Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — JURNAL BERDARAH
Ketukan di pintu depan berhenti, namun suaranya berganti dengan bunyi seret yang basah. Seperti ada karung berat yang ditarik menjauh dari teras, meninggalkan jejak lendir di lantai semen luar. Pak Wiryo tidak memaksa masuk. Ia meninggalkan "sarapannya" di ambang pintu, membiarkan aroma amis bubur merah putih itu menyusup masuk lewat celah bawah pintu, berlomba dengan bau apek keringat dan muntahan air sumur di dalam Joglo.
Di ruang tengah, ribuan kelabang hitam yang tadi berjatuhan dari ventilasi kini merayap menyebar. Mereka tidak menyerang secara agresif. Mereka hanya... ada. Merayap di dinding, melingkar di kaki kursi, dan berkerumun di sudut-sudut gelap, menciptakan suara kresek-kresek ribuan kaki kecil yang membuat kulit merinding gatal.
"Jangan injek," desis Nara, menarik kaki Raka menjauh dari seekor kelabang sebesar jari telunjuk. "Jangan bikin mereka marah."
Raka masih terbatuk-batuk, memegangi bahunya yang berdarah. Matanya nanar menatap kelabang-kelabang itu. "Mereka nungguin gue mati, Nar. Mereka nungguin gue jadi bangkai biar bisa dimakan."
Dion duduk bersila di tengah lingkaran perlindungan yang sempit itu, diterangi nyala lilin yang tinggal setengah batang. Tangannya gemetar hebat saat memegang jurnal kulitnya.
Buku itu... hangat.
Bukan hangat suhu ruangan. Jurnal itu memancarkan panas tubuh, seolah benda mati itu memiliki metabolisme sendiri. Dan cover kulitnya yang berwarna cokelat tua kini terasa lembap dan sedikit lengket, seperti kulit manusia yang berkeringat.
"Nar," panggil Dion, suaranya pecah. "Liat ini."
Nara mendekat, mengabaikan Lala yang kini duduk di atas meja makan sambil mengayun-ayunkan kakinya, bersenandung lagu Lingsir Wengi sambil memainkan seekor kelabang di telapak tangannya.
Dion membuka halaman jurnal itu.
Halaman-halaman awal yang berisi catatan observasi Dion tentang perilaku sosial warga desa sudah hilang. Tintanya luntur, tulisannya kabur menjadi noda hitam tak bermakna.
Sebagai gantinya, muncul tulisan baru.
Tulisannya merah. Merah pekat yang mulai mengering menjadi cokelat karat. Dan baunya... bau besi yang menyengat.
"Ini darah?" bisik Siska, menutup hidung.
"Tinta pulpen gue abis kemarin sore," kata Dion hampa. "Gue nggak nulis apa-apa sejak kita dikurung. Tapi buku ini... dia nulis sendiri. Dia minta ditulis."
Nara membaca tulisan di halaman itu. Itu bukan lagi catatan harian. Itu adalah Instruksi Manual.
Judul di bagian atas halaman tertulis dengan huruf kapital yang ditekan kuat:
TATA CARA PENYUCIAN WADAH (TAHUN KE-10)
Di bawahnya, ada daftar nama. Nama mereka berenam.
1. BIMA SATRIA (PEMBUKA PINTU)
Status: SELESAI.
Metode: Daging dihancurkan, tulang disisakan. Dimakan oleh Anak-anak Air.
Fungsi: Membuka segel tanah dan memanggil lapar.
(Nama Bima dicoret dengan garis merah tebal horizontal).
Nara menelan ludah. Deskripsi itu... akurat dan sadis.
2. RAKA PRATAMA (PEMBERSIH LANTAI)
Status: SEDANG BERJALAN.
Metode: Disetubuhi lewat mimpi. Paru-paru diisi air suci sumur. Daging bahu ditandai.
Instruksi Selanjutnya: Buat dia muntah sampai kering. Ganti darahnya dengan air sumur sepenuhnya. Jangan biarkan dia tidur, atau dia akan mati sebelum ritual puncak.
Raka membaca namanya sendiri di sana. Wajahnya memucat, lebih putih dari kapas.
"Pembersih lantai?" suara Raka bergetar. "Gue... gue cuma kain pel buat mereka?"
"Baca terus, Yon," perintah Nara, meski perutnya mual.
3. SISKA LESTARI (PENGHALANG DOA)
Status: TERTUNDA.
Hambatan: Masih ada cahaya putih di lidahnya.
Instruksi: Patahkan tiangnya. Buat dia najis. Kirim Bayi Merah untuk memeluknya saat tidur. Bisikkan keraguan sampai dia lupa Tuhannya.
