Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum di Ujung Pedang
Suara tantangan Ren Zhaofeng masih menggema di udara ketika tekanan Qi yang menyesakkan turun dari langit.
"Lancang!"
Seorang pria paruh baya dengan jubah hitam bergaris emas mendarat di tengah alun-alun. Aura Pembentukan Inti miliknya meledak, memaksa murid-murid di sekitarnya jatuh berlutut karena sesak napas.
Itu adalah Tetua Disiplin, Liu Feng. Ayah Liu Mei.
Liu Feng menatap mayat Li Dong yang hancur, lalu menatap Zhaofeng dengan mata yang menyala karena amarah.
"Ren Zhaofeng! Kau berani membunuh sesama murid di depan umum? Kau menganggap aturan sekte sebagai sampah?!"
Zhaofeng tidak berlutut. Dia menggunakan Medan Gravitasi pedangnya untuk menetralkan tekanan Qi Tetua Disiplin di sekitar tubuhnya. Tulang-tulangnya yang kini setingkat Tahap 8 menahan beban itu tanpa gemetar.
"Saya tidak membunuh murid sekte, Tetua," jawab Zhaofeng tenang. "Saya membunuh monster yang dirasuki darah iblis."
Zhaofeng menendang mayat Li Dong. Tubuh itu berbalik, memperlihatkan wajah yang masih menyisakan ciri-ciri mutasi: gigi runcing dan mata yang sepenuhnya hitam.
"Lihat sendiri. Dia mengonsumsi Darah Iblis. Menurut Aturan Sekte: Siapapun yang bersekutu dengan iblis harus dimusnahkan di tempat. Saya hanya membantu Tetua menegakkan aturan."
Wajah Liu Feng berkedut. Dia tahu Zhaofeng benar. Tapi membiarkan bocah ingusan ini bertindak sebagai hakim dan algojo di wilayah kekuasaannya adalah penghinaan besar.
"Itu bukan wewenangmu untuk memutuskan!" bentak Liu Feng. "Kau harus melumpuhkannya dan menyerahkannya ke Balai Disiplin untuk diinterogasi! Dengan membunuhnya, kau menghilangkan bukti penting tentang siapa yang memberinya darah itu!"
"Atau mungkin..." Zhaofeng memotong, suaranya tajam. "Saya membunuhnya sebelum dia sempat menyebut nama orang yang memberinya darah itu? Orang yang mungkin... sangat dekat dengan kekuasaan?"
Suasana membeku.
Zhaofeng secara implisit menuduh Tetua Disiplin terlibat (atau setidaknya lalai).
Tangan Liu Feng mengepal. Niat membunuh melintas di matanya. "Kau menuduhku? Bocah, kau mencari mati!"
Liu Feng mengangkat tangannya. Qi hitam berkumpul di telapak tangannya. Dia berniat membunuh Zhaofeng dengan dalih "pembangkangan".
Zhaofeng tidak mundur. Dia memegang gagang Pedang Hitam-nya.
Dia tahu dia belum bisa menang melawan kultivator Pembentukan Inti. Tapi dia punya kartu as: Daftar Pengkhianat di dalam cincinnya. Jika Liu Feng menyerang, Zhaofeng akan melempar daftar itu ke kerumunan murid agar semua orang melihatnya. Itu adalah langkah "Sama-sama hancur".
Namun, sebelum bentrokan terjadi, sebuah tawa santai terdengar.
"Hahaha! Tetua Liu, kenapa kau begitu serius dengan anak-anak?"
Seorang pria tua berjubah putih dengan labu arak di pinggangnya berjalan santai menembus kerumunan. Setiap langkahnya seolah membelah tekanan Qi Tetua Disiplin.
Tetua Pedang.
"Tetua Pedang..." Liu Feng menurunkan tangannya, tapi wajahnya masam. "Kau mau melindungi pembunuh ini lagi?"
"Pembunuh? Aku hanya melihat seorang murid yang rajin membersihkan hama," Tetua Pedang berdiri di samping Zhaofeng, menepuk bahu pemuda itu. "Lagipula, Zhaofeng sekarang adalah pemegang Token Emas. Statusnya setara dengan Murid Inti. Hanya Ketua Sekte yang berhak mengadilinya."
Liu Feng mendengus kasar. Dia tahu dia kalah posisi hari ini. Membunuh Zhaofeng di depan Tetua Pedang adalah mustahil.
"Baik," kata Liu Feng dingin. "Tapi ingat ini, Ren Zhaofeng. Ular di rumput mungkin mati, tapi Naga di langit sedang melihatmu. Kau tidak akan selamanya beruntung."
Liu Feng mengibaskan jubahnya, memerintahkan bawahannya mengangkut mayat Li Dong, lalu pergi.
Setelah Liu Feng pergi, Tetua Pedang menatap Zhaofeng dengan serius.
"Kau bermain api, Nak. Menantang Tetua Disiplin secara terbuka? Kau ingin mati muda?"
