NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: STRATEGIST TANPA KEKUATAN TEMPUR

Ruangan itu sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran ruang pelatihan yang biasanya dipenuhi teriakan dan suara tumbukan. Aku, Ji-woo, dan Seo-yeon duduk melingkar di lantai matras, menunggu. Udara terasa tegang, tapi bukan jenis ketegangan sebelum pertempuran—ini lebih seperti ketidakpastian yang canggung.

“Dia terlambat,” gumam Seo-yeon, matanya sesekali melirik ke arah pintu. “Apa kita salah ruangan?”

Ji-woo menggeleng, ekspresinya tenang seperti biasa. “Tidak. Guru Choi bilang di sini.”

Aku menghela napas. *Lee Joon-ho.* Namanya muncul tiba-tiba di daftar anggota tim yang diberikan Guru Choi pagi tadi. Tidak ada penjelasan lebih lanjut—hanya nama, nomor induk, dan satu catatan pendek: **“Strategist. Non-combatant.”**

Non-combatant. Di dunia yang menyembah kekuatan, di akademi yang mendidik hunter untuk bertarung, ada siswa yang tidak memiliki kemampuan tempur sama sekali. Itu seperti menyebut dirinya tukang kayu di tengah konvensi astronot.

Pintu terbuka.

Lelaki itu masuk dengan langkah tenang, hampir tak bersuara. Tingginya sedang, tubuhnya ramping dibalik seragam akademi yang rapi. Rambut hitamnya disisap rapi, kacamata bulat menutupi matanya yang tajam. Dia membawa tablet tipis di tangan kanannya, dan tas ransel kecil di punggung.

“Maaf terlambat,” ucapnya suara datar, tanpa nada permintaan maaf yang tulus. “Saya harus mengumpulkan data terbaru tentang pola pergerakan Goblin di Gate F-07.”

Dia duduk menyelesaikan lingkaran kami, meletakkan tablet di depannya. Layarnya menyala, menampilkan peta digital Gate F-07, beserta grafik, diagram, dan teks berjalan yang terlalu cepat untuk kukikuti.

“Kau Lee Joon-ho?” tanyaku, meski sudah tahu jawabannya.

“Ya.” Dia mengangguk singkat. Matanya—yang kini bisa kulihat jelas di balik kacamatanya—berpindah dari satu wajah ke wajah lain. “Kang Min-jae, telekinetik level awal dengan potensi analisis tinggi. Song Ji-woo, tank dengan pertahanan fisik luar biasa namun mobilitas rendah. Park Seo-yeon, healer dengan kontrol energi penyembuhan di atas rata-rata tapi kecenderungan panik di bawah tekanan.”

Kami terdiam sejenak.

“Kau… sudah riset kami semua?” tanya Seo-yeon, terdengar sedikit tersinggung.

“Lengkap dengan catatan akademis, hasil tes bakat, dan rekaman latihan selama dua bulan terakhir,” jawab Joon-ho tanpa ekspresi. “Jika kita akan bekerja sama, memahami kemampuan dan kelemahan masing-masing adalah dasar strategi.”

Aku merasa seperti sedang diwawancarai kerja. Tapi ada sesuatu yang menarik dari caranya berbicara—presisi, tanpa embel-embel, langsung ke inti.

“Guru Choi bilang kau strategist,” kataku. “Tapi non-combatant. Artinya kau tidak punya kekuatan tempur?”

Joon-ho mendelik sejenak, lalu menarik napas pendek. “Benar. Saya tidak memiliki kemampuan supernatural yang dapat digunakan secara ofensif atau defensif dalam pertempuran konvensional. Talent assessment saya menghasilkan skor nol di semua kategori kekuatan tempur.”

Ji-woo mengernyit. “Lalu… bagaimana kau bisa bertahan di akademi hunter?”

“Karena nilai teori, taktik, analisis medan, manajemen logistik, dan perencanaan misi saya sempurna.” Joon-ho mengetuk tabletnya. “Akademi memiliki kuota untuk ‘support specialist’. Saya satu dari tiga siswa yang diterima dalam kategori itu tahun ini.”

Seo-yeon masih terlihat skeptis. “Jadi… kau akan apa dalam tim? Hanya memberi instruksi dari belakang?”

“Tepat.” Joon-ho tidak tersinggung. “Saya akan menganalisis medan pertempuran, memprediksi pergerakan musuh, mengatur posisi tim, mengoptimalkan penggunaan stamina dan energi, serta memastikan jalur retreat yang aman jika diperlukan. Dan…” Dia jeda sejenak, matanya tertuju padaku. “…saya akan membantu Kang Min-jae mengoptimalkan kemampuan telekinesis-nya dalam konteks taktis, bukan sekadar latihan teori.”

Aku merasa tertantang. “Kau sudah tahu soal telekinesis ku?”

“Saya menonton rekaman duelmu melawan Song Min-hyuk.” Joon-ho membuka video pendek di tablet—aku sedang menghindar, menggunakan telekinesis untuk memperlambat serangan, lalu akhirnya menang dengan taktik tak biasa. “Kau menggunakan kekuatanmu dengan cara yang tidak konvensional. Tidak mencoba mengangkat lawan—tapi menggeser keseimbangan, mengubah arah serangan, bahkan memanfaatkan inersia. Itu cerdas. Tapi masih sangat tidak efisien.”

“Tidak efisien?”

“Energi psionik yang kau keluarkan untuk menggeser kaki lawan sebesar 5 derajat sama dengan energi yang dibutuhkan untuk mengangkat batu seberat 50 kg. Padahal, dengan sudut yang tepat, kau bisa membuatnya terjatuh hanya dengan dorongan 2 derajat.” Joon-ho menunjukkan diagram vektor gaya di tabletnya. “Kau membuang-buang energi karena tidak memahami mekanika gerak dengan tepat.”

Aku terdiam. *Dia benar.* Selama ini aku mengandalkan insting dan ‘editor’s eye’ untuk melihat celah, tapi tidak pernah menghitung secara matematis atau fisika.

“Kau bisa menghitung itu?” tanyaku penasaran.

“Saya sudah membuat model simulasi sederhana untukmu.” Joon-ho menggeser layar. “Berdasarkan data dari latihanmu, saya memperkirakan output telekinesismu saat ini maksimal setara dengan gaya 15 Newton dalam radius 5 meter. Itu cukup untuk mengacaukan keseimbangan Goblin, tapi tidak untuk mengangkatnya. Jadi, kita akan fokus pada taktik trik, jebakan, dan gangguan.”

Ji-woo mengangguk pelan, sepertinya mulai menerima. “Jadi… rencananya bagaimana untuk misi besok?”

Joon-ho segera membuka peta Gate F-07. “Gate ini kecil, diameter hanya 200 meter. Ekosistem hutan beriklim sedang dengan dua matahari—kita sudah tahu itu. Berdasarkan laporan patroli terakhir, ada sekitar 12–15 Goblin, tersebar dalam tiga kelompok kecil. Mereka primitif, menggunakan pentungan dan batu sebagai senjata.”

Dia memperbesar peta. “Kita akan masuk dari sini—tim patroli biasanya membuat jalan setapak. Ji-woo di depan sebagai tank. Min-jae di tengah, dengan jarak 3 meter dari Ji-woo. Seo-yeon di belakang, terlindungi. Saya akan berada di posisi paling belakang, dengan drone pengintai mini.”

“Drone?” kita bertiga serentak bertanya.

Joon-ho membuka tasnya, mengeluarkan empat buah drone sebesar kepalan tangan. “Modifikasi sendiri. Daya tahan 30 menit, kamera infra-merah, sensor gerak. Saya akan mengirimnya ke depan untuk memetakan posisi Goblin sebelum kita bertemu.”

Aku tercengang. *Dia membawa peralatan sendiri.* Bahkan di dunia dengan kekuatan supernatural, teknologi masih memiliki peran.

“Strateginya sederhana,” lanjut Joon-ho. “Kita tidak akan menghadapi semua Goblin sekaligus. Kita akan menarik perhatian satu kelompok, mengisolasi, lalu menghabisi dengan cepat. Ulangi sampai bersih. Prioritas: hindari pertempuran jarak dekat yang menguntungkan mereka. Manfaatkan keunggulan kita: Ji-woo bisa tahan serangan, Min-jae bisa kacaukan formasi mereka dari jarak jauh, Seo-yeon bisa pulihkan luka kecil sebelum jadi parah.”

Seo-yeon masih ragu. “Tapi… kalau kita dikepung?”

