SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. CELINA DAWSON?
Theo benar-benar tidak siap.
Ia sudah bersiap menghadapi banyak hal hari ini, krisis perusahaan, penyusup misterius, rasa bersalah yang menyesakkan karena Celina terluka demi menolongnya. Tapi tidak untuk ini.
Tidak untuk melihat kedua orang tuanya berdiri di depan pintu kamar rawat rumah sakit dengan wajah tegang dan langkah tergesa. Penuh kekhawatiran yang tidak pernah ingin Theo lihat dari wajah orang tuanya. Terlebih kekhawatiran karena Theo.
"Mama?" gumam Theo pelan ketika melihat sosok ibunya melangkah masuk lebih dulu, diikuti Hans Morelli, sang ayah yang wajahnya keras namun matanya jelas dipenuhi kekhawatiran luar biasa.
"Papa, kau juga datang," suara Theo terdengar lebih pelan dari yang ia kira.
Lucy dan Leo refleks berdiri melihat kedatangan orang tuanya, Lucy langsung memeluk sang ibu dengan manja.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Elena cepat seraya mengelus kepala Lucy, matanya langsung menyapu Theo dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada perban tersembunyi, tidak ada darah, tidak ada luka yang terlewat.
Hans melangkah lebih dekat, sorot matanya tajam namun penuh tekanan. "Apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Kami dengar perusahaan kacau. Bahkan sudah sampai masuk berita harian kota."
Theo menarik napas panjang. Dadanya terasa berat, seolah ia harus mengulang kembali sebuah kejadian yang belum sepenuhnya reda dari pikirannya.
"Alarm kebakaran tiba-tiba menyala," ujar Theo akhirnya. "Evakuasi dilakukan di seluruh gedung."
Hans mengangguk, menyilangkan tangan. "Itu laporan awal yang kami terima."
"Tapi itu bukan kebakaran biasa," lanjut Theo. "Ada seseorang yang menyusup ke dalam perusahaan."
Alis Elena berkerut. "Menyusup?"
Theo mengangguk. "Celina yang pertama kali melihatnya."
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, alami, refleks, seolah sudah terlalu sering ia ucapkan hari ini.
"Dia melihat orang tak dikenal di tengah kekacauan," lanjut Theo. "Dan ... dia mengejarnya. Bersamaku."
Lucy dan Leo saling pandang, meski mereka sudah mendengar cerita ini sebelumnya, tetap saja rasanya berbeda saat diceritakan ulang di hadapan orang tua mereka.
"Kami menemukan pria itu," ujar Theo, suaranya mengeras, "di divisi IT. Dia sedang berusaha merebut blueprint proyek dari tangan Cedric."
Hans menegakkan tubuhnya. "Blueprint?"
"Iya," jawab Theo. "Proyek inti."
Keheningan sesaat menggantung di udara.
"Kami berhasil meringkusnya, lebih tepatnya Celina yang meringkusnya," lanjut Theo. "Pria itu sempat pingsan. Tapi saat dibawa lewat tangga darurat ... dia sadar dan memberontak."
Theo terdiam sejenak, rahangnya mengeras.
"Aku hampir jatuh. Dan Celina refleks menarikku," ucap Theo penuh sesal karena merasa dirinya ceroboh saat itu.
Elena menutup mulutnya refleks.
"Kami jatuh bersama," lanjut Theo. "Tapi dia menahan tubuhku. Dan sekarang ... dia yang terbaring di sini. Dokter bilang tulang bahunya retak dan juga beberapa memar di tubuhnya."
Elena langsung bergerak mendekati sang putra.
"Apakah kau terluka?" tanyanya cepat, tangannya menyentuh lengan Theo, bahunya, seolah memastikan dengan sentuhan. "Kepalamu? Dadamu? Lenganmu?"
"Aku baik-baik saja, Ma," jawab Theo cepat. "Tidak ada apa-apa."
"Elena," ujar Hans pelan, menahan istrinya. "Dengarkan dulu."
Namun Elena sudah menoleh ke arah ranjang, berjalan mendekati Celina. Melihat sosok yang menjadi karakter utama dalam cerita Theo ini.
Dan langkahnya terhenti.
Di sana, di atas ranjang rumah sakit, terbaring seorang gadis dengan wajah pucat, rambut hitam terurai, tanpa riasan, tanpa freckles yang biasanya membuat wajah itu tampak lebih sederhana.
Wajah itu ... terlalu familiar.
Elena melangkah mendekat perlahan. Jantungnya berdegup keras.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Elena menunduk sedikit, menatap wajah Celina lebih dekat, garis rahang yang halus, hidung yang lurus, alis yang tegas namun lembut.
"Elena?" Hans ikut mendekat, melihat perubahan mendadak di wajah istrinya. "Ada apa?"
Elena menoleh cepat. "Hans?"
"Ya?"
