Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Elena mendorong dada Alexander dengan kedua tangannya. “Kau gila, Alexander! Jangan berkata seenaknya. Aku bukan milikmu!”
Alexander menahan kedua pergelangan tangannya di atas bantal, tubuhnya semakin mendekat. “Kau memang selalu pandai berbohong dengan mulutmu, Elena. Tapi semalam… kau memanggil namaku, memohon padaku untuk tidak berhenti. Itu fakta yang tidak bisa kau hapus begitu saja.”
“Itu bukan aku… itu semua karena obat yang dia berikan padaku. Aku bahkan tidak sadar! Jadi berhentilah mengungkit hal itu!”
Alexander terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Ada sedikit keraguan melintas di matanya, tapi cepat ia tutupi dengan tatapan dingin. “Kalau begitu, kenapa sekarang kau bergetar saat aku menyentuhmu? Kau masih bisa bilang itu karena obat?”
Elena menggeleng cepat. “Aku takut padamu, Alexander. Itu alasannya.”
Alexander menunduk, wajahnya semakin dekat hingga Elena bisa merasakan panas napasnya. Tangannya tetap menahan pergelangan Elena, membuat wanita itu tak bisa bergerak.
“Kau bisa menyangkal seribu kali, Elena,” bisik Alexander dengan nada berat. “Tapi aku ingat jelas setiap desahanmu semalam di mobil itu. Kau menggenggam kerahku, menciumku seolah dunia akan berakhir, dan memohon aku tidak berhenti. Itu bukan mimpi, itu nyata.”
Elena menggeleng keras. Dia benar-benar malu dan kesal. “Diam! Itu bukan aku! Itu… itu pasti hanya efek obat. Jangan katakan lagi! Aku tidak mau mendengarnya!”
Ia menutup telinganya dengan kedua tangannya, berusaha menghapus suara Alexander. Hatinya berdenyut sakit, antara takut, marah, dan malu yang bercampur jadi satu. Bagaimana mungkin ia melakukan hal memalukan itu? Bagaimana mungkin tubuhnya mengkhianati pikirannya?
Alexander menatapnya lekat, matanya yang biasanya penuh kendali kini berkilat tak sabar. Ia kembali menunduk, membebaskan tangan Elena dari telinganya, lalu menahan kedua tangannya di atas kepala. Tubuhnya kini sepenuhnya berada di atas Elena, mengurungnya di antara ranjang dan dadanya yang kokoh.
“Elena…” suaranya dalam, hampir bergetar. “Kau bisa menghapus kata-kata dari mulutmu, tapi kau tidak bisa menghapus ingatan tubuhmu tentangku.”
Wajah Alexander semakin dekat, hanya tinggal jarak sehelai rambut. Elena memejamkan mata erat-erat, menahan isakan yang nyaris pecah. Ia tak tahu lagi mana yang harus dipercaya, akal sehatnya atau pengakuan yang Alexander lontarkan.
Namun tepat ketika bibir Alexander hampir menyentuhnya,
“Mama?”
Suara kecil itu terdengar di ambang pintu.
Elena langsung membuka mata. Tubuhnya refleks mendorong dada Alexander sekuat tenaga, hingga pria itu terhuyung ke samping dan jatuh ke ranjang. Nafasnya memburu, wajahnya pucat namun matanya berbinar lega.
“Leon…” bisiknya.
Leon berdiri di ambang pintu dengan piyama biru, rambutnya berantakan karena baru bangun tidur. Matanya yang polos menatap bingung ke arah ibunya dan Alexander yang berada di ranjang.
Elena buru-buru duduk, menyeka air matanya, lalu tersenyum sambil meraih putranya. “Sayang… kau bangun? Kemari, Leon.”
Anak itu berlari kecil ke arahnya, memeluk pinggang Elena erat-erat. Elena mengecup pucuk kepala putranya, merasakan ketenangan sekaligus kelegaan luar biasa. Kehadiran Leon bagaikan tembok kokoh yang menyelamatkannya dari badai yang hampir melumat habis dirinya.
Leon menatap kedua orang dewasa itu dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu. “Mama… Papa… kalian sedang apa?” tanyanya polos, tapi tatapannya seolah menembus lebih dalam dari sekadar pertanyaan seorang anak kecil.
Elena tercekat. Wajahnya langsung memerah, jantungnya berdegup kencang. “Tidak… tidak ada apa-apa, Sayang. Mama hanya—” suaranya gugup, nyaris patah di tengah.
