Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 pikiran dalam seorang pria
Pagi itu , kedua pria muda yang baru berusia tujuh belas dan dua belas tahun , menggotong kayu jati yang baru berusia beberapa tahun .
Karena jarak antara hutan jati dan bukit cukup jauh , pekerjaan itu membutuhkan waktu setengah hari dan jam satu siang baru selesai dengan rasa lelah yang cukup untuk keduanya .
" kang.... sudah selesai.. !" Seru Imran dengan nafas terburu buru .
" umhh .!"
Yasir tersenyum tipis, ia menatap ke arah tumpukan kayu yang sudah tertata rapi , " Imran , istirahat dulu dan makan siang, setelah itu membersihkan kulit kayu jati sampai selesai , tapi kalau hari ini tidak selesai , besok bisa dilanjutkan " kata Yasir mengatur pekerjaan remaja kurus selanjutnya.
" iya kang ..!"
Dari kejauhan, gadis muda berpakaian kemeja putih polos lengan panjang berjalan dengan wajah murung , Yasir yang sekilas melihatnya merasa penasaran dan datang menghampirinya.
" assalamualaikum mas !"
" waalaikum salam, kenapa dengan wajah cantik istriku ini, kok begitu mendung...?" Goda Yasir sedikit bercanda .
" nanti akan tari ceritakan , mas apa sudah makan?"
" kebetulan pekerjaan baru selesai , ayo semuanya makan siang "
Tanpa basa basi lagi , satu keluarga ditambah remaja kurus Imran sudah mulai menikmati makan siang yang cukup enak dan bergizi.
Halimah merasa bingung dengan tingkah kakaknya yang tidak biasa , matanya yang cantik memandang terus ke arah kakaknya .
Selang beberapa menit , makan siang yang nikmat sudah selesai dan masing masing membersihkan piring tempat makannya , kecuali Yasir yang masih duduk dengan kopi gula aren di tangannya .
" mas , aku harap mas jangan bertindak keras , tari akan ceritakan tentang tadi pagi di kantor pak mantri " Lestari sedikit memejamkan mata untuk mengingat kembali kejadian sebelumnya yang membuat dirinya tidak bisa terima.
Yasir dengan serius mendengarkan setiap detail cerita yang diucapkan oleh istri tertuanya itu ,dalam hatinya ada rasa marah dan dendam , namun wajahnya masih terlihat tenang dan senyum masih terpasang di bibirnya.
" itu jadinya mas , aku tidak enak , tapi mau gimana lagi , umi sedang tidak enak badan dan katanya harus mendapatkan perawatan intensif di kediamannya "
Yasir mengangguk , " baiklah tari , habis ini kita bawa umi ke sana , aku ingin melihat bagaimana pelayanan pak mantri itu , " kata Yasir tersenyum tenang .
" bagus kalau begitu mas , tapi bagaimana dengan dagang keong sawah?"
" jangan khawatir , kita semua akan membawa sekaligus keongnya saat mengantarkan umi ke rumah pak mantri , dan berjualan seperti biasa " kata Yasir memberikan gelas kosong kepada gadis muda di sampingnya.
" iya mas !"
Tepat waktu jam dua , persiapan dagang telah selesai dan bersiap berangkat menuju lapangan desa , satu keluarga itu berjalan menuruni bukit yang sudah begitu keras dan jalan tidak sebuntu seperti sebelumnya, karena sejak pagi sampai siang, jalan menuju atas bukit terus menerus di lewati oleh Yasir dan Imran.
Sampai di lapangan desa , Yasir membuka lapaknya, dan seperti biasa beberapa penduduk dan warga yang ada di sekitar lapangan sudah menunggu dengan mangkuk kayu di tangan dan panci kecil.
Wanita paruh baya yang sedang berteduh itu tampak senang dan merasa penyakitnya sembuh total ,ingin membantu namun dihentikan oleh Yasir yang sedang melayani pembeli.
" umi tetap di sini, jangan ikutan berjualan , nanti pusingnya semakin berat " kata Yasir menatap sekilas ke arah pos kecil di dekatnya .
Wanita paruh baya itu hanya terdiam dan mengerti , terus menerus menatap ke arah tempat anak dan menantunya berjualan .
" kamu orang berjualan lagi ,kebetulan aku bawa anakku , dia suka keong sawah !" Suara berat seorang pria paruh baya terdengar begitu kaku , namun ada nada ramah di dalamnya, tidak lagi angkuh dan sombong.
