"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Sudah ya goda Pak CEO dan dosennya ..... Wkwkwkk
Saat ini Alka dan Nabila sedang sarapan pagi bersama yaitu Bubur buatan suami tercinta, Nabila sedari tadi senyum-senyum sendiri. Alka yang melihat itu heran karena pagi ini sikap Nabila yang berubah-rubah Alka jadi khawatir kalau istrinya sedang ada ganguan mahluk halus atau apalah yang jelas Alka bingung.
"Dia kenapa sih sebenarnya?" cicit Alka yang mulai kesal dengan tingkah Nabila yang jauh sangat beda dari sebelumnya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Alka tidak betah melihat istrinya kayak melihat sesuatu yang aneh.
"Hah! Kenapa Pak?" bukan menjawab Nabila justru bertanya juga.
"CK Alka!"
"Kamu kenapa kok saya perhatikan kamu beda, mulai dari cara kamu yang memberikan saya kenikmatan, sampai kamu berubah lagi dan sekarang kamu juga senyum-senyum sendiri?" terang Alka dengan mengeluarkan uneg-unegnya pada Nabila.
"Memangnya kenapa? bapak tidak sukak, ya sudah kalau tidak sukak Aku tidak akan melakukan lagi, aku pikir tidak salahnya menyenangkan suami sendiri apa jelas-jelas kalau suamiku sedang butuh." sahut Nabila cuek dan santai, ia berpura-pura sedih karna hasil karyanya merasa tidak di hargai oleh suaminya.
"Bu-kan, bukan gitu maksud saya. Saya hanya heran saja karena kamu tadi terlihat bukan seperti Nabila yang biasanya. Tapi soal sukak saya sukak kok." sela Alka gugup, ia tidak ingin istrinya punya pikiran kalau dirinya tidak senang nanti bisa-bisa Nabila tidak mau melayani dirinya lagi seperti tadi padahal itu sangat menyenangkan bagi Alka dan itulah yang sangat buat hidupnya sekarang lebih bergairah karena mendapatkan servisan spesial dari sang istri.
Nabila tersenyum dalam hati.
"Ya iyalah kamu sukak orang situnya doyan."
"Oh. Aku kira Bapak tidak sukak, terus gimana nanti Bapak mau lagi nggak kayak tadi, Aku masih bisa loh!" ujar Nabila benar-benar di luar Nurul.
Alka gelabakan dengar pernyataan sang istri, sebab ia seperti di hadapi dengan wanita penghibur bukan lagi sosok seorang istri yang pamalu dan sungkanan.
"Pak, gimana, mau lagi apa nggak?" tanya Nabila sambil menatap Alka santai.
Buset! Sesantai itu Nabila.
Alka menelan salivanya.
"Maksud kamu apa? Kamu nantang saya?" tanya Alka, tiba-tiba tubuhnya lansung merasa panas kembali karena ucapan istrinya yang genit sekali lagi ini.
"Bukan nantang Pak, cuma bertanya, tadinya kalau Bapak masih mau aku siap loh!" sahut Nabila tanpa dosa.
Alka menghela napasnya kasar, dan kesal juga oleh sikap istrinya. Dalam hatinya Alka sudah ada dendam akan membalas sikap istrinya kalau udah suci dan tidak ada halangan lagi.
"Awas kamu Nabila akan aku buat teler kamu nanti, beraninya kamu menantang saya." batin Alka mendengus kesal.
Sementara Nabila tiada hentinya tersenyum melihat raut wajah suaminya yang sedari tadi di buat salting, kesal dan gugup oleh Nabila.
Selama ini dirinya yang selalu di buat gugup oleh Alka.
Selesai makan Alka kembali lagi ke kamar, entah kenapa ia merasa malas yang mau ke kantor karena hari ini Nabila tidak ada jadwal ke kantor.
Sebagai anak magang Nabila hanya punya waktu tiga hari seminggu.
"loh Pak!" kata Nabila saat masuk ke kamar suaminya masih santai.
Alka langsung menatap Nabila dengan tatapan horor, takut sih tapi sudah tak setakut dulu pas pertama kali jadi murid Alka.
"Maaf Pak, aku hanya mau tanya kenapa Bapak belum siap-sapa ke kantor, udah jam tujuh lebih ini tadi kayanya takut telat." ucap Nabila sedikit panjang.
"Kamu itu cerewet," sungut Alka kesal, lalu ia meletakkan majalah yang tadi ia baca.
Nabila hanya diam.
Alka menoleh menoleh menatap Nabila yang masih berdiri, keningnya berkerut menatap balik suaminya yang berdecak pinggang.
"Kamu mau sampai kapan memanggil saya dengan sebutan Pak?" tanya Alka seolah ia lagi mengintrogasi Nabila.
Alka sebenarnya sudah jengah oleh panggilan yang di sering ucapkan oleh istrinya itu.
Alka ingin Nabila memanggil dirinya sama seperti istri pada umumnya di luar sana.
"Memangnya Bapak mau di panggil apa?" tanya Nabila yang juga sudah mulai kepikiran mau mengubah panggilan pada suami galaknya tersebut.
"Ya pikir dong masak gitu aja harus mintak di ajarin. Sayang kek, Hany atau Daddy, terseralah." sungut Alka kesal karena soal panggilan saja Nabila mintak di ajarin.
"Hah!" yang benar saja suaminya memberikan pilihan yang sama sekali tidak ada satupun yang Nabila minati.
"Mas saja ya, soalnya pilihan yang Bapak pilih kayaknya kurang pas. Kita kan belum saling mencintai jadi agak aneh kalau manggil sebutan seperti itu." ucap Nabila.
"Hubungan sudah sah bukan lagi anak ABG yang baru belajar jatuh cinta." Ketus Alka, lalu pergi berlalu menunju lemari..