NovelToon NovelToon
BEHIND THE SPOTLIGHT

BEHIND THE SPOTLIGHT

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Romantis
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Surat untuk Diriku Sendiri

Pesan dari 'The Watcher' semalam menghantui pikiran Aira bahkan saat ia melangkah masuk ke gerbang sekolah pagi ini. "Salah satu dari mereka bukan pangeran sungguhan." Kalimat itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Aira kembali mengenakan seragam kebesarannya, kacamata tebal yang sedikit retak di sudutnya, dan aura "cupu" yang sengaja ia tebalkan.

Di lobi, suasana sudah jauh lebih tenang. Jennie tidak terlihat, kabarnya ia diskors setelah video perundungan itu viral. Namun, bagi Aira, hilangnya Jennie justru membuat ancaman yang lebih besar terasa nyata. Musuh yang terlihat lebih mudah dihadapi daripada musuh yang bersembunyi di balik senyuman.

Aira duduk di perpustakaan, tempat persembunyian favoritnya. Namun kali ini, ia tidak sedang menulis naskah. Ia membuka buku catatan kecil dan mulai menuliskan nama empat pangeran Hanlim.

Lai Guanlin : Terlalu protektif, memiliki kuasa besar, dan sangat terobsesi pada Miss KA. Apakah obsesinya adalah bentuk kekaguman atau cara untuk menjebaknya?

Choi Soobin : Terlihat seperti malaikat, selalu ada di saat yang tepat. Apakah ketulusannya asli, atau itu cara terbaik untuk menggali informasi?

Lee Heeseung : Sensitif dan artistik. Dia merasakan kesedihan Aira lewat musik. Tapi, bukankah seniman adalah pembohong terbaik di dunia?

Sunoo : Si rubah misterius yang paling banyak tahu. Dia satu-satunya yang memegang sapu tangan "bukti" itu. Kenapa dia tidak langsung membongkarnya?

"Menilai orang berdasarkan daftar seperti itu tidak akan memberimu jawaban yang akurat, Aira."

Aira tersentak hingga hampir menjatuhkan pena-nya. Sunoo berdiri tepat di belakangnya, bersandar pada rak buku tua. Ia tersenyum tipis, matanya melirik ke arah catatan Aira yang segera ditutup dengan cepat.

"Kak Sunoo... sejak kapan kau di sana?" jantung Aira berdegup kencang.

"Cukup lama untuk tahu bahwa kau sedang mencurigai kami semua," Sunoo duduk di depan Aira, melipat tangannya di atas meja. "Kau tahu, Aira, di sekolah ini, setiap orang punya rahasia. Termasuk aku. Tapi bedanya, rahasiamu bisa menghancurkan tujuh pria paling berkuasa di industri hiburan, sementara rahasiaku... hanya bisa menghancurkan diriku sendiri."

Aira menelan ludah. "Apa maksudmu?"

Sunoo mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat dalam. "Jangan terlalu fokus pada siapa yang jahat. Fokuslah pada siapa yang paling 'butuh' sesuatu darimu. Karena di dunia ini, pengkhianatan tidak lahir dari kebencian, tapi dari ambisi."

Siang harinya, sebuah pengumuman mengejutkan datang dari pihak sekolah. Proyek film kolaborasi dengan Miss KA akan segera dimulai, dan sekolah menunjuk Aira sebagai "Asisten Riset Lapangan" untuk mendampingi para pangeran yang terpilih sebagai kandidat pemeran utama. Ini jelas merupakan taktik sekolah untuk memulihkan nama baik Aira, tapi bagi Aira, ini adalah jebakan maut.

Ia harus berada di satu ruangan tertutup dengan Guanlin, Soobin, Heeseung, dan Sunoo untuk membahas naskah yang ia tulis sendiri.

Pertemuan diadakan di ruang rapat VIP sekolah. Lai Guanlin duduk di kepala meja, tampak sangat berwibawa dengan jas sekolah yang disampirkan di bahunya.

"Miss KA telah mengirimkan tambahan draf semalam," Guanlin memulai pembicaraan, matanya menatap tajam ke arah Aira yang duduk di pojok ruangan dengan tumpukan dokumen. "Dia menulis tentang seorang gadis yang hidup dalam bayang-bayang tujuh raksasa. Menarik sekali, bukan? Seolah dia sedang menceritakan hidup seseorang yang sangat dekat dengan kita."

Soobin tersenyum lembut ke arah Aira. "Aira, kau adalah asisten risetnya. Menurutmu, apa yang dirasakan gadis dalam cerita ini? Kenapa dia begitu takut menunjukkan dirinya yang asli?"

