Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Khaerul Melancarkan Aksi
Ruang rapat dewan direksi Qalendra Group terasa dingin pagi ini—meskipun AC tidak dinyalakan.
Mahira duduk di kursi yang terasa seperti kursi terdakwa. Di hadapannya, sepuluh anggota dewan direksi duduk dengan wajah serius. Ayahnya—Irfash—duduk di tengah dengan rahang yang mengeras. Di sampingnya, paman Danesh dengan senyum tipis yang membuat Mahira ingin muntah.
Dan Khaerul. Khaerul duduk di pojok dengan postur santai—terlalu santai. Seperti dia sudah tahu permainan ini akan berakhir dengan kemenangannya.
"Meeting pagi ini," paman Danesh membuka dengan suara yang dibuat-buat formal, "diselenggarakan untuk membahas laporan serious misconduct oleh salah satu direktur kita. Yakni, Ms. Mahira Qalendra."
Mahira mengepalkan tangan di pangkuannya. Tasbih Cahaya terasa membakar di saku blazer-nya.
"Laporan menyebutkan," lanjut paman Danesh sambil membuka folder tebal, "adanya transfer dana ilegal sebesar lima ratus juta rupiah ke vendor fiktif atas nama PT Mitra Sejahtera. Transfer ini disetujui dengan digital signature Ms. Mahira, yang secara sistem tercatat sah."
Salah satu anggota dewan—Pak Hartono, direktur keuangan senior—mengangkat tangan. "Apa Ms. Mahira sudah diberi kesempatan untuk angkat bicara?"
"Tentu." Paman Danesh menatap Mahira dengan tatapan yang seolah-olah simpati—tapi Mahira tahu itu palsu. "Silakan, Mahira. Jelaskan."
Mahira berdiri. Kakinya sedikit gemetar tapi ia paksakan tegak. "Saya tidak pernah approve transfer itu. Saya tidak pernah bahkan melihat proposal dari PT Mitra Sejahtera. Digital signature yang ada di dokumen itu adalah hasil pemalsuan."
"Pemalsuan?" Paman Danesh mengangkat alis. "Itu tuduhan serius. Kamu punya bukti?"
"Saya... saya sudah minta IT department untuk trace log access ke akun saya. Tapi mereka bilang butuh waktu—"
"Butuh waktu?" Khaerul tiba-tiba angkat bicara. Semua mata tertuju padanya. "Mahira, ini sudah dua minggu sejak transfer itu terjadi. Kenapa kamu baru sekarang report? Kenapa baru sekarang minta investigasi?"
"Karena aku baru tahu semalam!" Mahira hampir berteriak. "Aku baru tahu pas kakakku kirim dokumen—"
"Jadi kamu mengaku tidak monitor keuangan project kamu sendiri?" Paman Danesh menyerang. "Kamu tidak rutin cek laporan? Tidak review transaksi? Itu adalah basic management, Mahira."
Mahira terdiam. Karena—fuck—mereka benar. Ia memang tidak cek detail keuangan setiap hari. Ia lebih fokus ke program development, ke relationship dengan partner. Ia percaya tim finance-nya sudah handle angka-angka.
Dan kepercayaan itu dimanfaatkan.
"Ms. Mahira," Pak Hartono bersuara, kali ini dengan nada yang lebih lembut, "kami mengerti kamu masih muda. Masih belajar. Tapi posisi Direktur membawa tanggung jawab besar. Kelalaian seperti ini—bahkan jika tidak sengaja—bisa berakibat fatal bagi perusahaan."
"Ini bukan kelalaian!" Mahira menatap ayahnya—memohon dukungan. "Papa, Papa tahu aku nggak akan—"
"Mahira." Suara Irfash keras. "Duduk."
Kata itu—duduk—seperti tamparan. Mahira terduduk dengan mata berkaca-kaca. Ayahnya tidak akan membela? Setelah semua yang mereka bicarakan tentang kutukan? Tentang Khaerul?
