Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 23
"Ada apa? Kamu keliatan serius banget?" Reyhan bingung melihat raut wajah istrinya itu
Reya tak suka dengan sikap kasar dan marah-marah, ia adalah sosok wanita dingin dan berkelas
Ia marah, kecewa, tapi untuk mengamuk layaknya wanita yang telah dikhianati itu bukan karakter nya
Kini keduanya telah duduk diruang tengah kediaman mereka, keduanya saling berhadapan dengan dibatasi oleh sebuah meja kaca
"Ada apa?"
"Bisa kamu jelaskan tentang ini?" Reya menyerahkan sebuah map kepada suaminya, Reyhan mengambil lalu membuka isinya
Matanya terbelalak, disana terdapat foto serta bukti check-in beberapa hotel berbeda. Wajah dirinya dan Rani juga terlihat jelas disana
Reyhan bertanya dalam hati, bagaimana bisa Reya memiliki bukti ini? Selama ini Reya tak terlihat curiga padanya
"Dari mana kamu dapat semua ini?" Tanya Reyhan
"Katakan apa semua itu benar?" Reya balik bertanya, sungguh jika Reyhan menjawab iya maka entah akan seterluka apa dirinya
Reyhan menunduk, ia tak tahu harus menjawab apa, ia ingin memperbaiki semuanya. Ia ingin mengakhiri hubungan antara dirinya dan Rani
"Reya ini.."
"Katakan apa semua ini benar atau tidak Reyhan?" Suara Reya terdengar tegas
Reyhan kembali menunduk, dengan suara lirih ia menjawab "Iya!"
Reya terlihat menahan tangisnya, hatinya terluka. Pernikahan yang ia bina dengan mengorbankan kasih sayang kedua orang tuanya nyatanya harus berakhir dengan pengkhianatan suaminya
"Kenapa? Dan kenapa harus Rani?" Reya masih mempertahankan wajah datarnya, berusaha menyembunyikan luka yang tengah ia rasakan
"Rani, dia..!" Reya menunggu "Dia mantan pacar aku saat SMA!"
Reya tak percaya, jadi selama ini Reyhan berbohong saat mengatakan jika dirinya tidak mengenal Rani
"Waktu itu kamu bilang gak kenal sama dia?"
"Aku bohong, aku gak mau bikin kamu marah!" Jawab Reyhan, sekarang tak ada lagi yang bisa disembunyikan, Reya sudah tau semuanya
"Lalu malam saat Arlo sakit, kamu sedang bersama Rani?" Tanya Reya dan Reyhan menjawabnya dengan anggukan kepala
"Kamu juga sengaja mematikan hp?" Reyhan mengangguk lagi, seolah dirinya kehilangan suara untuk menjawab pertanyaan sang istri
"Aku hampir mati dan kamu malah bersenang-senang dengan perempuan lain, Reyhan! Bagaimana kalau malam itu gak ada Revan? Apa yang akan terjadi pada Arlo? Apa kamu sadar itu?"
Reya meluapkan segala kekecewaan yang ia rasakan, wanita cantik itu bangkit dari duduknya lalu
Plak
Untuk pertama kalinya Reyhan merasakan telapak tangan halus itu menamparnya. Rasanya perih, namun hatinya jauh lebih terasa sakit saat bayangan akan kehilangan Reya dan Arlo melintas di kepalanya
Reya menaiki tangga, langkahnya cepat menuju kamar. Begitu tiba, Reya menutup pintu dan bersandar disana
Wanita cantik itu menangis sejadinya, kekuatan sebagai independen women yang ia perlihatkan dihadapan orang lain hilang begitu saja
"Kenapa? Kenapa kamu tega Rey? Apa salah aku?" Reya menyandarkan kepalanya pada pintu yang tertutup, rasanya begitu menyakitkan saat mengetahui pria yang begitu ia cintai ternyata telah mengkhianatinya
"Maafkan aku Reya!" Reyhan yang berada dibalik pintu dapat mendengar tangisan pilu istrinya didalam sana
Reya menutup pintunya hingga Reyhan hanya bisa duduk didepan pintu tanpa bisa masuk
Ia sandarkan punggungnya pada daun pintu seolah ikut merasakan tangisan luka hati dari wanita yang berada dibalik nya
***
Reya semalaman tak dapat tidur, pagi-pagi sekali ia keluar kamar. Wanita cantik itu terkejut begitu ia membuka pintu dan Reyhan jatuh terlentang dihadapannya
"Reyhan!"