Aira meremas ujung roknya. Ia merasa seperti sedang diadili. "Mungkin... karena dia tahu bahwa kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan yang indah. Dia hanya ingin melindungi orang-orang yang dia cintai."

Heeseung mengetukkan jemarinya di meja, mengikuti irama yang hanya ia yang tahu. "Atau mungkin dia hanya takut ditolak. Takut jika orang-orang tahu siapa dia sebenarnya, mereka tidak akan lagi memandangnya dengan rasa sayang, melainkan dengan rasa ingin memiliki."

Suasana di ruangan itu menjadi sangat berat. Aira merasa oksigen di sana mulai berkurang. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di dalam saku. Sebuah pesan dari Beomgyu.

Beomgyu : "Aira, waspada. Aku baru saja memutus akses penyadapan dari ruangan tempat kau berada sekarang. Seseorang di ruangan itu membawa perangkat perekam ilegal yang terhubung langsung ke server luar. Salah satu dari mereka sedang mengirimkan percakapan ini secara real-time ke 'The Watcher'."

Aira mendongak, matanya menatap satu per satu pria di depannya. Salah satu dari mereka adalah pengkhianat. Salah satu dari mereka sedang mencoba menjual suaranya hari ini.

Pertemuan itu berakhir dengan ketegangan yang menggantung. Aira segera berlari menuju toilet untuk menenangkan diri. Namun, saat ia keluar, ia dihadang oleh Choi Soobin. Wajah malaikatnya kini tampak sangat serius, jauh dari kesan ramah yang biasanya ia tunjukkan.

"Aira, jangan percaya pada siapa pun di sini. Bahkan pada Guanlin sekalipun," ucap Soobin tiba-tiba.

"Kenapa Kakak bilang begitu?"

Soobin menarik napas panjang. "Keluarga Lai sedang mengalami krisis keuangan internal yang mereka sembunyikan dari publik. Mereka butuh proyek film Miss KA ini berhasil untuk mendapatkan suntikan dana segar. Guanlin akan melakukan apa saja untuk menemukan Miss KA, termasuk memanipulasimu."

Sebelum Aira sempat menjawab, Heeseung muncul dari tikungan koridor. "Soobin, berhenti menakut-nakutinya. Bukankah kau sendiri yang baru saja mendapatkan tawaran kontrak solo dari agensi saingan BTS semalam? Jangan berpura-pura menjadi pahlawan saat kau sendiri sedang mencari jalan keluar."

Aira mundur perlahan. Kepalanya mulai berdenyut sakit lagi. Pertengkaran kecil di depannya ini terasa sangat palsu. Ia merasa seperti karakter dalam novelnya sendiri yang sedang dipermainkan oleh nasib.

Tiba-tiba, rasa pening yang luar biasa menyerang Aira. Penglihatannya mengabur. Efek kurang tidur dan stres berhari-hari akhirnya mencapai puncaknya. Ia hampir jatuh jika sebuah tangan kuat tidak segera menangkap pinggangnya.

Itu Sunoo. Dia tidak ikut berdebat. Dia hanya menatap Aira dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa kasihan dan sesuatu yang lebih gelap.

"Kau terlalu banyak berpikir, Penulis Kecil," bisik Sunoo.

Aira tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia mulai menangis sesenggukan di koridor sepi itu. Bukan tangis manja seperti di depan kakak-kakaknya, tapi tangis ketakutan yang mendalam.

"Lepaskan aku... hiks... aku ingin pulang! Aku benci tempat ini! Aku benci semua rahasia ini!" jerit Aira pelan.

Di saat itulah, pintu lift di ujung koridor terbuka. Sosok Park Jimin dan Kim Taehyung muncul dengan wajah yang sangat marah. Mereka datang karena Beomgyu memberi tahu bahwa sinyal Aira menunjukkan tingkat stres yang berbahaya.

Melihat adiknya menangis di antara tiga pria pangeran Hanlim, Jimin langsung melesat maju. Tanpa banyak bicara, ia menarik Aira ke belakang punggungnya dan menatap Soobin, Heeseung, dan Sunoo dengan tatapan mematikan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dari seorang idol ramah seperti Jimin.

"Jika kalian berani menyentuh atau membuatnya menangis lagi," suara Jimin terdengar sangat dingin hingga membuat suhu koridor seolah turun drastis, "aku sendiri yang akan memastikan sekolah ini rata dengan tanah besok pagi."

Taehyung menggendong Aira yang sudah sangat lemas. Aira menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Taehyung, mencari aroma kenyamanan yang selama ini hilang. Ia merasa sangat rapuh, seperti surat yang ditulis untuk dirinya sendiri namun tak pernah sampai ke alamat yang dituju.