Siska menangis. Ia memeluk lututnya erat-erat. "Pantesan... pantesan gue nggak bisa ngaji, Nar. Lidah gue kaku. Tiap gue mau baca Al-Fatihah, yang keluar malah..." Siska tidak sanggup melanjutkan. Yang keluar adalah bayangan bayi berdarah yang tertawa.
4. LALA PUTRI (MEMPELAI WANITA)
Status: SIAP.
Metode: Sukarela. Jiwa lama sudah digeser ke sudut. Ruang tengah kosong.
Fungsi: Induk Semang. Ratu Pesta.
Nara melirik Lala. Gadis itu tersenyum lebar ke arah mereka saat namanya disebut.
"Aku Ratu," kikik Lala. "Kalian cuma dayang-dayang."
5. DION MAHESA (JURU TULIS)
Status: ALAT.
Fungsi: Mencatat sejarah baru. Saksi mata yang akan buta di akhir cerita.
Instruksi: Biarkan dia tetap waras paling lama. Rasa takutnya yang intelek adalah hidangan penutup yang renyah.
Tangan Dion gemetar begitu hebat hingga jurnal itu nyaris jatuh. "Gue... gue disisain buat nyatet kehancuran kita sendiri?"
"Dan yang terakhir..." bisik Nara, matanya tertuju pada nama paling bawah.
6. NARA AYUDIA (TUMBAL UTAMA / IBU PERTIWI BARU)
Status: MENOLAK.
Kondisi: Daging alot. Hati keras.
Instruksi: JANGAN DIBUNUH. Dia tidak boleh cacat. Dia harus utuh. Hancurkan mentalnya. Bunuh semua yang dia lindungi di depan matanya. Paksa dia menyerah. Saat dia putus asa, Ibu Ratu akan mengambil alih takhta.
Nara terdiam. Napasnya tertahan.
"Bunuh semua yang dia lindungi..." ulang Nara pelan.
Dia menatap Raka yang sekarat, Siska yang hancur mentalnya, dan Dion yang ketakutan.
"Mereka nyiksa kalian... buat matahin gue," realisasi itu menghantam Nara seperti palu godam. Rasa bersalah yang luar biasa langsung menyerbunya. "Ini semua karena gue. Karena gue ketua kalian. Karena gue sok kuat."
"Nggak, Nar," Dion menggeleng cepat. "Jangan mikir gitu. Itu yang mereka mau. Lo liat instruksinya? 'Hancurkan mentalnya'. Kalau lo nyalahin diri sendiri, lo kalah."
Tiba-tiba, tinta di halaman jurnal itu bergerak.
Bukan, bukan bergerak. Menenetes.
Huruf-huruf pada nama RAKA PRATAMA mulai mencair. Tinta merah itu meleleh ke bawah, seperti darah yang mengucur dari luka baru. Lelehan itu merembes menembus kertas, menetes ke celana Dion.
"Panas!" Dion berteriak, melempar jurnal itu ke lantai.
Celana Dion berasap di bagian yang terkena tetesan tinta. Itu bukan tinta. Itu asam—atau darah yang mendidih.
Bersamaan dengan itu, Raka menjerit.
"ARGHHHH! PERUT GUE!"
Raka jatuh berguling di lantai, memegangi perutnya. Tubuhnya kejang-kejang. Dari balik kulit perutnya yang kurus, terlihat pergerakan. Sesuatu yang besar, panjang, dan berotot sedang menggeliat di dalam ususnya.
"Ada yang gerak!" teriak Siska histeris. "Di dalem perut Raka ada uler!"
"Bukan uler," kata Lala santai dari atas meja. Ia menatap Raka dengan tatapan lapar. "Itu anak. Mas Raka kan lagi hamil air sumur."
"Dion! Pegangin kakinya!" teriak Nara. "Siska, cari anduk atau kain! Sumbat mulut Raka biar lidahnya nggak kegigit!"
Nara menindih tubuh Raka yang meronta liar. Tenaga Raka kuat sekali, tidak manusiawi. Matanya melotot putih semua. Mulutnya berbusa—busa berwarna hitam pekat.
"Keluarin..." rintih Raka di sela kejangnya. "Sakit... panas... mereka nyakar-nyakar usus gue..."
Nara mengangkat kaos Raka.
Kulit perut Raka transparan. Pembuluh darahnya menghitam, menonjol keluar seperti jaring laba-laba. Dan di tengah perutnya, pusarnya terbuka.
Pusar Raka melebar, meregang, seolah hendak melahirkan sesuatu.
