayahku, begitu pula dengan Ibunya Arnav yang teman dekat Bunda.
Sejak kecil Arnav yang selalu baik pada ku membuat ku menyukai nya secara diam-diam, hingga beranjak remaja rasa suka ku tidak berubah, hal itu membuat Darel yang tahu malah mengusulkan ide.
Malam itu Darel bilang Amera akan mengungkapkan perasaan nya, Pada Arnav, Kakaku yang pengecut itu memanfaatkan rasa suka ku pada Arnav untuk menggagalkan rencana Amera, Dia memberikan dua gelas minuman kepada ku, entah minuman apa itu? Aku yang penurut langsung muncul saat Amera hendak mengungkapkan perasaan nya, secara tiba-tiba Darel menarik tangan Amera, menjauh dari tempat itu.
Hingga menyisakan Aku dan Arnav saja, Aku langsung memberikan minuman itu pada nya, satu nya Aku minum sendiri, Arnav pun meminum nya tanpa curiga sedikitpun.
*****
Aku terbangun dari tidur ku kepalaku terasa pusing, tapi ku dengar terjadi keributan di hadapan ku, mata ku berusaha untuk terbuka dan merasa kaget saat melihat, Ayah memukul Arnav, dan ada beberapa keluarga besar ku yang menyaksikan itu, lalu Aku menatap tubuhku yang polos tanpa sehelai benang pun, yang hanya di tutupi selimut.
Syok? Tentu karena Aku tidak mengingat apapun, selain minum bareng Arnav.
Sedangkan Bunda berusaha untuk menghentikan Ayah, kulihat Amira tampak menggelengkan kepalanya melihat ke arah ku, seolah Dia berpikir ini rencana ku, padahal di balik itu semua ada Darel yang ikut andil.
"Sudah hentikan, jangan memukul lagi," ucap ku berusaha untuk turun dari ranjang, sambil menggulung tubuh ku dengan selimut.
"Aku yang salah, kalo mau memukul pukul Aku saja, Ayah," lanjut ku saat melihat Arnav tampak terlihat mengenaskan, Aku yang mencintai nya tentu akan membela nya walaupun berakhir dengan kekecewaan semua keluarga, terutama kakek Fikram yang selalu menyayangi ku melebihi Amira.
"Amara, kenapa melakukan ini?" Kakek Fikram bertanya kepada ku, membuat Aku menjadi tegang.
"Karena Aku mencintai nya, Aku menginginkan nya," jawab Ku sambil memeluk Arnav yang tampak setengah sadar.
"Kau mengecewakan, Kakek sudah membiarkan mu menjad dokter, padahal Kakek berharap kamu melanjutkan perusahaan kakek, tapi faktanya kau malah membuat scandal begini," ucap pria tua itu panjang lebar, meluapkan kekesalannya, karena kakak ku Darel lebih memilih melanjutkan perusahaan Ayah.
"Kau tahu gara-gara video kamu, saham turun drastis, keluarga kita di cap buruk," lanjut nya sambil memegangi dadanya.
"Darel yang akan tanggung jawab," sahut Darel yang baru saja terlihat, membuat Aku merasa kesal dengan kakak ku itu.
"Tanggung jawab apa hah? mencintai satu orang saja menghancurkan semua orang," sergah ku langsung menjambak rambut Darel dengan marah, hal itu membuat keributan semakin parah.
"Amara, hentikan, jangan menyalahkan orang lain, atas kesalahan mu sendiri!" bentak Kakek Fikram sambil menunjuk ke arah ku, namun detik berikutnya, dia ambruk, wajahnya berubah menjadi biru, Dia memiliki penyakit jantung.
"Kakek, jangan membuat ku takut," ucap ku berusaha untuk memegang pergelangan tangan nya, namun mulut Kakek malah keluar busa dan kejang-kejang.
"Cepat panggil Ambulance," Ayah langsung berteriak heboh.
Saat sudah di rumah sakit, Kakek di nyatakan meninggal dunia, semua para sepupu menyalahkan ku, hanya Bunda yang mensuport dan kembaran ku Amira, sedangkan Ayah Dia yang merasa kecewa tidak mau berbicara padaku.
Seminggu setelah kejadian duka itu, Aku dan Arnav menikah, pernikahan kami di adakan secara tertutup, hanya beberapa orang saja yang datang, bahkan Tante Anjani ibu nya Arnav tidak mau datang, Ayah tetap menjadi wali nikah ku tapi dia tidak mau berbicara padaku.
Setelah itu Aku ikut tinggal dengan Arnav, saat itu Darel kakak ku justru merasa senang karena merasa rencananya berhasil, tanpa iya tahu bahwa semua itu adalah awal dari kehancuran keluarganya, karena Amera justru semakin menjadi-jadi.
Arnav mengajak ku ke rumah peninggalan Kakek kandung nya, setelah dewasa keluarga Ayah kandung nya mengakui Arnav dan memberikan warisan rumah dan sebuah restoran, jadi secara pribadi Arnav sedikit punya penghasilan lah tidak mengandalkan Ayah tiri nya lagi.
"Kita tidur terpisah, ini kamar mu," ucap Arnav membuka pintu kamar, sejak hari itu kami tidak bertutur sapa, entahlah gimana cara pandang dia terhadap ku, tapi yang jelas asal bersama nya Aku bahagia.