Nada suara Elena bergetar. "Lihat dia," sambungnya.
Hans mengikuti pandangan istrinya.
Dan seketika, wajahnya menegang.
Mata Hans membelalak samar, lalu menyipit, seolah otaknya menolak menerima apa yang sedang ia lihat.
"Bagaimana ...," gumamnya pelan, hampir tak terdengar, "dia bisa ada di sini?"
Theo langsung menoleh. "Papa?"
Hans mengangkat wajahnya, menatap Theo dengan sorot mata yang membuat Theo refleks menegakkan tubuh.
"Bagaimana kau bisa mengenal gadis ini?" tanya Hans, suaranya rendah namun penuh tekanan.
Sebelum Theo sempat menjawab, Lucy maju selangkah.
"Namanya Celina Dawson," ujar Lucy. "Dia office girl di perusahaan."
Keheningan jatuh seperti palu.
Hans menoleh cepat. "Dawson? Office girl?"
Nada suara Hans meninggi, nyaris tidak percaya.
Lucy mengangguk. "Iya."
Hans menggeleng pelan. "Tidak masuk akal."
Lucy menarik napas, lalu melanjutkan, "Beberapa waktu lalu, dia sempat dijadikan kambing hitam di perusahaan dan awal aku kenal Celina juga."
Hans dan Elena menoleh bersamaan.
"Dia dituduh membuang berkas keuangan," lanjut Lucy, "dan menghapus rumus coding di papan tulis milik Cedric. Masalah yang sempat membuat suasana divisi keuangan dan IT kacau."
Elena mengernyit. "Lalu?"
"Ternyata dia tidak bersalah," ujar Lucy. "Dan bukan hanya itu."
Lucy melirik Celina, lalu kembali ke orang tuanya. "Dia membuktikannya dengan cara yang membuat semua orang terpukau."
Leo ikut menyela, "Dia punya ingatan luar biasa. Data, angka, detail, semua seperti tersimpan rapi di kepalanya. Aku sampai tidak percaya ketika dia bisa menulis ulang rumus coding buatan Cedric yang sempat Celina tak sengaja hapus dengan sangat sempurna bahkan sampai coretan yang Cedric lakukan."
Lucy mengangguk. "Setelah itu, secara tidak langsung, Celina sering membantu Theo. Menyortir berkas. Data lintas divisi."
"Cedric bahkan selalu bertanya soal rumus coding dengan Celina," tambah Leo.
Ia berhenti sejenak. "Akademiknya ... sangat apik."
Hans mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Tentu saja. Tentu saja dia bukan gadis biasa," gumam Hans.
Theo menangkap gumaman itu. "Apa maksud Papa?" tanyanya, alisnya berkerut. "Papa mengenalnya?"
Hans tidak langsung menjawab. Ia menatap Celina lama, sangat lama, seolah melihat bayangan lain di wajah gadis yang tertidur itu, bayangan masa lalu yang sampai sekarang jelas ia ingat.
"Kalau ayahnya tahu,” ujar Hans pelan, "apa yang terjadi pada putrinya ... Los Angeles bisa jungkir balik."
Darah Theo terasa membeku. "Ayahnya?" ulang Theo. "Papa kenal ayah Celina?"
Hans tersentak, seolah baru menyadari bahwa ia terlalu banyak bicara.
Ia menoleh ke Elena.
Elena menatap suaminya, lalu menatap Theo, Lucy, dan Leo satu per satu.
Keheningan itu ... berat.
"Apa yang Papa maksud? Papa kenal Celina?" desak Theo.
Hans menghela napas panjang.
Ia dan Elena saling pandang, pandangan yang penuh pertimbangan, ingatan lama, dan sesuatu yang mendekati kewaspadaan.
"Lebih dari sekadar kenal," jawab Elena akhirnya, suaranya lembut namun serius. "Kami mengenal keluarganya ... cukup baik."
Theo menatap mereka tak percaya.
"Keluarga?" ulangnya pelan.
Hans mengangguk. "Dan itu bukan keluarga sembarangan."
Theo mundur setengah langkah tanpa sadar.
Ia menoleh ke arah Celina yang masih terlelap, wajahnya tenang, seolah tidak tahu bahwa keberadaannya saja sudah cukup membuat ruangan ini dipenuhi ketegangan tak kasatmata.
Theo menatap Lucy dan Leo.
Dari sorot mata mereka, ia tahu ... ini bukan hanya perasaannya sendiri.
Celina Dawson.
Office girl.
Gadis yang selama ini ia anggap nekat, cerdas, aneh, berani.
Ternyata menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebuah rahasia.
Dan Theo sadar ...
Ia mungkin baru saja menyentuh ujung kecil dari dunia yang selama ini disembunyikan Celina dengan sangat rapi.
Dunia yang lebih gelap yang tidak pernah Theo ketahui.
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️