NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13 Tertuduh

Hana diam sambil mengawasi Reigan yang marah.

"Hanya karena aku pernah mendengar kalian membicarakan Boris?" Hana merasa ada yang janggal.

"Marco menemukan rekaman CCTV sekitar gedung Valerius dengan siluet tubuhmu ada di dalamnya," ujar Reigan Yakin. Tentu dengan rahang masih mengeras.

"Kau melihat siluet di CCTV dan langsung menyimpulkan itu aku hanya karena postur tubuhnya mirip?" Hana mencemooh, senyum tipis yang mematikan muncul di sudut bibirnya.

Hana mendekat. Reigan waspada. Namun yang dilakukan Hana mengejutkan. Wanita ini memajukan wajahnya, hingga napasnya terasa di wajah Reigan. "Tubuhku tidak begitu istimewa hingga siluet seorang perempuan bisa dipastikan milikku," bisik Hana. "Kau terlalu terobsesi," ejek Hana dingin.

Reigan membeku. Ia merasa bodoh. "Kau pikir aku terobsesi?" suara Reigan serak, berat oleh emosi yang sulit ia definisikan.

"Kau pulang dengan napas memburu hanya untuk menuduhku," Hana berbisik tepat di depan bibir Reigan, matanya menyapu bibir pria itu sebelum kembali ke matanya. "Kau takut aku benar-benar bisa membunuhmu?"

Reigan menggeram.

"Dengar baik-baik, Reigan. Jika aku memang ingin membunuh, bukan Boris yang aku bunuh. Cukup aku membunuhmu. Di malam pertama aku datang ke apartemen ini, membunuhmu adalah cara yang tepat. Terlalu amatir jika aku sengaja membunuh di gedung Valerius yang punya keamanan yang tinggi."

Ada aroma gosong yang mengusik. Itu dari microwave. Roti yang ia buat sepertinya sudah waktunya keluar. Hana melirik ke arah microwave

"Kau mengacaukan suhunya. Rotinya gosong," ujar Hana seraya menghela napas, kecewa hasil karyanya gagal karena Reigan.

Reigan menyipitkan mata. Ia terluka egonya. Hana tampak kecewa karena roti gosong padahal dia sedang dituduh membunuh.

Hana mengabaikan rasa perih di punggungnya dan berjalan melewati Reigan yang masih dikuasai amarah. Dengan gerakan tenang namun tegas, ia membuka pintu microwave.

Asap tipis beraroma gandum yang terpanggang terlalu lama menyeruak keluar. Ia mengeluarkan loyang itu, meletakkannya di atas meja marmer dengan bunyi denting yang nyaring.

Reigan terdiam.

Keheningan yang menyusul setelah denting loyang itu terasa lebih menekan daripada teriakan amarah sebelumnya.

Reigan memperhatikan punggung Hana yang tegak, wanita itu tampak sangat tenang saat mengurus roti gosongnya, seolah-olah dituduh melakukan pembunuhan hanyalah gangguan kecil dalam rutinitas malamnya.

Logika Reigan mulai berperang dengan egonya. Apa yang dikatakan Hana benar—wanita itu punya seribu kesempatan untuk menghabisinya saat ia tidur, saat pertahanannya paling rendah di ranjangnya sendiri.

Membunuh Boris di dalam Gedung Valerius justru akan menarik perhatian yang tidak perlu ke arahnya.

"Jadi siapa wanita itu?" tanya Reigan dengan suara rendah.

"Banyak orang yang bisa melakukannya, aku tidak tahu," sahut Hana dengan roti gosong di tangannya yang memegang jampel.

Reigan masih bergeming, matanya tidak lepas dari sosok Hana yang kini sibuk dengan sisa roti yang menghitam. Ucapan Hana mengenai "malam pertama" terus terngiang, menghantam kewarasan Reigan.

Benar, jika Hana ingin ia mati, ia tak perlu repot-repot menyusup ke markas bawah tanah yang dijaga ketat; cukup sebuah pisau atau racun seperti makan pagi kemarin.

"Kau tidak tahu, atau kau sedang melindunginya?" desis Reigan, meski intensitas suaranya tak lagi meledak-ledak.

Hana meletakkan kain lap yang digunakannya. Ia berbalik, menatap Reigan dengan tatapan yang nyaris mengasihani.

"Kau begitu terobsesi padaku sampai lupa bahwa musuhmu bisa datang dari mana saja. Sudah aku katakan, aku orang mu."