Namun sebelum Elena sempat merangkai alasan, Alexander sudah melangkah mendekat. Wajah dinginnya berubah lembut saat menatap Leon. Ia menunduk, mengusap rambut putranya dengan gerakan penuh kasih.
“Papa sedang… berencana membuatkan adik untukmu, Leon,” bisik Alexander rendah, dengan senyum tipis yang penuh arti.
Elena membeku, matanya membelalak tak percaya. “Alexander!” serunya nyaris histeris, wajahnya merah padam karena malu sekaligus marah.
Leon menoleh ke arah ibunya, lalu kembali ke arah ayahnya. Di wajah mungil itu tergambar kebingungan singkat, sebelum senyum kecil terbentuk di bibirnya. “Adik? Jadi aku tidak sendirian lagi?”
Alexander mengangguk, lalu tanpa memberi kesempatan Elena untuk menolak, ia membungkuk dan mengangkat Leon ke dalam gendongannya. Gerakannya mantap, seolah Leon memang sudah seharusnya berada di lengannya.
“Alexander! Kemana kau mau membawa putraku?” Elena berdiri tergesa, matanya penuh panik.
Alexander menoleh sekilas, tatapannya tajam namun tenang. “Tenang saja. Aku hanya ingin menyiapkan Leon untuk sekolah. Semua sudah kuatur. Mulai hari ini, Leon akan berangkat dengan pelayanan pribadi, supir dan pengawal yang akan memastikan dia aman.”
Leon menatap ayahnya dengan mata berbinar. “Benarkah, Papa? Tapi Leon sudah besar, tidak butuh semua itu. Papa cukup menyediakan sopir saja untuk mengantar dan menjemputku pulang. Leon bisa menjaga diri Leon sendiri.”
“Tidak usah?” tanya Alexander sambil menepuk punggung Leon. “Kau akan mendapat perlakuan terbaik. Karena kau putraku.”
Leon mengangguk-angguk kecil, seolah menerima itu sebagai hal yang wajar.
"Tapi Leon sudah besar. Leon bahkan bisa menjaga Mama," ucapnya.
Alexander terkekeh mendengarnya. "Hey, Boy. Papa bahkan harus berjongkok agar bisa sejajar denganmu. Tapi kau memang anak yang pintar. Baiklah, Papa akan menyuruh sopir saja."
Lalu dengan polos ia menambahkan, “Kalau aku punya adik nanti… pasti Mama tidak akan sedih lagi. Keluarga kita bisa bersama, kan, Pa?”
Kata-kata polos itu menusuk jantung Elena. Ia berdiri terpaku, lidahnya kelu. Dia tahu itu tidak akan mungkin. Alexander adalah pria yang tidak ingin berkeluarga. Bahkan tidak berencana untuk menikah.
Sementara Alexander hanya menatap anak itu kemudian menoleh pada Elena.
"Sebaiknya kau segera bersiap untuk sekolah, Boy."
Leon mengangguk dan langsung turun dari gendongan Alexander.
Alexander menatap punggung kecil Leon yang berlari ke kamarnya untuk bersiap sekolah. Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruangan.
Tatapan tajamnya kembali pada Elena. Pria itu berjalan mendekat perlahan, langkah kakinya berat namun pasti, membuat Elena tanpa sadar mundur setapak demi setapak hingga punggungnya menyentuh dinding.
“Elena,” ucap Alexander, suaranya rendah namun sarat ketegasan. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Kau dan Leon akan tinggal bersamaku. Aku akan pastikan kalian mendapatkan segalanya. Keamanan, kenyamanan, dan hidup yang layak.”
Elena mengangkat dagunya, meski dalam hatinya gemetar. “Tapi… itu bukan yang aku mau, Alexander. Aku hanya ingin hidup sederhana bersama Leon, tanpa—”
“Tanpa aku?” Alexander memotong, senyumnya tipis namun matanya gelap. “Kau bisa membohongi dirimu, Elena. Tapi aku tahu betul kau tidak bisa membohongi tubuhmu… dan Leon adalah putraku yang kau bawa kabur. Aku sudah terlalu lama membiarkanmu kabur, itu kesalahan terbesar yang kau lakukan.”
Elena menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuh. “Jangan bicara seakan-akan kau peduli. Kau menginginkan Leon hanya untuk kau jadikan penerusmu. Kau bahkan tidak percaya pada pernikahan. Kau tidak pernah berniat membangun keluarga, sementara yang Leon inginkan adalah sebuah keluarga.”
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya