NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Kaenan mengangkat wajah nya, menatap mata gadis cantik yang sedang berurai airmata itu, ada sedikit ketenangan di dalam dada nya, saat melihat ketulusan dari gadis cantik itu. Gadis yang selalu hadir menguatkan hati nya, di saat saat dirinya terpuruk kedasar.

Air hujan luruh bersama air mata Kaenan dan Aisyah yang jatuh bersamaan.

"Kak!, Kae sudah memikirkannya masak masak, Kae tidak ingin terlalu larut dalam kedukaan ini, Kae tidak ingin melibatkan kalian, ijinkan Kae pergi menjauh, mengobati luka hati Kae saat ini, bukan karena Kae marah atau tidak suka, tetapi Kae perlu menata hati Kae dari awal kembali, biarkan untuk sementara waktu, Kae tinggal bersama Arif, hingga Kae mampu berdamai dengan hati Kae" ucap Kaenan.

Berat nian rasa hati Aisyah melepaskan kepergian Kaenan menjauh, namun gadis itu tahu, jika anak muda ini perlu waktu untuk bisa menerima semua nya yang terkesan begitu mendadak dan tiba-tiba ini.

Sekali lagi Aisyah merangkul tubuh anak muda yang paling disayangi nya itu, airmata nya kembali berderai.

Diapun harus belajar menerima keadaan sekarang, bahwa tidak selamanya, Pipit kecil nya dahulu harus tetap di dalam sangkar, kini saat nya Pipit kecil itu terbang menjadi Murai yang bersuara merdu, terbang mengarungi lautan takdirnya sendiri. Siap tidak siap, dia harus siap.

"Tapi adik harus sering menjenguk kakak ke pondok, setidaknya sebelum kakak pergi ke Kairo, berjanjilah dik" pinta nya.

Kaenan menatap wajah cantik jelita Aisyah, wajah dan senyum yang selalu membuat hati nya damai.

Kaenan berusaha meredam rasa yang tumbuh kian subur di dasar hati nya selama ini, rasa yang lain dari sekedar rasa persaudaraan. Rasa yang ia anggap tidak boleh tumbuh subur seperti rerumputan di musim hujan.

Ya!, rasa itu harus secepatnya diredam, sebelum rasa itu menghancurkan diri nya sendiri.

Aisyah ibarat matahari , sedangkan dia hanya ibarat seekor semut kecil, dia tahu jika terus membiarkan rasa itu tumbuh bersemi, panas terik matahari itu akan membakar hangus diri nya.

"Kak!, bila ada kehidupan lain, aku akan tetap memilih terlahir sebagai adik mu, beri aku waktu untuk menyembuhkan luka ini, aku teramat menyayangi mu, sekaligus menghormati mu, setiap sudut ku, aku akan selalu mendoakan kebaikan dan kebahagiaan mu, aku pergi kak!, terimakasih untuk semua nya" Kaenan memberanikan diri nya, mencium dahi gadis cantik itu untuk kali terakhir.

Sasak membuncah isi dada Aisyah, dia ingin menjerit sekuat kuat nya, namun suaranya tercekat di tenggorokan nya, yang keluar hanya tangis berat nya saja.

Hujan masih turun, saat Aisyah terduduk bersimpuh di sisi pusara bu Limah, wanita odgj berhati malaikat, yang telah memberikan cinta kasih paling tulus kepada Kaenan.

Sementara Kaenan melangkah pasti melewati pusara demi pusara, mengekor dibelakang Syarif satu satunya teman dan sahabat yang di miliki nya.

Ya!, dia sudah mengambil keputusan, untuk sementara, akan tinggal di pondok Syarif yang secara kebetulan memiliki nasib hampir serupa dengan nya itu. Dimana dua rasa yang sama bertemu, untuk saling menguatkan.

Pondok Syarif tidaklah besar, hanya ukuran empat kali enam meter, dengan satu ruang depan, dan satu ruang tengah merangkap ruang tidur.

Kaenan melepaskan baju nya yang basah oleh air hujan, tas usang berisi beberapa potong pakaian pembelian dari Aisyah dia bawa semua.

"Apakah aku tidak mengganggu mu Rif?" tanya Kaenan sesaat setelah mengganti pakaian basah nya.

