Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Syerly menatap ponselnya yang kembali menyala, namun tak ada sedikit pun niat untuk mengangkatnya.
Beberapa hari ini ia mengurung diri di studio musik. Jemarinya sibuk memetik gitar, menuliskan nada dan lirik, seolah berusaha menenggelamkan diri dalam kesibukan agar tak perlu menghadapi perasaan yang terus membelenggunya.
Beberapa botol anggur tergeletak di sampingnya. Syerly meneguk isinya perlahan, membiarkan rasa hangat menyebar di tenggorokan.
Ponselnya kembali menyala, Syerly meliriknya tenang. Lalu wajah berubahnya.
"Ada apa, Peter?" Katanya dengan senyum kecil.
Suara khawatir terdengar dari seberang sana.
"Kau sudah cuti tiga hari, apa kau baik-baik saja?"
"Aku hanya sedang tidak enak badan." Jawab Syerly tenang.
"Apakah ada masalah?"
Peter diam sebentar, sebelum menjawab.
"Sebenarnya, hari ini ada ujian mendadak."
"Aku akan datang ke kelas." Potong Syerly cepat.
Syerly pergi mandi sebentar, saat ia sedang mengambil pakaiannya. Ia melihat kemeja besar tergantung didalam lemarinya.
Syerly menatapnya sebentar.
Setelah menghelai nafas panjang, ia mengambilnya kemeja itu dan melipatnya dengan hati-hati.
Syerly tiba di kelas tepat beberapa menit sebelum dosen masuk.
Begitu ia duduk di sebelahnya, Peter menoleh, menatapnya dengan raut wajah khawatir.
"Apa kau yakin benar-benar baik saja?" tanyanya pelan.
Syerly mengangguk ringan, tersenyum lembut.
"Ya."
Peter hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi langkah dosen yang memasuki ruangan memaksanya mengurungkan niat. Suasana kelas pun mendadak hening, sementara Syerly menatap ke depan berusaha tetap fokus.
Kelas baru saja selesai ketika ponsel Syerly kembali berdering di dalam tasnya.
Ia mengeluarkannya dan menatap layar.
Shayna.
Sebelum menjawab, Syerly menoleh ke arah Peter dan memberi isyarat bahwa ia akan pergi lebih dulu. Peter mengangguk pelan.
Syerly melangkah menjauh, lalu mengangkat panggilan itu.
"Ada apa, Shay?" Jawab dengan senyum kecil.
"Apa kau merindukanku?"
"Kakakmu ini, sangat merindukanmu." Terdengar suara ceria dari seberang sana.
"Aku tidak bisa bertemu." Potong Syerly cepat.
"Aku sangat sibuk."
Shayna terkekeh pelan.
"Apa kau sibuk berkencan dengan Felix."
"Mengapa aku harus bersama dia." Dengus Syerly.
"Apa kau tidak tahu, fotomu tidur dipangkuan Felix sudah membuat seluruh kampus heboh." Kata Shayna.
"Kau membuat hidupku tidak tenang." Keluh Shayna.
"Dimanapun aku pergi, aku harus menjawab pertanyaan orang-orang."
Syerly justru terkekeh ringan.
"Mengapa kau tidak menyangkalnya." Katanya tenang.
"Aku bahkan memberitahu orang-orang, jika kau adalah saudara tiriku."
"Sialan, kau Syer..." maki Shayna.
"Jika kau mulai melekat pada Felix seperti lem, aku akan bilang kepada semua orang, kalau kau sudah bertobat."
Syerly mendengus kesal.
"Kau meneleponku tidak hanya untuk mengatakan itu kan?" Tanya Syerly.
"Jadi, ada apa sebenarnya?"
Hening sejenak di seberang sana. Percakapan mereka berlanjut dengan nada lebih ringan.
Tanpa sadar, senyum tipis muncul di bibir Syerly.
"Baiklah." Katanya pelan.
"Aku akan membantumu."
Syerly menutup teleponnya, lalu menatap tas di tangannya.
Di dalamnya, tersimpan kemeja milik Felix.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Tapi sebelum langkahnya semakin jauh.
Syerly berhenti.
Ia melihat Felix sedang duduk bersama seorang gadis.
Gadis itu tampak cantik dengan senyum lembut.
Felix dan gadis itu terlihat sangat akrab. Mereka berdua tersenyum satu sama lain.
Syerly merasakan nyeri yang datang tiba-tiba, meremas jantungnya tanpa ampun. Tangannya refleks menyentuh dadanya. Napasnya tertahan, seakan udara di sekitarnya mendadak menipis.
Syerly terpaku.
Merasakan perih yang mulai mengendap.
Ia buru-buru berbalik. Melarikan diri dari perasaan takut dan rasa sakit yang bercampur jadi satu.
"Syerly." Seseorang memanggilnya.
Namun Syerly tidak menoleh.
