Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 merangkak dari kegelapan
Daftar Tingkat Kultivasi Tiga Alam
Jalan kultivasi adalah perjalanan menentang takdir, terbagi menjadi tiga alam besar dengan rintangan yang semakin tidak masuk akal di setiap tahapnya.
**I. Alam Fana (Mencari Jalan Dao)**
Tahap di mana manusia melepaskan belenggu kefanaan mereka, memupuk energi spiritual alam untuk memperkuat tubuh dan jiwa.
**Tahap Kondensasi Qi (Tingkat 1 - 9):** Menyerap energi spiritual (Qi) ke dalam tubuh untuk membuka meridian. Tubuh menjadi lebih kuat dari manusia biasa.
**Tahap Pondasi Spiritual (Awal, Menengah, Akhir, Puncak):** Mengubah Qi berwujud gas menjadi cairan di dalam Dantian. Membentuk fondasi atau akar spiritual yang menentukan potensi masa depan.
**Tahap Inti Emas (Awal, Menengah, Akhir, Puncak):** Cairan Qi memadat menjadi inti sekeras logam di Dantian. Memiliki umur panjang hingga ratusan tahun dan mampu terbang tanpa bantuan pusaka.
**Tahap Jiwa Lahir (Nascent Soul) (Awal, Menengah, Akhir, Puncak):** Membentuk jiwa kedua di dalam Inti Emas. Jika tubuh fisik hancur, jiwa ini bisa kabur dan mencari tubuh baru untuk dirasuki.
**Tahap Transformasi Fana (Awal, Menengah, Akhir, Puncak):** Titik puncak Alam Fana. Tubuh fisik mulai beradaptasi dengan hukum alam semesta, bersiap menerima energi abadi dari Dunia Tengah. Sering disebut sebagai manusia setengah dewa.
**II. Dunia Tengah / Alam Immortal (Menguasai Hukum Dao)**
Hanya mereka yang berhasil melewati Kesengsaraan Petir Surgawi di puncak Transformasi Fana yang dapat naik ke alam ini. Umur panjang bukan lagi masalah utama; fokusnya adalah pemahaman terhadap hukum absolut alam semesta.
**Tahap Ascensi Surgawi:** Mengganti Qi fana dengan Qi Abadi (Immortal Qi). Tubuh ditempa ulang menjadi Tubuh Abadi tingkat rendah.
**Tahap Abadi Sejati (True Immortal):** Benar-benar menyatu dengan satu elemen Dao. Kematian karena usia tua menghilang sepenuhnya.
**Tahap Raja Abadi:** Mampu menciptakan domain kecil di mana hukum alam tunduk pada kehendaknya. Menguasai sebagian wilayah di Dunia Tengah.
**Tahap Kaisar Abadi:** Mengendalikan berbagai hukum Dao sekaligus. Eksistensi yang memegang otoritas absolut di Dunia Tengah, mampu menghancurkan bintang dengan jentikan jari.
**Tahap Kesempurnaan Dao:** Batas akhir Dunia Tengah. Berusaha melepaskan diri dari aturan Dunia Tengah untuk memahami asal-usul penciptaan itu sendiri.
**III. Alam Dewa (Menciptakan Alam Semesta)**
Eksistensi mistis yang bahkan dianggap mitos oleh para Kaisar Abadi di Dunia Tengah. Di alam ini, kultivator tidak lagi mematuhi hukum, melainkan menjadi pembuat hukum itu sendiri.
**Tahap Dewa Berdaulat:** Memasuki Alam Dewa, energi berubah menjadi Energi Ilahi (Divine Energy).
**Tahap Raja Dewa:** Memiliki kendali penuh atas kehidupan dan kematian entitas di bawahnya.
**Tahap Penguasa Hukum:** Mewujud menjadi pilar hukum alam semesta. Kegelapan, cahaya, ruang, atau waktu—mereka adalah perwujudan dari elemen tersebut.
**Tahap Keabadian Sejati (Sang Pencipta):** Tahap akhir yang tak terlukiskan. Mereka berdiri di atas segalanya, pencipta tiga alam, eksistensi yang tidak terikat oleh waktu, ruang, maupun takdir.
