NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Nyawa

Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan dingin. Aroma antiseptik yang menusuk hidung seolah menjadi bau kematian yang terus membayangi langkah Almira. Gadis berusia sembilan belas tahun itu berjalan dengan bahu yang merosot, menggenggam selembar kertas yang sudah kumal karena terus diremasnya. Kertas itu bukan sekadar tagihan; itu adalah vonis. Jika dalam dua puluh empat jam ia tidak menyetorkan uang muka sebesar lima ratus juta rupiah, prosedur operasi jantung ibunya, Nadin, akan dibatalkan. Dan itu artinya, ia akan kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

"Almira, kau tidak punya waktu lagi," bisik sebuah suara di benaknya, mengingatkannya pada kenyataan pahit bahwa tabungannya hanya tersisa beberapa lembar ribuan saja.

Langkah kaki Almira membawanya ke sebuah gedung pencakar langit di pusat Jakarta, sebuah monumen kekuasaan yang dikenal sebagai Eduardo Tower. Di sanalah Alexander Eduardo berada. Pria yang menurut desas-desus adalah iblis berwajah malaikat, penguasa bisnis yang tidak memiliki belas kasihan. Melalui seorang kenalan lama ayahnya yang kini bekerja sebagai sopir di sana, Almira mendapatkan satu kesempatan: bertemu sang tuan untuk memohon pinjaman.

Namun, Almira tidak pernah menyangka bahwa yang akan ia hadapi bukanlah negosiasi bisnis, melainkan sebuah transaksi jiwa.

Pintu ruang kerja di lantai paling atas itu terbuka dengan suara desis yang halus. Almira melangkah masuk ke ruangan yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan pemandangan Jakarta dari ketinggian. Di balik meja mahoni yang luas, seorang pria duduk dengan keanggunan seorang raja yang bosan.

Alexander Eduardo. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara garis rahang yang tegas dan mata yang tajam seperti elang. Rambut hitamnya tertata rapi, dan setelan jas yang ia kenakan tampak begitu mahal hingga Almira merasa kemeja flanelnya yang sudah pudar warnanya adalah sebuah penghinaan di ruangan itu.

Alex tidak mendongak. Ia sibuk menandatangani beberapa berkas sebelum akhirnya melemparkan pena emasnya ke atas meja. Matanya yang dingin kini tertuju tepat pada Almira, membuat gadis itu merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja dihisap keluar.

"Jadi," suara Alex bariton, berat, dan tanpa emosi. "Kau adalah gadis yang memohon-mohon pada sopirku untuk bertemu denganku? Siapa namamu?"

"Almira, Tuan. Almira Nindya," jawabnya dengan suara bergetar.

Alex menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki, dan menatap Almira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu bukan tatapan kagum, melainkan tatapan seorang penilai yang sedang menimbang harga sebuah barang bekas.

"Almira. Sembilan belas tahun. Mahasiswa yang putus kuliah karena tidak ada biaya. Ibumu sekarat di Rumah Sakit Pusat," Alex membacakan fakta-fakta hidupnya seolah itu adalah laporan cuaca yang membosankan. "Kau butuh lima ratus juta untuk operasi, dan mungkin beberapa ratus juta lagi untuk pemulihan. Benar?"

Almira mengangguk cepat. "Saya mohon, Tuan. Saya akan melakukan pekerjaan apa saja. Saya bisa mencuci, memasak, menjadi pesuruh di kantor Anda—"

"Cukup!" potong Alex dengan nada tajam. Ia berdiri, berjalan perlahan mengitari meja besarnya, mendekat ke arah Almira. "Aku tidak butuh pelayan. Aku punya ratusan pelayan yang lebih berpengalaman darimu. Aku tidak butuh sekretaris. Aku punya orang-orang lulusan terbaik luar negeri untuk itu."

