Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BURUK
Selamat pagi, anak-anak. Mulai hari ini dan selama beberapa bulan ke depan, Bapak yang akan menggantikan Bu Salma yang sedang mengambil cuti.
Pernyataan itu berputar-putar di kepalanya sepanjang jam pelajaran. Wajah Salma terbayang silih berganti—senyumnya yang hangat namun tegas ketika di kelas, caranya menunduk saat gugup, dan tatapan mata yang selalu berusaha menjaga jarak, meski perasaannya sering kali bocor tanpa sadar.
Hingga akhirnya, Bel sekolah berbunyi.
Putra tak menunggu lama. Ia bergegas keluar kelas menuju parkiran, menyambar helm, lalu menyalakan motor dengan gerakan tergesa. Gas ditarik lebih dalam dari biasanya. Angin sore yang sejuk menerpa wajahnya, tapi tak mampu mendinginkan dada yang terasa sesak.
Aku kira kamu laki-laki terakhir yang bisa menyembuhkan luka masa laluku. Aku percaya kamu bisa membantuku lupa pada rasa sakit itu. Tapi ternyata... kamu justru lebih jahat dari mereka semua!
Aku gak akan biarin orang yang aku cinta menyakiti kamu.
Jarum spidometer terus merayap naik, namun Putra seolah tak peduli. Raungan knalpot brong yang memekakkan telinga itu gagal mengusir sunyi yang mendesak di dadanya. Angin menghantam jaketnya dengan kasar, tapi pikirannya justru tertinggal jauh di sebuah vila dan dinginnya di puncak sana—saat kesedihan, luka, kesakitan Salma masih bisa ia jangkau dengan jemarinya.
Kini, jam-jam pelajaran yang ia tunggu selama beberapa hari terakhir hanya demi melihat wanita itu baik-baik saja, telah memberikannya jawaban. Namun, jawaban itu justru membuat dirinya semakin merasakan sesak di dada.
Bayangan wajah Salma saat menangis terus berputar seperti kaset rusak, mengaburkan fokusnya pada aspal hitam di depan mata. Ia tahu kepergian ini hanya sementara, namun bagi Putra, setiap detik tanpa wanita itu terasa seperti kehilangan arah yang permanen. Dalam kecepatan tinggi itu, ia membiarkan dirinya lalai, bukan karena ia ingin celaka, tapi karena separuh jiwanya memang belum benar-benar turun dari tragedi di puncak itu.
Hingga akhirnya, motornya telah memasuki kawasan perumahan rumah Salma. Ia merendahkan suara motornya, membiarkan laju kendaraan itu melambat seiring detak jantungnya yang kian tak beraturan. Putra menoleh sekilas ke kanan dan kiri, memastikan jalanan lengang.
Setelah melewati tikungan terakhir dan deretan beberapa rumah, Putra akhirnya tiba di tujuan.
Rumah itu masih sama. Cat dindingnya mulai pudar, pot-pot tanaman di teras tertata sederhana, dan pagar besi itu, seperti biasa—tak pernah benar-benar tertutup rapat. Segalanya tampak tak berubah, namun entah mengapa, pemandangan yang dulu terasa biasa kini justru menyesakkan dada.
Putra beringsut turun dari motornya. Helm dilepas, digenggam erat, sebelum kakinya melangkah menuju beranda rumah itu.
Ia kemudian berdiri sesaat di depan pintu. Tangannya terangkat, ragu. Namun akhirnya ia berhasil mengetuk pelan.
Ia menahan napas, menunggu. Sunyi menyambut, membuat detik-detik terasa lebih panjang dari seharusnya. Putra kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih jelas, seakan berharap pintu itu tak hanya terbuka, tapi juga membuka jawaban atas kegelisahannya.
“Bu…” Panggilnya lirih.
Tak ada sahutan.
Putra menelan ludah, dadanya terasa semakin sesak, sementara matanya terpaku pada pintu kayu itu—pintu yang memisahkan dirinya dari seseorang yang kini terasa begitu dekat, sekaligus teramat jauh.