Ia melangkah cepat, hampir berlari, menjauh dari pemandangan itu. Menjauh dari Felix. Menjauh dari perasaan yang tak ingin ia akui.
Felix terus mengejar Syerly.
"Syer..." panggilnya.
Tapi Syerly terus mengabaikannya dan berjalan cepat.
Tiba-tiba, tangan Felix meraih pergelangan tangannya dan memaksanya berhenti. Dengan satu tarikan, ia membalikkan tubuh Syerly menghadapnya.
"Ada apa?" Tanya Felix cemas.
Tatapan mereka bertemu.
"Tidak apa-apa." Suara Syerly terdengar datar.
Felix mengernyit.
"Lalu mengapa kau mengabaikan semua pesan dan panggilan telponku?"
Syerly menarik tangannya, tapi Felix masih menahannya.
"Bukankah aku sudah bilang, aku baik-baik saja." Nada Syerly berubah tajam.
"Kau jelas-jelas menghindariku." Kata Felix tajam.
Felix menghelai nafas pelan, mencoba menekan emosinya.
"Aku duduk disana menunggumu. Aku ingin menjemputmu." Katanya pelan.
"Kalau begitu, terus saja duduk disana." Kata Syerly dingin.
"Kau terlihat sangat nyaman dengan gadis itu."
"Gadis itu, Poppy." Jelas Felix cepat.
"Aku bermain drama dengannya, aku hanya sedang mengajaknya makan. Dan aku tidak mempunyai perasaan apapun dengan dia."
Syerly menarik tangannya, seolah ingin menciptakan jarak di antara mereka.
Penjelasan Felix sama sekali tidak menenangkannya. Justru sebaliknya, kata-kata itu membuat dadanya semakin sesak, dan ketakutan yang tak bisa ia jelaskan kian membesar.
"Kau tidak perlu menjelaskan semua itu kepadaku." Katanya tersenyum tipis.
"Kita hanya teman."
Felix mengernyitkan dahinya.
"Ada apa denganmu, Syer?" Tanyanya bingung.
"Mengapa kau marah?"
Felix ingin menarik tangan Syerly, tapi gadis itu terus menghindarinya.
"Aku tidak marah padamu." Kata Syerly masih dengan nada dingin.
"Aku hanya berpikir, kau sudah melewati batas."
Syerly tahu, hubungannya dengan Felix tak boleh melangkah lebih jauh dari titik ini. Ia merasakannya dengan jelas, seperti batas tipis yang jika dilewati, ia tak akan bisa kembali.
Akhirnya Syerly menyerahkan tas ditangannya.
"Dan ini..." katanya.
"Kemeja milikmu."
Lalu Syerly mendorong tas itu kepada Felix dengan kasar.
"Aku ingin, kita akhiri hubungan diantara kita."
Syerly takut berharap pada sesuatu yang mungkin tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Lebih baik ia mengakhiri semuanya sebelum terlambat.
Felix masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Syerly yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang.
Dadanya terasa kosong, seolah ada sesuatu yang baru saja direnggut paksa tanpa sempat memberinya kesempatan untuk memahaminya.
Felix menghelai nafas panjang, dan akhirnya berbalik.
Poppy masih duduk di sana. Saat melihat Felix mendekat, gadis itu menyunggingkan senyum lembut, seakan tidak menyadari badai yang baru saja terjadi.
Felix memaksakan dirinya untuk tetap tenang dan menghampiri Poppy.
Poppy menatap Felix sejenak, ia ragu-ragu sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati,
"Felix… apa kabar yang tersebar di media sosial tentangmu dan Syerly itu benar?" Tanya Poppy setelah Felix kembali duduk.
"Kita hanya teman." Jawab Felix singkat, dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Ohh..." Poppy mengangguk pelan.
"Berarti berita itu tidak benar." gumamnya pelan.
Gadis itu diam sebentar, sebelum melanjutkan.
"Dulu waktu SMA aku pernah satu kelas dengan Syerly. Tapi, Syerly hampir tidak pernah berbicara dengan siapapun bahkan denganku."
Poppy menatap Felix, mencoba membaca reaksinya.
"Tapi sepertinya kau dan Syerly cukup dekat?"
Felix menunduk sejenak, lalu kembali tersenyum tipis.
"Kita benar-benar hanya berteman."
Setelah Poppy pergi, Felix masih duduk di sana sendirian.
Percakapannya barusan terus terulang di kepalanya, memaksanya memikirkan kembali sikap Syerly. Perlahan, sebuah kemungkinan muncul.
Mungkin Syerly marah karena foto-foto mereka yang tersebar luas, dengan gosip yang semakin liar dan membuat Syerly merasa terganggu.
Dengan pikiran itu, Felix segera meraih ponselnya dan menghubungi Syerly.
Satu kali…
tak dijawab.
Dua kali…
masih sunyi.
Tiga kali…
tetap tak ada respons.