"Selama kau bersedia tinggal di gubuk ku, aku tidak keberatan Mal, tetapi beginilah keadaan gubug ku, gubuk peninggalan almarhum nenek ku, ayo kita sama sama berjuang Kae, aku sudah menganggap kau adalah adik ku, toh usia ku lebih tua dari mu, namun nasib kita sama" ujar Syarif tulus.

"Kau tidak ingin melanjutkan kuliah Rif?" tanya Kaenan memperhatikan wajah sahabat nya itu.

Syarif tertawa lepas, hingga air matanya keluar dari sudut mata nya, "he, he, he, he!, kau lucu Kae, jangankan berkhayal tentang kuliah, berpikir kesitu saja aku tidak berani, kau tahu siapa aku?, bagai mana kehidupan ku?, bisa lulus SMA saja aku sudah sangat bersyukur Kae!" ujar Syarif.

Kaenan terdiam membisu, Syarif, anak muda yatim-piatu yang baru dia kenal beberapa bulan ini, ternyata memiliki kehidupan tidak kalah menyedihkan dibandingkan dengan diri nya.

Kaenan teringat beberapa waktu yang lalu, tuan Irfan yang mengaku ayah kandung nya itu, telah menawarkan agar dia melanjutkan kuliah saja atas biaya dari nya. Namun hingga detik ini, dia masih belum bisa menerima kehadiran orang orang itu dan melupakan luka nya yang terasa kian perih saat melihat wajah tuan Irfan dan Syafea. Wajah penindasan dan saat saat pukulan dijatuhkan, selalu membayangi setiap dia berusaha berdamai dengan hati nya. Hingga akhirnya, dia mengambil keputusan, untuk menjauh dari mereka dalam beberapa waktu, hingga dia bisa melupakan trauma jiwa nya, dan berdamai dengan keadaan.

"Kae!, aku hidup sebatang kara, maukah kau menjadi adikku?" tanya Syarif tiba-tiba.

Kaenan mengangkat wajah nya, menatap kearah anak muda itu dalam dalam, lalu kepala nya dianggukan.

Syarif mengulurkan jari kelingking kanan nya, yang disambut oleh Kaenan dengan mengaitkan jari kelingking kanan nya pula.

"Aku berjanji dan bersumpah, kau adalah adikku Dunia akhirat!" ucap Syarif.

"Aku juga berjanji dan bersumpah, bahwa kau adalah kakakku di Dunia dan akhirat" sahut Kaenan tersenyum.

"Mulai sekarang, bolehkan aku memanggil mu mas Arif?" tanya Kaenan.

Syarif tersenyum menganggukkan kepalanya, "tentu saja Kae, tapi aku akan tetap memanggil mu Kae saja, itu terasa lebih akrab" sahut nya.

Dia orang anak muda berbeda latar, namun memiliki kesamaan nasib, berjanji untuk saling menguatkan.

Dengan sisa sisa uang nya, Kaenan membeli beras dan keperluan nya di tempat Syarif.

Waktu terus bergerak, tanpa berhenti sedetik pun juga, akhirnya waktu keberangkatan Aisyah ke Kairo pun sudah tiba. Dara itu akan melanjutkan pendidikan nya di universitas Al Azhar Mesir.

Kaenan , bersama Kiai Nuruddin dan ummi Nazeha, mengantarkan gadis cantik itu ke bandara.

Di ruang tunggu, Aisyah menatap lama wajah Kaenan, anak kecil yang dulu dipungut sbi nya, kini menjelma menjadi seorang anak muda yang tampan dan pintar agama.

Sebelum berangkat, Aisyah sempat membisikan sesuatu di telinga Kaenan dengan mata nya yang berkaca kaca. sekuat daya, dia berusaha menahan air mata nya, agar tidak mengalir keluar.

Namun saat didalam pesawat, akhirnya air mata itu tumpah jua tak lagi mampu di bendung nya. Ada rasa kehilangan, namun dia tak mengerti apa yang hilang, ada rasa perih, namun dia tak tahu apa sebab nya, dan puncaknya, ada rasa sepi luar biasa yang mulai membelenggu jiwanya, meskipun saat itu pesawat sedang penuh dengan penumpang. sepi yang dia sendiri saja yang merasakan nya, sepi dalam keramaian, hening dalam kebisingan, dan sunyi ditengah banyak orang.