Tebing Jurang Penyesalan terasa seperti bilah-bilah pedang tumpul yang menguliti telapak tangan. Lin Chen menggertakkan gigi, memaksakan jari-jarinya mencari pijakan sekecil apa pun di permukaan batu yang dingin dan berlumut. Angin malam berhembus kencang, berusaha menarik tubuhnya kembali ke dasar jurang yang kelam.
Bahu kirinya yang bergeser berdenyut menyakitkan setiap kali ototnya menegang. Keringat dingin terus mengalir menuruni pelipis, bercampur dengan kotoran tanah yang menempel di wajahnya. Proses memanjat ini bukan lagi soal kekuatan fisik, melainkan murni soal seberapa keras dia menolak untuk mati.
"Tiga ratus langkah lagi," gumam Lin Chen terengah-engah, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin. Matanya menatap ke atas, mencari bayangan tepi tebing di tengah kegelapan pekat.
Dia memutar untaian tipis Qi di dalam tubuhnya. *Napas Karang Esensi* yang baru saja dipelajarinya bekerja tanpa henti. Ketimbang meledakkan kekuatan sesaat, teknik ini menjaga aliran staminanya tetap stabil. Sensasi seperti ribuan jarum yang menusuk meridian kembali hadir menemani setiap tarikan napasnya. Lin Chen mengabaikan rasa sakit itu. Penderitaan ini jauh lebih baik ketimbang berakhir menjadi tumpukan tulang di bawah sana.
Setengah jam kemudian, tangan kanannya akhirnya mencengkeram akar pohon tebal di ujung tebing. Memaksa sisa tenaga terakhirnya, Lin Chen menarik tubuhnya naik dan terguling ke atas tanah keras berdebu.
Pemuda itu terbaring telentang, dadanya naik turun dengan kasar. Langit malam Hutan Pinus Berbisik membentang luas di atasnya, dihiasi bintang-bintang yang dingin dan acuh tak acuh. Dia telah kembali ke daratan, keluar dari mulut maut.
Tidak ada waktu untuk merayakan keberhasilan kecil ini. Bau darah di tubuhnya bisa memancing hewan buas berlevel rendah kapan saja. Lebih buruk lagi, Zhao Feng atau kaki tangannya mungkin masih berpatroli di sekitar pinggiran area sekte.
Memaksakan diri untuk duduk, Lin Chen merobek ujung lengan baju abu-abunya yang masih relatif bersih. Dia menggigit salah satu ujung kain tersebut, menggunakan tangan kanannya untuk mengikat luka robek di perutnya dengan kencang. Proses pengikatan itu membuat pandangannya kembali berkunang-kunang. Tulang bahu kirinya masih mati rasa, tanda bahaya bahwa jika tidak segera diluruskan dan diobati, lengannya akan lumpuh permanen.
Lin Chen menyeret kakinya, berdiri dengan bersandar pada sebatang pohon pinus. Dia mengamati sekeliling. Asrama pelataran luar Sekte Pedang Awan terletak sekitar lima mil dari posisinya saat ini. Perjalanan yang biasanya memakan waktu singkat dengan berlari kini terasa bagai jarak menuju benua lain.
Di tengah kesunyian hutan, layar cahaya biru transparan mendadak berkedip kembali di depan retinanya.
**[Situasi Pilihan Terdeteksi.]**
**[Kondisi Fisik: Kritis (Luka perut, bahu kiri bergeser, Qi tersisa 10%)]**
**[Silakan tentukan rute kembali ke asrama luar:]**
**[Pilihan 1: Mengambil jalur utama Hutan Pinus. Jarak terpendek. Terdapat risiko 70% bertemu dengan patroli malam kaki tangan Zhao Feng.
Hadiah: Menghemat waktu. Jika selamat, mendapatkan 1 Pil Pemulihan Darah tingkat rendah.]**
**[Pilihan 2: Memutar melalui Jalur Rawa Hitam di sisi barat. Medan beracun dan dipenuhi lintah penyedot Qi. Menghabiskan waktu tiga kali lipat lebih lama. Bebas dari jangkauan Zhao Feng.
