NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSETUJUAN KELUARGA

Malam itu, seluruh keluarga Evan berkumpul di rumah orang tuanya – termasuk pamannya dari Jakarta yang baru saja datang khusus untuk membahas keputusan Evan. Meja makan yang biasanya digunakan untuk makan bersama kini diisi dengan cangkir teh hangat dan camilan khas kampung, suasana terasa tenang namun penuh perhatian.

Ayah Evan membuka pembicaraan dengan nada yang lebih tenang dari biasanya. "Kita sudah banyak membicarakan tentang keputusanmu untuk mendaftar menjadi tentara, Evan. Setelah berpikir matang dan mendengar semua penjelasanmu, kami ingin memberikan keputusan akhir kami."

Evan duduk dengan tegak, tangan nya sedikit berkeringat karena ketegangan. Ia melihat ke arah setiap anggota keluarga – ayah, ibu, paman, dan bibinya – dengan tatapan yang penuh harapan.

Paman Evan yang bekerja sebagai dosen di universitas Jakarta mulai berbicara terlebih dahulu. "Awalnya saya memang merasa khawatir, karena menjadi tentara bukanlah pilihan yang mudah. Namun setelah melihat betapa serius kamu dalam mempersiapkannya dan mendengar tentang program kolaborasi antara universitas dan militer, saya menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang sangat baik untukmu."

Ia melanjutkan, "Sebagai dosen, saya tahu bahwa banyak universitas kini mulai bekerja sama dengan institusi pemerintah termasuk militer untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Program yang kamu pilih akan memberikanmu pendidikan yang baik sekaligus pengalaman praktis yang berharga."

Bibi Evan yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit daerah juga memberikan pendapatnya. "Dari sisi kesehatan, saya sangat mendukung keputusanmu. Di rumah sakit, kita sering menghadapi kasus yang tidak bisa hanya diatasi dengan pengobatan modern saja. Ilmu pengobatan tradisional yang kamu miliki akan sangat berharga, terutama jika kamu bekerja di daerah terpencil melalui korps medis militer."

Ia menambahkan, "Saya juga bisa membantu kamu mempersiapkan tes kesehatan dan memberikan informasi tentang standar pelayanan kesehatan di lingkungan militer. Kamu tidak akan sendirian dalam menghadapi semua ini."

Setelah itu, ibu Evan mengambil tangan Evan dengan lembut. "Kita semua tahu bahwa ini adalah jalan yang kamu pilih dengan hati yang tulus, dek. Kita melihat betapa kamu tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan memiliki visi yang jelas tentang masa depanmu. Meskipun kita pasti akan merindukanmu dan khawatir ketika kamu harus pergi jauh, kita akan selalu mendukungmu."

Ayah Evan kemudian berdiri dan menghadapkan Evan dengan tatapan yang penuh kebanggaan. "Setelah semua pembicaraan yang kita lakukan dan setelah melihat betapa kamu telah mempersiapkan segalanya dengan matang, saya dengan senang hati menyetujui keputusanmu, anak. Saya tahu bahwa kamu akan menjadi tentara yang baik dan dokter yang luar biasa."

Ia melanjutkan, "Kakek Darmo pasti akan sangat bangga melihatmu menggunakan warisan yang dia berikan untuk melayani negara dan membantu banyak orang. Kita akan melakukan segala yang kita bisa untuk mendukungmu dalam setiap langkah yang kamu ambil."

Evan merasa mata nya berkaca-kaca mendengar kata-kata ayahnya. Ia berdiri dan memeluk setiap anggota keluarga dengan erat, rasa syukur yang luar biasa memenuhi hatinya. "Terima kasih banyak untuk semua dukunganmu," ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Tanpa kalian, saya tidak akan memiliki keberanian untuk mengambil langkah ini."

Ayah Evan kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari dan memberikannya kepada Evan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung besi tua dengan liontin berbentuk bintang – kalung yang pernah dikenakan oleh kakek buyut Evan yang juga pernah menjadi tentara.

"Ini adalah pusaka keluarga dari pihak ayahmu," ujar ayah Evan dengan suara yang penuh makna. "Kakek buyutmu mengenakannya ketika ia bertugas untuk melindungi negara. Sekarang kita memberikan kalung ini padamu sebagai tanda dukungan dan harapan bahwa kamu akan membawa nama keluarga dengan bangga."

Evan menerima kalung dengan hati yang penuh rasa hormat. Ia segera memasangkannya di lehernya, di samping kalung batu giok dari Kakek Darmo. Kedua kalung tersebut seolah menjadi simbol dari dua bagian penting dalam kehidupannya – warisan dari kedua leluhurnya yang akan selalu membimbingnya.

Kemudian, keluarga mereka bersama-sama merencanakan langkah-langkah berikutnya yang perlu dilakukan Evan. Ayah Evan akan membantu mengurus semua dokumen yang dibutuhkan untuk pendaftaran, sementara ibu Evan akan membuat jadwal olahraga dan pola makan sehat untuk mempersiapkan kondisi fisik Evan.

Paman Evan juga menawarkan untuk menghubungi beberapa teman nya yang bekerja di lingkungan militer dan universitas untuk memberikan informasi lebih lanjut serta surat rekomendasi yang mungkin dibutuhkan. "Saya juga bisa membantu kamu mempersiapkan tes akademik dan wawancara yang akan kamu hadapi," ujarnya dengan semangat.

Malam itu, mereka berkumpul hingga larut malam, membicarakan rencana masa depan Evan dan berbagi cerita tentang leluhur mereka yang juga pernah melayani negara. Ayah Evan bercerita tentang bagaimana kakek buyutnya selalu menceritakan pentingnya kesetiaan, kejujuran, dan rasa tanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.

"Sangat menarik bagaimana sejarah berulang," ujar ibu Evan dengan senyum hangat. "Kakek buyutmu menggunakan kekuatannya untuk melindungi negara, Kakek Darmo menggunakan ilmunya untuk menyembuhkan orang, dan sekarang kamu akan menggabungkan kedua hal tersebut untuk membantu lebih banyak orang."

Sebelum pergi tidur, Evan berdiri di balkon rumah orang tuanya, melihat ke arah langit malam yang penuh dengan bintang-bintang. Ia menyentuh kedua kalung di lehernya dan berbicara dalam hati kepada kedua leluhurnya. "Saya akan menjalankan amanah ini dengan segenap hati," bisiknya. "Saya akan menjadi tentara yang baik, dokter yang handal, dan penerus warisan kalian dengan bangga."

Dengan dukungan penuh dari keluarga dan tekad yang semakin kuat, Evan merasa bahwa dirinya sudah benar-benar siap untuk menghadapi semua tantangan yang akan datang. Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, namun dengan cinta dan dukungan dari orang-orang tersayang, serta kekuatan yang diberikan oleh warisan leluhurnya, ia yakin bahwa ia akan mampu mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan dan menjadi orang yang bisa memberikan kontribusi berharga bagi negara dan masyarakat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!