"Sebagai Chairman," Irfash melanjutkan dengan wajah tanpa ekspresi, "saya harus obyektif. Saya tidak bisa berpihak hanya karena Mahira adalah anak saya. Kita harus lihat fakta. Dan faktanya..." ia berhenti, "...digital signature itu sah. Transfer terjadi. Dan dana perusahaan hilang."
"Tapi—"
"TAPI," Irfash mengangkat suaranya—membuat semua orang diam, "kita juga tidak bisa langsung putuskan tanpa investigasi menyeluruh. Saya minta IT department dipercepat. Maksimal tiga hari. Kita buka semua log access. Semua transaksi digital. Apapun yang terkait dengan case ini."
"Tiga hari?" Paman Danesh protes. "Irfash, perusahaan tidak bisa—"
"TIGA HARI." Irfash menatap saudaranya dengan tatapan tajam. "Atau kamu mau aku yang langsung ke polisi dan laporkan sebagai cyber fraud? Karena kalau memang ini pemalsuan, itu tindak kriminal. Bukan cuma urusan internal."
Paman Danesh menutup mulutnya. Ia melirik Khaerul—dan ada tatapan yang... aneh. Seperti panik. Seperti mereka tidak expect Irfash akan seagresif ini.
"Baik," kata paman Danesh akhirnya. "Tiga hari. Tapi selama investigasi berjalan, Ms. Mahira harus disuspend dari semua aktivitas operational. No access ke sistem. No contact dengan klien atau partner. Termasuk—" ia menatap Mahira dengan tajam, "—no contact dengan Al-Hakim Corporation."
Mahira tersentak. "Kenapa—"
"Karena kamu adalah point of contact utama untuk merger itu. Dan kita tidak bisa ambil risiko kalau kamu... kompromised." Paman Danesh tersenyum—senyum yang membuat Mahira ingin melempar sesuatu ke wajahnya. "Demi kebaikan perusahaan."
"Dewan setuju?" Irfash bertanya ke anggota lain.
Satu per satu mereka mengangguk. Tidak ada pilihan. Ini sudah checkmate.
"Motion passed." Irfash mengetuk palu kecil di meja. "Ms. Mahira Qalendra officially suspended pending investigation. Meeting adjourned."
***
Mahira tidak ingat bagaimana ia keluar dari ruang rapat. Yang ia ingat hanya kakaknya—Raesha—memeluknya erat di koridor kosong setelah semua orang pergi.
"Aku nggak bisa percaya Papa nggak bela aku," isak Mahira di bahu kakaknya. "Dia... dia tahu ini fraud. Dia tahu Khaerul yang—"
"Papa harus main aman." Raesha mengusap punggungnya. "Kalau dia terlalu bela kamu, paman Danesh bisa gunakan itu. Bisa bilang Papa nepotisme. Bisa minta Papa turun dari Chairman." Ia menarik Mahira sedikit, menatap wajah adiknya yang basah air mata. "Papa lagi protect kamu dengan caranya sendiri. Percaya aku."
"Tapi sekarang aku nggak bisa apa-apa! Aku nggak bisa ketemu Zarvan. Nggak bisa—"
"Kamu BISA ketemu Zarvan." Raesha tersenyum tipis. "Cuma nggak bisa secara official. Unofficial? Terserah kamu."
Mahira berkedip. "Maksud kakak?"
"Mahira, sayang, kamu disuspend dari kerjaan. Bukan dipenjarakan. Kamu masih bisa keluar. Masih bisa ketemu siapa aja." Raesha mengeluarkan ponselnya. "Dan kebetulan, tadi pagi Zarvan kirim pesan ke aku. Dia minta nomor aku dari Papa. Dia bilang... dia bilang mau bantuin. Apapun yang kamu butuhin."