Reigan mendengus meremehkan. "Orangku?" Tanyanya, sementara matanya tetap mengunci Hana di tengah asap roti gosong yang mulai menipis.

"Apa yang kau pikirkan saat aku bilang aku orangmu?" tanya Hana menatap Reigan lurus.

"Pengkhianat."

"Tidak ada pengkhianat dirumah ini. Aku bisa pastikan itu." Hana berhasil membuat roti itu rapi diatas meja. "Mau?" tawar Hana melupakan kejadian tadi. Wajah wanita itu lebih tenang. Berbeda dengan Reigan yang masih menyipitkan mata mencari tahu.

"Kau terlalu tenang setelah dituduh membunuh seseorang, Hana." Reigan bicara seraya berjalan mendekat ke meja pantry.

"Karena aku tidak bersalah," sahut Hana pendek.

Reigan tidak butuh pengakuan verbal. Ia butuh melihat bagaimana tubuh wanita ini bereaksi di bawah tekanan maut.

Tanpa peringatan, Reigan menerjang. Lagi. Untuk kedua kalinya.

Ia menyambar kerah pakaian Hana, menyentaknya maju lalu menghantamkan tubuh wanita itu ke dinding apartemen dengan kekuatan yang sanggup membuat paru-paru siapa pun kekurangan oksigen.

Hana terkesiap, namun tangannya bergerak dengan refleks yang sangat halus untuk melindungi titik vitalnya.

"Tunjukkan padaku siapa kau sebenarnya, Hana!" geram Reigan.

Ia menyerang dengan serangkaian pukulan cepat, bukan untuk menghancurkan wajah Hana, tapi untuk memancing insting bertarung yang ia curigai.

Hana berkelit, gerakannya luwes dan sangat efisien, seolah ia bisa membaca arah serangan Reigan sebelum kepalan tangan pria itu mendarat.

Terjadi pergulatan sengit di dinding itu. Reigan menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci pergerakan Hana.

Dalam satu sentakan kasar, Reigan merenggut kedua tangan Hana, memaksanya diam di dinding sementara wajahnya merangsek maju, ingin mengintimidasi tepat di depan mata wanita itu.

Namun, lantai yang sedikit licin akibat sisa tepung atau benturan yang terlalu keras membuat keseimbangan mereka goyah.

Tubuh Reigan yang besar menghimpit Hana terlalu dalam, membuat wajah mereka bertabrakan secara tak sengaja.

Bibir Reigan bersentuhan dengan bibir Hana.

Hanya sebuah gesekan kasar dan singkat yang tidak memiliki sisa gairah sama sekali. Namun, di detik itulah Reigan merasakan sesuatu yang ganjil.

Bibir Hana terasa keras dan kaku di satu titik. Ada sensasi dingin logam yang menusuk tipis permukaan kulit bibir Reigan.

Reigan segera menarik kepalanya kembali, matanya menyipit tajam. Ia merasakan perih di bibir bawahnya, dan saat ia menyekanya dengan ibu jari, ada noda darah di sana.

"Buka mulutmu," perintah Reigan. Suaranya kini bukan lagi amarah, melainkan perintah militer yang mutlak.

Hana hanya menatapnya tenang, meski punggungnya pasti terasa nyeri. Mulut Hana terbuka perlahan. Di sana, tersembunyi dengan posisi miring yang sangat presisi di balik barisan giginya, terdapat sebilah pisau silet kecil yang sangat tipis dan tajam.

Reigan tertegun. Jika tadi ia sedikit saja tak sengaja menekan bibirnya lebih dalam, silet itu sudah pasti akan menyayat bibirnya hingga robek.

"Pisau silet?" Reigan terkejut dan takjub. Matanya menatap Hana seolah sedang melihat spesies predator baru yang belum pernah ia temui. "Kau menyimpan senjata di dalam mulutmu saat kau sedang membuat roti di dapurku?" Reigan tidak percaya.

Ia mengeluarkan silet itu dengan ujung kuku, lalu meletakkannya di atas meja marmer—tepat di samping roti yang menghitam.

"Jika itu diperlukan," ucap Hana dingin.

Reigan menyesap darah dari bibirnya sendiri, menatap Hana dengan kilat mata yang kini dipenuhi rasa penasaran yang berbahaya. Ia tidak lagi melihat seorang wanita kampung yang rapuh, melainkan sebuah teka-teki mematikan yang ingin ia pecahkan.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!