NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak di Kolam Tenang

Kabar burung di dunia persilatan menyebar lebih cepat daripada angin topan. Bahkan sebelum Perahu Roh Tim Ekspedisi mendarat di pelabuhan udara Sekte Awan Hijau, berita tentang kejadian di Makam Pedang Kuno sudah mengguncang seluruh sekte.

"Kau dengar? Xue Sha dari Sekte Pedang Darah dikalahkan!" "Siapa yang melakukannya? Dewi Ye Qingyu?" "Bukan! Katanya seorang murid luar... si buta yang juara turnamen kemarin!" "Mustahil! Xue Sha itu monster Tahap Pengumpulan Qi!"

Saat Zhaofeng turun dari perahu, dia disambut oleh lautan manusia. Murid-murid yang dulu memandangnya rendah, kini menatapnya dengan campuran rasa tidak percaya dan kekaguman fanatik.

Huo Lie, yang berjalan di samping Zhaofeng, membusungkan dadanya bangga. "Minggir! Minggir! Jangan halangi jalan Pahlawan Sekte!"

Zhaofeng hanya diam. Wajahnya tetap tenang di balik kain penutup mata, seolah sorak-sorai itu hanyalah suara jangkrik di musim panas.

Ye Qingyu berjalan mendekat. "Kau tidak terlihat senang," bisiknya.

"Ketenaran adalah pedang bermata dua, Kakak Senior," jawab Zhaofeng pelan. "Sekarang, musuhku bukan hanya mereka yang meremehkanku, tapi juga mereka yang takut padaku."

Ye Qingyu tersenyum tipis. "Cerdas. Tapi jangan khawatir. Selama aku ada di sini, Sekte Awan Hijau tidak akan membiarkan aset berharganya diganggu."

Balai Pertemuan Tetua.

Zhaofeng dan Ye Qingyu dipanggil menghadap Ketua Sekte dan para Tetua Agung.

Ruangan itu megah, dengan pilar-pilar emas dan aroma dupa yang berat. Tekanan Qi di sini begitu kuat hingga murid biasa mungkin akan pingsan hanya dengan berdiri.

Ketua Sekte, seorang pria paruh baya dengan jubah hijau zamrud, menatap Zhaofeng tajam.

"Ren Zhaofeng," suaranya menggelegar. "Laporan Ye Qingyu mengatakan kau mengalahkan Xue Sha dengan dua jurus dan menghancurkan Golem Penjaga. Apa itu benar?"

"Hanya keberuntungan, Ketua," Zhaofeng membungkuk. "Golem itu sudah tua dan Xue Sha terlalu sombong."

"Keberuntungan tidak bisa membelah Qi Darah," potong seorang Tetua berwajah masam di sisi kiri. Itu adalah Tetua Disiplin (Ayah Liu Mei). Matanya menatap Zhaofeng dengan curiga. "Aku curiga kau menggunakan teknik terlarang atau bersekutu dengan iblis. Bagaimana mungkin Murid Luar Tahap 4 memiliki kekuatan seperti itu?"

Suasana menegang. Tuduhan "Teknik Iblis" adalah vonis mati di dunia sekte lurus.

"Jaga bicaramu, Tetua Disiplin," suara serak yang familiar terdengar.

Tetua Pedang melangkah maju dari barisan kanan.

"Anak ini adalah calon murid pribadiku. Aku sendiri yang mengajarinya tentang 'Niat'. Apakah kau menuduhku mengajarkan ilmu sesat?"

Tetua Disiplin terdiam, wajahnya merah padam. Menyinggung Tetua Pedang (yang merupakan petarung terkuat di sekte) bukanlah ide bijak.

Ketua Sekte mengangkat tangan, menengahi. "Sudah cukup. Prestasi adalah prestasi. Ren Zhaofeng telah menyelamatkan tim inti dan menaikkan wibawa sekte. Dia pantas diberi hadiah."

"Ren Zhaofeng, sebagai penghargaan, sekte memberimu akses bebas ke Lantai Dua Paviliun Kitab Suci dan sepuluh ribu Poin Kontribusi. Selain itu..."

Ketua Sekte melemparkan sebuah token emas.

"Kau diberi hak istimewa untuk langsung mengikuti Ujian Murid Dalam bulan depan tanpa perlu seleksi administrasi. Persiapkan dirimu."

"Terima kasih, Ketua," Zhaofeng menangkap token itu.

Malam harinya, di pekarangan rumah Zhaofeng.

Suasana sepi kembali menyelimuti, tapi Zhaofeng tahu dia diawasi. Ada beberapa "telinga" di kegelapan—mata-mata dari berbagai faksi yang penasaran dengan kekuatannya.