Sambil menunggu, berharap ada jawaban dari balik pintu itu, Putra merogoh ponsel dari saku celananya. Layar menyala, memantulkan wajahnya yang tegang. Jarinya bergerak cepat, membuka grup WhatsApp kelas, lalu mengetik singkat—terlalu singkat untuk kegelisahan yang ia rasakan.
Siapapun, minta nomor Bu Salma.
Pesan itu terkirim. Putra menatap layar, lalu kembali melirik pintu rumah yang tetap tertutup. Sunyi. Hanya ada detik yang berjalan lambat, seolah sengaja menguji kesabarannya.
Satu menit berlalu,
Dua menit...
Tepat ketika Putra hampir menurunkan ponselnya, layar itu bergetar. Bunyi notifikasi memecah keheningan. Sebuah pesan masuk, berharap memberikannya satu jawaban.
Ia segera menunduk, membuka chat dengan jantung berdebar.
Tumben minta nomor guru, Put?
Putra menggerutu kesal.
Haha udah ganti khodam, Put?
"Haish...!" Decak Putra sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Jemarinya kemudian menari cepat di atas keyboard...
Buruan cok! Penting!
Putra masih menunduk, menatap layar.
Di antara semua tugas, tugas apa yang penting buat lo? Yakin, mau di kerjain...
"Sial!" Dengusnya.
****
Kaca jendela mobil yang berembun seakan memantulkan kesedihan yang menggelayut di wajah Salma. Di balik kursi penumpang, ia menatap kosong ke luar, jemarinya bergerak pelan seolah sedang menghitung jajaran pohon yang berkelebat di bahu jalan. Dunianya terasa melambat, kontras dengan laju kendaraan yang membawanya menjauh.
Hening di dalam kabin itu terasa mencekik. Dengan gerakan lunglai, Salma meraih ponsel di dalam tasnya, mencari satu nama, lalu menekan tombol panggil.
"Halo, Sal?" Suara Tari menyahut dari sambungan luar sana.
Salma terdiam. Lidahnya mendadak kelu.
"Sal? Ada apa? Tumben lo gak ngabarin gue. Lo baik-baik aja, kan?"
Salma menelan saliva. "Gue... habis ketemu Erwin."
"Haha. Lo ngomong apaan, si?! Ya jelas, lah... lo kan istrinya yang selalu ada di samping dia. Aneh banget kalimat, lo."
"Gue udah beberapa hari pisah rumah sama Erwin. Tadi gue sempat mampir ke rumah lama dan ketemu dia sebentar, gak tahu sekarang dia pergi kemana. Minggu depan sidang cerai kami resmi diputus. Datang, ya? Gue butuh dukungan lo di sana."
"Sal lo, serius? Lo gak lagi bercanda, kan?"
Salma tersenyum getir, menahan isak yang nyaris lolos, sementara pohon-pohon di luar jendela kini hanya tampak seperti bayangan kabur karena air mata yang mulai menggenang.
Tuuuuut.
Sambungan telepon ia putuskan secara sepihak, seakan tak mampu melanjutkan kalimatnya karena takut semua kekecewaan dan kesedihan itu tumpah.
Belum sempat layar itu meredup sepenuhnya, benda tipis di genggamannya kembali bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk—getarnya terasa lebih panjang dan mendesak dari sebelumnya. Nama yang muncul di layar bukanlah Tari yang ingin menagih penjelasan atas percakapan tadi yang menggantung.
Salma lalu berdehem panjang, menarik ikon hijau ke atas, dan merapatkan ponselnya ke telinga. "Halo, Bik. Ada apa?"
"Non. Ibu pingsan. Sekarang Bibik sama Pak Ujang lagi bawa Ibu ke rumah sakit."
Salma tersentak. Ia segera mematikan ponselnya dan memandang sang supir yang ada di depan. "Pak. Saya minta putar balik."
****