Hadiah: Daun Teratai Penawar Racun, peluang menemukan peninggalan murid yang tewas.]**
**[Pilihan 3: Mengendap-endap melalui jalur suplai logistik dapur sekte. Rute sedang, penjagaan ketat oleh tetua logistik, anjing penjaga roh berkeliaran.
Hadiah: Resep Bubur Penguat Otot (Biasa).]**
Mata Lin Chen memindai ketiga opsi tersebut dengan cermat. Sistem ini benar-benar tidak mengenal belas kasihan. Tidak ada satupun pilihan yang menjamin keselamatan mutlak. Semuanya menuntut bayaran, entah itu risiko fisik atau konfrontasi.
Pilihan pertama menjanjikan pil penyembuh, benda yang sangat dia butuhkan. Risiko bertemu gerombolan Zhao Feng mencapai angka tujuh puluh persen. Dengan kondisinya yang sekarang, satu pukulan dari anak buah Zhao Feng sudah cukup untuk mengakhiri nyawanya. Mempertaruhkan nyawa demi sebutir pil tingkat rendah adalah tindakan bodoh.
Pilihan kedua menawarkan keamanan dari manusia, bersembunyi di balik keganasan alam. Rawa Hitam terkenal sebagai kuburan para murid luar yang tersesat. Menerobos medan beracun dengan luka terbuka sama saja dengan menawarkan diri menjadi santapan parasit penyedot Qi. Dia tidak memiliki penawar racun untuk bertahan melewati jalur itu.
Perhatian Lin Chen tertuju pada Pilihan 3. Jalur logistik. Tetua yang berjaga biasanya tidur nyenyak di posnya menjelang tengah malam. Masalah utamanya adalah anjing penjaga roh. Hewan penciuman tajam itu akan langsung mendeteksi bau darahnya dari jarak ratusan meter.
Lin Chen mengingat sebuah detail kecil dari pengalamannya membersihkan kandang hewan sekte setahun lalu. Anjing penjaga roh sangat membenci aroma getah pinus merah yang menyengat, yang banyak tumbuh di bagian utara hutan ini.
Mengambil keputusan, Lin Chen meraup segenggam tanah basah di bawah kakinya dan mengusapkannya ke seluruh tubuhnya, menutupi bau amis darah sebisa mungkin. Dia berjalan tertatih-tatih menuju ke utara, mencari pohon pinus berdaun merah. Setelah menemukan pohon yang tepat, dia mematahkan beberapa ranting, mengoleskan getahnya yang kental dan berbau tajam ke sekujur pakaian dan kulitnya. Bau getah itu sangat memusingkan, hampir membuat isi perutnya melilit.
"Sistem, aku memilih opsi ketiga," ucap Lin Chen dalam hati.
Layar biru berkedip pelan, menandakan pilihannya telah dicatat.
Perjalanan malam itu dipenuhi dengan ketegangan yang menguras mental. Lin Chen menyusuri jalan setapak berbatu yang digunakan oleh kereta pengangkut bahan makanan. Setiap suara daun bergesek membuatnya menahan napas dan bersembunyi di balik bayangan.
Memasuki area pos penjagaan logistik, dia melihat dua ekor anjing penjaga roh berbulu hitam legam sedang tertidur di depan sebuah bangunan kayu. Lin Chen merangkak di semak belukar sejauh lima puluh meter dari mereka. Jantungnya berdebar kencang saat salah satu anjing itu terbangun, mengendus udara, lalu bersin berkali-kali karena bau getah pinus yang mengganggu penciumannya. Hewan itu melolong kesal, menggaruk hidungnya, sebelum akhirnya kembali melingkarkan tubuhnya untuk tidur.
Lin Chen tidak berani menghembuskan napas lega sampai dia benar-benar melewati area tersebut dan melihat deretan bangunan kayu reot yang merupakan asrama pelataran luar.
