Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kena Mental
Ameera tengah memasang payet di leher kebaya hasil rancangannya. Tinggal sedikit lagi. Kebaya pengantin, pesanan pelanggannya nampak elegan dan mewah dengan taburan mutiara dan batu permata. Tiba-tiba benda pipih di kantong blazernya begetar.
Ameera melihat sebuah panggilan dengan nama Richi. Ameera segera menjawab panggilan itu.
"Hallo Mbak Ame, apa khabar?" sapa Richi diseberang. Richi adalah seorang desainer yang sudah malang melintang
di dunia fashion. Dia bahkan sudah go Internasional. Karya-karya rancangannya sudah sering memenangkan event kelas dunia.
Saat memenangkan lomba kemarin, Richi menyatakan secara langsung, kekagumannya pada hasil rancangan Ameera. Yang menjadi cikal bakal kerja sama mereka.
"Khabar baik, Mas." sahut Ameera antusias. Sudah agak lama Richi tidak meneleponnya karena kesibukannya yang padat. Mereka lebih sering terhubung lewat pesan chat. Hanya memberitahu hal penting saja.
"Syukurlah Mbak. Saya cuma mau ngasih tau, beberapa bulan lagi akan digelar fashion week di ibu kota. Themanya "back to nature" ya Mbak." Richi menjelaskan panjang lebar tentang fashion week yang akan digelar. Richi meminta dibuatkan sketsa desain pakaian gaun pengantin, gaun malam serta pakaian santai.
"Baik Mas nanti akan saya kirim lewat email kalau sudah selesai." ucap Ameera menyanggupi permintaan Richi.
"Gak usah dikirim Mbak, minggu depan aku mau jumpa sama Mbak biar sekalian kita diskusikan soal fashion itu."
"Oke Mas, sampai jumpa minggu depan." setelah berbasa basi saling tukar cerita, Richi akhirnya memutus panggilan teleponnya.
Ameera tak sabar, lantas memberitahu kabar ini pada Saras juga Agnes. Mereka akan sibuk beberapa bulan ke depan menyiapkan pakaian untuk fashion week.
Saras sangat senang mendengar kabar itu dan ingin bertemu Ameera membicarakannya.
"Kamu gak bohong 'kan kita dapat job lagi?" seru Saras hampir tidak percaya, setelah datang berkunjung ke butik Ameera.
"Apa aku pernah berbohong selama ini?" Ameera balik bertanya membuat Saras ngakak.
"Gak sih, aku cuma merasa gak percaya kalau Selasih akan ikut dalam event bergengsi itu. Secara level kita masih remahan." ucap Saras berbinar.
"Kita memang patut bersyukur Ras."
"Semua berkat tangan dinginmu, Ame.
"Eh, bukan saya. Semua karena kebaikan kamu lo, Ras. Coba kalau kamu tidak peduli dan menolong aku saat itu. Aku dan anakku pasti sudah terlunta-lunta jadi gelandangan," ucap Ameera lirih, ingat nasibnya kala pergi dari rumah.
"Sudah, jangan mengungkit soal itu lagi. Eh, Celia sama siapa tadi?" Saras baru tersadar kalau Celia tidak bersama mereka. Padahal Celia tadi bersama Seno suami Saras.
Karena mereka ngobrol terlalu asyik Seno membawa Celia ke tempat bermain tak jauh dari mereka duduk.
Celia sangat senang saat dibawa ke kolam bola. Tawanya merekah sesekali mulutnya berceloteh tak jelas. Disaat asyik menemani Celia ponsel Seno berdering. Sambil mengamati Celia bermain, Seno menerima panggilan dari rekan bisnisnya.
Tanpa sadar Seno menjauh dari tempat Celia karena suara yang riuh, sehingga kurang jelas mendengar pembicaraan rekannya.
Saat itulah sebuah bola terlempar keluar, karena ulah Celia. Bola itu menggelinding diikuti langkah Celia mau menangkapnya.
Sebuah langkah menghentikan bola itu. Seseorang menahan lajunya bola itu supaya tidak menggelinding lebih jauh. Celia tersenyum menatap bola yang berhenti dan hendak mengambilnya. Tapi keburu dipegang oleh lelaki yang tak lain adalah Caleb.
Caleb berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan Celia.
"Bola kamu ya?" Celia menggangguk menatap lekat pada Caleb. Seketika jantung Caleb berdetak aneh. Seolah hatinya terhubung dengan bayi usia tiga tahun itu. Tatap mata itu seolah pernah begitu dia kenali.