“Kemungkinan hanya 13% jika kita bergerak sesuai rute yang saya rencanakan.” Joon-ho menunjukkan tiga jalur retreat yang sudah ditandai. “Dan di sini—ada jurang kecil. Jika terdesak, Min-jae bisa menggunakan telekinesis untuk mendorong Goblin ke jurang. Itu lebih efisien daripada mencoba mengangkatnya.”

Aku merasa seperti sedang bermain catur dengan peta nyata. Setiap gerakan sudah dihitung, setiap kemungkinan sudah diantisipasi. Ini… sangat berbeda dari gaya ‘asal bertarung’ yang diajarkan di kelas.

“Kau sudah memikirkan segalanya, ya?” gumamku.

“Tidak,” jawab Joon-ho tiba-tiba, ekspresinya sedikit berubah—sedikit lebih manusiawi. “Saya tidak bisa memprediksi segalanya. Ada variabel acak: cuaca dalam Gate, kemunculan monster tidak terduga, kesalahan manusia, atau perubahan perilaku Goblin. Tapi rencana mengurangi ketidakpastian. Dan…” Dia menatap kami satu per satu. “…kalian adalah variabel terbesar. Saya tidak bisa memprediksi bagaimana kalian akan bereaksi di bawah tekanan nyata. Data latihan dan rekaman hanya memberi gambaran kasar.”

Itu pengakuan yang jujur. Dia tidak berpura-pura tahu segalanya.

“Jadi, besok,” kataku, “kita uji coba rencanamu. Dan kita lihat apakah kerjasama ini bisa berjalan.”

Joon-ho mengangguk. “Saya setuju. Untuk saat ini, saya sarankan kita berlatih formasi dasar: Ji-woo di depan, Min-jae di tengah, Seo-yeon di belakang. Coba bergerak bersama, komunikasi sinyal tangan, dan coba respons terhadap instruksi cepat dari saya.”

Kami berdiri, mulai mengatur posisi. Ji-woo dengan perisai kecil latihan, Seo-yeon dengan staf kayu, aku dengan… tangan kosong dan konsentrasi.

“Mulai!” perintah Joon-ho dari belakang.

Kami bergerak maju dalam formasi. Aku merasakan sesuatu yang aneh—rasanya seperti bagian dari mesin yang lebih besar. Ji-woo melindungi, aku siap mengganggu dari jarak jauh, Seo-yeon siap menyembuhkan. Dan di belakang, Joon-ho mengamati, mencatat, sesekali memberi koreksi.

“Min-jae, jarakmu terlalu dekat dengan Ji-woo. Mundur setengah meter.”

“Seo-yeon, pegang staf lebih rendah, itu menghalangi pandangan Min-jae.”

“Ji-woo, langkahmu terlalu lebar. Kurangi 20%, itu akan hemat stamina 15%.”

Latihan berlangsung satu jam. Aku kelelahan secara mental—harus terus waspada, mendengar instruksi, menjaga formasi. Tapi ada rasa percaya diri yang tumbuh perlahan. Kami mungkin tim underdog, mungkin dinilai rendah, tapi setidaknya kami punya rencana.

Setelah latihan, kami berpisah. Joon-ho menghampiriku sebelum pergi.

“Satu hal lagi, Min-jae,” katanya dengan suara rendah.

“Apa?”

“Saya melihat data penelitian ayahmu yang kau cari-cari beberapa minggu lalu.”

Aku membeku. *Bagaimana dia tahu?*

“Jangan khawatir, saya tidak menyebarkan. Tapi… kalau kau serius ingin menyelidiki kecelakaan lab itu, kita mungkin bisa bekerja sama. Saya punya akses ke arsip digital yang tidak semua orang bisa masuk.”

“Kenapa kau mau membantu?”

Joon-ho tersenyum tipis—untuk pertama kalinya. “Karena saya penasaran. Dan karena ayahmu, Dr. Kang Min-soo, adalah salah satu ilmuwan paling brilian dalam bidang dimensional physics. Kehilangannya adalah kerugian besar bagi sains.”

Dia berbalik pergi, meninggalkan aku berdiri dengan pikiran berputar kencang.

*Lee Joon-ho.* Strategist tanpa kekuatan tempur. Tapi mungkin justru dia yang akan menjadi kunci tak terduga dalam tim ini—dan dalam pencarianku akan kebenaran.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!