**[Pilihan 3 diselesaikan.]**
**[Hadiah didistribusikan: Resep Bubur Penguat Otot (Biasa) masuk ke lautan spiritual.]**
Pengetahuan tentang resep tersebut muncul di kepalanya. Bahan-bahannya cukup sederhana: akar ginseng liar, beras roh kualitas rendah, dan empedu ular. Masalahnya, dia tidak memiliki satu pun bahan tersebut saat ini. Hadiah dari sistem selalu berupa peluang, bukan benda instan yang jatuh dari langit. Semuanya harus dia cari sendiri.
Lin Chen mempercepat langkah kakinya menuju gubuk miliknya yang terletak di sudut paling terpencil area asrama. Daerah ini dihuni oleh murid-murid terlemah yang tidak memiliki perlindungan atau faksi.
Saat dia mendorong pintu kayunya yang reyot, alisnya langsung bertaut tajam.
Gubuk kecilnya berantakan. Tikar jeraminya robek-robek. Lemari kayu tua satu-satunya telah hancur berkeping-keping. Pakaian gantinya berserakan di lantai, bercampur dengan tumpahan sisa air minumnya.
Zhao Feng dan kelompoknya telah menggeledah tempat ini saat dia berjuang menyelamatkan diri di tebing.
Lin Chen berdiri diam di ambang pintu, menatap kehancuran kamarnya dengan mata dingin. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada teriakan sumpah serapah. Di sekte ini, yang lemah tidak memiliki hak untuk marah. Kemarahan tanpa kekuatan hanyalah gonggongan anjing yang menyedihkan.
Dia menutup pintu rapat-rapat, mengunci selotnya yang sudah goyah. Berjalan menuju sudut ruangan dekat dinding batu, Lin Chen berlutut. Dia menghitung batu bata ketiga dari bawah, lalu menekannya kuat-kuat hingga bergeser. Di balik batu bata itu terdapat sebuah lubang kecil seukuran kepalan tangan.
Lin Chen merogoh ke dalam lubang itu dan menarik napas lega. Benda yang dia sembunyikan masih ada. Zhao Feng terlalu bodoh atau terlalu terburu-buru untuk menyadari tempat persembunyian rahasia ini.
Benda itu adalah sebuah Batu Roh tingkat rendah, berukuran sebesar kuku ibu jari, memancarkan cahaya putih yang sangat redup. Ini adalah hasil tabungannya selama dua tahun mengerjakan tugas membelah kayu di dapur sekte, menyisihkan sebagian kecil upahnya demi masa depan. Di sekte luar, satu batu roh ini cukup untuk menyewa jasa tabib tingkat rendah.
Dia tidak berencana menggunakannya untuk menyewa tabib. Tabib sekte luar dikenal suka memeras murid miskin. Jika dia menunjukkan batu roh ini, besok seluruh asrama akan tahu, dan kaki tangan Zhao Feng akan datang merampasnya.
Lin Chen duduk bersila di tengah ruangan yang berantakan, menempatkan batu roh kecil itu di telapak tangan kanannya.
"Bahu kiriku tidak bisa dibiarkan sampai besok pagi," batinnya. Dia memejamkan mata, memusatkan perhatian pada area bahu yang bergeser. Tulang sendinya keluar dari mangkuknya. Menariknya kembali ke posisi semula secara paksa akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan berpotensi merobek jaringan otot di sekitarnya.
Dia mengaktifkan *Napas Karang Esensi*.
Udara di dalam ruangan kecil itu mulai berputar lambat. Lin Chen menyedot energi spiritual langsung dari batu roh di tangannya. Energi dari batu roh jauh lebih murni dibandingkan energi alam bebas. Aliran panas seketika merasuk ke dalam meridian telapak tangannya, mengalir cepat menuju dadanya.
*Napas Karang Esensi* yang tidak kenal ampun langsung memproses energi murni tersebut. Sensasi jarum tajam kembali menggores dinding meridiannya, kali ini lebih intens karena volume energi yang lebih besar. Otot wajah Lin Chen menegang. Dia mengarahkan seluruh aliran energi panas itu menuju bahu kirinya yang lumpuh.
