“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 8
Alisha dan kedua orang tuanya dibebaskan oleh Rafi setelah dua tahun disekap oleh mereka. Alisha memutuskan untuk tinggal dan menetap di Bandung, dia tidak ingin berdekatan dengan Albiru dan Naya, dia tidak ingin juga jika nanti Naya bertindak lebih parah lagi dan menyakiti ayahnya.
Alisha menjual rumahnya yang ada di Jakarta atas bantuan orang kepercayaan Rafi lalu memberikan uang itu pada Alisha. Rumah sederhana namun nyaman bisa dia beli dan Alisha kembali mencari pekerjaan di kantor sebagai sekretaris. Alisha sendiri dulunya juga menjadi sekretaris di perusahaan dan harus berhenti karena ancaman dari Naya dan Rafi.
Hal pertama yang Alisha lakukan adalah mengobati Ibnu karena kondisi kesehatan Ibnu cukup memprihatinkan setelah bebas dari penculikan itu.
“Bunda, Alisha pergi kerja dulu ya. Nanti kalau ada yang datang, jangan dibukakan pintu dan untuk ayah, nanti pulang kerja Alisha akan bawa ayah ke dokter, soalnya Alisha udah bikin janji sore ini.” Alisha berkata memperingati Dhevi.
“Maaf ya sayang, Bunda sama ayah gak bisa bantu kamu kerja. Semua yang kita miliki sudah tidak ada lagi, kamu harus bekerja sendiri. Perusahaan ayah juga sudah tidak bisa dijalankan seperti dulu.” Alisha memegang kedua tangan Dhevi dan menciumnya.
“Gak apa Bun, kita bisa bangkit seperti dulu lagi kok. Semua udah selesai.”
“Tapi kamu sudah kehilangan Albiru.”
“Yang penting ayah sama Bunda baik-baik aja, kalian masih sama aku sekarang.” Dhevi merangkul putrinya dan mencium kening Alisha berkali-kali.
Alisha berangkat kerja menggunakan ojek online, baru satu minggu dia bekerja di perusahaan Geoni Group dan pekerjaan Alisha cukup dipuji.
Untuk gaji dari seorang sekretaris, Alisha bisa membantu perekonomian keluarganya sampai nanti Ibnu sembuh dan kembali membangun bisnisnya lagi.
Alisha tidak memberitahu mengenai kepulangannya pada keluarga besar karena selama ini mereka tidak ada yang peduli dengan mereka. Alisha lebih fokus untuk memperbaiki kehidupannya lagi setelah penculikan dua tahun lamanya.
“Hari ini kita ada rapat penting, Alisha. Kamu persiapkan semuanya dengan baik ya,” pinta direktur utama perusahaan itu.
“Siap, Bu. Saya akan siapkan semuanya.”
Arta mendekati meja Alisha dan memegang tangan perempuan 27 tahun itu. “Semenjak kamu menjadi sekretaris saya, perusahaan ini jadi lebih baik dan perkembangannya jauh lebih bagus. Kamu seharusnya bisa membuka bisnis sendiri, Sha.” Arta memujinya.
“Belum saatnya saya membuka bisnis sendiri, Bu. Saya masih harus menata hidup lebih baik lagi. Terima kasih atas pujiannya.”
“Kalau begitu, saya ke ruangan dulu dan jangan lupa semua yang kita perlukan untuk meeting jam 1 siang nanti.”
“Baik, Bu.”
Alisha kembali fokus menatap layar laptopnya dan mengerjakan semua yang disuruh oleh Arta. Alisha mempersiapkan apa yang diperlukan dengan sangat sempurna hingga pujian kembali dia dapatkan dari sang direktur utama yang baik hati tersebut.
...***...
Alisha duduk di kafe saat jam istirahat, dia sedang telfonan dengan Dhevi menanyakan kabar ayahnya yang saat ini sudah dibawa ke rumah sakit oleh Dhevi.
“Ayah kamu demam tinggi, Sha. Bunda harus bawa segera ke rumah sakit dan sekarang lagi dirawat.” Alisha memejamkan mata lalu mengusap air mata yang perlahan jatuh.
“Maaf ya Bun, Alisha belum bisa pulang sekarang. Soalnya ada rapat penting dan pertemuan dengan beberapa CEO.”
“Gak masalah, Nak. Bunda ada di sini kok, nanti kamu ke sini aja kalau udah selesai kerja.”
“Ya sudah, Alisha makan dulu ya. Nanti Alisha hubungi Bunda lagi,” ucapnya dengan suara berat.
“Iya Nak.”