Alex berhenti tepat di depan Almira. Jarak mereka begitu dekat hingga Almira bisa mencium aroma parfum kayu cendana dan alkohol mahal dari napas pria itu. Tangan Alex terulur, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh dagu Almira, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam mata yang penuh dengan kegelapan itu.

"Yang aku butuhkan adalah mainan," bisik Alex, suaranya kini terdengar berbahaya. "Aku butuh seseorang yang bisa kupakai kapan saja aku mau. Seseorang yang tidak punya hak untuk berkata tidak. Seseorang yang akan menjadi tempatku melampiaskan segala amarah dan rasa penatku. Jika kau setuju menjadi budak ranjangku, uang itu akan ada di meja rumah sakit ibumu dalam satu jam."

Dunia seolah runtuh menimpa bahu Almira. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah membasahi pipinya yang pucat. Harga dirinya seolah diinjak-injak di bawah sepatu kulit mahal pria di depannya.

"Kenapa... kenapa harus saya?" tanya Almira terisak.

Alex menyeringai sinis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Karena kau tidak punya pilihan. Dan karena wajah polosmu itu... sangat menarik untuk dihancurkan."

Dalam benak Alex, ia baru saja menerima pesan singkat dari Elara, wanita yang selama sepuluh tahun ini ia puja namun selalu mempermainkannya. Elara baru saja membatalkan janji mereka demi pergi ke Paris bersama pria lain. Alex sedang marah, ia sedang terluka, dan ia butuh sesuatu untuk dirusak agar ia merasa berkuasa kembali. Almira datang di waktu yang salah, atau mungkin bagi Alex, di waktu yang sangat tepat.

"Jadi, bagaimana, Almira? Ibumu tetap hidup dengan kau kehilangan kehormatanmu, atau ibumu mati dengan kau tetap menjadi gadis suci yang miskin?"

Almira menutup matanya rapat-rapat. Bayangan wajah ibunya yang pucat mengenakan masker oksigen melintas. Ia bisa mendengar suara detak jantung ibunya yang melemah di mesin EKG. Ia tidak mungkin membiarkan ibunya pergi. Tidak sekarang.

"Saya... saya terima, Tuan," bisik Almira, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan itu.

Satu jam kemudian, Almira sudah berada di dalam mobil Rolls Royce yang membawanya menuju sebuah apartemen mewah di kawasan eksklusif. Di sana, ia disambut oleh Bi Inah, seorang pengurus rumah tangga yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa iba.

"Mari, Neng. Saya tunjukkan kamar Neng," ucap Bi Inah lembut.

Kamar itu sangat luas, didominasi warna putih dan emas. Ada sebuah tempat tidur king size yang tampak sangat nyaman, namun bagi Almira, itu tampak seperti altar pengorbanan. Di atas ranjang, sudah terletak sebuah kotak hitam besar.

"Tuan Alex berpesan agar Neng memakai ini nanti malam. Tuan akan pulang terlambat," kata Bi Inah sebelum menutup pintu.

Almira membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna merah darah. Kainnya begitu minim, dirancang untuk menunjukkan lebih banyak daripada yang ditutupi. Almira memeluk gaun itu dan jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Di usia sembilan belas tahun, ketika gadis lain sedang memikirkan tugas kuliah atau kencan pertama, ia harus mempersiapkan diri untuk menyerahkan tubuhnya pada pria yang bahkan tidak mengenalnya.

Malam semakin larut. Suasana penthouse itu sunyi senyap, hanya suara detak jam dinding yang menemani ketakutan Almira. Ia sudah mandi dan mengenakan gaun itu, menutupi tubuhnya yang gemetar dengan jubah mandi yang ia temukan di lemari.

Pukul satu dini hari, pintu depan terbuka dengan kasar. Langkah kaki yang tidak stabil terdengar di koridor. Alex pulang dalam keadaan mabuk.

