Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azalea Kini Paham
"Terus bagaimana? Kamu sudah berhasil menggagalkan perjodohan?" tanya Pak Sutopo kepada putrinya, Azalea, dari seberang telepon.
Waduh. Azalea refleks memejamkan mata. Sibuk sama Kak Hagia jadi lupa soal itu. Batin Azalea menggerutu sendiri. Beberapa hari ini jadwalnya penuh dengan agendanya sendiri, sampai-sampai ia lupa dengan misi utama.
"Belom, Yah. Tapi dikit lagi sih."
Di seberang sana terdengar tawa lepas. "Dikit lagi mulu bilangnya. Btw, kemarin salah orang ya, hahahaha… salah orang." Pak Sutopo malah mengejek.
Azalea langsung berdecak. "Ck, kok Ayah segala tahu sih?!"
"Tahu lah. Pak Lurah sana yang laporan. Gini-gini kan Ayah juga pernah jadi orang desa sana, Lea. Dah lah, usaha kamu payah. Semakin di depan mata saja acara pesta pernikahanmu."
"Ah, Ayah!" Azalea mendengus kesal. "Lea belum nyerah, ya. Pokoknya jangan lengkungin janur kuning di rumah dulu. Azalea masih berjuang."
"Yo, lihat aja nanti siapa yang menang, kamu atau Ayah," sahut Pak Sutopo masih dengan nada gurau yang menjengkelkan. Kemudian beliau melanjutkan,
"Sehat-sehat ya, Nak, di sana. Ayah tunggu kamu pulang ke rumah. Ayah sudah nggak sabar pengen jabat tangan calon mantu Ayah, sambil ngomong, 'Saya nikahkan engkau dengan--"
"Stop!" Azalea buru-buru memotong, wajahnya sudah memerah meski ayahnya tak bisa melihat. "Azalea bakal pulang, tapi nggak sekarang. Ayah dan Ibu juga jaga kesehatan di sana."
Tawa kecil kembali terdengar dari seberang sana. Telepon pun berakhir, meninggalkan Azalea menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Azalea mulai beranjak tidur. Harusnya tertidur. Badannya capek, matanya juga sudah berat. Akan tetapi isi kepala Azalea mendadak berisik. Ada mikirin besok sarapan apa lah, ada terngiang-ngiang soal perjodohan lagi lah, dan Hagia juga nyelip di dalam pikiran Azalea. Kalau tentang Hagia, dia kepikiran buat minta bantuan Hagia dalam menemukan pria yang ia cari-cari lalu ia berniat buat minta tolong ke Hagia untuk berpura-pura menjadi pacarnya agar sang calon jodoh mundur pelan-pelan. Alon-alon, kata orang Jawa.
Nanti jika berhasil, Azalea akan beri imbalan berupa uang. Namun Azalea ada rencana tidak pakai uang untuk imbalannya, melainkan bilang ke Hagia imbalannya itu boleh dijadikan pacar beneran. Wailaaah, Drama banget, begitu Azalea merutuki khayalannya.
Azalea ganti posisi, miring kesamping menghadap tembok. Ia cengar-cengir sendiri membayangkan jika angan-angannya barusan terealisasikan. Tapi sepertinya itu hanya menjadi rencana angan-angannya, sebab apapun kondisinya, dia tidak mau sampai menyatakan perasaannya duluan.
Setelah itu, pikirannya bergeser lagi. Kali ini ke hal yang lebih sederhana tapi tak kalah mengganggu. Ia mendadak ingin tahu seperti apa rumah Hagia. Bagaimana orang tuanya. Apakah mereka ramah? Berapa saudaranya? Apakah Hagia anak pertama, tengah, atau bungsu?
Keinginan itu terasa besar. Besok sepertinya waktu yang pas. Lusa ia akan sibuk gladi resik di sanggar. Setelah perlombaan, hidupnya juga bakal makin ribet karena ia berniat mencari Adipati.
