NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 : Kecupan yang Mematikan

Gedung Solera Luxury Homes berdiri angkuh di bawah terik matahari Madrid, permukaannya yang berlapis kaca memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Bagi Santiago Valero, gedung itu dulunya adalah takhta kedaulatannya. Namun hari ini, ia berdiri di depannya sebagai orang asing yang memprihatinkan.

Pakaiannya kusut, rambutnya berminyak, dan aroma alkohol murahan masih samar-samar tercium dari pori-porinya. Matanya merah, bukan karena marah, melainkan karena lelah dan sisa-sisa tangisan harga diri yang pecah semalam.

Santiago melangkah masuk ke lobi. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu. Para staf yang dulu membungkuk hormat padanya, kini saling berbisik di balik telapak tangan mereka.

"Tuan Valero?" tanya resepsionis muda di meja depan, matanya penuh dengan rasa kasihan yang menghina. "Anda tidak bisa masuk tanpa janji temu."

"Aku tidak butuh janji temu untuk masuk ke rumahku sendiri!" bentak Santiago, suaranya parau. "Beritahu Alicia... beritahu Nyonya Valero bahwa aku harus bicara padanya. Sekarang!"

"Maaf, Tuan. Perintah dari atasan sangat jelas. Anda dilarang masuk ke area lift," jawab gadis itu, suaranya bergetar namun tegas.

Santiago menggebrak meja marmer itu. "Panggil dia! Alicia! Aku tahu kau mendengarku!"

Tiba-tiba, dua orang petugas keamanan bertubuh besar—orang-orang baru yang dibawa oleh Rafael Montenegro—muncul dan mencengkeram lengan Santiago.

"Lepaskan aku! Kalian tahu siapa aku?!" teriak Santiago sambil meronta.

"Kami tahu siapa Anda, Tuan Valero," ujar kepala keamanan dengan nada dingin. "Anda adalah pria yang sudah berkali-kali diperingatkan untuk menjauh. Sekarang, silakan keluar secara sukarela, atau kami harus menggunakan kekerasan."

"Alicia! Alicia, tolong aku!" jerit Santiago saat ia mulai diseret keluar melewati lobi.

Di lorong lobi, puluhan karyawan lama Solera berkumpul. Mereka menonton dengan mata terbelalak saat mantan bos mereka, pria yang dulu sangat berkuasa, kini diseret layaknya pengemis yang mencoba mencuri roti. Beberapa dari mereka menundukkan kepala karena malu, namun lebih banyak lagi yang mengangkat ponsel untuk merekam kehancuran pria itu.

"Lihat aku, Santiago!" teriak salah satu manajer menengah yang dulu sering dibentak Santiago. "Di mana martabatmu sekarang?"

Santiago dilempar ke trotoar jalanan di depan gedung. Ia jatuh tersungkur di atas aspal yang panas. Suara tawa pelan dari arah pintu masuk terdengar seperti petir di telinganya. Ia menoleh dan melihat petugas keamanan itu meludah ke arahnya sebelum menutup pintu kaca yang megah itu rapat-rapat.

Ia adalah sampah. Dan sekarang, seluruh dunia tahu itu.

...****************...

Malam harinya, Madrid bersiap untuk sebuah acara gala bisnis paling prestisius tahun ini di Istana Liria. Seluruh elite Spanyol hadir, mengenakan perhiasan yang lebih terang dari bintang-bintang.

Di dalam mobil mewah yang melaju menuju lokasi, Alicia Valero duduk dalam diam. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan potongan rendah di bagian punggung, memberikan kesan misterius namun dominan. Di sampingnya, Rafael Montenegro tampak seperti dewa perang yang mengenakan tuksedo sempurna.

"Kau siap?" tanya Rafael, tangannya membelai paha Alicia dengan lembut namun posesif. "Aku dengar Santiago berhasil menyelinap masuk ke daftar tamu cadangan menggunakan sisa-sisa koneksinya."

Alicia memejamkan mata sejenak. "Biarkan dia datang, Rafael. Aku ingin dia melihat dengan matanya sendiri bahwa dunia ini bukan lagi tempat baginya untuk berpijak."

"Aku akan memastikan dia melihat lebih dari sekadar keberhasilanmu," bisik Rafael, senyum tipis yang berbahaya muncul di bibirnya.

Begitu mereka keluar dari mobil, kilatan lampu kamera wartawan menyambut mereka. Mereka adalah Power Couple yang paling dibicarakan. Mereka berjalan masuk ke dalam aula besar, tangan Rafael melingkar erat di pinggang Alicia, seolah menyatakan kepada semua orang bahwa wanita ini adalah miliknya sepenuhnya.

Di sudut aula, di balik pilar besar, Santiago berdiri dengan segelas wiski di tangannya. Ia berhasil masuk dengan menyuap seorang pelayan lama. Ia mengenakan jas lamanya yang mulai terlihat sempit, wajahnya mencoba terlihat tenang meski hatinya sedang terbakar hebat.

Ia melihat mereka. Alicia tampak begitu cantik, begitu jauh dari jangkauannya. Dan Rafael... pria itu berdiri di sana dengan segala kekuatan yang dulu Santiago miliki, namun sepuluh kali lipat lebih mengintimidasi.

Santiago tidak tahan. Ia melangkah maju, membelah kerumunan para pengusaha yang langsung menjauh darinya.

"Alicia," suara Santiago terdengar gemetar di tengah alunan musik biola.

Alicia dan Rafael berhenti. Mereka berbalik perlahan, memberikan perhatian penuh kepada pria yang tampak hancur di depan mereka.

"Santiago," sapa Alicia, suaranya begitu tenang hingga membuat Santiago merasa semakin kecil. "Aku tidak menyangka kau punya keberanian untuk muncul di sini setelah kejadian di lokalisasi itu."

"Aku butuh bicara padamu, Alicia. Secara pribadi," mohon Santiago, matanya berkaca-kaca. "Yayasan itu... mereka membekukannya. Aku tidak punya apa-apa lagi. Tolong, hentikan Rafael. Aku tahu ini semua perbuatannya."

Rafael tertawa rendah, sebuah tawa yang menghina. "Kau datang kepada tunanganku untuk mengeluhkan aku? Kau benar-benar tidak punya otak, Santiago."

"Diam kau, Montenegro! Ini urusanku dengan istriku!" bentak Santiago, lupa bahwa Alicia sudah bukan istrinya lagi.

...****************...

Beberapa tamu mulai berkumpul, mencium aroma skandal yang lebih panas dari hidangan pembuka. Alicia menatap Santiago dengan tatapan yang sangat dingin, seolah ia sedang melihat seekor serangga yang sedang sekarat.

"Istrimu?" tanya Alicia dengan nada mengejek. "Kau kehilangan hak untuk memanggilku seperti itu saat kau memilih Isabel dan pelacur di lokalisasi itu. Sekarang, aku milik pria yang jauh lebih hebat darimu."

"Kau hanya memanfaatkannya, Alicia! Kau tidak mencintainya!" teriak Santiago, air mata mulai mengalir di pipinya yang tirus.

Rafael menarik Alicia lebih dekat, hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa celah. Ia menatap Santiago tepat di matanya, sebuah tatapan pemenang kepada pecundang.

"Kau ingin tahu seberapa besar dia 'memanfaatkanku', Santiago?" tanya Rafael dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar mereka.

Tanpa peringatan, Rafael merangkul tengkuk Alicia dan menciumnya. Itu bukan sekadar ciuman formal di pipi. Itu adalah ciuman yang dalam, liar, dan penuh gairah—sebuah tindakan provokatif yang menunjukkan kepemilikan mutlak.

Alicia tidak menolak. Sebaliknya, ia melingkarkan lengannya di leher Rafael, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, seolah ia ingin membakar bayangan Santiago dari ingatannya selamanya.

