NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Bayang - Bayang Lagi

Pagi datang dengan pelan.

Arman duduk di meja makan, televisi menyala hanya sebagai latar suara. Presenter membacakan berita ekonomi, grafik naik turun, nama perusahaan, angka-angka yang biasanya hanya lewat begitu saja di kepalanya.

Lalu sebuah gambar muncul.

Wajah seorang CEO muda di layar.

Arman tidak langsung mengenali.

Ia hanya berhenti mengaduk kopi.

Presenter menyebut nama itu dengan jelas.

Dara Valencia.

Arman mendongak.

Kamera menyorot Dara keluar dari gedung, dikerubungi wartawan. Jasnya rapi, langkahnya mantap, tatapannya dingin tapi terkontrol. Bukan seseorang yang minta dipahami—melainkan seseorang yang sudah selesai meminta izin pada dunia.

Kopi di tangan Arman tidak bergerak.

Bukan karena ia yakin.

Justru karena ia ragu.

Mirip sekali… tapi bukan.

Jantungnya berdetak pelan, berat. Ada rasa familiar yang menyelinap tanpa izin—cara Dara menatap lurus, garis rahang ketika menahan emosi, bahkan cara ia tidak menunduk saat diteriaki wartawan.

Namun yang di layar itu…

bukan perempuan yang pernah tinggal di rumahnya.

Bukan perempuan yang dulu terlalu sering minta maaf.

Bukan yang tertawa kecil setiap kali salah memotong bawang.

Yang ini… berdiri seperti seseorang yang berhak memimpin badai.

Arman mengembuskan napas.

“Itu bukan dia,” gumamnya pelan, seolah harus mengatakannya keras-keras agar pikirannya percaya.

Yang dulu ia kenal lembut.

Yang ini tajam.

Yang dulu selalu menunggu.

Yang ini… diperebutkan kamera.

Yang dulu sering memeluk luka diam-diam.

Yang ini menyebut luka dengan nama dan menatap balik.

360 derajat berbeda.

Namun ingatan tidak mau tunduk.

Ada bayangan seseorang duduk di ujung ranjang, tertawa kecil karena hal sepele, menghidangkan teh terlalu manis, mengucapkan kata “maaf” bahkan saat tidak perlu.

Wajah di televisi itu berbeda.

Tapi tatapan mata, caranya menarik napas sebelum bicara, membuat dada Arman terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

Berita berganti.

Nama lain muncul.

Namun Arman masih menatap layar yang kini kosong.

Ia mengusap wajahnya pelan.

“Tidak mungkin…” katanya pelan.

Namun sesuatu di benaknya tidak ikut setuju.

Bukan keyakinan.

Lebih seperti firasat lama yang mengetuk pelan dari balik pintu.

Bahwa dunia ternyata tidak selebar meja makan yang sama setiap pagi.

Dan bahwa masa lalu… kadang kembali, bukan untuk meminta balikan, melainkan untuk berdiri jauh lebih tinggi daripada yang pernah ia bayangkan.

Malam turun pelan.

Gedung kantor mulai sepi, tapi lantai direksi masih menyisakan lampu-lampu menyala. Dara berdiri di depan jendela besar, kota terbentang seperti rangkaian cahaya yang berdenyut pelan.

Ponselnya bergetar.

Satu notifikasi.

Lalu dua.

Lalu belasan.

Headline berita digital bermunculan hampir bersamaan.

CEO muda diduga terlibat manipulasi persetujuan anggaran

Sumber internal: keputusan besar tanpa prosedur

Jejak digital mengarah ke akun CEO baru

Dara menutup mata sejenak.

“Mulai,” gumamnya.

Bram bergerak cepat. Lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Pintu diketuk sekali.

Danu masuk tanpa banyak bicara, meletakkan laptop di meja. “Aku sudah tebak langkah berikutnya.”

“Media,” sahut Dara.

“Dan opini publik,” tambah Danu. “Bukan angka. Bukan hukum. Dia menyerang tempat paling rapuh…”

“…kepercayaan,” lanjut Dara.

Mereka saling berpandangan sebentar.

Tidak panik.

Tidak teriak.

Tapi tegang.

Danu memutar laptopnya. “Aku telusuri log yang ditunjukkan Bram tadi. Ada yang janggal.”

“Jelaskan!”

“Jejaknya rapi,” kata Danu. “Terlalu rapi. Semua persetujuan digital seolah-olah kamu yang tekan tombol terakhir. Tapi pola waktunya aneh.”

Dara mengerutkan dahi. “Aneh bagaimana?”

Danu mengetik cepat. Baris-baris waktu muncul di layar. “Persetujuanmu muncul di jam yang sama hampir tiap hari. 02.17. 02.19. 02.21.”

Dara terdiam.

"Ia tidak pernah terbangun jam-jam itu. Bahkan pada masa paling sibuk."

