NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Zara menunjuk ke arah rak atas dengan sikunya karena tangannya penuh dengan tepung.

“Tolong ambilkan wadah kismis dan kayu manis bubuk di rak paling atas. Tubuhku terlalu pendek untuk mencapainya.”

Benedict menatap rak tersebut, lalu menatap Zara dengan tidak percaya. “Kau sedang menjadikanku pelayan?.”

“Anggap saja begitu, Tuan,” jawab Zara santai, ia memberikan senyum termanisnya.

“Lagi pula, kau memiliki tinggi badan yang sangat berguna untuk saat-saat seperti ini. Sayang sekali kalau hanya dipakai untuk bersandar disitu.”

Mendengar sindiran halus itu, Benedict menghembuskan napas berat. Meskipun dalam hati ia merasa tidak masuk akal karena seorang pemilik Equinox Ventures diperintah mengambil bahan kue, kakinya tetap melangkah maju.

Dengan mudah Benedict mengambil wadah kayu manis dan kismis tersebut dari rak tinggi. Ia meletakkannya di depan Zara dengan sedikit ketukan keras.

“Ini,” ucap Benedict ketus.

“Terima kasih, Tuan. Kau ternyata pelayan yang cukup cekatan,” puji Zara, namun ada nada geli yang tertahan dalam suaranya.

Benedict hanya mendengus dan kembali mundur ke dekat mesin kopi. Sementara Zara kembali menenggelamkan dirinya ke dalam pekerjaan.

Waktu bergulir cepat seiring fajar yang mulai pecah di langit. Pukul tujuh pagi, aroma mentega panggang dan wangi kayu manis telah memenuhi setiap sudut toko. Zara dengan cekatan menata deretan croissant dan roti-roti lainnya ke dalam etalase kaca. Begitu papan tanda di depan dibalik menjadi open, denting bel diatas pintu mulai berbunyi.

Pelanggan mulai berdatangan. Zara menjadi sangat sibuk. Ia bergerak lincah di balik meja konter, mengambil pesanan, membungkus roti dengan kertas cokelat, dan memberikan senyum ramah kepada setiap orang yang datang.

“Morning, Zack. Seperti biasa, dua roti gandum dan kopi hitam tanpa gula?” sapa Zara pada pelanggan setianya.

“Morning, Zara. Yes, please” jawab Zack sambil tersenyum, menyodorkan beberapa lembar dolar.

Setelah Zack pergi, bel pintu kembali berdenting, membawa sekelompok wanita kantoran yang langsung mengantri di depan etalase.

“Aku mau tiga croissant cokelat dan satu cinnamon roll yang baru matang itu,”

“Tentu, tunggu sebentar ya,” sahut Zara cekatan.

Menggunakan penjepit makanan, ia memindahkan roti-roti hangat itu ke dalam kantong kertas.

“Ini dia. Masih sangat hangat, berhati-hati lah saat memakannya” ucap Zara.

Setiap gerak-terik Zara tidak lepas dari mata Benedict. Ada sesuatu yang aneh dalam dada Benedict saat melihat senyum lepas yang Zara berikan pada orang asing, senyuman yang belum pernah gadis itu tunjukkan padanya.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, pintu toko di dorong terbuka dengan sedikit tergesa-gesa. Luca, melangkah masuk. Ia membungkuk hormat sekilas pada Zara sebelum melangkah cepat menghampiri Benedict di sudut ruangan.

“Tuan,” bisik Luca yang hanya bisa di dengar Benedict.

“Ada masalah darurat terkait investasi Equinox di pelabuhan Brooklyn. Seseorang sengaja membocorkan dokumen audit internal kita ke publik.”

Rahang Benedict mengeras seketika. “Siapkan mobil,” perintah Benedict.

“Sudah siap di depan, Tuan,” sahut Luca, lalu melangkah mundur untuk memberi jalan.

Sebelum benedict sempat melangkah menuju pintu keluar, suara langkah kaki yang terburu-buru menahannya. Zara datang setengah berlari dari balik konter.

“Tuan, tunggu,” panggi Zara.

Benedict menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh dengan alis yang bertaut tajam.

“Kau belum sarapan sama sekali, makanlah ini di dalam mobil.”