Dari lubang pusar itu, keluar air mancur kecil berwarna hitam. Crrooott.
Baunya busuk setengah mati. Bau bangkai yang sudah meledak.
"Minggir!" teriak Dion.
Sesuatu mulai menyembul dari pusar Raka.
Bukan kepala bayi. Bukan tangan.
Itu... rambut.
Gumpalan rambut hitam panjang yang basah dan berlendir keluar perlahan dari pusar Raka, seperti cacing pita raksasa. Rambut itu terus keluar, bergulung-gulung di atas perut Raka.
"Tarik, Nar!" teriak Dion panik. "Kalau nggak ditarik, itu bakal nyekik organ dalem dia!"
Nara ragu sedetik. Itu menjijikkan. Tapi melihat Raka yang matanya mulai memutih total dan napasnya berhenti, Nara tidak punya pilihan.
Nara mencengkeram gumpalan rambut basah itu dengan tangan telanjang.
Licin. Dingin. Dan berdenyut.
Nara menariknya.
Raka menjerit panjang, suara yang menyayat hati, seolah nyawanya ikut ditarik keluar.
Rambut itu panjang sekali. Satu meter... dua meter... Nara terus menarik. Tangannya berlumuran lendir hitam dan darah. Siska muntah di sudut ruangan, tidak kuat melihat pemandangan itu.
Di ujung gumpalan rambut itu, terikat sebuah benda.
Sebuah batu. Batu kerikil sungai yang halus. Dan di batu itu, terukir nama RINI.
Begitu batu itu keluar, Raka terkulai lemas. Napasnya terengah-engah, tapi matanya kembali normal. Ia pingsan.
Nara melempar gumpalan rambut dan batu itu jauh-jauh ke sudut ruangan.
Kelabang-kelabang yang sedari tadi diam, tiba-tiba bergerak serentak. Mereka mengerubuti gumpalan rambut muntahan itu. Ratusan kelabang menutupi rambut itu, memakannya dengan bunyi krak-krak yang halus. Dalam hitungan detik, rambut itu habis, menyisakan batu bertuliskan nama Rini yang bersih mengkilap.
"Gila..." desah Dion, menyeka keringat dingin di dahinya. "Itu santet. Santet level tinggi."
"Mereka nanem itu di badan Raka pas dia di sumur," kata Nara, menatap tangannya yang kotor. Ia merasa noda itu tidak akan pernah bisa dicuci.
Lala turun dari meja. Ia berjalan mendekati batu Rini yang kini tergeletak di antara kelabang. Ia memungut batu itu, lalu menciumnya.
"Rini titip salam," kata Lala sambil tersenyum manis ke arah Nara. "Katanya batu itu cuma pemberat. Biar Mas Raka nggak bisa 'naik' lagi."
Nara berdiri, menodongkan pisaunya ke arah Lala.
"Cukup, La!" bentak Nara. "Lo mau apa sebenernya? Lo mau kita semua mati? Lo temen kita, La! Kita kuliah bareng, kita makan bareng!"
Ekspresi Lala berubah. Senyumnya hilang. Wajahnya menjadi datar, tua, dan penuh wibawa mengerikan.
"Temanmu sudah tidur, Nara," suara itu berat, suara seorang nenek tua yang keluar dari pita suara gadis 21 tahun. "Sekarang yang ada cuma Nyai. Dan Nyai mau menagih janji."
Lala—atau Nyai—berjalan mendekati jurnal yang tergeletak di lantai. Ia menendang jurnal itu pelan ke arah Dion.
"Tulis, Nak Penulis," perintahnya. "Tulis bab baru."
Dion menatap jurnal itu. Tanpa ia sentuh, halaman jurnal itu terbuka sendiri ke halaman selanjutnya.
Tinta merah kembali merembes keluar dari kertas kosong. Membentuk tulisan baru yang lebih besar dan kasar.
TANTANGAN MALAM INI:
Satu harus dikorbankan agar tiga bisa melihat matahari besok.
Pilih salah satu:
A. Raka (Sudah rusak, tinggal habisi).
B. Siska (Masih alot, tapi darahnya suci).
C. Dion (Saksi mata yang tak berguna).
Keputusan ada di tangan Ketua.
Waktu berpikir: Sampai lilin habis (± 15 menit).
Jika tidak memilih... 'Ibu' akan masuk dan mengambil semuanya.
Nara membaca tulisan itu. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Ini adalah Trolley Problem versi neraka.
Nara menatap lilin di tengah ruangan. Lilin itu tinggal satu ruas jari. Apinya bergoyang liar, melehkan sisa-sisa harapan mereka.