Ada rasa yang tertinggal, ada perih yang mendera, ada sesak namun tak dia mengerti apa sebab nya.

Sementara itu, ditanah air, Kaenan pulang ke rumah Syarif dengan mengendarai motor metik milik Aisyah yang diberikan gadis itu untuk Kaenan, karena dia tidak lagi memerlukan motor itu.

Saat tiba tiba rumah, Syarif sudah selesai memasak nasi dan menggoreng tempe serta ikan asin dan dua helai buah petai serta sambal terasi.

"Mandilah Mal!, kau pasti cape, selesai sholat, kita makan ya?" ....

"Iya mas!, maaf ya mas, hari ini mas Arif yang masak, besok besok giliran Kae deh mas!" ....

"Sudahlah Mal, no problem, kita saudara, aku senang tidak hidup sendirian lagi, ada kau yang mau menjadi adik ku" sahut Syarif sambil tersenyum.

Kaenan segera mandi, karena hari sudah mulai senja, dan suara orang mengaji terdengar dari pengeras suara masjid di kejauhan.

Selesai mandi, Kaenan bersiap siap sholat magrib.

"Kae!, tunggu aku mau ikut sholat!" ujar Syarif buru buru kebelakang mengambil air wudhu.

Azan di mesjid mulai terdengar sayup sayup, saat Syarif selesai mengambil air wudhu, dan berdoa.

"Mas, kau jadi imam nya ya?" pinta Kaenan pada Syarif.

"Jangan Kae, aku tidak hapal ayat, hanya Al-fatihah seadanya saja, kau saja Kae, aku dibelakang mu" ujar Syarif jujur.

Senja itu mereka sholat berjamaah berdua. Jika biasa nya saat Kaenan sholat, Syarif hanya diam saja, namun kali ini entah mengapa, hati nya tergerak ikut Kaenan sholat.

Setelah selesai sholat, mereka berdua makan dengan lauk seadanya. Walaupun begitu, Kaenan merasakan nikmat bukan main.

"Kae!, aku mau ke Rumah mang Hamit sebentar, kau ku tinggal dulu ya" ujar Syarif setelah mereka selesai makan.

"Ada apa ke Rumah mang Hamit mas?" tanya Kaenan.

"Mau menanyakan pekerjaan, beliau kan mandor bangunan, siapa tahu ada pekerjaan" sahut Syarif.

"Aku ikut ya mas?, aku juga mau kerja" pinta Kaenan.

"Bukan nya aku tidak mau mengajak mu Kae, kau kan adik ku sekarang, nah kepala keluarga kita adalah aku, maka kewajiban ku memberi makan adik ku! cegah Syarif tak mau Kaenan ikut kerja.

"Tidak mas!, justru kita hidup berduaan itu yang harus saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menjaga, iya kan mas, kalau kau menganggap aku adik mu, maka ijinkan aku bekerja bersama mu mas, aku juga sering ikut kerja bangunan sewaktu di pesantren dahulu" Kaenan bersikeras Ngin ikut bekerja.

Akhirnya, mereka berdua pergi ke Rumah mang Hamit dengan mengendarai motor metik.

Rumah mang Hamit cukup besar, namanya juga mandor bangunan. dua buah motor dan sebuah mobil Avanza terparkir di depan rumah nya.

"Assalamualaikum mang!, mang Hamit, ooo mang Hamit!, assalamualaikum!" ucap Syarif di depan teras.

"Wa' alaikum salam!" terdengar suara sahutan seorang wanita dari arah dalam Rumah, disertai terdengar suara langkah kaki.

"Krieeet!" ....

Suara daun pintu dibuka, dari balik pintu, muncul seorang gadis cantik dengan rambut yang masih basah.

"Oooh mas Syarif dan teman nya, nyari siapa mas?" tanya gadis itu.

"Maaf mengganggu malam malam, kami mau nyari Abah mu apa ada ya?" tanya Syarif.

"Ada!, ada!, sebentar ya mas, saya panggil dulu, silahkan duduk dulu deh!" ujar gadis itu buru buru masuk kembali kedalam Rumah.

Syarif dan Kaenan duduk di kursi teras, yang terbuat dari ban mobil itu.

Sementara Kaenan menatap sekitar Rumah mang Hamit yang lebih besar dari pada Rumah milik Kiai Nuruddin.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!