Benedict menatap kantong kertas di tangan Zara, lalu beralih menatap wajah gadis itu. Di belakang mereka, Luca sempat menahan napas, terkejut melihat kelancangan Zara yang berani menahan langkah seorang Franklin yang sedang dalam mode memburu. Luca bersiap mengantisipasi jika benedict akan menepis kantong itu, namun tebakannya salah besar.

Setelah hening beberapa saat, tangan benedict terulur. Ia menyambar kantong kertas cokelat itu daru genggaman Zara, meremas bagian atasnya dengan kasar.

“Terima kasih sudah membantuku, semoga harimu menyenangkan, Tuan” ucap Zara lembut.

Benedict tidak menjawabnya, ia langsung berjalan cepat memasuki mobil SUV hitamnya yang langsung melesat membelah jalanan. Sebuah helaan napas panjang lolos dari bibir Zara, namun sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mobil berhenti tepat di depan gedung. Begitu Benedict melangkah keluar dari lift eksekutif menuju ruang rapat di lantai teratas, atmosfer di sekitar koridor langsung mendingin.

Luca membukakan pintu. Di dalam ruangan, sepuluh anggota dewan direksi sudah duduk mengelilingi meja. Ketegangan di ruangan itu begitu pekat hingga suara tarikan napas pun terdengar jelas.

Benedict berjalan ke ujung meja tanpa ekspresi. Ia tidak langsung duduk. Pria itu menumpu kedua tangannya di atas meja, menatap satu per satu pria di hadapannya. Kantong kertas cokelat pemberian Zara ia letakkan begitu saja di atas meja.

“Dua puluh menit,” suara Benedict memecah keheningan. “Aku memberi kalian waktu dua puluh menit untuk menjelaskan bagaimana dokumen yang di bawah enkripsi militer bisa sampai ke tangan pers.”

Marcus, salah satu direktur senior, berdehem mencoba mempertajam wibawanya meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Mr. Franklin, kita harus realistis. Kebocoran ini berdampak langsung pada saham Equinox. Proyek pelabuhan Booklyn adalah investasi terbesar kita tahun ini. Jika audit ini membuktikan adanya aliran dana tidak resmi, FBI akan turun tangan.”

“Kami sedang melakukan pelacakan, Sir,” sahut Robert, kepala divisi keamanan siber, dengan suara bergetar.

“Tapi pelakunya menggunakan jaringan terproteksi dari dalam gedung ini. Aksesnya menggunakan kode otorisasi tingkat tinggi,” lanjut Robert.

Benedict menegakkan tubuhnya, melipat tangan di depan dada. Senyum sinis yang dingin terukir di wajah tegasnya.

“Artinya, salah satu dari kalian yang duduk di meja ini telah menjualku” desis Benedict.

Ruangan itu seketika menjadi semakin mencekam. Para direktur saling pandang dengan raut wajah penuh kecurigaan dan ketakutan. Mereka semua tahu apa konsekuensi jika berkhianat pada seorang Franklin.

“Mr. Franklin, kau tidak bisa menuduh dewan direksi tanpa bukti,” protes Marcus. “Kita semua kehilangan uang karena kejadian ini!”

“Uang bisa kucari dalam semalam, Marcus,”

Benedict melangkah perlahan mengitari meja, berhenti depat di belakang kursi Marcus. Ia membungkuk sedikit, memberikan tekanan yang luar biasa pada pria tua itu.

“Tapi kesetiaan? Sekali kau melanggarnya, kau membayar dengan nyawamu.”

Benedict kembali ke ujung meja, lalu menatap Luca yang berdiri siaga di dekat pintu.

“Luca, kunci gedung ini. Tidak ada yang boleh keluar, tidak ada panggilan telepon, dan matikan seluruh jaringan luar sampai Robert menemukan dari komputer mana dokumen itu dikirim.”

“Baik, Tuan,” sahut Luca, segera menekan tombol di perangkat genggamnya.

Benedict akhirnya duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia menarik kantong kertas cokelat dari Zara, membukanya dengan perlahan, lalu mengambil sepotong croissant. Sambil menatap para direksi yang kini pucat pasi ketakutan.

“Rapat dimulai dari sekarang. Dan kuharap, sebelum roti ini habis, aku sudah mendapatkan satu nama.”

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!