Saat Aku bertanya kepada nya, kenapa tidur terpisah, Dia bilang takut khilaf, hal itu membuat ku berusaha untuk mengerti, padahal juga kalo khilaf juga gak masalah, kan sudah menikah.
Sebulan setelah menikah Aku hamil, Aku tidak menduga nya karena rumah tangga yang ku jalani dengan Arnav hanya saling membantu dalam urusan rumah tidak ke hubungan intim lagi, berarti malam itu yang membuat ku hamil, niat nya Aku ingin menyembunyikan kehamilan itu, karena Aku takut Arnav tidak mau anak itu.
Namun saat kuliah tes kehamilan ku gak sengaja jatuh, di tambah yang menemukan nya Klaudia senior yang tidak suka dengan ku. Ya Aku tetep kuliah karena Ayah sudah menutup scandal video ku, tapi entah kenapa keesokan harinya terjadi masalah, Skripsiku di curi, dan video ku bersama Arnav masuk ke group chat dengan durasi 19 detik tapi hanya wajah ku yang terlihat jelas, Dan yang membuat ku tercengang foto kehamilan ku juga ikut serta.
Para Mahasiswa laki-laki menatap ku dengan aneh, membuat Aku menjadi malu dan tidak nyaman, bahkan bertanya berapa tarif semalam.
Reputasiku hancur bahkan lebih hancur dari waktu itu, setelah nya Aku langsung di panggil oleh dekan dan langsung dikeluarkan dari kampus, Aku yang tidak punya koneksi apa-apa hanya pasrah, karena biasanya Ayah lah yang selalu membantu tapi Ayah, Sudah lepas tangan dengan ku.
Aku pulang dengan lunglai merasa tidak ada impian lagi, hingga tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan akhirnya Aku limbung di pinggir jalan.
****
Saat ku membuka mata, untuk pertama kali adalah pemandangan putih dengan bau has rumah sakit, setelah nya Aku melihat Arnav berjalan mendekat ke arah ku.
"Apa ada yang sakit? Mana yang sakit?" tanya pria itu terlihat khawatir, ini sesuatu hal yang tidak pernah ku lihat sejak menikah, karena setelah menikah pria itu selalu dingin, saling membantu pekerjaan rumah pun tidak pernah bertutur sapa, kalo Aku bertanya pasti hanya di jawab singkat.
"Perasaan ku yang sakit, sekarang Aku bahkan di cap wanita gak bener, bahkan sudah tidak bisa ke kampus lagi," jawab ku dengan sedih.
"Aku bahagia menikah dengan Mu, tapi Aku hancur sekaligus, terlebih orang yang ku perjuangkan seperti nya tidak menyukai ku." lanjut ku merasa putus asa
"Ara, kita mulai dari awal yah, Aku cuma butuh waktu untuk menerima semua ini, tapi setelah, Aku tahu kamu mengandung Anak ku, Aku ingin kita membesarkan anak kita bersama, terlepas dari masalah yang ada," ucap Arnaf panjang lebar sambil mengelus perut rata ku.
Aku langsung menatap ke matanya, melihat ke sungguhan di matanya, Aku tidak melihat kebohongan di sana.
"Ara, gak papa gak kuliah dulu, nanti kalo Anak kita udah lahir, kamu bisa kuliah lagi, berita itu pasti hilang dengan sendirinya," lanjut nya sangat begitu menenangkan.
Itulah yang ku suka dari nya, Dia jarang marah, cuma bersikap dingin gak ngomong kasar.
Setelah hari itu, hari-hari yang ku jalani dengan Arnav sangat bahagia, Aku kini menjadi istri rumahan, sesekali membantu Arnav di restoran, walaupun urusan masak tetep Arnav yang melakukan nya, pria itu bahkan tidak membiarkan Aku mengurus pekerjaan rumah dan mempekerjakan ART agar Aku tidak sendirian.
Aku pikir itu semua sudah cukup, namun di bulan kehamilan ku yang ke 4, saat itu Aku ingin makan Ramen dan mengajak Arnav untuk makan bareng di restoran langganan ku, tapi pria itu bilang sibuk, faktanya saat Aku ke sana sendirian, Aku melihat Arnav bersama Sandra di sana.Sandra adalah rifal ku di kampus, Dia juga yang bersekongkol dengan Klaudia untuk mengeluarkan ku dari kampus.
"Kak, apa hubungan dua tahun kita gak sepenting itu? Aku udah selalu ada untuk mu, tapi malah Si Jal*ng Amara yang kau nikahi," ucap Sandra bergelayut manja di lengan Arnav sambil terisak, membuat dada ku berdesir hebat.
"Dia sedang hamil Anak ku, gak ada yang bisa ku lakukan selain berusaha untuk menerima nya, Sandra. Aku memang mencintai mu, kamu yang pertama, tapi takdir kita tidak bersama," jawab Arnav sambil memeluk Sandra dengan erat, berusaha untuk menenangkan wanita itu.
Aku yang melihat itu jatuh sudah air mata ku.Kupikir Arnav selama ini dingin pada ku karena belum terbiasa, dan ku pikir pria itu tidak punya kekasih, maka nya waktu Darel menyuruhku untuk mendekati Arnav karena Amera suka pria itu dan takut pria itu bersama Amera, faktanya tetep saja bukan Amera ataupun Aku, tapi Sandra yang sudah lebih dahulu menjalin hubungan dengan pria itu.
BERSAMBUNG
Yang penasaran jangan lupa komen lanjut yah, biar author lanjutin