Ketika akhirnya kantuk mulai menang, dan suara-suara di kepalanya mereda, pintu kamar Azalea tiba-tiba diketuk.
Tok. Tok.
Azalea membuka mata, sedikit terkejut. Ia bangkit, berjalan pelan ke arah pintu, lalu membukanya. Di sana berdiri Suci.
"Oh, ternyata kamu, Ci." Azalea mengernyit heran. "Kok belum pulang?"
"Aku nginep di sini. Ada yang mau aku omongin sama kamu."
Azalea mempersilakan Suci masuk. Mereka duduk di atas kasur, saling berhadapan. Suci terlihat agak canggung, seraya matanya berkeliling menyapu kamar yang ditempati Azalea. Suci merasa senang sekali berada di sana, menghirup dalam-dalam aroma ruangan tersebut. Karena sejatinya ia telah tahu bahwa kamar ini adalah kamar Hagia. Biarlah dia simpan informasi ini jika Azalea sampai tak tahu kamar yang ditempatinya. Tapi Suci telah menduga bahwa Azalea tak tahu soal itu dari se-pengamatannya selama ini.
"Maaf ya, Lea, ganggu waktu istirahat kamu. Soalnya kalau bukan sekarang, aku takut nggak kebagian waktu. Kamu makin ke sini makin sibuk."
Azalea tertawa kecil. "Santai aja, Ci. Aku juga belum tidur kok. Memangnya kamu mau ngomong apa?"
Suci menarik nafas dalam-dalam, "Lea, kamu sama Mas Hagia itu hubungannya bagaimana? Teman kah, atau sudah pacaran?"
"Hanya teman, Ci," jawab Azalea cepat tanpa pikir panjang. "Memangnya kenapa? Kamu khawatir aku sakit hati karena Kak Hagia yang banyak fansnya itu, ya? Tenang aja, aku biasa aja kok. Aku hanya ikutin alur saja, nggak terlalu dibawa perasaan."
Suci manggut-manggut pelan. Oh, ternyata hanya teman. Jadi mereka belum jadian. Ada rasa lega yang menyusup di hati Suci.
"Terus soal jam tangan, hadiah dari kamu buat Mas Hagia, itu dalam rangka apa? Patungan sama yang lain kah?"
Azalea menggeleng. "Itu dari aku sendiri. Balas kebaikannya aja selama ini udah banyak bantu. Emangnya kenapa, Ci?" tanyanya balik sambil tersenyum.
Eh, kok pada tahu ya aku kasih jam tangan ke Kak Hagia? Batin Azalea baru nyadar. Azalea lalu menatap Suci lekat-lekat, menunggu jawaban.
Ditanya dan ditatap begitu oleh Azalea, membuat Suci kikuk. Ia tersenyum kaku, lalu menunduk sebentar. Untuk mencairkan suasana, Azalea menepuk pundak Suci pelan.
"Tenang, Ci. Aku nggak papa kok. Terima kasih kamu sudah khawatir sama aku."
Suci mengangkat wajahnya. Ekspresinya mulai mencair. Tapi ada satu hal lagi yang mengganjal di hati Suci. Sesuatu yang sejak tadi ia tahan-tahan. Sesuatu yang maju mundur untuk dia ungkapkan. Berhubung ia ingat tak ada kesempatan banyak dilain hari, jadi dia beranikan saja bertanya ke Azalea.
"Lea, karena kamu teman dekatnya Mas Hagia, Dia itu orangnya seperti apa ya?"
Azalea mengernyit sedikit. "Maksudnya?"
"Maksudku…" Suci menelan ludah. "Dia itu… suka wanita yang seperti apa?"
Mendengar itu, Azalea sekarang yang kikuk karena telah memahami sesuatu.
.
.
Bersambung.
nangis dalam bantal
dikira hagia mau nikahan sama siapa
tak taunya dirinya sendiri wanita saingan🤣🤣🤣🤣
hati merana,gak tau nya sama dia
🤣🤣🤣🤣