NovelToon NovelToon
REINKARNASI DARI MASALALU

REINKARNASI DARI MASALALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Reinkarnasi / Kutukan
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taring dan Batu

Pertempuran sengit berkecamuk di dalam ceruk gua. Puri dengan gesit menghindari serangan pisau makhluk itu, batu-batu yang ia lemparkan hanya membuatnya semakin marah. Rio, Ayu, dan Dina terus melemparkan batu dan berteriak, mencoba mengalihkan perhatian makhluk itu dari Puri dan Rendra. Fahri berusaha menyeret Rendra lebih jauh ke belakang, menjauhkannya dari jangkauan makhluk itu.

Makhluk itu bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan, gerakannya tidak alami dan mengerikan. Pakaiannya yang compang-camping tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang kurus kering, tulang-tulangnya hampir terlihat menembus kulitnya yang pucat. Matanya merah menyala, memancarkan kebencian dan kelaparan yang tak terpadamkan.

"Kita harus melakukan sesuatu!" teriak Rio, menghindari cakar makhluk itu yang mengarah padanya. "Batu tidak akan bisa mengalahkannya!"

Puri menyadari bahwa mereka harus mengubah strategi. Batu hanya membuat makhluk itu semakin marah, tetapi tidak melukainya secara serius. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang bisa menembus kulitnya yang keras.

Puri melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Matanya tertuju pada sebuah stalaktit tajam yang menggantung dari langit-langit gua. Stalaktit itu tampak cukup kuat untuk menembus tubuh makhluk itu.

"Rio, bantu aku!" teriak Puri, menunjuk ke arah stalaktit. "Kita harus mematahkan stalaktit itu!"

Rio mengerti maksud Puri. Ia berlari ke arah Puri dan membantunya untuk memanjat tumpukan batu yang ada di dekat stalaktit. Dengan sekuat tenaga, mereka berdua mendorong dan menarik stalaktit itu.

Stalaktit itu bergemuruh dan bergetar, tetapi tidak patah. Makhluk itu melihat apa yang sedang mereka lakukan dan meraung marah. Ia berlari ke arah mereka, siap untuk menyerang.

"Cepat, Rio! Kita tidak punya waktu lagi!" teriak Puri, terus berusaha untuk mematahkan stalaktit itu.

Tiba-tiba, Ayu berteriak. Makhluk itu telah menerobos pertahanan mereka dan menyerangnya dengan pisau. Pisau itu mengarah tepat ke jantung Ayu.

Tanpa berpikir panjang, Dina mendorong Ayu ke samping dan menerima serangan pisau itu. Pisau itu menembus bahu Dina, membuatnya menjerit kesakitan. Dina jatuh ke tanah, memegangi bahunya yang berdarah.

"Dina!" teriak Ayu dengan panik, menghampiri Dina dan berusaha untuk membantunya.

Makhluk itu tertawa mengerikan, menatap Dina dengan tatapan lapar. Ia bersiap untuk menyerang Dina lagi, tetapi tiba-tiba Rio melompat ke arahnya dan menendangnya dengan keras.

Makhluk itu terhuyung mundur, memberi Puri dan Rio kesempatan untuk mematahkan stalaktit itu. Dengan sekali hentakan terakhir, stalaktit itu akhirnya patah dan jatuh ke tanah dengan bunyi yang memekakkan telinga.

Puri mengambil stalaktit itu dan berlari ke arah makhluk itu. Ia menusukkan stalaktit itu ke dada makhluk itu dengan sekuat tenaga.

Makhluk itu menjerit kesakitan. Stalaktit itu menembus jantungnya, mengakhiri hidupnya seketika. Makhluk itu jatuh ke tanah, tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya terdiam.

Puri terengah-engah, menatap tubuh makhluk itu dengan tatapan tidak percaya. Mereka berhasil. Mereka telah mengalahkan makhluk itu.