Suasana di ruang tengah Mansion keluarga Kim malam itu sangat mencekam. Tidak ada tawa, tidak ada godaan dari Jungkook, bahkan aroma masakan Jin tidak tercium. Yang ada hanyalah aura dingin dari tujuh pria yang duduk melingkar di sofa mewah mereka. Di tengah-tengah mereka, Aira duduk meringkuk di sebuah kursi kecil, masih terbungkus jaket tebal milik Taehyung.

Di hadapan mereka, melalui layar monitor besar, terpampang profil detail dari empat pangeran Hanlim Guanlin, Soobin, Heeseung, dan Sunoo. Namjoon berdiri di depan layar, memegang tablet dengan wajah serius yang jarang ia tunjukkan kecuali saat rapat dewan direksi agensi.

"Beomgyu sudah mengirimkan data dari laptop 'The Watcher'. Dan Jimin benar, ada sinyal aktif dari perangkat penyadap ilegal yang tertanam di salah satu jam tangan atau aksesori yang dipakai para pria itu tadi siang," ucap Namjoon, suaranya berat dan bergema di ruangan yang sunyi.

Yoongi menyesap kopi hitamnya, matanya menatap tajam ke arah Aira. "Aira, katakan pada Kakak. Siapa di antara mereka yang paling sering mendekatimu secara fisik? Siapa yang paling banyak bertanya tentang Miss KA?"

Aira gemetar. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. "Semuanya, Kak... hiks... mereka semua punya cara masing-masing. Kak Guanlin dengan obsesinya, Kak Soobin dengan kebaikannya yang tiba-tiba, Kak Heeseung dengan musiknya, dan... Kak Sunoo yang tahu segalanya."

Hoseok yang biasanya ceria, kini mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Mereka menggunakan adik kita sebagai umpan? Berani-beraninya mereka! Kita sudah memberi mereka panggung, memberi mereka nama, dan ini balasan mereka?!"

"Jungkook," panggil Jin dengan nada rendah. "Besok, pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mendekati Aira di sekolah. Jika perlu, kau masuk ke kelasnya dan duduk di sampingnya sepanjang hari."

"Aku akan melakukannya, Kak," jawab Jungkook dengan kilatan mata predator. "Tapi kita butuh lebih dari sekadar perlindungan. Kita butuh bukti siapa yang bekerja untuk musuh kita."

Melihat kemarahan kakak-kakaknya, Aira tiba-tiba merasa sesak napas. Ia merasa menjadi beban bagi mereka. Jika saja ia bukan Miss KA, jika saja ia tidak menulis novel itu, mungkin kakak-kakaknya bisa hidup dengan tenang tanpa harus terlibat dalam perang spionase seperti ini.

Aira tiba-tiba bangkit dari kursinya, air matanya tumpah dengan deras. "Hiks... hentikan! Berhenti mencurigai mereka! Ini semua salahku! Hiks..."

Semua kakaknya terdiam, terkejut melihat ledakan emosi Aira yang tiba-tiba.

"Aira? Kenapa ini salahmu, sayang?" tanya Jimin lembut, mencoba mendekat.

"Karena aku yang memulainya! Hiks... aku yang menulis tentang rahasia-rahasia itu! Aku yang membuat Miss KA menjadi sasaran! Aku lelah berpura-pura menjadi cupu di sekolah sementara di rumah aku harus menghadapi ketakutan kalian!" Aira berteriak di sela isaknya, tubuhnya lemas hingga ia jatuh berlutut di atas karpet bulu. "Hiks... aku ingin berhenti... aku ingin membakar semua naskah itu! Aku benci menjadi Miss KA!"

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Pengakuan Aira yang tidak sengaja itu membuat ketujuh pria itu terpaku. Meskipun mereka sudah menaruh curiga, mendengar langsung dari mulut Aira yang sedang hancur emosinya membuat kenyataan itu terasa jauh lebih berat.

Yoongi adalah yang pertama bergerak. Ia berjalan mendekat dan berlutut di depan Aira, menarik kepala adiknya ke dadanya. "Kakak sudah tahu, Aira. Kakak sudah tahu sejak lama."

Aira mendongak dengan wajah yang kacau. "K-kakak tahu?"

"Catatan yang kau tulis di kamarmu, cara kau menatap laptopmu... seorang jenius musik tidak akan bisa dibohongi oleh irama ketikan yang sama setiap malam," bisik Yoongi, suaranya melunak. "Kami tidak marah padamu karena kau adalah Miss KA. Kami marah karena kau menanggung beban itu sendirian tanpa berbagi dengan kami."

