NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Mama

Tubuh Rahmi terangkat dari ranjang, namun monitor masih menunjukkan garis lurus.

"Dua ratus lima puluh! Clear!"

Di saat yang sama ketika Livia diangkat ke dalam ambulans di gudang tua, di rumah sakit itu, perjuangan terakhir untuk nyawa Rahmi sedang berlangsung. Malam itu menjadi puncak dari segala dosa yang dilakukan Attar. Setiap keputusannya telah membawa orang-orang yang ia cintai ke gerbang kematian dan kegilaan.

Ambulans yang membawa Livia melaju dengan sirene yang meraung, berpapasan dengan mobil polisi yang membawa Sheila menuju sel tahanan. Attar tertinggal di belakang, berdiri di tengah gudang yang kini kosong dan dingin, menyadari bahwa hidupnya telah hancur berkeping-keping.

****

Lampu koridor Rumah Sakit Medika terasa lebih redup dari biasanya, seolah-olah seluruh gedung itu turut berkabung. Hilman berdiri mematung di ambang pintu ruang VVIP, tangannya yang renta masih memegang gagang pintu, namun pandangannya kosong. Di dalam sana, di atas ranjang yang kini terasa sangat luas, tubuh Rahmi telah ditutupi selembar kain putih hingga ke ujung kepala.

Suara langkah kaki yang berlari terburu-buru memecah kesunyian. Attar muncul dengan pakaian yang kotor, debu gudang masih menempel di rambutnya, dan luka gores di wajahnya belum sempat dibersihkan. Ia berhenti tepat di depan ayahnya.

"Pa... Mama?" suara Attar bergetar, nyaris tidak terdengar.

Hilman tidak menjawab. Ia hanya menatap putranya dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang mengandung kekecewaan, duka, dan kepasrahan. Hilman perlahan menggelengkan kepalanya.

Attar menerobos masuk. Ia jatuh berlutut di samping ranjang ibunya, merobek kain putih itu hingga menampakkan wajah Rahmi yang tampak sangat damai dalam tidurnya yang abadi. "Ma... bangun, Ma! Attar sudah pulang! Attar sudah menyelamatkan Livia! Bangun, Ma!"

Raungan Attar pecah, memenuhi setiap sudut ruangan. Ia memeluk tubuh ibunya yang mulai mendingin, menangis sejadi-jadinya seolah-olah air matanya bisa menghangatkan kembali darah yang sudah berhenti mengalir. "Jangan tinggalkan Attar dalam kondisi seperti ini, Ma... Aku mohon..."

Di ambang pintu, Hilman hanya bisa memejamkan mata. Ia tahu, dosa putranya telah dibayar dengan harga yang paling mahal: nyawa wanita yang paling mencintai Attar tanpa syarat.

****

Di rumah sakit yang berbeda, suasana jauh lebih sibuk namun dalam nada yang lain. Livia dan Ayub dilarikan ke Rumah Sakit Pusat untuk menghindari kejaran media atau gangguan lebih lanjut dari keluarga Pangestu atas permintaan pihak kepolisian.

Livia terbaring di ranjang unit perawatan trauma. Luka-luka fisiknya telah dibersihkan, dan tangannya kini terbalut perban putih yang rapi. Namun, luka batinnya jauh lebih dalam. Ia terus menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Setiap kali pintu terbuka, tubuhnya akan tersentak hebat, sisa-sisa trauma dari siksaan Sheila masih membekas kuat di sarafnya.

Di ruangan sebelah, Ayub Sangaji mendapatkan beberapa jahitan di bagian belakang kepalanya. Wajahnya yang tegap kini penuh dengan lebam keunguan, dan bahunya diperban karena dislokasi ringan. Meskipun kondisinya sendiri tidak baik, pikiran Ayub hanya tertuju pada satu nama.

Dengan menyeret tiang infus, Ayub memaksa kakinya berjalan menuju kamar Livia. Para perawat mencoba mencegahnya, namun sorot mata Ayub yang tegas membuat mereka mengalah.

Ayub perlahan membuka pintu kamar Livia. "Mbak Livia..." bisiknya lembut.

Livia tersentak, napasnya memburu. Namun, saat melihat sosok Ayub, ketegangannya perlahan mengendur. Ia tidak melihat ancaman di mata pemuda itu; ia hanya melihat perlindungan.

"Ayub..." Livia mengulurkan tangannya yang gemetar.