Namun, kemenangan itu terasa pahit. Dina terluka parah, dan mereka masih terjebak di dalam gua yang menakutkan ini.

"Dina, kamu tidak apa-apa?" tanya Ayu dengan cemas, memeriksa luka Dina.

"Aku baik-baik saja," jawab Dina dengan nada lemah. "Tapi lukanya terasa sakit sekali."

"Kita harus segera keluar dari sini," kata Rio dengan nada serius. "Kita harus membawa Dina ke tempat yang aman."

Puri mengangguk setuju. Ia membantu Fahri untuk mengangkat Rendra, sementara Rio membantu Dina untuk berdiri. Dengan hati-hati, mereka mulai berjalan keluar dari gua, meninggalkan tubuh makhluk itu tergeletak di belakang.

Saat mereka berjalan keluar dari gua, mereka melihat Pak Tua berdiri di depan pintu masuk. Ia tampak lega melihat mereka masih hidup.

"Kalian berhasil?" tanya Pak Tua dengan nada cemas.

"Kami berhasil mengalahkan makhluk itu," jawab Puri dengan nada lelah, "Tapi Dina terluka parah. Kami harus membawanya ke tempat yang aman."

Pak Tua mengangguk. "Aku akan membantu kalian," katanya. "Ikutlah denganku."

Pak Tua membawa mereka ke perahunya dan membantu mereka untuk naik. Ia kemudian melajukan perahunya menjauhi Pulau Tengkorak, menuju ke arah daratan.

Saat mereka meninggalkan pulau itu, Puri menoleh ke belakang dan menatap Pulau Tengkorak untuk terakhir kalinya. Pulau itu tampak gelap dan misterius, menyimpan rahasia-rahasia yang belum terpecahkan. Puri tahu, ia tidak akan pernah melupakan pengalaman mengerikan yang dialaminya di pulau itu.

Namun, ia juga merasa lega dan bersyukur. Mereka berhasil menyelamatkan Rendra, dan mereka semua masih hidup. Mereka telah menunjukkan keberanian dan persahabatan yang sejati di tengah-tengah bahaya yang mengancam.

Saat perahu semakin menjauh dari pulau, Puri melihat matahari terbit di ufuk timur. Cahaya matahari menyinari wajah mereka, memberikan mereka harapan dan kekuatan baru. Mereka tahu, perjalanan mereka belum berakhir. Mereka masih harus mengungkap kebenaran tentang Pulau Tengkorak dan kutukan keluarga Handoko.

Namun, untuk saat ini, mereka hanya ingin membawa Dina ke tempat yang aman dan merawat lukanya. Mereka hanya ingin beristirahat dan memulihkan diri dari pertempuran yang mengerikan itu.

Mereka berjanji pada diri sendiri, mereka akan kembali ke Pulau Tengkorak suatu hari nanti. Mereka akan mengungkap semua rahasia pulau itu dan mengakhiri kutukan keluarga Handoko.

Tapi untuk saat ini, mereka hanya ingin selamat. Mereka hanya ingin hidup.

Saat perahu mendekati daratan, Puri merasakan sebuah perasaan aneh. Ia merasa seolah-olah sesuatu yang jahat masih mengawasi mereka, menunggu kesempatan untuk menyerang. Ia merasa seolah-olah kutukan Pulau Tengkorak belum berakhir.

Puri menatap laut yang gelap dan luas. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi ia tahu, ia siap menghadapi apapun. Ia memiliki teman-teman yang setia di sisinya, dan ia memiliki keberanian untuk melawan kegelapan.

Puri menarik napas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Ia merasa lelah, tetapi juga merasa kuat. Ia tahu, mereka akan berhasil. Mereka akan mengalahkan kegelapan dan membawa kedamaian ke dunia.

Perjalanan mereka masih panjang, tetapi mereka tidak akan menyerah. Mereka akan terus berjuang, sampai akhir.

Dan dengan tekad yang kuat, Puri dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka, menuju ke arah cahaya matahari dan harapan baru.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!