Almira berdiri dengan kaku di samping tempat tidur saat pintu kamarnya dibuka paksa. Alex berdiri di sana, dasinya sudah terlepas, kemejanya berantakan. Matanya yang merah menatap Almira dengan benci—bukan benci pada Almira, tapi benci pada Elara yang bayangannya terus menghantuinya.

"Kau masih bangun?" tanya Alex ketus. Ia berjalan mendekat, bau alkohol menyengat dari tubuhnya.

"S-saya menunggu Anda, Tuan," jawab Almira dengan kepala tertunduk.

Alex mencengkeram lengan Almira, menariknya hingga gadis itu terpekik kecil. "Jangan memanggilku Tuan dengan suara gemetar seperti itu. Itu menjijikkan."

Ia menyentakkan tubuh Almira ke arah tempat tidur. "Kau tahu kenapa Elara tidak pernah mau terikat denganku? Karena dia tahu aku adalah monster. Dan malam ini, kau akan merasakan bagaimana monster itu bekerja."

"Tuan, tolong... pelan-pelan," pinta Almira saat Alex mulai mengungkung tubuhnya.

Alex tidak mendengarkan. Baginya, Almira hanyalah objek. Saat ia menyentuh kulit halus Almira, ia membayangkan itu adalah Elara. Namun saat ia merasakan getaran ketakutan dari tubuh gadis itu, ia sadar ini bukan Elara. Ini adalah gadis kecil yang ia beli.

"Kau tidak punya hak untuk meminta apa pun, Almira. Kau adalah milikku. Jiwa dan ragamu sudah kubeli dengan lima ratus juta itu. Ingat posisimu!"

Malam itu menjadi malam yang paling gelap dalam hidup Almira. Di bawah kemewahan lampu kristal dan sprei sutra ribuan dolar, ia kehilangan mahkotanya dengan cara yang paling menyakitkan. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada kelembutan. Yang ada hanyalah pelampiasan amarah seorang pria yang patah hati kepada seorang gadis yang tidak berdosa.

Almira hanya bisa menggigit bibirnya hingga berdarah agar tidak berteriak, membiarkan air matanya membasahi bantal saat Alex mengambil paksa apa yang seharusnya ia berikan pada pria yang ia cintai suatu hari nanti.

***

Saat matahari mulai menyembul di ufuk timur, Alex bangkit dari tempat tidur tanpa menoleh sedikit pun pada Almira yang masih meringkuk di balik selimut, menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda kemerahan dan rasa sakit.

Alex berpakaian dengan tenang, seolah-olah apa yang terjadi semalam hanyalah rutinitas biasa. Ia mengambil selembar cek dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja nakas.

"Itu untuk biaya tambahan ibumu. Dan satu hal lagi," ucap Alex sambil memperbaiki jam tangannya. "Jangan pernah berpikir untuk keluar dari sini tanpa izin. Aku akan menempatkan penjaga di depan pintu. Tugasmu hanya satu: bersiaplah setiap kali aku pulang. Jika aku melihatmu menangis lagi seperti semalam, aku akan memastikan rumah sakit mencabut semua peralatan medis ibumu."

Almira tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Ia telah menyelamatkan ibunya, tapi ia tahu, Almira yang dulu sudah mati di ranjang ini. Sekarang, yang tersisa hanyalah raga tanpa jiwa yang terbelenggu oleh hasrat sang tuan.

"Dan ingat satu nama ini, Almira," Alex berbalik di ambang pintu, matanya berkilat tajam. "Jangan pernah mencoba bersaing dengan Elara. Kau hanyalah bayangan, dan selamanya akan tetap menjadi bayangan."

Pintu tertutup dengan dentuman keras. Almira menutup wajahnya dengan bantal, menangis tanpa suara. Ia terjebak dalam pusaran obsesi dan kebencian pria bernama Alexander Eduardo. Sebuah perjalanan panjang yang ia tidak tahu kapan akan berakhir, atau apakah ia akan keluar dari sana dengan jantung yang masih berdetak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!