Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Bu Ratna Membuat Ulah Lagi
Pagi harinya udara terasa berat, meski matahari bersinar terang tanpa malu, langit biru terbentang luas, seolah menertawakan perasaan Zahra yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana.
Ia melangkah menuju kantor kecil tempat ia bekerja dengan langkah teratur, wajah tenang, namun pikirannya siaga.
Zahra tahu satu hal pasti setelah keluarga besar, setelah fitnah, setelah ancaman hukum, serangan berikutnya tidak akan datang dari depan.
Ia akan datang dari arah yang paling sunyi.
Belum lama Zahra duduk di meja kerjanya, menyalakan laptop dan membuka catatan keuangan klien..
Wulan memanggilnya ke ruang kecil di belakang kantor, pintu ditutup pelan, wajah sahabatnya itu tegang, jelas menahan amarah sekaligus rasa bersalah.
"Zahra, aku baru dapat telepon dari salah satu klien besar.” ucap Wulan lirih
Zahra mengangguk pelan, dadanya terasa mengencang, tapi ia mempersilakan Wulan melanjutkan.
"Mereka menunda kerja sama, alasannya… ada tekanan dari pihak tertentu.” lanjut Wulan
Zahra menarik napas dalam-dalam, ia tidak perlu waktu lama untuk menebak.
"Pihak keluarga Genta?” tanyanya tenang.
Wulan terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Nama Bu Ratna disebut, tidak langsung, tapi cukup jelas, mereka bilang, kalau tetap memakai jasamu, urusan mereka dengan relasi tertentu akan dipersulit.” ucap Wulan
Zahra tersenyum pahit, senyum seseorang yang baru menyadari bahwa kebenaran saja tidak selalu cukup ketika kekuasaan ikut bermain.
Jadi ini caranya, bukan dengan suara keras, bukan dengan ancaman langsung tapi dengan menutup pintu rezeki.
“Aku minta maaf, aku sudah melawan, aku jelaskan semuanya tapi posisiku juga sulit.” ucap Wulan buru-buru menjelaskan
Zahra menggenggam tangan sahabatnya erat.
“Jangan minta maaf Lan, Ini bukan salahmu.”
Namun siang itu belum selesai menguji Zahra, satu per satu pesan masuk...
Nada mereka hampir sama sopan, penuh penyesalan, dan berujung pada satu kalimat tak terucap: kami tidak berani
Dua klien lain menyampaikan hal serupa, ada yang beralasan menunggu situasi kondusif, ada juga yang mengatakan proyek ditunda tanpa batas waktu.
Sore menjelang, Zahra duduk sendirian di depan laptopnya, layar menyala, namun matanya kosong, untuk kesekian kalinya sejak ia memutuskan bangkit, rasa takut menyusup ke dadanya.
Bukan takut miskin, bukan pula takut kehilangan kenyamanan..
Melainkan takut dipatahkan berulang kali hanya karena ia memilih berdiri di tempat yang benar..
Ia menutup laptop perlahan, lalu menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas panjang.
Di dalam dirinya, terjadi pergulatan sunyi antara bertahan atau menyerah pada lelah yang tidak kelihatan.
Di sisi lain, Genta duduk di ruang tamu rumah ibunya, ruangan itu masih sama megah, dingin, penuh simbol kekuasaan yang selama ini membesarkannya.
Bu Ratna berdiri di hadapannya, tangan bersedekap, wajahnya tenang tapi mata menyimpan kepuasan.
"Mak hanya ingin melindungi mu, kalau Zahra jatuh, kamu akan kembali utuh.” ucap nya datar
Genta menatap lantai sejenak, lalu menggeleng pelan.
“Mak menghancurkan hidupnya"
Bu Ratna mendengus.
“Dia menghancurkan keluargamu lebih dulu.”
Genta berdiri, dadanya sesak, suaranya bergetar.