"Zarvan..." Mahira merasakan dadanya sesak—tapi kali ini bukan karena sedih. "Dia... dia nggak boleh terlibat. Ini bahaya. Khaerul bisa—"
"Khaerul bisa apa? Bunuh dia? Di tengah Jakarta modern dengan CCTV dan polisi?" Raesha menggeleng. "Ini bukan 300 tahun lalu, Mahira. Khaerul mungkin bisa mainin korporat game. Tapi dia nggak bisa ngapa-ngapain ke Zarvan secara fisik. Terlalu banyak yang lihat."
Tapi Mahira tidak yakin. Karena kutukan tidak peduli CCTV. Kutukan tidak peduli hukum modern. Kutukan hanya peduli satu hal: mengulang tragedi hingga terpenuhi.
"Aku... aku harus ketemu Ustadz Hariz," ucap Mahira tiba-tiba. "Aku harus tanya caranya putuskan kutukan ini. Secepatnya. Sebelum Khaerul bisa—"
Ponsel Raesha berbunyi. Ia mengangkat. "Halo? ...Iya, Pak. ...APA?!"
Wajah kakaknya berubah pucat. Mahira langsung berdiri. "Ada apa?"
Raesha menutup teleponnya dengan tangan gemetar. "IT department. Mereka... mereka nemuin sesuatu."
"Nemuin apa?"
"Log access ke akunmu. Ada dua access yang suspicious. Satu dari IP address yang unknown—kemungkinan pakai VPN. Dan satu lagi..." Raesha menelan ludah, "...dari komputer Khaerul. Di kantornya. Tiga hari sebelum transfer ilegal terjadi."
Bukti.
Mereka punya bukti.
"Kita bawa ini ke Papa sekarang—"
"Nggak bisa." Raesha menggeleng. "Pak Budi dari IT bilang... file log itu tiba-tiba corrupted. Nggak bisa di-recover. Seperti ada yang... yang sengaja hapus."
"WHAT?!" Mahira hampir berteriak. "Tapi... tapi mereka udah screenshot kan? Udah backup?"
"Mereka nggak sempat. Corruption terjadi cuma sejam setelah mereka nemuin. Seperti... seperti ada yang monitoring. Ada yang tahu mereka lagi investigate." Raesha menatap adiknya dengan mata penuh ketakutan. "Mahira, Khaerul punya orang dalam. Di IT department. Atau lebih bahaya lagi—dia punya akses ke semua sistem perusahaan."
Mahira terduduk lemas di lantai koridor. Ini lebih buruk dari yang ia pikir. Ini bukan hanya sabotase karir. Ini... ini sistematis. Ini terencana.
Dan Khaerul—atau lebih tepatnya, fragmen jiwa Khalil di dalam dirinya—tidak akan berhenti sampai ia menghancurkan segalanya.
"Aku harus pergi," gumam Mahira. "Aku harus pergi dari sini."
"Pergi kemana?"
"Rumah nenek. Perpustakaan tua. Ada sesuatu yang Nenek bilang di suratnya. Tentang pusaka. Tentang cara putuskan kutukan." Mahira bangkit dengan determinasi baru. "Kalau aku nggak bisa menang lewat jalur korporat, aku akan menang lewat jalur spiritual. Aku akan nemuin cara—"
Ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal:
*"Kamu pikir dengan lari ke rumah nenek, kamu akan aman? Kamu pikir pusaka akan menyelamatkanmu? Naif. Aku sudah di sana duluan. Dan yang aku temukan... akan membuat kamu menyesal pernah dilahirkan kembali."*
Attached: sebuah foto.
Foto perpustakaan rumah nenek yang sudah porak-poranda. Buku-buku berserakan. Rak-rak roboh. Dan di tengah kekacauan itu—
Brankas rahasia terbuka. Kosong.
Seseorang sudah mengambil apapun yang ada di dalamnya. Dan Mahira punya firasat kuat siapa orang itu.
"Khaerul," bisiknya dengan suara bergetar. "Dia... dia ambil pusaka-pusaka itu."
---
**BERSAMBUNG