“Artinya?” tanyanya pelan.

“Bukan kamu,” jawab Danu mantap. “Tapi sesi loginmu yang dibuka secara paralel.”

Dara menatap layar, lalu menatap Danu. “Superadmin?”

Danu mengangguk. “Seseorang mem-clone token otentikasimu sebelum sistem keamanan baru dipasang. Jadi semua terlihat legal. Semua pakai namamu. Seolah kamu yang teken.”

Hening meregang.

“Dan orang yang bisa melakukan itu,” lanjut Danu pelan, “hanya seseorang yang dulu sangat dekat dengan pimpinan lama… dan terbiasa menyentuh pusat sistem.”

Nama itu turun begitu saja di kepala mereka berdua.

Bram.

Dara menarik napas panjang. “Bisa dibuktikan?”

Danu mengangguk pelan. “Ya. Tapi tidak dari sini.”

“Dari mana?”

Danu menatapnya serius. “Dari server lama… di lantai teknis yang katanya sudah dipensiunkan. Yang orang pikir tidak aktif.” Bibirnya melengkung tipis. “Aku yakin dia lupa mematikan satu hal: ego.”

Dara berdiri. “Baik,” katanya tenang. “Kita buktikan. Bukan lewat debat. Bukan lewat asumsi.”

Mereka turun ke ruang server bersama tim IT inti yang paling dipercaya. Pendingin ruangan berdesis lembut, rak-rak hitam menjulang dengan lampu-lampu kecil yang berkedip ritmis.

Teknisi membuka panel.

Danu mengetik. Beberapa menit tidak ada yang bicara.

Lalu — klik.

Satu direktori lama terbuka. Tidak terhapus. Tidak disamarkan.

Log aktivitas superadmin.

Dara menahan napas.

Di sana tertulis jelas:

akses duplikasi token CEO

oleh akun: BRM_root

Tidak bisa diputarbalikkan.

Tidak bisa dikaburkan.

Tidak bisa dinetralkan oleh retorika.

Danu menoleh padanya. “Ini… checkmate.”

Dara tidak bersorak. Tidak menangis.

Ia hanya merasa sesuatu di dadanya akhirnya tenang.

.

Keesokan paginya, rapat luar biasa diadakan. Tidak dengan nada gaduh seperti sebelumnya.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya formalitas hukum.

Dara berdiri dengan map tipis di tangan.

“Ini hasil forensik digital independen,” ucapnya tenang. “Akses tiruan akun saya dibuat enam bulan lalu. Dilakukan oleh superadmin lama. Digunakan untuk persetujuan manipulasi.”

Bram tidak mengelak kali ini.

Ia tersenyum.

“Akhirnya kamu temukan,” katanya lembut. “Lebih cepat dari perkiraanku.”

Rama menatapnya dingin. “Ada yang ingin Anda sampaikan sebelum keputusan direksi dibacakan?”

Bram memandang Dara lama sekali.

“Kamu melakukannya dengan baik,” katanya.

Bukan sinis.

Bukan mengejek.

Seperti pengakuan seseorang yang akhirnya menerima kenyataan.

“Selama ini,” lanjutnya, “aku pikir kamu hanya ingin menang. Ternyata kamu ingin bersih. Dan orang bersih… selalu terlihat paling berbahaya bagi mereka yang hidup dari abu-abu.”

Keputusan dibacakan.

Pencopotan jabatan. Proses hukum perusahaan. Pembekuan akses.

Tidak ada drama.

Tidak ada teriakan.

Hanya suara kertas digeser.

Bram berjalan melewati Dara.

Berhenti sebentar.

“Ini bukan balasan atas kebencian,” katanya pelan. “Ini konsekuensi pilihan.”

Dara menatapnya. “Dan pilihan saya sederhana.”

“Yaitu?”

Dara tersenyum tipis. “Tidak hidup lagi sebagai bayang-bayang siapa pun.”

Bram tertawa kecil — bukan meremehkan, melainkan lega.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “akhirnya kamu benar-benar lahir.”

Ia pergi dan akan menjalani hukumannya.

Dan kali ini, tidak kembali lagi sebagai ancaman.

Setelah semuanya selesai, Dara duduk sendirian di balkon atap gedung. Angin sore mengusap pipinya.

Danu datang membawa minuman.

“Capek?” tanyanya.

“Tidak,” jawab Dara. “Aku cuma… selesai menjadi orang yang dikejar.”

“Lalu sekarang jadi apa?”

Dara menatap langit.

“Orang yang memilih jalannya sendiri.”

Ia diam sebentar.

“Dan aku siap kalau masa laluku mengetuk pintu lagi.”

Danu tersenyum pelan. “Termasuk seseorang bernama… Arman?”

Dara tidak mengelak. Ia tersenyum tipis. “Ya.”

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!