“Tidak, aku yang menghancurkan semuanya dan sekarang Mak memperparahnya.”
Bu Ratna menatap anaknya tajam, ada kemarahan, tapi juga rasa tak percaya.
“Kamu mau melawan Mak lagi demi perempuan itu?” tanyanya dingin.
Genta mengangkat kepala, menatap ibunya lurus untuk pertama kalinya tanpa rasa takut.
“Aku mau bertanggung jawab atas kesalahanku, termasuk menghentikan ini.” ucap Genta tegas
Bu Ratna terdiam sesaat, lalu tertawa kecil, tanpa kehangatan.
“Kalau begitu, jangan harap Mak membantumu lagi.”
Genta mengangguk.
“Aku tidak meminta.”
Kalimat itu sederhana, tapi menjadi garis pemisah yang tidak bisa ditarik kembali.
Malamnya, Genta datang ke rumah orang tua Zahra, tidak ada ragu di langkahnya, tidak ada gelisah berlebihan.
Wajahnya serius, matanya lelah, tapi ada tekad yang belum pernah Zahra lihat sebelumnya.
"Zahra, Mak menekan klien-klien mu?"katanya setelah mereka duduk berhadapan
Zahra tidak terkejut.
“Aku tahu.”
"Aku akan bicara dengan relasi-relasi itu, aku akan jelaskan semuanya.” lanjut Genta cepat
Zahra menatapnya tenang, lalu menggeleng pelan.
“Mas… ini bukan tentang menyelamatkanku dengan kuasamu.”
Genta terdiam.
“Ini tentang menghentikan ibumu, kalau kamu benar-benar ingin berubah, kamu harus berani menarik garis bukan setengah-setengah.” lanjut Zahra
Genta menarik napas panjang.
“Aku siap.”
Kata itu tidak lagi terdengar kosong, ada konsekuensi di baliknya.
Keesokan harinya, Genta benar-benar bergerak.
Ia mendatangi dua relasi bisnis utama keluarganya, ia tidak datang dengan ancaman atau nama besar ibunya, ia datang dengan kejujuran yang telanjang.
Ia mengakui kesalahannya, ia menjelaskan situasi sebenarnya, ia meminta bukan memerintah agar urusan pribadi tidak dicampuradukkan dengan profesionalitas Zahra
Beberapa menolak dengan halus, beberapa memilih diam tapi ada juga yang mendengarkan.
Tidak semua pintu terbuka, namun tidak semuanya tertutup.
Sore harinya, Wulan menelepon Zahra, suaranya bergetar kali ini bukan karena cemas.
"Zahra… satu klien kembali.”
Zahra menutup mata.
“Katanya mereka menghargai klarifikasi dan profesionalitas mu, mereka mau lanjut.”
Dada Zahra bergetar bukan karena kemenangan besar, melainkan karena satu hal yang menenangkan: kebenaran memang tidak selalu langsung menang, tapi ia selalu menemukan jalannya.
Namun harga yang harus dibayar juga tidak kecil.
Genta kehilangan satu proyek besar, namanya mulai dijauhi oleh lingkaran lama dan ia tidak lagi dianggap patuh keluarga
Malam nya, Genta berkata pelan pada Zahra “Aku tidak menyesal, untuk pertama kalinya, aku merasa jujur.”
Zahra menatapnya lama, ada perubahan nyata di hadapannya bukan dalam kata-kata, tapi dalam kehilangan yang ia tanggung sendiri.
"Perubahan memang mahal, dan kamu baru mulai membayarnya.” kata Zahra pelan
Genta menunduk mendengar ucapan Zahra, ia pun pamit untuk pulang kerumah ibunya
***
Di rumahnya, Bu Ratna duduk termenung, tangannya menggenggam ponsel, rahangnya mengeras.
Untuk kesekian kalinya, rencananya tidak berjalan mulus alias gagal lagi
Namun satu hal pasti, ia belum mengeluarkan kartu terakhirnya