"Mereka mau gue milih siapa yang mati?" bisik Nara.
"Jangan pilih, Nar," kata Dion cepat. "Itu jebakan. Kalau lo milih, lo jadi pembunuh. Lo jadi sama kayak mereka. Mental lo ancur, dan mereka menang."
"Tapi kalau gue nggak milih... mereka ambil semuanya," Nara menatap pintu depan. Ia bisa mendengar suara napas berat dari luar. Banyak napas. Puluhan orang—atau makhluk—sedang berdiri di teras, menunggu lilin padam untuk mendobrak masuk.
"Kita perang," kata Nara. Matanya berkilat nekat.
"Perang gimana? Kita nggak punya senjata!" seru Siska.
"Kita punya api," Nara menunjuk lilin itu. Lalu ia menunjuk ke arah botol minyak tanah cadangan di sudut ruangan, dan tumpukan gorden tua yang berdebu.
Nara mengambil jurnal Dion.
"Buku ini terhubung sama mereka kan?" tanya Nara. "Buku ini kulitnya anget. Isinya darah. Ini voodoo doll berbentuk buku."
Nara menyiram jurnal itu dengan minyak tanah.
"Nar! Jangan!" teriak Lala/Nyai. Wajahnya panik untuk pertama kalinya. "Itu kitab suci perjanjian!"
"Persetan sama perjanjian," desis Nara.
Nara mendekatkan jurnal yang basah minyak itu ke nyala lilin.
"Kalau lo mau nyiksa temen-temen gue lewat buku ini..." Nara menatap mata Lala tajam. "...gue bakar 'pintu' masuk lo."
Nara melempar jurnal itu ke api lilin.
WUUSH!
Api menyambar minyak. Jurnal itu terbakar hebat.
Tapi yang terdengar bukan suara kertas terbakar.
Jurnal itu menjerit.
Suara jeritan ribuan orang yang kesakitan keluar dari api yang membakar buku itu. Asap hitam pekat membumbung tinggi, berbau daging panggang yang gosong.
Bersamaan dengan itu, Lala menjerit kesakitan. Ia memegangi dadanya, jatuh berlutut, muntah darah hitam.
Raka yang pingsan tersentak bangun, matanya melotot, lalu muntah lagi—kali ini muntah paku karatan.
Dion dan Siska menutup telinga karena suara jeritan dari buku itu memekakkan gendang telinga, memecahkan kaca jendela yang tersisa.
Di luar, terdengar suara lolongan anjing hutan yang bersahutan dengan teriakan marah warga desa.
"KURANG AJAR!" suara Pak Wiryo menggelegar dari luar, tidak lagi ramah. "SERANG! MASUK! HABISI MEREKA!"
Pintu depan didobrak keras. BRAK! BRAK! Palang meja mulai bergeser.
Nara mengambil sisa minyak tanah, menyiramkannya ke gorden, ke kursi kayu, ke pintu depan.
"Siska! Dion! Bopong Raka!" teriak Nara di tengah keriuhan api. "Kita lari lewat belakang pas mereka sibuk madamin api depan!"
"Lo mau bakar rumah ini?!" teriak Dion gila.
"Ini jantung desanya kan?!" Nara menyalakan api di gorden. Api menjalar cepat, memakan kain tua yang kering. "Kita bikin jantungnya serangan jantung!"
Joglo tua itu mulai terbakar. Asap tebal memenuhi ruangan. Panas api melawan hawa dingin mistis.
Ini adalah pertaruhan terakhir. Nara tidak memilih siapa yang mati. Ia memilih untuk membakar papan permainannya.
Saat mereka menyeret Raka ke pintu belakang, Nara sempat menoleh ke belakang.
Di tengah kobaran api ruang tengah, Lala berdiri tegak. Ia tidak terbakar. Api di sekelilingnya seolah menghindarinya.
Lala menatap Nara dengan mata hitam legam tanpa putih. Ia tersenyum. Senyum yang menjanjikan penderitaan abadi.
"Lari yang jauh, Nara..." bisik Lala, suaranya terdengar jelas di telinga Nara meski di tengah gemuruh api. "Api ini cuma bikin aku makin lapar."
Mereka mendobrak pintu dapur, berlari keluar menuju kegelapan kebun, meninggalkan Joglo yang kini menjadi obor raksasa di tengah Desa Wanasari.
Di langit, bulan tertutup awan merah. Malam pengabdian belum berakhir. Pesta sesungguhnya baru saja dimulai dengan api unggun yang sangat besar.