"Saya tidak punya pilihan, Guru," kata Zhaofeng. "Mereka sudah mengincar nyawa saya. Mundur berarti mati. Saya harus menunjukkan taring agar mereka berpikir dua kali sebelum menyerang."
Tetua Pedang menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Kau memang gila. Mirip denganku saat muda."
Tetua itu melihat ke arah Huo Lie yang terluka.
"Bawa temanmu. Obati dia. Dan bersiaplah. Ketua Sekte akan mengumumkan Ujian Murid Inti lebih cepat dari jadwal. Situasi sekte sedang panas. Perang saudara mungkin tidak terelakkan."
"Saya siap," kata Zhaofeng.
Tiga Hari Kemudian.
Zhaofeng resmi pindah sepenuhnya ke Puncak Inti. Huo Lie, yang sudah pulih berkat obat mahal Zhaofeng, diangkat menjadi pelayan pribadinya (posisi yang aman dan terhormat).
Di dalam Gua Nomor 9, Zhaofeng sedang duduk bermeditasi.
Kultivasinya sudah stabil di Tahap 8. Tapi dia merasa ada dinding penghalang menuju Tahap 9. Tubuhnya butuh "katalis" baru.
Tiba-tiba, Pedang Hitam di pangkuannya bergetar.
Bukan getaran lapar. Tapi getaran peringatan.
Zhaofeng membuka matanya.
Ada seseorang yang berdiri di depan pintu guanya. Seseorang yang sangat kuat. Auranya tenang seperti danau, tapi di dalamnya tersembunyi monster.
Pintu gua terbuka perlahan.
Seorang pemuda tampan dengan jubah ungu masuk. Dia memegang kipas lipat dari bulu phoenix. Wajahnya tersenyum ramah, tapi matanya kosong.
Zhang Yun. Murid Inti Peringkat 5.
Nama yang ada di Daftar Pengkhianat.
"Adik Ren," sapa Zhang Yun sopan. "Maaf mengganggu malam-malam. Aku datang membawa pesan dari 'Tuan Besar'."
Zhaofeng tidak berdiri. Dia tetap duduk, tangannya di atas pedang.
"Tuan Besar?"
"Ya. Beliau sangat terkesan dengan... keberanianmu," kata Zhang Yun, matanya melirik cincin di jari Zhaofeng. "Beliau menawarkan kesepakatan damai. Kembalikan 'barang' yang kau ambil dari Hei She, dan kami akan melupakan semua masalah ini. Kami bahkan akan mendukungmu menjadi Ketua Sekte masa depan."
"Barang apa?" Zhaofeng pura-pura bodoh.
Zhang Yun tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai mata. "Jangan main-main. Buku Besar itu. Serahkan, dan kau hidup kaya raya. Tolak, dan..."
Zhang Yun menjentikkan jarinya.
BOOM!
Di luar gua, terdengar ledakan kecil.
"Itu peringatan," kata Zhang Yun. "Formasi pelindung guamu baru saja kurusak sedikit. Bayangkan jika itu meledak saat kau sedang tidur."
Zhaofeng berdiri perlahan. Dia mengambil Daftar Pengkhianat dari cincinnya dan meletakkannya di atas meja.
Mata Zhang Yun berbinar. "Pilihan bijak."
Zhang Yun mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
SREEET!
Pedang Hitam Zhaofeng bergerak lebih cepat dari kedipan mata, memotong meja batu itu menjadi dua, tepat di antara tangan Zhang Yun dan buku itu.
"Aku belum selesai bicara," kata Zhaofeng dingin.
"Kau..." Zhang Yun menarik tangannya, wajahnya berubah garang.
"Sampaikan pada Tuan Besarmu," Zhaofeng mengambil kembali buku itu. "Barang ini adalah nyawaku. Selama aku memegangnya, kalian tidak berani membunuhku secara terbuka karena takut rahasianya bocor. Jika aku menyerahkannya, aku mati besok pagi."
"Jadi kau memilih perang?"
"Bukan perang," Zhaofeng tersenyum mengerikan. "Pembersihan."
Dia mengangkat pedangnya, mengarahkannya ke leher Zhang Yun.
"Sekarang keluar dari guaku. Atau aku akan menambahkan namamu di daftar mayat hari ini."
Zhang Yun menatap Zhaofeng dengan kebencian murni. Dia tahu dia bisa bertarung, tapi suara keributan di Puncak Inti akan memancing Tetua lain.
"Kau akan menyesal, Ren Zhaofeng. Kau tidak tahu seberapa dalam kegelapan di sekte ini."
Zhang Yun berbalik dan pergi.
Zhaofeng menghela napas panjang. Dia berhasil menggertak. Tapi dia tahu, Zhang Yun benar. Musuhnya ada di mana-mana.
Dia butuh sekutu yang lebih kuat. Bukan hanya Tetua Pedang.
Dia butuh Ye Qingyu.
"Besok," gumam Zhaofeng. "Aku harus menunjukkan daftar ini pada Ye Qingyu. Hanya dia yang bisa membawaku ke hadapan Ketua Sekte tanpa dicegat."
💪