Ayub duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan Livia dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. "Semuanya sudah berakhir, Mbak. Sheila sudah ditangkap. Mbak aman sekarang."

Livia menangis lagi, namun kali ini bukan tangis ketakutan. "Terima kasih, Ayub. Kamu hampir mati karena aku. Maafkan aku..."

"Jangan minta maaf," potong Ayub dengan nada rendah yang menenangkan. "Dalam olahraga, seorang atlet tidak akan menyesal karena luka jika ia berhasil melindungi sesuatu yang berharga. Mbak berharga bagi hidup saya sekarang."

****

Sementara itu, di kantor polisi wilayah, kekacauan terjadi. Sheila Nandhita yang baru saja tiba untuk menjalani pemeriksaan awal, sedang duduk di ruang interogasi sementara. Rambutnya yang acak-acak dan riasannya yang luntur membuatnya tampak seperti karakter dalam film horor.

Sheila terus tertawa kecil, menggumamkan nama Attar dan Livia berulang kali. Saat petugas jaga sedang lengah karena adanya laporan darurat kecelakaan besar di depan kantor, Sheila melihat sebuah celah. Ia menggunakan sebuah kikir kuku kecil yang luput dari penggeledahan untuk menusuk lengan petugas yang membawakan air minum.

Saat petugas itu mengerang kesakitan, Sheila yang seolah memiliki tenaga dari kegilaannya, menghantamkan kursi kayu ke kepala petugas tersebut. Dengan gerakan gesit, ia lari melalui pintu belakang, menyelinap ke tengah kerumunan di jalan raya yang macet.

"Hahaha! Hahahaha!" Sheila berlari di trotoar, tidak memedulikan tatapan ngeri orang-orang. Ia mencuri sebuah jaket dari jemuran di pinggir jalan untuk menutupi pakaian blusnya yang koyak.

Matanya berkilat-kilat penuh dendam yang baru. Ia merasa pengkhianatan Attar dan keberadaan Ayub adalah penghinaan yang harus dibayar lebih mahal. Kegilaannya telah mencapai puncaknya; ia tidak lagi peduli pada hukum. Ia hanya peduli pada kehancuran total bagi siapa saja yang membuatnya menderita.

"Kalian pikir kalian menang?" desis Sheila sambil masuk ke dalam sebuah taksi curian di sudut jalan yang gelap. "Attar... Livia... Ayub... Aku akan datang kembali. Dan saat itu, tidak akan ada ambulans yang cukup untuk kalian semua!"

Suara tawanya yang histeris tertelan oleh suara mesin mobil yang melesat pergi, membawa sebuah ancaman yang kini berkeliaran bebas di tengah kota Jakarta.

****

Kembali ke rumah sakit, Livia sedang mencoba meminum air putih yang diberikan Ayub ketika ponsel di meja samping ranjang bergetar. Sebuah panggilan dari Hilman.

Livia mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo, Papa?"

"Livia..." suara Hilman terdengar sangat hancur di seberang sana. "Mama... Mama sudah tidak ada, Nak."

Gelas di tangan Livia terlepas, tumpah membasahi sprei rumah sakit. Tubuhnya mendadak kaku. Rahmi—satu-satunya sosok yang paling menyayanginya dengan tulus di keluarga Pangestu—telah pergi di saat Livia sedang berjuang untuk hidupnya sendiri.

"Tidak... Mama..." Livia menjerit tertahan, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ayub segera memeluk Livia, menahan wanita itu agar tidak jatuh dari ranjang. Di kejauhan, melalui jendela rumah sakit, petir menyambar langit Jakarta, menandakan badai besar akan segera turun, seolah alam turut menangisi tragedi yang melanda keluarga mereka.

****

Pagi itu, Rumah Sakit Pusat diselimuti kabut tipis dan aroma sisa hujan semalam. Di dalam bangsal perawatan, Ayub Sangaji berbaring dengan mata terpejam, mencoba menetralkan denyut di belakang kepalanya yang baru saja mendapat sepuluh jahitan. Suasana koridor masih sepi, hanya terdengar suara langkah kaki yang terseret pelan mendekat ke kamarnya.

Pintu terbuka. Seorang wanita mengenakan seragam suster lengkap dengan masker medis dan penutup kepala masuk membawa nampan berisi suntikan. Gerakannya kaku, tidak seperti perawat profesional yang biasanya menangani Ayub.

"Waktunya pemberian antibiotik, Mas Ayub," suara wanita itu terdengar parau dan sedikit tertahan di balik masker.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!