Zhaofeng masuk ke kamarnya dan mengaktifkan formasi peredam suara sederhana yang dia beli dengan poin barunya.

Dia mengeluarkan Pedang Hitam dari cincinnya.

Wuuung...

Pedang itu bergetar senang saat keluar. Bilahnya yang hitam legam seolah menyerap cahaya lampu minyak.

Zhaofeng duduk bersila, meletakkan pedang itu di pangkuannya.

"Kau lapar lagi?" bisik Zhaofeng.

Dia bisa merasakannya. Pedang ini memiliki kesadaran primitif. Setelah mencicipi darah Xue Sha (yang kaya akan Qi), pedang ini menginginkan lebih.

Zhaofeng teringat ucapan Tetua Pedang tadi siang setelah pertemuan.

"Zhaofeng, pedang itu... itu bukan Senjata Roh biasa. Itu adalah Senjata Terkutuk. Dia bisa memberimu kekuatan, tapi dia juga bisa memakan kewarasanmu. Jika kau tidak cukup kuat untuk mengendalikannya, kau akan menjadi budak pedang."

Zhaofeng menatap bilah hitam itu. Dia mendengar suara bisikan samar dari dalam logam. Suara ribuan jiwa yang pernah dibunuh oleh pedang ini di masa lalu.

"Aku bukan budak," kata Zhaofeng tegas. Dia menyalurkan Qi-nya yang telah dimurnikan dengan teknik Riak Air ke dalam pedang.

Bzzt!

Pedang itu menolak Qi Zhaofeng. Ia ingin mendominasi.

"Keras kepala," Zhaofeng mendengus. Dia mengubah frekuensi Qi-nya.

Dia menggunakan konsep Resonansi. Alih-alih memaksa masuk, dia menyamakan getaran jiwanya dengan getaran pedang itu.

Duuuummm...

Perlahan, penolakan pedang itu mereda. Zhaofeng berhasil melakukan sinkronisasi tahap awal.

Tiba-tiba, sebuah visi melintas di benaknya.

Bukan visi visual, tapi memori suara.

Dia mendengar suara pertempuran di angkasa luar. Suara bintang-bintang yang meledak. Suara sosok raksasa yang berteriak: "Bahkan jika tubuhku hancur, Pedang Asal Mula tidak akan tunduk pada Dewa Palsu!"

Zhaofeng tersentak kembali ke dunia nyata, napasnya memburu. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

"Pedang Asal Mula..." gumamnya. "Apakah itu namamu yang sebenarnya?"

Pedang di pangkuannya kembali tenang, seolah visi tadi hanya ilusi. Tapi kini, Zhaofeng merasakan hubungan yang lebih dalam. Pedang itu terasa lebih ringan, lebih "menurut".

Tok! Tok!

Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya.

"Siapa?" Zhaofeng waspada. Formasi peredam suaranya aktif, jadi orang di luar pasti memiliki kemampuan menembus formasi.

"Pengiriman," suara datar terdengar.

Zhaofeng membuka pintu dengan hati-hati, pedang masih di tangan.

Tidak ada orang di luar. Hanya sebuah kotak kayu kecil yang tergeletak di teras.

Zhaofeng memeriksa sekeliling dengan pendengarannya. Kosong. Pengirimnya bergerak sangat cepat dan tanpa suara.

Dia membawa kotak itu masuk dan memeriksanya. Tidak ada suara detak mekanis (bom) atau desisan gas (racun).

Dia membukanya.

Di dalamnya ada sepotong kain berlumuran darah dan sebuah surat.

Zhaofeng meraba surat itu. Tulisannya timbul, ditulis dengan tekanan Qi yang kuat.

"Selamat atas kemenanganmu, Pahlawan Sekte. Tapi permainan baru saja dimulai. Xue Sha menitipkan salam. Dan 'Tuan Muda' kami sangat ingin bertemu denganmu di Ujian Murid Dalam."

Di bawah surat itu, ada lambang Ular Hitam yang digambar dengan darah.

Dan potongan kain berlumuran darah itu... Zhaofeng mengenali teksturnya. Itu adalah sobekan jubah Wang Gang.

Zhaofeng meremas surat itu hingga hancur.

"Mereka membungkam Wang Gang?" batinnya. "Atau Wang Gang dikorbankan untuk ritual?"

Apapun itu, Aliansi Ular Hitam sudah menyusup jauh lebih dalam dari yang dia kira. Ujian Murid Dalam bulan depan bukan hanya tentang promosi. Itu akan menjadi medan pembantaian.

Zhaofeng menatap Pedang Hitam-nya.

"Baiklah. Jika kalian ingin bermain darah..." Zhaofeng menyarungkan pedangnya dengan bunyi klik yang tajam. "Aku akan pastikan kalian tenggelam di dalamnya."

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!