Qi berwarna kemerahan mulai menumpuk di sekitar sendi yang bergeser, membungkus otot-otot yang robek, memberikan efek pembiusan sementara sekaligus merangsang regenerasi sel.
Menyadari waktu pembiusannya sangat singkat, Lin Chen membuka matanya yang penuh dengan urat merah. Dia menggeser tubuhnya mendekati tiang kayu penyangga gubuk.
Tanpa keraguan sedikit pun, dia mengikatkan sisa kain bajunya ke bahu kirinya, melingkarkannya ke tiang kayu penyangga. Menahan napas dalam-dalam, dia memutar tubuhnya dengan keras dan menyentakkan bahunya ke arah yang berlawanan.
*KRAAAK!*
Suara tulang bergesekan bergema mengerikan di dalam gubuk.
"ARGH!" Lin Chen menggigit lidahnya sendiri untuk mencegah teriakan keras keluar dari tenggorokannya. Darah segar menetes dari sudut bibirnya. Keringat sebesar biji jagung meluncur deras membasahi wajah dan punggungnya.
Bahu kirinya kembali masuk ke posisinya. Gelombang rasa sakit pasca-reposisi menghantam sistem sarafnya seperti palu godam. Pandangannya menggelap selama beberapa detik.
Lin Chen segera melanjutkan putaran *Napas Karang Esensi*. Dia membimbing energi dari batu roh untuk menenangkan peradangan di bahunya. Proses penyembuhan kultivator tidak sesederhana menyambung tulang. Aliran Qi harus memastikan tidak ada bekuan darah yang menghalangi meridian di area luka. Jika dibiarkan, luka fisik akan sembuh, membiarkan cacat kultivasi permanen yang menghambat terobosan di masa depan.
Satu jam berlalu. Batu roh di tangannya perlahan kehilangan cahayanya, berubah menjadi batu abu-abu biasa yang rapuh. Energi spiritualnya telah terkuras habis.
Bahu kirinya masih berdenyut nyeri, jauh dari kata sembuh total, pergerakannya tidak lagi terhambat. Luka robek di perutnya kini terbungkus keropeng yang kokoh berkat bantuan energi dari batu roh.
Lin Chen memeriksa kondisi Dantian-nya. Pusaran Qi di pusat tubuhnya sedikit lebih besar dari sebelumnya, berwarna lebih padat. Dia telah mencapai batas akhir Tahap Kondensasi Qi tingkat pertama, hampir menyentuh dinding pembatas tingkat kedua.
Sayangnya, "hampir" tidak memiliki arti di dunia kultivasi. Tanpa dorongan energi yang kuat, dia mungkin terjebak di batas ini selama berbulan-bulan. Bakat bawaannya, Akar Spiritual berelemen ganda (Kayu dan Tanah), memiliki kualitas yang sangat rendah. Penyerapan energinya alami sangat lambat, lebih banyak terbuang ke udara ketimbang diserap tubuh. Itulah alasan utama mengapa dia sangat menginginkan Rumput Roh Darah sebelumnya.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Cahaya keemasan menyusup melalui celah-celah dinding kayu gubuknya.
Lin Chen berdiri perlahan, membersihkan kotoran di pakaiannya. Rasa lapar yang luar biasa kini menyerang perutnya. Pertarungan, memanjat tebing, dan menyerap energi telah membakar seluruh cadangan kalorinya.
Dia mengingat hadiah resep dari Sistem: Bubur Penguat Otot. Mengonsumsi makanan biasa di kantin sekte luar hanya akan mengisi perut tanpa memberikan manfaat pada meridiannya. Jika dia ingin menembus tingkat kedua secepatnya dan bersiap menghadapi pembalasan Zhao Feng, dia harus mulai mengumpulkan bahan untuk resep tersebut.
Akar ginseng liar bisa dicari di sekitar perbukitan belakang sekte saat siang hari, meskipun agak berisiko berpapasan dengan murid lain. Empedu ular merupakan barang komoditas di Pasar Gelap pelataran luar. Beras roh adalah jatah bulanan yang bisa dia ambil dua hari lagi.