Caleb menatap kesekitar siapa orang tua dari bayi di depannya. Tapi tidak ada yang mencarinya. Bagaimana mungkin bayi ini tidak ada yang mengawasi.
Bersamaan dengan itu Saras melihat Celia tengah didekati seseorang pria dewasa. Saras tidak mengenalinya karena membelakanginya. Ameera juga tidak melihat karena duduk berhadapan dengan Saras..
"Bentar, Ame. Siapa itu yang bersama Celia." Ameera bergegas, berlari ke arah Celia. Diikut Ameera yang belum faham ucapan Saras..
Caleb menyerahkan bola itu ke tangan Celia Celia menyambutnya seraya tersenyum.
"Mana orang tuamu, Nak, kenapa kamu sendirian?" ucap Caleb bermaksud mengantar Celia pada orang tuanya.
"Tunggu! Jangan bawa anak itu." seru Saras mencegah langkah Caleb. Caleb berbalik ke arah sumber suara. Terkejut saat melihat Saras dan Ameera. Caleb tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Terlebih sikap Saras yang salah faham padanya.
"Maaf aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ...."
"Papi ...."
Belum sempat Caleb menyelesaikan ucapannya, Celia berteriak dan berlari saat melihat Seno yang berjalan panik ke arah mereka.
Melihat kemunculan Ameera, benak Caleb diselimuti tanya. Apakah gadis kecil itu putrinya. Tapi kenapa dia memanggil Papi pada pria itu. Apakah Ameera sudah menikah lagi dan pria inilah dibalik suksesnya mantan istrinya itu?
Seperti ada palu godam menghantam dadanya. Sungguh dia tak menduga akan bertemu seperti ini. Terlebih saat melihat betapa manjanya Celia dalam gendongan pria itu. Sesuatu hal yang tidak pernah didapatkan putrinya darinya.
Namun, tunggu dulu apakah itu putrinya, Celia? Gadis kecil yang menggemaskan itu nampak berbeda sekali dengan sosok putrinya. Dia nampak sehat dan bahagia. Wajahnya nampak jauh berbeda mungkin karena parasnya yang semakin cantik.
"A-apakah dia Celia?" ucap Caleb terdengar konyol di telinga Ameera. Sebuah pertanyaan yang teramat bodoh. Karena seorang ayah tidak mengenali putrinya. Ameera mendengus menahan amarah.
"Kalau iya kenapa? Sangat konyol seorang ayah tidak mengenal darah dagingnya sendiri."
Wajah Caleb memerah seketika mendengar ucapan Ameera. Dia memang tidak mengenali Celia tapi darahnya tadi seolah tersirap saat menatap wajah Celia.
"Maafkan aku. Aku hanya pangling. Dia jauh berbeda sekali." sahut Caleb salah tingkah. Sikapnya serba salah dan begitu kikuk. Sehingga setiap kata yang meluncur dari mulutnya terdengar konyol.
"Tentu saja jauh berbeda secara dulu hidupnya diabaikan oleh ayahnya sendiri." Ameera tersenyum sinis.Caleb makin jatuh mental mendengar sindiran itu.
Mantan istrinya yang dulu kalau bicara lembut sekarang ucapannya setajam silet mengiris setiap lapisan hatinya. Begitu penuh percaya diri, kuat dan tangguh.
Caleb merutuk diri sendiri atas momen pertemuan yang diluar dugaannya. Harusnya tadi dia menuruti saja ucapan Roy untuk pergi bersama-sama mensurvei di setiap toko pakaian.
Namun, dia menolak agar tugas mereka cepat selesai bila mereka terpisah. Ternyata hal inilah yang ia alami. Bertemu anak dan mantan istrinya setelah hampir dua tahun terpisah.
Ironisnya dia tak siap dengan situasi itu karena kondisi mereka sekarang berbeda. Setidaknya itulah yang dirasakan Caleb. Setelah Ameera pergi meninggalkan dirinya dan ia pun menceraikan istrinya, hidup istrinya berubah.
Istrinya berhasil mengubah hidupnya menjadi lebih baik sementara hidupnya menjadi terpuruk. Rumah tangganya hancur, karirnya terancam.
Caleb hanya mampu menatap kosong ketika Ameera dan Celia berlalu dari hadapannya. Seolah menatap masa depan yang perlahan hilang di setiap langkah Ameera yang terayun.
"Bagaimana, Bos, apa sudah siap surveinya?" Roy menepuk pundak Caleb yang berdiri bagai patung. ***