Dunia seolah berhenti bagi Santiago. Ia melihat bibir yang dulu miliknya kini dinikmati oleh musuh terbesarnya. Ia melihat Alicia menyerahkan dirinya dengan sukarela, sesuatu yang tidak pernah Alicia lakukan saat mereka masih bersama.

"Tidakkk... Alicia, jangan..." gumam Santiago, jatuh berlutut di lantai aula yang mengkilap. Gelas wiskinya jatuh dan pecah, isinya membasahi sepatu kulitnya yang murah.

Rafael melepaskan ciuman itu perlahan, napasnya memburu, matanya masih tertuju pada Santiago yang kini bersimpuh di depannya. Ia menyeka sisa lipstik Alicia di bibirnya dengan ibu jari, sebuah gerakan yang sangat menghina.

"Lihat dia, Alicia," ujar Rafael sambil menunjuk ke arah Santiago. "Pria ini menangis untuk sesuatu yang sudah lama dia buang ke tempat sampah."

Alicia menatap Santiago yang sedang terisak di lantai. Tidak ada lagi benci di matanya, hanya rasa jijik yang murni.

"Bangunlah, Santiago. Kau membuat lantai ini kotor dengan air matamu," kata Alicia tajam. "Jangan pernah lagi menyebut namaku. Mulai detik ini, kau bukan lagi masa laluku. Kau bukan lagi kenanganku. Kau hanyalah sebuah kesalahan yang sudah aku perbaiki."

Alicia berbalik, menggandeng tangan Rafael, dan berjalan pergi meninggalkan Santiago yang hancur total di tengah kerumunan elite Madrid yang menatapnya dengan tawa dan cibiran.

...****************...

Di balkon istana yang sepi, jauh dari kebisingan gala, Alicia berdiri menatap langit malam. Angin dingin menerpa bahunya yang terbuka, namun ia tidak merasa kedinginan.

Rafael muncul dari belakang, menyampirkan jas tuksedonya di bahu Alicia. "Kau melakukannya dengan sangat baik, mi reina. Dia tidak akan pernah berani menunjukkan wajahnya lagi."

Alicia berbalik, menatap Rafael dengan mata yang masih menyimpan sisa-sisa api gairah dari ciuman tadi. "Terima kasih, Rafael. Tapi kau tahu, ciuman tadi... itu sangat berisiko di depan media."

Rafael menarik Alicia ke dalam pelukannya, menatapnya dengan tatapan yang dalam. "Risiko? Aku tidak peduli dengan risiko. Aku ingin dia tahu, dan aku ingin seluruh dunia tahu, bahwa aku telah memenangkan setiap inci dari dirimu."

"Dan apa yang kau dapatkan dari kemenangan ini?" tanya Alicia, jemarinya membelai kerah kemeja Rafael.

"Aku mendapatkan wanita paling kuat di Madrid," jawab Rafael, suaranya serak. "Dan aku mendapatkan kepuasan melihat musuhku memohon di kakimu."

Alicia tersenyum, sebuah senyum yang kali ini terasa lebih hangat namun tetap menyimpan rahasia. Ia tahu bahwa meskipun Santiago telah hancur, permainan sesungguhnya dengan Rafael baru saja dimulai. Di ranjang kepuasan ini, tidak ada yang benar-benar menjadi pemenang tunggal.

"Bawa aku pulang, Rafael," bisik Alicia. "Malam ini, aku tidak ingin memikirkan tentang bisnis atau dendam. Aku hanya ingin merasakan kemenangan ini bersamamu."

Rafael mengangguk, ia memandu Alicia kembali ke mobil mereka. Di dalam kegelapan kendaraan mewah itu, mereka kembali larut dalam ciuman yang lebih dalam, meninggalkan Santiago dan Isabel dalam kegelapan kehancuran mereka sendiri.

Malam itu, Madrid menyaksikan jatuhnya seorang raja dan bangkitnya sepasang penguasa baru yang tidak hanya berbagi harta, tetapi juga berbagi nafsu untuk menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan mereka.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
🟡nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!