Masalah utama saat ini adalah uang. Membeli empedu ular di pasar gelap membutuhkan pecahan perak atau batu roh. Dia baru saja menghabiskan satu-satunya harta karun miliknya semalam.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan kasar di pintu kayunya membuyarkan lamunan Lin Chen.
"Lin Chen! Aku tahu kau ada di dalam, dasar sampah!" Suara serak dan menyebalkan terdengar dari luar. Itu bukan Zhao Feng. Suara itu milik Wang Ke, salah satu pesuruh tingkat rendah yang sering memeras murid-murid miskin atas nama pengawas asrama.
Mata Lin Chen menajam. Wang Ke hanya berada di Tahap Kondensasi Qi tingkat kedua awal, berbekal kekuatan fisik murni dan teknik tinju jalanan murahan. Di masa lalu, Lin Chen akan menundukkan kepala dan memberikan beberapa koin tembaga agar tidak diganggu.
Saat tangannya bergerak menuju gagang pintu, layar cahaya biru kembali membelah pandangannya.
**[Situasi Pilihan Terdeteksi.]**
**[Wang Ke datang untuk menagih 'Biaya Perlindungan' bulanan.]**
**[Pilihan 1: Buka pintu, memohon belas kasihan, dan berjanji akan membayar ganda bulan depan.
Hadiah: Anda akan dipukuli hingga luka bahu kiri Anda terbuka kembali. Mendapatkan gelar 'Pengecut Abadi'.]**
**[Pilihan 2: Bersembunyi di dalam, berpura-pura tidak ada orang.
Hadiah: Wang Ke akan merobohkan pintu gubuk Anda. Anda kehilangan tempat tinggal selama musim dingin mendatang.]**
**[Pilihan 3: Buka pintu, manfaatkan momentum kejutan, serang titik lemahnya di bawah tulang rusuk kanan, dan lucuti hartanya.
Hadiah: Anda berhasil mengintimidasi Wang Ke. Mendapatkan 5 Keping Perak dan Peta Pasar Gelap Pelataran Luar.]**
Tidak ada keraguan yang terlintas di wajah Lin Chen. Dia telah mati satu kali di tebing Jurang Penyesalan. Kesabarannya terhadap penghinaan telah habis terbakar bersama darahnya tadi malam.
Pilihan ketiga memerintahkannya untuk menyerang, memperingatkan bahwa musuh memiliki titik lemah. Sistem tidak memberinya kekuatan untuk mengalahkan Wang Ke secara ajaib, ia hanya memberikan informasi. Eksekusinya bergantung sepenuhnya pada keberanian dan ketepatan perhitungan Lin Chen sendiri.
Lin Chen mengatur napasnya. Mengalirkan seluruh sisa Qi yang baru dia kumpulkan dari batu roh ke tangan kanannya. Dia membiarkan bahu kirinya rileks, menyembunyikan lukanya.
Tok! Tok! Brak!
Wang Ke mulai menendang pintu kayu yang malang itu. "Buka pintunya, bocah miskin! Jangan bersembunyi seperti tikus mati—"
*Cklek.*
Lin Chen membuka selot pintu dengan cepat dan menarik pintunya ke dalam tepat saat Wang Ke menendang ke depan.
Kehilangan keseimbangan akibat tendangannya yang mengenai udara kosong, tubuh gendut Wang Ke terhuyung ke depan memasuki gubuk. Matanya membelalak kaget melihat Lin Chen tidak meringkuk ketakutan di sudut ruangan seperti biasanya, melainkan berdiri tegak di samping pintu dengan tatapan sedingin es.
Tidak membuang waktu sedetik pun, Lin Chen memutar tubuhnya. Memanfaatkan momentum Wang Ke yang jatuh ke depan, tinju kanan pemuda itu melesat membelah udara. Energi kemerahan dari *Napas Karang Esensi* melapisi buku-buku jarinya, memberikan ketebalan sekeras batu.
*Buagh!*
Tinju itu bersarang tepat di bawah tulang rusuk kanan Wang Ke. Titik pertemuan jaringan meridian yang rentan.