Jin ikut berlutut, memeluk Aira dari belakang. "Adik kecil kami adalah seorang dewi literasi dunia... dan kami malah membiarkannya dihina di sekolah. Maafkan Kakak, Aira. Maafkan kami yang tidak cukup peka."

Malam itu, untuk pertama kalinya, rahasia besar di Mansion Kim runtuh. Aira menangis di dekapan kakak-kakaknya, melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul sendirian. Namun, di balik kehangatan itu, mereka tahu bahwa pengakuan ini barulah awal dari badai yang sesungguhnya.

Keesokan paginya, Aira tidak pergi ke sekolah sebagai "si cupu" yang takut. Atas saran Namjoon dan strategi dari Beomgyu, Aira akan tetap berperan sebagai asisten riset, tapi kali ini dengan sebuah misi : Operasi Mirror.

Aira masuk ke ruang rapat sekolah dengan penampilan yang tetap sama, namun di telinganya terpasang micro-earpiece yang terhubung langsung ke sistem pantau Yoongi dan Beomgyu. Di saku roknya, ia membawa perangkat penonaktif sinyal yang akan menunjukkan siapa pembawa alat sadap itu.

Keempat pangeran sudah menunggu. Suasana terasa sangat canggung setelah kejadian di koridor kemarin.

"Aira, kau baik-baik saja?" tanya Soobin dengan nada khawatir yang terdengar sangat tulus.

Aira tersenyum tipis. "Aku baik, Kak. Mari kita lanjutkan riset naskah Miss KA tentang 'Pengkhianatan di Istana'."

Aira meletakkan sebuah kotak kecil di tengah meja. "Miss KA menitipkan ini. Dia bilang, siapa pun yang bisa membuka kode di dalam kotak ini, dialah yang akan mendapatkan peran utama dalam filmnya."

Keempat pangeran menatap kotak itu dengan rasa ingin tahu. Namun, saat tangan Lee Heeseung bergerak mendekati kotak tersebut, perangkat di saku Aira bergetar hebat. Sinyal merah menyala di tablet Beomgyu yang dipantau dari van.

"Aira, sinyal penyadap itu aktif tepat saat Heeseung bergerak!" suara Beomgyu terdengar di telinga Aira.

Namun, di saat yang sama, Sunoo tiba-tiba memegang pergelangan tangan Heeseung. "Jangan sentuh, Heeseung. Kotak itu jebakan."

Mata Aira membelalak. Sunoo menatap langsung ke arah kamera CCTV, lalu beralih menatap Aira dengan senyuman yang sangat mengerikan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah alat kecil dari balik jam tangannya sendiri dan menghancurkannya di depan mata semua orang.

"Maaf ya, Aira. Pengintai yang asli sebenarnya sudah pergi sejak tadi malam. Alat ini... hanya umpan agar kalian tahu bahwa aku ada di pihakmu," ucap Sunoo santai.

Guanlin bangkit dari kursinya, wajahnya sangat gelap. "Sunoo, apa maksudmu?"

"Maksudku..." Sunoo berdiri dan berjalan mendekati Aira, membisikkan sesuatu yang membuat darah Aira serasa membeku. "Kakakmu, Yoongi, sedang dalam bahaya sekarang. 'The Watcher' tidak lagi mengincarmu, Aira. Mereka mengincar studio musik kakakmu."

Aira jatuh terduduk. Di saat yang sama, ponselnya berdering. Itu dari Jungkook, suaranya penuh kepanikan. "Aira! Mansion kita... ada ledakan kecil di studio Kak Yoongi! Cepat pulang!"

Aira berteriak histeris, dunianya kembali runtuh dalam sekejap.

[TO BE CONTINUED]

📢 ASTAGA! PLOT TWIST MACAM APA INI?! 😱 Rahasia Aira sudah terbongkar di depan Kakak-kakaknya, tapi sekarang Mansion Kim diserang! Studio Kak Yoongi meledak?!

👇 VOTE [LOVE] kalau kalian mau Aira segera pake kekuatan 'Miss KA' buat bales dendam ke 'The Watcher'!

💬 KOMEN : Menurut kalian, apakah Sunoo beneran kawan atau dia cuma mainin perasaan Aira lagi?

🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab 6 bakal jadi awal dari perang terbuka antara BTS vs The Watcher! Jangan sampai ketinggalan!

⭐ KASIH RATING 5 STARS biar Kak Yoongi selamat dari ledakan itu!

BehindTheSpotlight #MangaToonOriginal #BTSInDanger #StudioExplosion #AiraReveal #SunooMystery

1
Ayu Nur Indah Kusumastuti
Syuka banget sama FL nya, manja2 gitu deh
Noirsz: pembaca setia nih, mode lock on 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!