NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:145.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerajaan Utara

Keesokan paginya, para prajurit sudah bersiap, menunggangi kuda masing-masing. Sementara dua orang dayang, Ana dan Isol, berdiri cemas di dekat seekor kuda berwarna cokelat kemerahan yang tampak tenang namun berbadan besar dan kuat.

Azura berdiri di sana, mengenakan pakaian perjalanan yang lebih sederhana dan longgar agar mudah bergerak, rambut hitam panjangnya diikat satu ke belakang agar tidak menghalangi. Wajahnya masih tampak pucat dan lelah, namun matanya kembali berkilat penuh tekad yang tak tergoyahkan. Ia menolak tawaran Ana untuk membantunya naik atau meminta kuda yang lebih jinak. Ia juga menolak tawaran agar ia duduk di belakang salah satu prajurit.

"Aku bisa sendiri," ucapnya pelan namun tegas, saat kedua dayangnya berusaha membujuk.

"Dulu aku pernah belajar," tambahnya.

Xavier yang sudah duduk tegak di atas kuda hitam besarnya, mendengar ucapan itu sambil duduk agak jauh di barisan depan. Ia tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum miring yang penuh keraguan.

"Kalau kau jatuh dan terluka, jangan berharap aku akan berhenti atau menolongmu," seru Xavier tiba-tiba, suaranya dingin dan terdengar jelas di antara deru napas kuda-kuda itu. Ia menoleh sedikit, menatap sekilas ke arah Azura dengan tatapan tajam yang tak berperasaan.

Azura menatap punggung lebar itu sejenak,

"Aku tidak akan meminta kau menolongku pangeran, tenang saja." balasnya lalu mengangkat roknya sedikit agar tidak terinjak. Dengan bantuan sedikit dorongan dari Ana, ia berhasil naik ke atas punggung kuda itu. Tubuhnya sedikit goyah saat pertama kali duduk di pelana tinggi itu, tangannya mencengkeram tali kekang dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kuda itu menggerakkan kepalanya sedikit, mendengus keras seolah merasa asing dengan penunggang barunya yang belum terbiasa.

"Tenang, tenang ..." bisik Azura lirih pada hewan itu, berusaha menenangkan dirinya sendiri juga. Ia mengingat kembali pelajaran masa kecilnya, cara menyeimbangkan berat badan, cara menekan paha, cara mengendalikan arah.

Perjalanan dimulai. Barisan kecil itu bergerak masuk lebih dalam ke jalur pegunungan yang berliku-liku, tanahnya berbatu dan jalanannya sempit di beberapa sisi. Di awal perjalanan, Azura benar-benar kesulitan. Tubuhnya sering terguncang ke kiri dan kanan, lututnya kaku mencengkeram sisi kuda, pinggangnya sakit karena harus terus menyeimbangkan diri.

Beberapa kali ia hampir tergelincir turun saat kuda itu melangkah melewati bebatuan besar atau jalan yang miring. Ana dan Isol selalu berteriak kaget dan ingin mendekat, namun Azura selalu menggeleng, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja, meski keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.

Di barisan depan, Xavier tampak tenang dan santai, menunggangi kudanya dengan keahlian luar biasa seolah ia menyatu dengan hewan itu. Namun, matanya yang tajam sesekali melirik ke belakang, ke arah sosok mungil yang berjuang keras itu. Ia melihat betapa tegangnya bahu Azura, dan seberapa sering ia memejamkan mata saat melewati tikungan curam.

Setiap kali Azura terhuyung dan hampir jatuh, jantung Xavier seakan berhenti berdetak sedetik. Tangan di tali kekangnya mengepal erat, instingnya berteriak untuk segera memacu kudanya kembali dan menangkap wanita itu sebelum ia menyentuh tanah.

Namun rasa marah yang masih mendominasi hatinya selalu menahannya. Ia hanya akan menampilkan senyum miring yang penuh ejekan di wajahnya, meski di dalam sana ia terus mengawasi setiap gerak-geriknya dengan saksama, memastikan kuda-kuda di belakang dan samping tidak terlalu dekat atau terlalu cepat agar tidak membuat Azura terdesak.

Biarkan saja,

batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri.

Dia yang mau. Dia yang ingin bertindak mandiri. Kalau dia jatuh, itu risiko yang dia pilih sendiri.

Perjalanan itu berlangsung seharian penuh. Semua orang mulai lelah, apalagi Azura. Pinggang dan pahanya terasa nyeri luar biasa, tulang-tulangnya seakan bergetar lemas karena guncangan yang tak henti sejak pagi.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan ritmenya. Gerakannya tidak lagi kaku, cengkeramannya tidak lagi terlalu kuat namun lebih terkontrol. Ia mulai mengikuti irama langkah kuda itu, menyeimbangkan tubuhnya dengan lebih luwes.