Sambungan panggilan itu terputus dan Alisha menahan tangisnya. Sungguh berat yang dia jalani saat ini, andai Alisha sanggup, mungkin dia akan membalas perbuatan Naya pada dirinya tapi kondisi tak memungkinkan untuk dia melakukan pembalasan.
“Alisha.”
Suara itu, Alisha sangat hafal sekali dengan suara pria di belakangnya saat ini. Albiru. Iya, itu adalah suara Albiru dan sekarang pria itu berada tepat di hadapannya. Albiru menarik kursi di depannya dan duduk di hadapan Alisha.
“Berbulan-bulan aku mencarimu dan akhirnya kita bisa bertemu di sini,” kata Albiru membuka pembicaraan. Alisha tak bisa menahan kerinduan di hatinya, sangat ingin dia memeluk Albi tapi dia ingat kalau posisinya masih belum aman, dia masih terus dipantau oleh anak buah Naya dan Rafi.
“Untuk apa kamu mencariku?” ketus Alisha yang mengundang tawa sarkas dari Albiru.
“Untuk apa? Ya karna aku khawatir padamu, Sha. Kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?” tanya Albiru saat meraih tangan Alisha untuk dia genggam.
“Apa yang terjadi padaku bukan urusan kamu,” jawab Alisha sembari melepas genggaman tangan Albiru lalu berdiri dari tempat duduknya.
Albiru mengikuti Alisha dan perempuan itu berusaha menghindar karena takut jika nanti orang-orang Naya akan membuat dirinya dalam masalah lagi.
“Sha. Aku perlu bicara denganmu,” kata Albiru saat meraih lengan Alisha lagi.
“Tolong menjauhlah dariku, Albi. Aku tidak mau ada kesalahpahaman dari orang-orang saat melihat kita,” sahut Alisha yang berusaha melepaskan tangan Albiru dari lengannya.
“Kesalahpahaman apa? Aku hanya ingin bicara denganmu.”
“Kalau suamiku melihatnya, kita akan dalam masalah.” Albiru tertawa mendengar jawaban Alisha yang sangat tidak masuk akal.
“Suami siapa? Kevin? Aku sudah bertemu dengan pria itu beberapa hari yang lalu dan jelas dia bukan suamimu. Dia sendiri yang mengatakan padaku kalau kau bukan istrinya, Alisha.”
“Kevin? Dia memang bukan suamiku, Albi.”
“Aku sangat yakin kalau kamu berbohong, Sha. Aku sangat mengenal kamu.”
“Lepas, Albi.”
Alisha berjalan dengan cepat menuju ke kantornya dan kali ini Albi menyusun rencana untuk bisa bicara berdua dengan Alisha. Dia sempat mendengar pembicaraan Alisha dengan Dhevi di telfon tadi dan dia berniat akan mengikuti Alisha setelah rapat selesai.
...***...
Alisha bergegas ke rumah sakit melihat ayah dan ibunya, sepanjang rapat berlangsung tadi, dia sama sekali tidak fokus terlebih di antara CEO itu ada Albiru.
Alisha menaiki ojek seperti biasa dan Albiru mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah sakit, Alisha langsung menuju ke ruangan ayahnya dirawat dan mendapati Dhevi tengah menangis sesegukan.
“Bunda, ada apa?” tanya Alisha khawatir, Dhevi langsung menghapus air matanya dan Ibnu menatap putrinya dengan tatapan sendu.
“Tidak ada sayang, Bunda hanya sedih saja sama kehidupan kita sekarang.” Alisha memeluk erat ibunya itu dan mengusap punggung Dhevi lembut.
“Kita akan baik-baik saja, Bun.” Alisha beralih pada Ibnu dan mengusap punggung tangan ayahnya, dia menatap tiga jari tangan Ibnu yang hilang karena ulah Naya dan Rafi.
“Ayah baik-baik aja kan? Alisha khawatir sekali sama Ayah.” Ibnu mengusap lalu mencubit pipi putri tunggal kesayangannya itu.
“Ayah baik-baik saja selama kamu masih bisa tersenyum sayang. Bagaimana pekerjaanmu?”
“Baik, Yah. Semua berjalan lancar.”
“Permisi,” ucap seorang perawat saat memasuki ruangan Ibnu. Alisha dan Dhevi berdiri ketika perawat itu memberikan resep obat yang harus ditebus oleh Alisha.
“Bun, Alisha tebus obat ayah dulu ya.”
Saat Alisha keluar, Albiru masuk ke dalam ruang rawat Ibnu, sontak Ibnu dan Dhevi kaget melihatnya.
“Albiru,” ucap mereka berdua serentak.