Reyhan tak tahu kapan ia tertidur, semalaman ia berada di luar kamar untuk memastikan jika istrinya baik-baik saja didalam sana
Pria tampan itu bangkit, keningnya mengkerut saat Reya keluar dengan membawa dua buah koper
"Kamu mau kemana?" Tanya Reyhan sembari menatap wajah cantik istrinya dan koper itu secara bergantian
"Aku sama Arlo akan pergi, setelah ini aku akan urus perceraian kita!"
Reyhan membeku, Reya benar-benar akan meninggalkan nya, pada akhirnya dirinya akan kehilangan istri serta putranya
"Apa gak akan ada kesempatan kedua untuk aku Reya? Aku akan memperbaiki semuanya, aku janji!"
Reyhan menggenggam tangan sang istri namun Reya dengan cepat menepisnya
"Aku sanggup melakukan apapun untuk bersama kamu Reyhan. Bahkan aku kehilangan status sebagai seorang putri hanya agar aku bisa menikah dengan kamu!"
Untuk pertama kalinya Reya menangis didepan suaminya itu, bahkan ini pertama kalinya Reya menangis dihadapan orang lain
"Tolong maafkan aku Reya, aku khilaf!"
"Aku tidak sebaik itu Rey, aku tetap akan mengurus perceraian kita dan aku akan membawa Arlo!"
Reya hendak melangkah dan menarik kopernya, namun Reyhan menarik koper itu dengan kasar hingga jatuh diatas lantai
"Ada apa dengan kamu Reyhan?" Reya menatap tajam
"Kamu sama Arlo gak akan kemana-mana!" Ujar Reyhan
"Aku udah gak mau hidup sama kamu lagi Rey!" Reya berteriak, sungguh dirinya muak dengan apa yang Reyhan lakukan padanya
"Aku yang akan pergi! Rumah ini milik kamu dan Arlo! Jadi biar aku yang pergi!"
Reyhan menggenggam tangan istrinya, ia tahu jika wanita itu tengah terluka. Reya adalah wanita yang kuat dan hari ini wanita itu terlihat begitu hancur
"Aku yang akan pergi! Aku akan terima apapun yang akan kamu lakukan pada aku, perpisahan atau apapun, tapi kamu harus tetap dirumah ini!"
Reyhan masuk, mengemasi barang-barang miliknya kedalam koper lalu keluar dengan membawa sebuah koper berukuran sedang
"Jaga diri kamu dan Arlo baik-baik! Aku akan berusaha agar tetap menjadi ayah yang baik untuk Arlo!" Reyhan menatap sang istri yang enggan menatapnya
Langkah Reyhan pelan hingga dirinya masuk kedalam kamar putranya, hari masih sangat pagi hingga bocah tampan itu masih terlelap
Reyhan duduk disisi tempat tidur, ia usap puncak kepala putranya itu dengan lembut lalu satu kecupan ia berikan di kening Arlo
"Maafkan papa, Arlo. Tolong setelah ini jangan benci Papa! Papa sayang sama Arlo!"
Reyhan menangis, dengan cepat ia mengusap wajahnya agar air mata itu tak membangunkan putranya yang akan membuatnya kesulitan untuk pergi
Reyhan menatap kearah kamarnya, pintu telah ditutup dan Reya tak berada disana. Reya mungkin tak ingin lagi melihatnya
Langkah Reyhan berat, ia kembali berbalik, menatap bangunan penuh cinta itu dengan linangan air mata
Rumah ini dibangun dengan penuh cinta olehnya dan Reya, bagaiman ia memberikan rumah ini sebagai hadiah ulang tahun untuk istrinya itu
Bayangan awal pernikahan dimana keduanya hanya tinggal mengontrak di sebuah rumah kecil, hingga Arlo lahir, dan Reya masih setia mendampinginya
Setelah semuanya, dirinya malah dengan sadar mengkhianati wanita yang telah begitu setia mendampinginya, wanita yang tidak pernah melihat dirinya rendah, wanita yang menerima dirinya apa adanya