" ohh tuan Walter , apa kabar !" Sapa Yasir tersenyum, matanya melihat bahwa pria paruh baya berkulit putih itu membawa seorang gadis muda dengan paras yang cantik, standar Eropa yang cukup sopan dan elegan , ia menebak bahwa itu adalah putri dari pria paruh baya kulit putih itu.
" baik , saya gembira hari ini .. saya minta satu mangkuk seperti kemarin dan tambah lagi untuk putri saya " katanya tersenyum tipis.
" ya tidak ada masalah..." Dengan cekatan Yasir mengambil mangkuk kayu yang cukup besar dan memasukan tiga kali sendokan besar keong sawah ke dalam mangkuk ,lalu mangkuk kecil dengan dua sendokan keong sawah .
" lima gulden, "
" oke !"
Tanpa basa basi atau menolak membayar makanan yang dibeli , pria paruh baya berkulit putih langsung memberikan lima lembar uang kertas hijau tua .
Tanpa di duga oleh Yasir dan lainnya , pria paruh baya berkulit putih itu langsung makan di tepi lapangan bersama putrinya dan itu cukup menghibur bagi Yasir yang di kehidupan sebelumnya sangat membenci tentang namanya penjajahan.
Tapi melihat betapa baik dan sopannya keluarga Belanda dalam bertingkah, membuat Yasir menilai ulang pikirannya yang kolot.
" tidak semua orang Belanda itu kejam dan tak berperasaan, hanya segelintir pihak saja , dan juga sulit untuk menemukan orang seperti dia " gumamnya dengan mata menilai .
Hanya dalam waktu setengah jam, seluruh dagangannya habis, dan mulai menggali air sayur yang masih banyak tersisa, ia berfikir untuk memberikannya kepada orang Belanda yang sedang santai itu , tapi ia menggelengkan kepala, berfikir bahwa tidak baik memberikan barang sisa .
" tuan Walter , saya permisi dulu , dagangan saya sudah habis " kata Yasir menyapa pria paruh baya berkulit putih itu sebelum pergi meninggalkan tepi lapangan desa .
Walter yang melihat hal itu segera berdiri , matanya yang tajam tampak tenang.
" ya , hati hati, ngomong ngomong kamu Yasir tinggal di mana ?"
" kami ada di atas bukit, sebelah utara desa Plarangan ini "
" oke , kalau ada waktu , saya akan datang.." katanya tersenyum seraya menepuk bahu Yasir dengan pelan .
" terimakasih tuan Walter, saya akan menyambutnya " ujar Yasir balas tersenyum ramah .
Orang Belanda itu menatap kepergian empat orang yang sudah menjauh itu , matanya sedikit menyipit , lalu tenang kembali .
Wanita cantik muda di sampingnya yang sudah selesai memakan sayur keong sawah terlihat bingung melihat ayahnya begitu menghargai pemuda yang menjadi penjual sayur keong sawah itu.
" .ayah ,aku lihat kamu sangat suka dengan pemuda itu ?" Tanya sang wanita muda dengan wajah cantik keheranan.
" ya ,dia sangat bertanggung jawab dan juga tidak gugup saat berbicara dengan ayah, biasanya kalau orang pribumi berbicara dengan ayah , mereka tidak akan menatap mata atau wajah ayah , tapi ayah lihat dia tampak kuat dan gagah " ujarnya tersenyum " apakah enak rasanya?"
" umhh iya ayah , lebih enak daripada masakan koki di kota , " kata putrinya tersenyum manja .
" Helena , kamu harus ingat , bahwa kita tidak boleh meremehkan orang bawah atau pribumi, ayah rasa mereka akan menjadi orang mandiri dan kuat , bangga dengan warisannya , "
" kenapa begitu ayah, kita semua kan sudah lama tinggal di sini ?".
" situasi di dunia luar sudah berubah nak , mungkin kita semua akan pergi meninggalkan tanah jawa dan kembali ke Eropa " ucap Walter dengan mata sedikit terpejam .
Ingatannya tentang surat perintah untuk pergi ke kota Tarakan ,Kalimantan Timur, satu tahun lagi, menjadi begitu cemas.
" semoga saja tidak terjadi apa apa " gumamnya menatap ke arah gunung yang cukup tinggi.