"Uhk!" Mata Wang Ke melotot. Napasnya tercekat seketika. Rasa sakit tajam menusuk organ dalamnya, melumpuhkan aliran Qi di tubuhnya dalam hitungan detik.
Sebelum Wang Ke sempat berteriak, Lin Chen menggunakan kakinya untuk menyapu lutut pria itu, membuatnya jatuh berlutut di lantai gubuk yang kotor. Lin Chen dengan cepat menekan tengkuk Wang Ke dengan siku kanannya, sementara tangan kirinya—meskipun sakit—mencengkeram kerah baju pria itu erat-erat.
"A-apa yang kau lakukan, Lin Chen?! Kau berani menyerangku?! Kakak Zhao Feng akan—"
"Tutup mulutmu," bisik Lin Chen tepat di telinga Wang Ke. Suaranya datar, tanpa emosi, lebih mengerikan dari ancaman penuh kemarahan. "Zhao Feng mengira aku sudah mati. Jika kau membuat keributan, aku akan memastikan kau mati sebelum dia tahu aku masih hidup."
Udara dingin merayap di punggung Wang Ke. Dia bisa merasakan niat membunuh yang nyata memancar dari tubuh pemuda di atasnya ini. Ini bukan Lin Chen yang penakut seperti biasanya. Orang yang mencengkeram lehernya ini adalah seekor serigala kelaparan yang baru kembali dari neraka.
Lin Chen tidak menunggu jawaban. Tangan kanannya dengan gesit menggeledah saku pakaian Wang Ke. Dia menemukan sebuah kantong kecil berisi beberapa keping perak dan selembar kulit domba usang. Sesuai dengan deskripsi Sistem.
"Lima keping perak. Anggap saja ini pinjaman paksa," ucap Lin Chen sambil memasukkan kantong itu ke sakunya sendiri. Dia kemudian melepaskan cengkeramannya dan menendang tubuh Wang Ke menjauh ke arah pintu keluar.
"Keluar. Jika ada satu orang pun yang tahu kau datang ke sini hari ini, aku akan merobek lehermu saat kau tidur."
Wang Ke terbatuk-batuk, memegangi tulang rusuknya yang kesakitan. Dia menatap Lin Chen dengan campuran rasa takut dan tidak percaya, lalu bergegas merangkak keluar dari gubuk tanpa berani menoleh ke belakang.
Lin Chen menutup pintu kembali. Menarik napas panjang, dia menyeka keringat di dahinya. Serangan singkat tadi telah menguras seluruh staminanya yang tersisa. Bahu kirinya kembali berdenyut, memberontak atas pergerakan tiba-tiba tersebut.
Layar biru berdenting pelan.
**[Pilihan 3 diselesaikan.]**
**[Hadiah: 5 Keping Perak dan Peta Pasar Gelap Pelataran Luar (Berhasil diakuisisi).]**
Lin Chen membuka lembaran kulit domba yang dia rampas. Itu bukan peta sekte biasa. Peta ini menunjukkan jalur-jalur tikus di bawah area sekte luar, tempat berkumpulnya para pedagang gelap, pencuri, dan kultivator liar yang memperdagangkan barang-barang tanpa campur tangan tetua sekte.
Dia kini memiliki uang perak dan jalur akses. Langkah selanjutnya adalah mendapatkan empedu ular dan meracik Bubur Penguat Otot.
Dia duduk di tanah, kembali menenangkan pernapasannya dengan *Napas Karang Esensi*. Jalan menuju kekuatan tidak bisa ditempuh dalam satu malam. Setiap tetes Qi harus diperjuangkan dengan darah, setiap sumber daya dirampas dengan kecerdasan.
Di Alam Fana ini, sistem hanya menunjuk ke arah celah kecil di tembok keputusasaan. Terserah pada Lin Chen sendiri untuk menghancurkan tembok tersebut menggunakan kedua tangannya yang berdarah. Menatap ke arah luar gubuknya, tekad di matanya mengeras seperti baja yang baru ditempa. Hari ini dia memukul mundur seorang pesuruh tingkat rendah. Kelak, seluruh pelataran luar, para tetua, dan langit Dunia Tengah akan mengingat namanya.