Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Yudha langsung membawa Arya ke rumah sakit begitu mendengar anak itu mengaduh kesakitan. Meski Arya bukan darah dagingnya, Yudha sudah menganggapnya seperti anak kandung. Ada cinta tanpa syarat yang tumbuh sejak pertama kali ia melihat tubuh mungil itu menangis di pelukan Mira.
Saat itu, ia tak peduli bagaimana Mira mendapatkan Arya. Hatinya sudah terketuk, dan keputusan untuk menjadi ayah bagi Arya seolah terjadi begitu saja. Apalagi setelah Mira meninggal asal usul Arya seolah terkubur bersamanya.
Di ruang periksa, Yudha berdiri gelisah. Pikirannya berkelana liar, terutama pada kemungkinan terburuk, keracunan makanan. Ia mengepalkan tangan, membayangkan Sonya begitu tega menyakiti anak kecil demi tujuannya tercapai. Kalau ini ulahnya, ia tak akan tinggal diam.
"Pak Yudha, tenang saja. Anak bapak tidak apa-apa, hanya kelebihan makan saja," terang dokter anak yang menangani Arya. Suaranya lembut, berusaha meredakan ketegangan.
"Bukan keracunan makanan, Dok?" Yudha memastikan, nada suaranya tajam. Jika benar ada indikasi keracunan, ia bersumpah akan membuat Sonya menyesal seumur hidup.
Dokter itu menggeleng sambil tersenyum menenangkan. "Tidak, Pak Yudha. Tidak ada tanda-tanda keracunan. Ini hanya gangguan pencernaan biasa. Anak Bapak makan terlalu banyak makanan yang sulit dicerna. Setelah diberikan obat, dia akan segera membaik."
Yudha menghela napas panjang, sedikit lega meski kemarahan di dadanya belum benar-benar padam. Sonya harus tahu batas, pikirnya. Kesehatan Arya adalah garis merah yang tak boleh dilanggar.
Matanya kembali ke tubuh kecil di ranjang rumah sakit. Wajah Arya tampak pucat, tapi napasnya sudah lebih tenang. Yudha duduk di sisi ranjang, tangannya terulur untuk membelai kepala Arya yang kini tertidur. Ada rasa bersalah menggelayut di hatinya. Seharusnya ia lebih waspada, lebih melindungi Arya.
"Maafkan Ayah, Nak," bisiknya, suaranya serak. "Ayah nggak akan biarkan ini terjadi lagi."
Dokter berlalu setelah Yudha mengucapkan terima kasih, meninggalkan lelaki itu dalam hening. Di dalam hatinya, Yudha berjanji akan selalu memastikan Arya tumbuh dengan aman, tanpa kekhawatiran. Dia bukan hanya anak angkat tapi Arya adalah segalanya.
"Kakak, bagaimana keadaan Arya?" suara lembut Serly memecah lamunannya. Wanita itu baru saja masuk, terlihat lelah setelah mengurus administrasi.
"Kata dokter, dia hanya kelebihan makan," jawab Yudha singkat, suaranya datar.
Serly menghela napas lega, tetapi matanya tak lepas dari tubuh kecil Arya yang masih terlelap. "Kalau begini, Kakak pecat saja wanita itu. Meskipun Arya suka masakannya, kalau sampai membahayakan kesehatannya, untuk apa dipertahankan?"
Yudha tak langsung merespons, hanya mengangguk kecil tanpa ekspresi. Pikirannya berputar. Sonya memang harus dihadapi, tetapi tidak sekarang. Jika aku memecatnya, bagaimana caranya aku membalas dendam? Ada kemarahan yang membara, tetapi juga keraguan yang menghantui. Di antara dendam dan kesehatan Arya, ia merasa terperangkap dalam dilema yang membuat dadanya sesak.
Setelah beberapa detik hening, Yudha berdiri. "Jaga Arya sebentar. Aku mau merokok."
Serly mengerutkan kening, ekspresinya berubah khawatir. "Kakak kan sudah janji nggak akan merokok lagi. Ada apa? Kakak banyak masalah?"
Serly tahu betul, Yudha hanya kembali ke kebiasaan buruknya itu ketika pikirannya kacau dan frustrasi.
Yudha tak ingin membahas lebih jauh. Dengan dingin, ia menarik sudut bibirnya dalam senyum kecil yang tak sampai ke matanya. Tanpa sepatah kata lagi, ia melangkah keluar, meninggalkan ruang rawat dengan langkah berat.