Ia berhasil. Meski lelah, meski sakit, ia berhasil membuktikan bahwa ia mampu. Ia tidak mengeluh, tidak menangis, dan tidak sekali pun meminta bantuan. Semangat itulah yang membuat Hugo dan para prajurit lain yang tadinya memandang rendah, mulai menatapnya dengan pandangan yang sedikit berubah, meski masih bercampur curiga.

Mereka akhirnya sampai di sebuah gerbang batu besar yang menjulang kokoh di antara dua bukit tinggi. Di atas gerbang itu, terukir lambang yang sama persis dengan benda logam yang ditemukan Hugo kemarin malam. Mereka telah sampai di perbatasan wilayah Kerajaan Utara.

Kuda-kuda melambat langkahnya. Xavier menghentikan kudanya tepat di depan gerbang, menunggu para penjaga perbatasan yang terkejut melihat kedatangan rombongan Pangeran dari Barat ini. Ia menoleh ke belakang, menatap Azura yang kini tampak sangat lelah, wajahnya pucat, namun duduk tegak di atas kudanya dengan kepala terangkat tinggi, menatap gerbang itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Selamat datang di tempat asalmu, putri," ucap Xavier dingin, suaranya rendah namun terdengar jelas dalam keheningan

Matanya menatap tajam ke arah wanita itu, mencari reaksi apa pun.

"Sekarang permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di sini, di tanahmu sendiri, kita akan lihat seberapa hebat sandiwara dan rencanamu."

Azura menatap balik, matanya yang lelah namun indah menatap lurus ke manik mata abu-abu itu. Ia tersenyum tipis, senyum yang penuh misteri.

"Terima kasih, pangeran, sudah membawaku pulang ke rumahku." jawabnya pelan, suaranya sedikit serak namun tenang.

Xavier terdiam sejenak, tertegun oleh ketenangan dan keberanian di mata wanita itu. Sebelum ia sempat menjawab, gerbang besar itu terbuka perlahan, menyambut mereka masuk ke dalam wilayah yang penuh bahaya itu. Setidaknya bagi Xavier. Tapi dia tidak takut, pasukan bayangannya sudah masuk lewat jalan lain.

"Langsung antar pangeran dan putri ke penginapan khusus!" Teriak salah satu panglima Utara.

1
kiya
harusnya xavier merampas kertas itu dan membacanya biar terkuak sedikit misteri azura
j4v4n3s w0m3n
lanjuttt ahhh 👍
j4v4n3s w0m3n
aduh azura.knp.gak cerita aja sih ...
Usagi tzukino
cieee yg marah istrinya di jelekin orang,
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
Soraya
mampir thor
van aurora
puas bgt part ini..arghh..gitu dong xavier
Hanima
👍👍👍
Hanima
/Sweat//Cry/
Ko
Rasainnn kau azura.. Xavier itu tulus menyayangi & merawat kau dlu tapi kau menipunya. Dasar wanita jahat. Lagian udh gak suci lg sbg istri pangeran mahkota..
Syifa Azhar
ana dan isol baiknya kalian laporkan keadaan azura pada pangeran Xavier biar bisa bantu selamatkan putranya😀💪
🌿🌺WINA🌸🌿
Pangeran xavier tidak rela istrinya dihina dan direndahkan, bagus pangeran xavier bela istrimu...pangeran xavier sampai mengancam elish kasih pelajaran...
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...

putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...

putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...

pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...

kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
wanti astuti
Mamposs loh elish... Makanya mulut tuh di jaga jangan kaya ember bocor nyerocoss aja terus luh
mimief
harga diri istrinya adalah muka sang suami bukan?
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
🌿🌺WINA🌸🌿
Demi keselamatan anaknya, putri azura rela diperlukan kasar sama pangeran xavier... pangeran xavier makin marah dan emosi salahpaham, putri azura tidak mau berkata jujur...

putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....

tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...

pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
Bunda Dzi'3
Ana Isol Hrsnya Klian Ceritakan ke Xavier menderitanya Azura Di kerajaan nya Sndri 😭
faridah ida
kereen̈ Xavier ...👍👍👍👍
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍
Rina
perjalanan mereka kayaknya rumit Dan masih panjang.. semoga Ada kebahagiaan ya..
faridah ida
bener Xavier , maka nya kamu jangan percaya sama mulut Elish ..
faridah ida
bener2 nih sih Elish mulut nya jahat banget ,...
faridah ida
harusnya kamu sama Xavier bilang jujur aja Azura ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!